COVID-19 Diprediksi Menjadi Penyakit Endemik, Apa Itu?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 10 November 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Wabah virus SARS-CoV-2 pertama kali disebut sebagai epidemi, penyakit yang menular dengan cepat di suatu komunitas atau wilayah tertentu. Epidemi COVID-19 yang menyebar secara global ke seluruh dunia membuatnya dinyatakan sebagai pandemi. Lalu belakangan para ahli mulai memperkirakan bahwa wabah COVID-19 ini tidak akan benar-benar hilang dan akan menjadi penyakit endemik. 

Penyakit endemik merupakan penyakit yang selalu ada dalam kelompok masyarakat atau populasi tertentu. Apa yang harus dilakukan jika COVID-19 menjadi penyakit endemik?

Apa artinya jika COVID-19 menjadi penyakit endemik?

covid-19 bisa menjadi penyakit endemik

Hingga di penghujung tahun 2020, belum ada tanda-tanda pandemi COVID-19 akan berakhir. Di Indonesia sendiri jumlah kasus masih terus meningkat setiap harinya. Kondisi serupa terjadi secara global meski begitu sejumlah negara cukup berhasil untuk mengendalikan laju penularan virus SARS-CoV-2 ini.

Beberapa ahli mengatakan penyakit akibat infeksi virus SARS-CoV-2 ini memiliki kemungkinan besar menjadi penyakit endemik.

Kepala penasihat ilmiah Inggris, Patrick Vallance, mengatakan bahwa harapan COVID-19 dapat benar-benar dihilangkan hingga tuntas tak masuk dalam bayangan skenario masa depan yang mungkin terjadi. Argumen ini muncul berdasarkan fakta bahwa hingga saat ini belum diketahui berapa lama kekebalan atau antibodi tubuh terhadap virus SARS-CoV-2 bisa bertahan. Kekebalan yang dimaksud baik yang dihasilkan oleh vaksin maupun yang muncul setelah sembuh dari COVID-19. Sejauh ini, hasil sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kekebalan tubuh terhadap COVID-19 dari pasien yang sembuh hanya bertahan dalam hitungan bulan saja. 

“Kami tidak dapat memastikan (bagaimana pandemi berakhir). Tapi saya pikir tidak mungkin akan berakhir hanya dengan mengandalkan vaksin, apakah hal itu bisa benar-benar menghentikan laju infeksi? Kemungkinan penyakit ini akan tetap menyebar dan menjadi endemik, itulah penilaian terbaik saya,” ujar Vallance, kepada Komite Strategi Keamanan Nasional Inggris, di London.

Kekebalan dari vaksin 

Vaksin COVID-19 flu bukan satu-satunya solusi

Berbagai lembaga akademik dan perusahaan bioteknologi di seluruh dunia sedang membuat vaksin COVID-19 secepat mungkin. Saat ini ada setidaknya kurang dari 10 calon vaksin yang tengah memasuki tahap akhir uji klinis. 

Meski telah memasuki tahap akhir uji klinis, belum diketahui berapa lama kekebalan tubuh yang terbentuk setelah divaksin bisa bertahan. Para ahli mengatakan bahwa kemungkinan terbaik vaksin-vaksin yang sedang menjalani uji klinis ini hanya mengurangi risiko infeksi dan tingkat keparahan penyakit, bukan vaksin jenis yang mampu membuat seseorang kebal dari COVID-19. 

Eric Brown, Kepala Manajemen Teknis Penanggulangan COVID-19 WHO Thailand, mengatakan dari vaksin-vaksin yang sedang diuji tidak ada yang memberikan jaminan kebal terhadap penularan apalagi kekebalan jangka panjang.

“Ada banyak vaksin yang saat ini sedang dikembangkan, kira-kira sekitar dua minggu yang lalu sudah ada 30 atau lebih vaksin yang sedang dikembangkan dalam uji klinis (tahap 1, 2, atau 3). Tapi kami tidak memiliki jaminan bahwa vaksin ini akan berhasil,” kata Eric dalam wawancaranya dengan Hello Sehat Thailand, Senin (2/11).

Skenario paling mungkin adalah COVID-19 menjadi penyakit endemik, penyakit yang selalu ada meski tingkat keparahannya menurun dan penularannya terkendali. Program vaksinasi diprediksi kecil kemungkinan dapat memberantas tuntas wabah ini. Bahkan untuk vaksin yang bisa memberikan kekebalan jangka panjang, memberantas wabah sulit dilakukan. Dalam catatan sejarah, cacar adalah satu-satunya penyakit manusia yang benar-benar bisa diberantas berkat ditemukannya vaksin yang sangat efektif. 

Sebagai informasi, cacar pernah menjadi penyakit yang paling ditakuti di dunia. Sangat menular dan mematikan, sekitar tiga dari 10 orang penderita cacar meninggal dunia. Vaksin cacar yang sangat efektif ini juga didukung dengan jenis virus yang tidak bermutasi atau tanpa varian (strain). Sementara hal tersebut tak berlaku untuk SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 yang dilaporkan setidaknya memiliki 10 jenis strain berbeda. 

Pendukung lain pemberantasan cacar melalui program vaksinasi berhasil adalah gejala orang-orang yang terinfeksi terlihat dengan mudah, tidak ada orang yang terinfeksi tanpa gejala. Kondisi ini membuat pasien cacar mudah ditemukan dan langsung diisolasi.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

516,753

Terkonfirmasi

433,649

Sembuh

16,352

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Kekebalan pasien sembuh COVID-19 tidak bertahan lama

covid-19 kemungkinan menjadi penyakit endemik

Kondisi lain yang membuat COVID-19 diprediksi menjadi penyakit endemik adalah karena pasien sembuh bisa kembali tertular. Selain vaksin yang tidak menjanjikan kekebalan, antibodi orang yang sembuh dari COVID-19 juga tidak bertahan lama. 

Saat seseorang terinfeksi virus, sistem kekebalan tubuhnya akan merespons dan membentuk antibodi yang berfungsi melawan infeksi. Saat berhasil sembuh, antibodi ini akan bertahan untuk mencegah kemungkinan tertular lagi. Ada beberapa penyakit yang memberikan kekebalan dalam jangka waktu yang lama bahkan kekebalan permanen setelah sembuh dari infeksi. Orang-orang yang sembuh yang kemudian diharapkan menjadi pembentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Namun pada pasien COVID-19 sembuh, antibodi ini dilaporkan tidak bertahan lama. Para ahli menyebutnya hanya mampu bertahan satu tahun, namun ada beberapa laporan studi yang mengatakan antibodi COVID-19 bertahan 3 bulan. Setelah 3 bulan, pasien sembuh bisa terinfeksi ulang dan bisa menularkan ke orang lain. 

Bahkan penyakit yang memberikan kekebalan permanen pun tetap tidak memberi jaminan hilangnya orang rentan terinfeksi. Contohnya adalah anak-anak yang antibodi turunan dari ibunya telah habis merupakan faktor penyebab campak menjadi penyakit endemik di beberapa wilayah di dunia dan banyak menyerang anak-anak.

Antibodi yang tersisa seharusnya memiliki memori akan virus tersebut dan dapat mengantisipasinya. Namun, virus juga bisa menghindari memori kekebalan tersebut dengan bermutasi. Kondisi ini menyebabkan orang yang memiliki antibodi bisa tetap terinfeksi oleh virus dengan strain atau varian lain hasil dari mutasi.

Kondisi inilah yang membuat COVID-19 diprediksi akan menjadi penyakit endemik seperti halnya influenza. 

Oleh karena itu Eric mengatakan bahwa harus ada perubahan fundamental dalam berbagai segi kehidupan yang selama ini kita jalani. “Kita harus mengurangi risiko kondisi pandemi serupa ini terjadi di masa depan. Oleh karena itu, bukan hanya kebiasaan sehari-hari bagi individu, tapi juga bagaimana bisnis dan layanan kesehatan beroperasi harus berubah. Bahkan bagaimana negara mengembangkan kebijakan termasuk persoalan perubahan iklim untuk mengurangi risiko wabah.”

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Saja Penyebab Orang Tidak Percaya Keberadaan COVID-19?

Luasnya penyebaran COVID-19 di Indonesia terkait dengan banyak faktor, termasuk persoalan sebagian warga yang tidak percaya keberadaan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Porsi Olahraga Setelah Sembuh dari COVID-19

Olahraga setelah sembuh dari COVID-19 memiliki potensi bahaya. Oleh karena itu harus porsi olahraga harus disesuaikan dengan kondisi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Resepsi Pernikahan di Masa Pandemi, Bagaimana Risiko Penularannya?

Mengadakan resepsi pernikahan di tengah pandemi tetap memiliki risiko penularan COVID-19. Lalu bagaimana cara untuk mengurangi risikonya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Bagaimana Cara Kerja Obat Anti Komplemen untuk Menangani COVID-19?

Para ilmuwan melakukan studi pada obat anti komplemen untuk pasien COVID-19. Kemampuannya menghambat peradangan dipercaya dapat meringankan gejala.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

hamil di masa pandemi

Adakah Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Tingkat Bayi Lahir Mati?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27 November 2020 . Waktu baca 4 menit
penularan covid-19 tanpa gejala

Sebesar Apa Dampak Orang Tanpa Gejala COVID-19 Berpengaruh Terhadap Penularan Wabah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 3 menit
antibodi covid-19

Berapa Lama Antibodi Pasien COVID-19 Sembuh dapat Bertahan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit
sembuh covid-19

Perawatan yang Dibutuhkan Setelah Sembuh dari COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit