Ahli Peringatkan COVID-19 Bisa Memicu Risiko Diabetes pada Orang Sehat

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Diabetes dan penyakit COVID-19 berkaitan satu sama lain. Bagi penderita diabetes (diabetesi), ada risiko peningkatan gejala COVID-19. Namun, ada temuan baru yang menyatakan COVID-19 dapat memicu diabetes pada orang sehat. Bagaimana ini bisa terjadi?

COVID-19 memicu diabetes pada orang sehat

masker gelombang kedua covid-19

Sebagai salah satu cara menganalisis penyakit COVID-19, ilmuwan mengembangkan studi terkait efeknya pada orang sehat. Pasalnya, beberapa kasus menunjukkan kelompok yang tidak memiliki riwayat penyakit tetap mengembangkan gejala yang parah terhadap COVID-19. 

Studi dari New England Journal of Medicine menunjukkan COVID-19 mungkin memicu diabetes pada orang sehat. Kondisi ini juga yang akhirnya membuat mereka terkena komplikasi parah dari COVID-19. 

Penelitian ini bertujuan untuk memahami karakteristik dan sejauh mana diabetes dapat memengaruhi pasien COVID-19. Dengan demikian, para peneliti dapat mengetahui cara memantau dan mengobati pasien yang terkena diabetes selama dan setelah pandemi.

Diabetes memang sering dikaitkan dengan peningkatan risiko komplikasi dan kematian yang merupakan efek COVID-19. Sekitar 20-30% pasien COVID-19 yang meninggal dilaporkan menyandang diabetes. Munculnya diabetes baru dan komplikasi metabolisme juga diamati pada pasien COVID-19.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

207,203

Terkonfirmasi

147,510

Sembuh

8,456

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Sebenarnya, masih belum jelas bagaimana virus penyebab COVID-19 ini berdampak pada diabetes. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa protein yang berikatan dengan virus, yaitu ACE-2, tidak hanya ada pada paru melainkan juga pada organ lainnya. 

Organ dan jaringan yang terlibat dalam metabolisme glukosa, seperti pankreas, jaringan lemak, dan hati pun ditemukan protein yang sama. Para peneliti mencoba menarik kesimpulan bahwa COVID-19 yang memasuki jaringan dapat merusak fungsi metabolisme glukosa yang mungkin memicu diabetes tipe 1

Menurut Francesco Rubino, peneliti yang merupakan profesor bedah di King’s College London, diabetes adalah penyakit kronis yang cukup umum. Artinya, penularan virus lewat droplet (cipratan air liur) ini dapat memengaruhi glukosa meskipun belum diketahui penyebabnya.

Di sisi lain, para ahli juga masih mencari tahu jenis diabetes apa yang disebabkan oleh penyakit pernapasan ini, seperti apakah COVID-19 dapat memicu diabetes tipe 1, 2 atau jenis baru dan berapa lama bertahan di tubuh atau akan hilang setelah infeksi.

Maka itu, dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai dampak COVID-19 terhadap diabetes pada orang sehat maupun mereka yang sudah terkena dari awal.

mencegah tertular coronavirus

Mengapa penyakit diabetes berbahaya bagi pasien COVID-19?

ventilator untuk covid-19

Pasien COVID-19 yang menderita riwayat penyakit kronis seperti diabetes kemungkinan dapat terpicu gejala yang cukup parah. 

Terlebih lagi, pasien COVID-19 penderita diabetes akan lebih sulit untuk diobati karena kadar gula darah tidak stabil. Akibatnya, tidak menutup kemungkinan komplikasi diabetes dapat terjadi. 

Lantas, apa yang membuat penyakit diabetes dapat mempersulit kondisi pasien COVID-19? Sejauh ini para ahli masih mencoba mencari tahu, tetapi ada dua hal yang mungkin menjadi penyebab kondisi ini terjadi.

Pertama, sistem kekebalan yang terganggu mengakibatkan tubuh pasien COVID-19 sulit melawan virus. Kedua, virus yang berkembang juga menyebabkan glukosa darah meningkat drastis. 

Kedua faktor di atas yang tampaknya menjadi penyebab mengapa diabetesi termasuk kelompok yang dapat memicu kondisi parah akibat COVID-19. Kondisi ini berlaku baik bagi penderita diabetes tipe 1 maupun 2. 

Secara umum, kedua jenis diabetes tersebut tidak menunjukkan perbedaan ketika terkena COVID-19. Namun, hal yang penting perlu diperhatikan adalah usia, komplikasi yang dialami, dan seberapa baik pasien mengelola diabetes mereka sebelumnya.

Studi: 1 dari 10 Pasien COVID-19 dengan Diabetes Berisiko Meninggal Dunia

Apa yang perlu dilakukan para penyandang diabetes?

pengobatan diabetes

Kemungkinan COVID-19 memicu diabetes baru pada orang sehat memang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih waspada dan menjalankan upaya mencegah penularan COVID-19 dengan baik. 

Hal ini berlaku pada semua orang, termasuk para penyandang diabetes dan mereka yang memiliki faktor risiko penyakit tersebut. Berikut ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam menghadapi pandemi COVID-19 bagi diabetesi dan mereka yang berisiko.

  • Mempersiapkan diri ketika sakit.
  • Memiliki kontak darurat jika dibutuhkan.
  • Memberikan perhatian ekstra terhadap gula darah lewat pemantauan rutin.
  • Jika mengalami gejala COVID-19, konsultasikan dengan dokter.
  • Memastikan ketersediaan makanan dan obat yang dibutuhkan.
  • Mempertahankan jadwal yang teratur, bekerja dan tidur secukupnya.

Penelitian terhadap COVID-19 yang disebut dapat memicu diabetes pada orang sehat memang akan membantu para ahli untuk mengungkap bagaimana virus ini berkembang.

Sementara studi dilakukan, Anda pun tetap diharapkan untuk menjaga kebersihan tangan dan menjalankan protokol kesehatan demi mengurangi risiko penularan.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kasus Pasien COVID-19 Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Beberapa kasus pasien COVID-19 yang bunuh diri menandakan penanganan COVID-19 juga membutuhkan penanganan perhatian khusus pada kesehatan mental pasien.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Klaster Penularan COVID-19 di Perkantoran Terus Bertambah, Apa yang Salah?

Memasuki new normal, angka penularan COVID-19 klaster perkantoran terus bertambah. Data terbaru mencatat setidaknya ada 90 klaster perkantoran di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 21 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Kortikosteroid dan Keampuhannya Menyelamatkan Pasien COVID-19 Gejala Berat

Obat kortikosteroid terbukti ampuh menyelamatkan pasien COVID-19 dari keadaan kritis. Beberapa bukti ilmiah membuat obat ini dapat digunakan secara luas.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Penularan COVID-19 dalam Aktivitas Sehari-hari, dari Makan Hingga Berenang

Berikut penjelasan ahli atas pertanyaan-pertanyaan seputar penularan COVID-19 dalam kehidupan sehari-hari. COVID-19 tidak menular dari air di kolam renang.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 21 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Indonesia bisa menjadi episentrum covid-19 dunia

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit
thermo gun tidak merusak otak

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit
risiko indonesia menjadi episentrum, penularan covid-19 saat konser pilkada 2020

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit
dampak jangka panjang covid-19

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit