Bagaimana Atlet Menjaga Fisik dan Mental Selama Pandemi COVID-19?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Saat pandemi COVID-19, kompetisi, olimpiade, dan semua kejuaraan olahraga harus tertunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Para atlet, sebagaimana orang pada umumnya, harus diam di rumah demi menghindari infeksi COVID-19. Kondisi pandemi COVID-19 ini tentunya bisa mempengaruhi performa, kesehatan fisik, dan kesehatan mental para atlet.

Fisik dan mental atlet terancam selama COVID-19

fisik mental atlet COVID-19

Pandemi COVID-19 adalah tantangan besar bagi para atlet. Mereka berlatih sepanjang tahun sebagai persiapan mengikuti berbagai pertandingan dan kejuaraan. Namun, kerja keras dan harapan mereka tiba-tiba seperti direbut paksa. 

Fasilitas pelatihan ditutup, acara dan musim kompetisi di semua level dibatalkan. Hal ini menurut para ahli, bukan hanya mempengaruhi fisik mereka tapi juga kesehatan mental para atlet.

Di Liga Inggris misalnya, klub sepakbola Liverpool hampir mengunci trofi juara musim ini. Trofi yang telah mereka dambakan selama 30 tahun. Kini nasib Liga Inggris belum jelas, entah akan dilanjutkan atau dianulir. Jika dianulir tentu ini menjadi musim menyakitkan untuk Liverpool dan para pendukungnya.

Di Indonesia, semua kompetisi di segala cabang olahraga juga dihentikan. Klub sepakbola Persib Bandung menjadi tim yang nahas, setelah menggenggam lebih dari separuh kemenangan Liga 1 Indonesia di tangan. 

Selain liga-liga reguler, ada gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua, dan kompetisi-kompetisi tingkat SMA serta perguruan tinggi yang harus dihentikan hingga pandemi usai.

Selama pandemi COVID-19, atlet terpaksa tetap berada di rumah untuk menjaga performa fisik dengan fasilitas seadanya dan dengan kemungkinan tekanan mental yang tinggi.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

26,473

Terkonfirmasi

7,308

Sembuh

1,613

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Performa dan kesehatan fisik atlet selama pandemi COVID-19

fisik atlet COVID-19

Penurunan kondisi fisik atlet akan berkurang jika kegiatan latihan rutin berhenti. Dalam waktu satu minggu saja, performa tubuh akan turun sebanyak lebih kurang 50 persen. Ini berlaku bagi semua orang yang setiap harinya rutin melakukan latihan fisik.

Para atlet terbiasa dengan porsi latihan tinggi dalam menjaga dan meningkatkan performa permainan. Salah satu yang menunjang performa atlet adalah VO2Max atau konsumsi oksigen maksimal seseorang saat beraktivitas dengan intensitas tinggi.

Andi Fadhilah, fisioterapis yang juga pernah menangani tim nasional sepakbola putri, menjelaskan proses terjadinya penurunan performa pada atlet yang dipaksa harus mengurangi porsi latihan fisiknya.

Saat ini, atlet tidak mendapatkan porsi latihan sama seperti yang dilakukan saat musim tanding. Hal tersebut menyebabkan VO2Max menurun.

Penurunan tersebut berkisar 10.1 persen dalam waktu 5 minggu saat porsi latihan (termasuk intensitas, durasi, dan frekuensi) diturunkan.

Penurunan porsi latihan ini juga berpengaruh pada kinerja otot. Pada seorang atlet, ada banyak sel-sel penggerak (motor neuron) yang aktif saat terjadi gerakan.

Jika tidak distimulasi dengan gerak atau latihan fisik, kontraksi otot akan berkurang atau tidak ada sama sekali dan sel-sel penggerak akan mati. Berkurangnya kontraksi dalam porsi latihan yang menurun mengakibatkan penurunan pada kekuatan otot.

“Jadi misalnya atlet itu berhenti latihan berarti kemampuan otot menurun, daya tahan menurun membuat power menurun, dan saat power menurun maka kelincahan dan performa ikut menurun,” jelas Fadhilah.

Ada tiga hal yang paling dibutuhkan oleh fisik atlet yaitu kekuatan (power), ketahanan (endurance), dan kelincahan (agility). Ketiganya harus selalu dilatih untuk menjaga performa permainan seorang atlet. Saat ketiganya tersebut menurun, otomatis kemampuan permainan si atlet juga ikut menurun. 

Kesehatan mental atlet harus dijaga

fisik mental atlet COVID-19

Selain menjaga fisik, ada hal lain yang harus diperhatikan para atlet saat vakum karena pandemi COVID-19 yakni kesehatan mental. Psikolog klinis Denrich Suryadi mengatakan dalam masa pandemi ini atlet bisa didatangi perasaan cemas

“Kemungkinan ada rasa cemas bukan hanya karena takut performa dia menurun, tapi juga karena ada harapan dari pendukungnya,” jelas Denrich.

Selain itu pertandingan-pertandingan yang ditunda mempengaruhi kesiapan mental para atlet. Ada kemungkinan kemenangan ditunda yang merambat pada gairah bertanding yang akan menurun.

Mitos atau Fakta: Sinar Matahari Mampu Membunuh COVID-19?

“Optimisme juga mungkin jadi terganggu. Ada kemungkinan muncul keraguan apakah mereka bisa sesiap ini ketika pertandingan diadakan sekian waktu mendatang,” terang Denrich.

Karena itu, kesehatan fisik dan mental atlet adalah dua hal yang sama perlunya untuk dijaga dalam masa pandemi COVID-19. 

“Penting bagi atlet untuk mampu mengatasi perasaan stres dan kecewa. Mempertahankan optimisme dan keyakinan bahwa mereka akan mampu bertanding sebaik biasanya,” tekan Denrich.

cemas covid-19

Latihan yang harus atlet lakukan untuk menjaga performa fisik

olahraga

Selama pandemi COVID-19 belum selesai diatasi, para atlet harus menjaga kesehatan mental dan fisik di rumah. Berikut olahraga yang harus dilakukan untuk menjaga performa fisik atlet selama physical distancing.

1. Latihan kardio di rumah. Olahraga kardio bisa disesuaikan dengan kondisi pandemi COVID-19 saat ini. Bisa diganti macam-macam bentuknya dengan penyesuaian fasilitas yang ada di rumah. 

2. Latihan beban untuk menjaga kekuatan. Bagi Anda yang bukan atlet cukup dengan menggunakan beban tubuh sendiri untuk melatih kekuatan.

3. Latihan ketahanan (endurance). Latihan ketahanan hampir sama seperti latihan kekuatan, bedanya ada pada dosis. Latihan ini harus dilakukan terus-menerus, misalnya dalam waktu lima menit yang dibagi menjadi lima sesi.

Sebelum melakukan semua latihan tersebut, atlet harus tahu kebutuhan tubuhnya sehingga porsi latihannya akan sesuai dengan kebutuhan. Dalam kondisi tersebut, pelatih fisik sangat dibutuhkan untuk mengukur dan memberikan jadwal latihan yang pas setiap harinya.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Selain mendeteksi keberadaan COVID-19 di tubuh, antibodi dapat digunakan untuk melawan virus terutama pasien yang pulih dari SARS. Apa hubungan keduanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 28/05/2020

10 Cara Mudah Turun Berat Badan Tanpa Olahraga

Apakah Anda sedang dalam program menurunkan berat badan? Adakah cara menurunkan berat badan tanpa olahraga? Cara ini menarik untuk disimak!

Ditulis oleh: Rizki Pratiwi

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

Pedofilia kekerasan seksual

Pedofilia dan Kekerasan Seksual pada Anak, Apa Bedanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020
herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020