Happy Hypoxia, Gejala COVID-19 Berbahaya yang Datang Diam-diam

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Sejak kemunculannya pada Desember lalu, wabah  COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 memacu para ilmuwan untuk terus mempelajari penyakit kini. Happy hypoxia adalah salah satu gejala COVID-19 yang baru-baru ini diketahui dan dinyatakan sebagai gejala abnormal yang membahayakan.

Apa itu happy hypoxia? Bagaimana gejala ini menyerang kesehatan manusia?

Happy Hypoxia pada COVID-19, kadar oksigen dalam tubuh anjlok tanpa disadari

pasien covid-19 happy hypoxia

Kasus pasien terinfeksi COVID-19 dengan level oksigen sangat rendah dilaporkan meningkat. Meski kadar oksigen pasien tersebut rendah, namun tidak terjadi kesulitan bernapas seperti gejala pada umumnya.

Umumnya, pasien bisa mengalami gangguan pernapasan akut (ARDS/acute respiratory distress syndrome) atau semacam gagal napas. Tapi dalam kasus pasien dengan gejala happy hypoxia pasien tetap sadar dan relatif merasa sehat, padahal paru-paru pasien tidak mampu mengalirkan oksigen ke dalam darah secara normal.

Ini adalah kondisi tidak umum dan tidak sesuai dengan premis biologis dasar. Sebab pada umumnya, jika kadar oksigen dalam darah di bawah batas normal  maka kita akan mengalami gejala sesak napas dan pusing.

Tapi kondisi pasien dengan silent hypoxia atau happy hypoxia ini tidak menunjukkan gejala apapun, sehingga sulit diketahui status kesehatan akibat infeksi COVID-19 tersebut. Si pasien tidak menyadari bahwa kondisi kesehatannya lebih buruk dari yang mereka kira. 

Karena COVID-19 menyerang sistem pernapasan, maka kurangnya kadar oksigen bisa membahayakan keselamatan pasien. Ketika gejalanya terlihat, maka dokter bisa langsung memberikan tindakan medis lebih cepat. Namun jika gejala tersebut tak tampak, maka akan menyulitkan tenaga kesehatan untuk penanganan kesehatan lebih cepat. 

Pasien COVID-19 dengan happy hypoxia biasanya datang ke rumah sakit dengan gejala ringan, lalu mengalami perburukan gejala dengan cepat dan bisa meninggal.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

282,724

Terkonfirmasi

210,437

Sembuh

10,601

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Kenapa happy hypoxia bisa terjadi?

pasien covid-19 dengan gejala happy hypoxia

Dokter berspekulasi, pada sebagian orang, masalah paru-paru akibat COVID-19 berkembang dengan cara yang tidak segera terlihat. Misalnya saat pasien fokus untuk memerangi gejala seperti demam dan diare, tubuh mulai melawan kekurangan oksigen dengan mempercepat pernapasan untuk mengimbanginya.

Pasien sendiri mungkin menyadari laju pernapasannya semakin cepat, tapi belum langsung mencari bantuan padahal kadar oksigen dalam darahnya semakin menurun. 

Menurut laporan yang ditulis oleh ahli paru Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dokter Erlina Burhan, mekanisme serangan gejala ini belum jelas. 

Namun dr. Erlina mencurigai hal ini dikarenakan adanya kerusakan pada saraf aferen (saraf pengirim sinyal) jadi otak tidak menerima stimulasi tanda-tanda gangguan. Inilah yang menyebabkan tubuh tidak menyadari kadar oksigen telah berada di bawah normal.

COVID-19 Bisa Menginfeksi Sel Otak dan Picu Kerusakan Jangka Panjang

Tanpa disadari kerusakan telah terjadi, bukan hanya pada paru-paru tapi bisa juga berpengaruh pada jantung, ginjal, dan otak. 

Karena happy hipoksia ini menyerang tubuh secara diam-diam, gejala ini bisa tiba-tiba berkembang menjadi gagal napas dengan cepat.

Para ahli menebak ini menjadi salah satu penyebab pasien COVID-19 dengan usia muda dan tanpa penyakit penyerta meninggal mendadak tanpa sebelumnya mengalami sesak napas.

Tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali gejala happy hypoxia pada pasien COVID-19 muncul. Kecurigaan pada gejala happy hypoxia pertama kali dilaporkan pada April-Mei 2020. Hingga saat ini data kasus positif COVID-19 dengan gejala tersebut dilaporkan meningkat dan perlu diwaspadai. 

“Waspada tidak menganggap diri sendiri orang tanpa gejala saat sudah dinyatakan positif COVID-19,” kata dr. Vito Anggarino Damay, SpJP (K), M.Kes, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Kementerian Kesehatan memastikan keamanan tembakan sinar thermo gun ke dahi seseorang. Hasilnya, thermo gun sama sekali tidak merusak saraf otak.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Pilkada Serentak 2020 rencananya akan diizinkan untuk melakukan kampanye konser dan jalan sehat, bagaimana dampaknya dalam penanggunalan penularan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Beberapa studi melaporkan banyak pasien COVID-19 mengalami dampak jangka panjang, terlepas berat atau ringannya infeksi yang dialami.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus Pasien COVID-19 Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Beberapa kasus pasien COVID-19 yang bunuh diri menandakan penanganan COVID-19 juga membutuhkan penanganan perhatian khusus pada kesehatan mental pasien.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kacamata masker covid-19

Apakah Memakai Kacamata Mengurangi Risiko Tertular COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hidup sehat dan bersih di rumah

Pentingnya Menerapkan Protokol Kesehatan untuk Melindungi Keluarga di Rumah

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 26 September 2020 . Waktu baca 5 menit
risiko penularan covid-19 banjir

Banjir dan Risiko Penularan COVID-19, Ancaman Dobel Bencana

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Indonesia bisa menjadi episentrum covid-19 dunia

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit