Dampak Obesitas terhadap Pasien COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 20 November 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Pada sebagian besar pasien, keparahan COVID-19 dipengaruhi oleh faktor usia dan ada tidaknya penyakit penyerta yang sudah ada sebelum terinfeksi virus. Sebuah studi menemukan bahwa obesitas adalah salah satu faktor risiko terbesar yang menyebabkan keparahan paling serius dari infeksi COVID-19.

Awalnya para ahli percaya bahwa obesitas hanya meningkatkan risiko perburukan gejala. Tapi analisis terbaru ini menunjukkan bahwa obesitas tidak hanya meningkatkan risiko keparahan dan meninggal akibat COVID-19, tapi juga meningkatkan risiko penderitanya tertular COVID-19. 

Beberapa studi terbaru memberikan fakta-fakta lain mengenai keterkaitan keparahan COVID-19 dan obesitas. Salah satu studi mengungkapkan kemungkinan vaksin tidak efektif pada orang dengan obesitas. Sejauh mana tingkat keparahannya dan apa saja pencegahan yang bisa dilakukan?

Obesitas berisiko memperparah gejala COVID-19

obesitas memperburuk covid-19

Sebelumnya telah diketahui bahwa obesitas menjadi faktor risiko berbagai penyakit kronis seperti hipertensi dan penyakit jantung. Keberadaan penyakit kronis tersebut dapat membuat dampak infeksi COVID-19 lebih parah. Tapi ternyata, obesitasnya sendiri kemungkinan menjadi faktor risiko independen yang meningkatkan keparahan efek COVID-19 pada penderitanya. 

Dua penelitian yang melibatkan hampir 10.000 pasien menunjukkan bahwa pasien COVID-19 yang mengalami obesitas memiliki risiko kematian lebih tinggi pada hari ke-21 dan ke-45 dibandingkan dengan pasien dengan indeks massa tubuh normal.

Studi lainnya yang diterbitkan pada September mencatat tingkat kegemukan yang tinggi banyak terjadi pada pasien COVID-19 yang kritis dan memerlukan intubasi (alat bantu pernapasan langsung ke paru-paru).

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

538,883

Terkonfirmasi

450,518

Sembuh

16,945

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Bagaimana kegemukan menyebabkan keparahan dan komplikasi dari infeksi COVID-19?

obesitas memperparah covid-19

Cate Varney, spesialis obesitas University of Virginia, dalam tulisannya di The Conversation menjelaskan bahwa dampak COVID-19 bisa lebih parah pada pasien obesitas.  

Obesitas membuat tubuh menyimpan banyak kelebihan jaringan adiposa (lemak). Jaringan adiposa yang berlebihan ini dapat membuat tekanan atau kompresi mekanis pada pasien obesitas. Kondisi tersebut membatasi kemampuan pasien untuk menarik dan membuang napas secara penuh.

Dalam kasus yang lebih serius, obesitas bisa menyebabkan sindrom hipoventilasi yang membuat penderitanya memiliki terlalu sedikit oksigen dalam darahnya.

Selain itu, fakta baru menunjukkan peningkatan ACE-2 terjadi di jaringan adiposa daripada di jaringan paru-paru. ACE-2 berperan sebagai reseptor atau pintu masuk bagi virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 masuk dan membajak sel tubuh. 

Semakin banyak jaringan adiposa yang dimiliki mengakibatkan penderitanya memiliki lebih banyak pintu masuk yang memungkinkan virus menyerang lebih banyak sel dan kemudian merusaknya. Kondisi ini menyebabkan viral load (jumlah virus) SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 lebih tinggi. Hal tersebut yang dapat membuat infeksi lebih parah dan memperpanjang proses pemulihan yang dibutuhkan.

Temuan ini semakin memperkuat hipotesis bahwa obesitas memainkan peran penting dalam infeksi COVID-19 yang lebih serius.

Hal lain yang mendasari perburukan infeksi COVID-19 adalah mereka yang kelebihan berat badan kerap mengalami juga peradangan di dalam tubuhnya. Kondisi ini menambah deret faktor penyebab perburukan gejala peradangan yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perawatan yang Dibutuhkan Setelah Sembuh dari COVID-19

Setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19, banyak pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut untuk menangani keluhan post COVID-19 syndrome. Apa pentingnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Apa Saja Penyebab Orang Tidak Percaya Keberadaan COVID-19?

Luasnya penyebaran COVID-19 di Indonesia terkait dengan banyak faktor, termasuk persoalan sebagian warga yang tidak percaya keberadaan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Porsi Olahraga Setelah Sembuh dari COVID-19

Olahraga setelah sembuh dari COVID-19 memiliki potensi bahaya. Oleh karena itu harus porsi olahraga harus disesuaikan dengan kondisi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Resepsi Pernikahan di Masa Pandemi, Bagaimana Risiko Penularannya?

Mengadakan resepsi pernikahan di tengah pandemi tetap memiliki risiko penularan COVID-19. Lalu bagaimana cara untuk mengurangi risikonya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

covid-19 lockdown

Karantina Wilayah Karena COVID-19 Terbukti Menyelamatkan Banyak Nyawa

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30 November 2020 . Waktu baca 4 menit
hamil di masa pandemi

Adakah Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Tingkat Bayi Lahir Mati?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27 November 2020 . Waktu baca 4 menit
penularan covid-19 tanpa gejala

Sebesar Apa Dampak Orang Tanpa Gejala COVID-19 Berpengaruh Terhadap Penularan Wabah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 3 menit
antibodi covid-19

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit