Cerita Dokter IGD, Garis Depan Penanganan COVID-19 di Indonesia

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Para ahli mengatakan penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia harus dikerjakan dari semua sektor. Tentunya dengan tenaga medis yang berada di garda terdepan penanggulangan pandemi ini.

Saat ini, 29 hari berlalu sejak pertama kali Indonesia mengonfirmasi kasus pertama positif COVID-19 di Indonesia. Gelombang pandemi COVID-19 di Indonesia terus meningkat. Tenaga medis kewalahan, sementara energi mesti dipompa sedemikian rupa.

“Kami ini seperti sedang berperang tapi tidak memiliki senjata yang lengkap, tidak ada pasokan senjata,” kata Dokter Tri Maharani Jumat (27/1). Ia adalah spesialis emergency yang kini bekerja sebagai kepala departemen Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit Umum Daha Husada, Kediri.

Cerita dokter spesialis emergency dalam penanganan COVID-19 di Indonesia

penanganan COVID-19 di Indonesia

Dokter Tri Maharani bercerita penanganan COVID-19 yang ia lakukan. Bagaimana rumah sakit tempatnya bekerja kebanjiran Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). 

ODP adalah orang yang memiliki riwayat bepergian ke tempat yang terjangkit COVID-19 atau berkontak dengan pasien positif, tapi belum menunjukkan gejala sakit.

Sedangkan PDP adalah orang yang telah menunjukkan gejala COVID-19 seperti pilek, batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan; pernah bepergian ke tempat terjangkit COVID-19; atau pernah berinteraksi dengan pasien positif.

Pasien-pasien tersebut harus ia carikan rumah sakit rujukan untuk penanganan lebih lanjut dan itu bukan perkara mudah. Rumah sakit rujukan di Kediri semua penuh padahal pasien harus segera mendapatkan perawatan di ruang ICU.

Arus pasien ODP dan PDP di Indonesia terus bertambah, belum lagi penanganan pasien lain selain COVID-19. 

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

24,538

Terkonfirmasi

6,240

Sembuh

1,496

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Peningkatannya hingga 200 persen dari hari-hari normal, tapi tenaga yang bekerja jumlah tenaga tidak bertambah. Setiap sifnya hanya ada tiga perawat, satu dokter jaga, dan dokter Maha sebagai kepala. 

Bahkan beberapa hari ini dr. Maha, panggilan Maharani, bahkan harus bekerja tiga sif demi mengurus kasus COVID-19 di rumah sakitnya.

“Kalau saya tidak masalah sampai tiga sif, perawat dan dokter jaga saya itu yang harus dijaga tenaga dan pikirannya supaya bisa mengurus pasien dengan maksimal,” tutur dr. Maha. 

Jaga tenaga medis untuk tetap bisa berada di garda terdepan penanganan COVID-19

penanganan COVID-19 di Indonesia

Jika penanganan COVID-19 di Indonesia ini diibaratkan perang, maka tenaga medis adalah pasukan utama di garda depan. Posisi mereka sangat rentan. Oleh karenanya, mereka harus dilengkapi dengan senjata dan alat pertahanan yang lengkap.

Dilansir dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), hingga Senin (6/4) sedikitnya 24 dokter meninggal dunia karena COVID-19. Mereka terdiri atas 18 dokter dan 6 dokter gigi.

Menurut dr. Maha, kelengkapan alat pelindung diri (APD) adalah salah satu hal terpenting yang harus diberikan kepada petugas kesehatan. 

Dokter Maha yang juga bekerja sebagai advisor World Health Organization (WHO) untuk kasus gigitan ular mengatakan bahwa para petugas medis di Indonesia harus diberikan keamanan dalam penanganan kasus COVID-19.

Rumah sakit tempatnya bekerja adalah rumah sakit prarujukan COVID-19, di mana mereka menerima pasien yang tidak diketahui apakah positif COVID-19 atau tidak. Prinsipnya, perlakuan pada semua pasien itu dianggap positif, yakni dengan menggunakan APD lengkap, menjaga jarak, dan meminimalisasi kontak.

Tapi penerapan di lapangan tidak berjalan dengan ideal.

“Saat ini APD, masker, dan alkohol, semua serba kekurangan. Jika kondisinya seperti ini, bagaimana kami bisa fokus pada penanganan pasien?” tutur dr. Maha.

COVID-19

Apalagi setelah pasien dialihkan ke rumah sakit rujukan, para petugas medis di rumah sakit prarujukan tidak mendapatkan informasi apakah pasien tersebut positif atau negatif. Hal tersebut membuat kekhawatiran para petugas medis yang telah berkontak sebelumnya. 

Petugas medis harus fokus pada penanganan pasien walaupun harus mengeluarkan tenaga ekstra dan tetap profesional di tengah minimnya fasilitas pelindung yang memadai.

“Prinsip saya adalah membuat mereka hanya memikirkan pasien saat bekerja, memerhatikan semua keluhan pasien, tanpa khawatir kelengkapan APD, tanpa memikirkan harus makan apa, dan hal-hal lain,” tutur dr. Maha. 

Kebutuhan-kebutuhan tersebut juga supaya petugas kesehatan terhindar dari kelelahan, kurang vitamin, dan rasa cemas. Tiga hal yang sangat penting dalam menjaga fokus dalam menjalankan tugas.

Catatan evaluasi: satu bulan penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia

penanganan COVID-19 di Indonesia

Bencana besar di Indonesia sebenarnya bukan hal baru, dari bencana alam hingga bencana nonalam yang diakibatkan wabah penyakit.

“Tapi disaster yang diakibatkan oleh virus nyatanya tidak mampu membuat kita belajar tentang mitigasi dan prehospital yang bagus,” tutur dr. Maha yang selama lebih dari 20 tahun kariernya didedikasikan pada penanganan medis di wilayah bencana.

Dokter Maha memberi catatan pada penanganan dan intervensi COVID-19 yang selama ini telah dilakukan di Indonesia. 

“Indonesia bisa dibilang negara terakhir yang terkena COVID-19, selain China itu ada Korea Selatan, Singapura, Vietnam yang lebih dulu kena. Kenapa kita semua tidak belajar sejak awal dan mengambil langkah?” ucap dr. Maha menyesali.

“Seandainya sejak Desember Indonesia sudah lebih dulu mitigasi. Mulai dari pengendalian harga jual masker dan APD, hingga pelatihan petugas medis,” lanjutnya.

Dalam satu bulan, buku pedoman dan petunjuk yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan untuk penanganan COVID-19 di Indonesia sudah berganti empat kali. Ini menurut dr. Maha salah satu bukti kecil betapa Indonesia gagap menghadapi COVID-19.

Saran dan prediksi pandemi COVID-19 di Indonesia

Beberapa peneliti membuat permodelan untuk mengetahui kapan waktu puncak penyebaran COVID-19 di Indonesia. 

Salah satunya studi yang dilakukan peneliti ITB Donny Martini. Ia membuat permodelan menggunakan dua parameter: tingkat penyebaran dan jumlah populasi.

Studi tersebut memprediksi puncak penyebaran pandemi coronavirus terjadi pada pertengahan Ramadan, antara April ke Mei.

Hanya saja, prediksi tersebut bisa lebih cepat dan tepat atau jauh lebih lama, tergantung intervensi yang dilakukan semua sektor.

Prediksi tersebut harus diikuti dengan langkah-langkah penanganan tepat dan terintegrasi. Menurut dr. Maha, pandemi COVID-19 di Indonesia bisa berakhir dengan cepat jika dalam intervensi penanganannya ada ikatan yang membuat semua sektor bersinergi dengan baik. 

Terkait dalam intervensi penanganan kesehatan, berikut saran dari dr. Maha.

Penanganan COVID-19 di Indonesia dimulai dari pemberdayaan puskesmas

penanganan COVID-19 di Indonesia

Agar tidak terjadi penumpukan pasien ODP dan PDP, penelurusan pasien (screening) dimulai dari fasilitas kesehatan tingkat satu.

Dokter Maha menyarankan agar petugas puskesmas dilatih untuk pemeriksaan fisik laboratorium sederhana. Berikan puskesmas kemudahan mengakses alat pemeriksaan penunjang seperti alat rontgen atau langsung mendistribusikan rapid test yang telah dibeli pemerintah.

“Memang rapid test hasil akurasinya 30%, tapi nggak apa-apa. Itu bisa untuk penapisan, screening istilahnya,” tutur dr. Maha. “Screening yang dimulai dari bawah, dari akar rumput. Begitu yang baik dalam mitigasi.”

Pasien dengan hasil negatif dari screening tersebut masih akan berada dalam pengawasan untuk beberapa hari, sedangkan pasien dengan hasil positif dinaikkan ke rumah sakit tipe D dan tipe C.

Dari situ, pasien akan melakukan tes kedua. Jika tes kedua positif, akan naik untuk tes Polymerase Chain Reaction (PCR) di rumah sakit tipe B dan tipe A.

Yang terpenting adalah membuat jaringan kuat untuk menyambungkan komunikasi antara puskesmas, rumah sakit tipe D, tipe C, tipe B, dan tipe A.

“Jangan semuanya diserahkan ke Eijkman ataupun Litbangkes. Mereka nggak akan sanggup. Indonesia memiliki banyak ahli patologi klinik. Kalau nggak bisa, lakukan online training sebanyak dua sampai tiga pun kali langsung bisa,” tutur dr. Maha.

Eijkman Institute dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) adalah dua lembaga yang didedikasikan pemerintah untuk proses screening COVID-19.

Menurut dr. Maha, adalah hal biasa untuk konsultasi-konsultasi jarak jauh pada senior dan ahli-ahli di dunia medis.

Pemenuhan obat dan alat untuk mengatasi gejala yang sifatnya mengancam jiwa

COVID-19 adalah virus baru yang masih belum dikenali sepenuhnya oleh para ilmuwan. Belum ada obat yang betul-betul bisa mengobati infeksi virus SARS-CoV-2.

Menurut dr. Maha, Indonesia tidak boleh bergantung pada penelitian yang dilakukan negara lain, terutama soal obat. Hal ini karena penerapannya pada pasien COVID-19 di Indonesia bisa jadi berbeda. Perbedaan itu bisa karena penyakit penyerta, sistem imun, atau kondisi lainnya.

Sejauh ini, kunci dari keselamatan dan kesembuhan pasien COVID-19 adalah penanganan cepat pada gejala yang timbul tidak spesifik pada penggunaan obat tertentu.

Jadi artinya, beli atau sediakan obat dan alat untuk penanganan yang sifatnya life threatening (mengancam jiwa). Pada masalah coronavirus ini, penyebab kematian terbanyak adalah pneumonia dan gagal nafas. Itu berarti Indonesia harus banyak beli ventilator,” ujar dr. Maha.

Yang terpenting menurutnya adalah menyelamatkan nyawa pasien. Dokter Maha mengambil contoh Singapura yang hingga saat ini tingkat kematian akibat COVID-19 sangat rendah.

“Saya gunakan ventilator karena kematian terbesar itu disebabkan gagal nafas. Itu dulu yang ditangani, menyelamatkan nyawa,” tutur dr. Maha.

Serahkan penanganan pasien pada ahlinya, pemerintah bikin sistem dan kebijakannya

penanganan COVID-19 di Indonesia

Setelah menyediakan obat dan alat yang dibutuhkan untuk penanganan life threatening, hal selanjutnya yang dilakukan adalah menyerahkan penanganan pasien COVID-19 pada tim dokter.

“Biarkan para dokter melakukan pekerjaan dengan art and knowledge (seni dan pengetahuan). Mereka melakukannya bersama kolegium dan ikatan dokter,” kata dr. Maha. 

Para dokter spesialis berdiskusi dengan badan organisasinya masing-masing untuk membahas penanganan paling tepat untuk pasiennya. 

“Dokter akan mengerti efek COVID-19 pada pasien ini menyerang apa, apa yang harus dilakukan, dan harus konsultasi ke ahli mana. Dokter tidak akan ngawur memberikan obat, jadi biarkan mereka menentukan. Tidak perlulah membeli obat yang kata negara lain ampuh,” jelas dr. Maha.

Bagaimana Dokter dan Staf Medis COVID-19 Menjaga Kesehatan Mentalnya?

Obat dan alat untuk penanganan gejala yang mengancam jiwa, screening yang dimulai dari akar rumput dan alur rujukan yang tidak rumit, pemenuhan kebutuhan petugas medis, serta penyerahan penanganan pasien pada tim medis menjadi empat aspek yang menjadi catatan dari dr. Maha.

Aspek tersebut harus diikat dengan regulasi, dan tugas pemerintahlah untuk membuat regulasi itu.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020