Melawan COVID-19: Jangan Ada Lagi Tenaga Medis yang Gugur

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Hari sudah berganti bulan. 40 hari Indonesia sudah berada dalam pandemi coronavirus. Upaya segala sektor coba dikerahkan. Namun, penyebaranya belum terhenti, ratusan nyawa tidak berhasil diselamatkan, termasuk para dokter yang melawan COVID-19 di garis depan peperangan.

Dokter dan tenaga medis yang meninggal dunia akibat COVID-19

dokter melawan COVID-19

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat sebanyak 24 dokter dan tenaga medis Indonesia meninggal akibat COVID-19. Sedangkan Persatuan Perawat Nasional Indonesia mengabarkan setidaknya ada 10 perawat yang meninggal karena tertular coronavirus. 

Para dokter dan petugas medis adalah yang paling terdepan dalam perang melawan pandemi COVID-19. Di satu sisi, fokus mereka dalam bekerja menentukan keselamatan pasien. Di sisi lain, profesi tersebut menempatkan mereka pada posisi paling rentan terserang.

Setiap dokter dan perawat harus dilengkapi dengan APD lengkap sesuai standar penanganan wabah COVID-19. Baik tenaga medis yang langsung menghadapi pasien positif COVID-19 maupun tenaga medis menangani pasien dengan keluhan lain.

Prinsip memberlakukan pada semua pasien berstatus positif adalah sebuah keharusan. Langkahnya adalah dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap, menjaga jarak, dan meminimalkan kontak. Sayangnya, APD sebagai salah satu senjata terpenting masih belum terpenuhi kebutuhannya.

Hal tersebut membuat posisi rentan tenaga medis jadi semakin mendesak.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

25,216

Terkonfirmasi

6,492

Sembuh

1,520

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Para tenaga medis tahu betul bahaya posisi pekerjaanya, tapi mereka tetap di sana. Menghadapi musuh yang tak terlihat dengan balutan jas hujan sepuluh ribuan.

Para dokter ini tahu betul bahayanya melawan COVID-19 tanpa APD yang layak, tapi mereka tetap di sana.

Terima kasih banyak, Pahlawan Kemanusiaan!

Bantuan yang petugas medis butuhkan dan yang bisa masyarakat penuhi

dokter melawan COVID-19

Untuk menghormati dokter dan para petugas medis yang berada di lokasi utama melawan COVID-19, masyarakat diminta tetap di rumah. Imbauan tersebut ditambah dengan melakukan physical distancing dan menghindari kontak fisik agar meminimalkan potensi penularan.

Para petugas medis bergerak mengampanyekan “kami tetap bekerja untuk kalian, kalian tetap di rumah untuk kami”.  Mereka berpesan dengan berada di rumah, masyarakat turut membantu petugas medis agar tidak kebanjiran pasien yang bisa berakibat pasien tidak tertangani. 

Kampanye tersebut semakin ramai digaungkan oleh figur publik, selebritas, dan masyarakat di media sosial. Diharapkan kampanye tersebut membuat masyarakat lebih sadar sekaligus memompa gerakan penggalangan dana.

Tapi itu saja tidak cukup untuk membantu dokter melawan COVID-19.

“Sekarang kita tidak lockdown, cuma imbauan-imbauan saja yang kenyataan di lapangan nggak semua nurut karena banyak faktor. Kita juga tidak melakukan massive screening, pakainya rapid test yang hasilnya kurang (akurat),” ujar dr. Jimmy Tandradynata Sp.PD, spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Siloam Cilandak, Jakarta.

Dokter Jimmy memprediksi jika terus seperti ini, perjuangan dokter melawan pandemi COVID-19 di Indonesia masih akan berlangsung berbulan-bulan ke depan.

Pemerintah Indonesia sejak awal menekankan bahwa lockdown atau karantina kota tidak menjadi opsi mereka dalam penanganan COVID-19. 

Pada akhir Maret (31/3), pemerintah menetapkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Presiden Jokowi mengatakan setiap keputusan yang dilakukan pemerintah terkait penanganan COVID-19 harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak terburu-buru.

Peraturan presiden ini pertama kali berlaku di Jakarta pada Jumat (10/4). Pada hari itu, angka positif COVID-19 di Indonesia sudah mencapai 3.512 orang.

Bantuan yang petugas medis butuhkan dan yang bisa pemerintah lakukan

dokter melawan COVID-19

Untuk membantu dokter dan petugas medis dalam menangani COVID-19 perlu ada upaya luar biasa dari semua sektor terutama pemerintah.

Menurut dr. Tri Maharani, penanganan melawan COVID-19 ini perlu ada tali pengikat untuk semua gerakan yang telah dilakukan.

Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Daha Husada, Kediri tersebut menekankan bahwa regulasi pemerintah adalah penentu kunci keberhasilan melawan pandemi coronavirus di Indonesia.

Para dokter berpendapat seandainya Indonesia sudah bergerak sejak pertama kali virus ini keluar dari China pada awal Januari lalu, mungkin ratusan nyawa yang sudah tiada bisa diselamatkan.

Yang telah lalu bukan untuk disesali tetapi juga untuk dipelajari. Para dokter saat ini meminta sokongan semua pihak, terutama pemerintah, agar membantu mereka melawan COVID-19.

Beberapa di antaranya adalah: kepastian ketersediaan APD, pengendalian harga, pelatihan petugas medis, dan penyediaan alat yang dibutuhkan untuk penanganan life threatening (mengancam nyawa) seperti ventilator.

Cerita Dokter IGD, Garis Depan Penanganan COVID-19 di Indonesia

Pada Jumat (10/4), Pengurus Pusat Ketua Umum Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI) menulis surat terbuka berjudul ‘Negaraku Jangan Kalah’ untuk Presiden Jokowi. PDUI meminta Jokowi untuk menjamin ketersedian APD bagi para petugas medis. 

“Ratusan ribu tenaga kesehatan resah, susah, gundah, gelisah, dan marah karena APD langka. Sementara nurani mereka terusik, tidak tega menyaksikan pasiennya penuh harap dalam derita,” tulis Ketua Umum PDUI, Dr. Abraham Andi Padlan Patarai, M.Kes dalam surat tersebut.

“Sejawat kami para dokter yang meninggal dunia sudah lebih dari 30 orang. Sampai berapa lagi yang harus dijumlahkan dalam daftar kematian,” lanjutnya.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020