Perbedaan Flu Babi dan Novel Coronavirus

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16/04/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Wabah novel coronavirus atau COVID-19 dari Wuhan, Tiongkok, kini telah menginfeksi lebih dari 45.000 kasus secara global dan menelan lebih dari 1.000 korban jiwa. Di tengah wabah penyakit yang menyerupai SARS ini, Tiongkok dan negara sekitarnya juga menghadapi wabah flu babi. Bagaimana membedakan antara coronavirus di Wuhan atau COVID-19 dengan flu babi (H1N1)?

Perbedaan coronavirus (COVID-19) dan flu babi (H1N1)

perbedaan flu dan pilek

Flu babi atau H1N1 merupakan salah satu jenis penyakit infeksi pernapasan yang menyerang manusia. Penyakit yang lebih dikenal sebagai influenza virus H1N1 ini normalnya disebabkan oleh babi, baik di peternakan maupun melalui dokter hewan. Akan tetapi, pada kasus tertentu virus flu babi dapat ditularkan dari manusia ke manusia lainnya. 

Jika dibandingkan dengan coronavirus COVID-19, tingkat penularan flu babi cukup tinggi karena mudah menular antar manusia. Misal, penderita flu babi yang bersin dapat menyebarkan bakteri dan virus melalui udara. 

Namun, virus flu babi sudah terbukti dapat bertahan di permukaan benda mati, seperti meja dan gagang pintu, sehingga cukup berbeda dengan penularan novel coronavirus

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

26,940

Terkonfirmasi

7,637

Sembuh

1,641

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Mari kenali apa saja perbedaan antara COVID-19 dan H1N1 yang perlu Anda ketahui agar tidak salah mengenali. 

1. Lokasi temuan COVID-19 dan H1N1

flu babi

Salah satu hal yang membedakan antara COVID-19 alias novel coronavirus dengan flu babi adalah lokasi pertama kali wabah ditemukan. Dilansir dari laman CDC, wabah flu babi pertama kali ditemukan tahun 2009 di Amerika Utara tepat ketika musim semi sedang berlangsung. 

Jika dibandingkan dengan flu babi, novel coronavirus atau COVID-19 pertama kali dilaporkan di Wuhan, Tiongkok, tepatnya tanggal 31 Desember 2019. 

Walaupun demikian, baik COVID-19 dan H1N1 kemudian meluas secara global dan menginfeksi banyak orang di negara selain tempat pertama kali virus ini ditemukan. 

2. Membedakan gejala novel coronavirus dan flu babi

kurang vitamin B12 sakit demam tidak enak badan flu

Selain lokasi temuan pertama, terdapat sedikit perbedaan antara coronavirus COVID-19 terkait gejala yang ditimbulkan.

Untuk Coronavirus COVID-19, gejala yang dialami oleh penderitanya hampir mirip dengan flu biasa, seperti

  • demam tinggi lebih dari 38°C
  • kesulitan bernapas
  • batuk dan pilek
  • sakit tenggorokan
  • pernah melakukan perjalanan ke Tiongkok

Sementara itu, flu babi pun menunjukkan gejala yang sedikit berbeda dengan COVID-19 seperti:

  • demam mendadak dan tidak selalu terjadi
  • batuk kering dan pilek
  • sakit kepala
  • muntah dan diare
  • mata berair dan merah

Akan tetapi, perbedaan gejala antara kedua penyakit ini terletak pada demam. Apabila gejala awal dari COVID-19 ditandai dengan demam tinggi, demam pada flu babi tidak selalu terjadi.

Flu babi yang tidak mendapatkan pengobatan dengan baik menyebabkan komplikasi serius, misalnya pneumonia, sesak napas, kejang dan linglung, hingga kematian. Maka itu, beberapa orang kadang panik dan mengalami salah diagnosis ketika wabah penyakit dari flu babi karena gejalanya yang hampir mirip dengan COVID-19. 

Apabila Anda mengalami beberapa gejala di atas, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. 

3. Metode pengobatan

karantina adalah

Melihat dari gejala yang ditimbulkan dari coronavirus COVID-19 dan flu babi mungkin Anda menganggap bahwa perawatan yang dijalani juga tidak akan jauh berbeda. Faktanya, tidak demikian.

Coronavirus COVID-19 sampai saat ini belum memiliki obat khusus. Akan tetapi, perawatan yang dijalani selama ini lebih berfokus meringankan gejala yang dialami penderita agar dapat melawan infeksi virus di tubuh. 

Sementara itu, kondisi penderita flu babi dapat membaik dalam kurun waktu 7-10 hari setelah mendapatkan pengobatan. Baik coronavirus COVID-19 dan flu babi, perawatan yang dijalani bertujuan untuk meringankan gejala yang dialami pasien agar tidak mengalami komplikasi. 

COVID-19

Walaupun demikian, Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui empat jenis obat untuk mengobati flu babi, yaitu:

  • Oseltamivir (Tamiflu)
  • Zanamivir (Relenza)
  • Peramivir (Rapivab)
  • Baloxavir (Xofluza)

Keempat obat tersebut digunakan untuk melawan infeksi virus H1N1, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa sel virus akan membentuk resistensi terhadap obat. Maka itu, selama masa perawatan berlangsung, dokter sering menambahkan obat antiviral kepada orang yang berisiko tinggi. 

4. Hewan perantara virus

efek kesehatan makan trenggiling

Baik coronavirus COVID-19 dan flu babi, infeksi virus keduanya berasal dari hewan. Akan tetapi, tentu saja jenis hewan yang menjadi perantara virus ke tubuh manusia pada kedua penyakit ini berbeda. 

Pada coronavirus COVID-19, sumber virus disinyalir berasal dari kelelawar. Kemudian, sel virus yang ada pada kelelawar berkembang dalam tubuh trenggiling, yaitu salah satu satwa liar yang cukup populer dikonsumsi di Tiongkok. 

Akibatnya, ketika daging binatang tersebut dikonsumsi, sel virus pun mengalami mutasi dalam tubuh manusia. Dari manusia yang pertama kali terinfeksi kemudian menyebar ke orang lain melalui tetesan pernapasan di udara.

Sementara itu, sesuai dengan namanya, flu babi berasal dari babi, baik yang masih hidup maupun sudah mati. Babi yang terinfeksi biasanya menunjukkan gejala berupa:

  • demam
  • batuk, yaitu bersuara seperti menggonggong
  • sulit bernapas
  • depresi dan terlihat tidak nafsu makan.

Walaupun demikian, tidak sedikit babi yang terinfeksi flu babi justru tidak menunjukkan tanda-tanda sama sekali. 

Dari jenis hewan perantara virus Anda dapat melihat perbedaan antara coronavirus COVID-19 dengan flu babi. Akan tetapi, untuk saat ini masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan satwa liar yang menjadi sumber virus COVID-19. 

5. Penularan wabah penyakit

wabah coronavirus

Terakhir, perbedaan antara coronavirus COVID-19 dengan flu babi adalah penularannya. Walaupun keduanya berasal dari hewan, pada flu babi dapat ditularkan melalui babi hidup dan babi yang sudah mati.

Selain itu, penularan flu babi juga dapat terjadi melalui pakan ternak dan benda mati yang terkontaminasi, seperti pakaian, pisau, peralatan dapur, dan sepatu. Bahkan, wabah ini juga diperkirakan menyebar di antara babi melalui kontak dekat atau barang yang berada di dekat hewan yang terinfeksi. 

Kawanan babi yang terinfeksi, termasuk yang sudah diberikan vaksin, juga berisiko terhadap penyakit ini meskipun awalnya tidak menunjukkan gejala yang serius. 

Di sisi lain, coronavirus COVID-19 dapat menularkan virusnya dari penderita ke orang lainnya ketika jarak penularannya cukup dekat, yaitu sekitar 1-2 meter atau 6 kaki. 

Sama seperti flu babi, penularan coronavirus COVID-19 diduga berasal dari tetesan air liur yang dihasilkan oleh orang yang terinfeksi saat batuk atau bersin. Kemudian, tetesan tersebut dapat menempel di mulut atau hidung orang yang berada dekat dengan penderita hingga terhirup ke paru-paru. 

Selain itu, menurut sejumlah laporan dari media di Tiongkok mengungkapkan bahwa penularan COVID-19 dapat terjadi melalui udara. Hal ini dapat terjadi apabila adanya transmisi aerosol yang sudah tercampur dengan virus dan tetesan pernapasan dari pasien yang terinfeksi. Akibatnya, campuran tersebut membuat virus menjadi cepat terhirup oleh orang yang mungki tidak terkena infeksi pada awalnya.

Sampai saat ini masih belum benar-benar terbukti 100% secara ilmiah apakah seseorang dapat terinfeksi dengan menyentuh barang yang terkontaminasi virus.

Waspada, COVID-19 Bisa Menular Sebelum Gejala Muncul

Antara COVID-19 dengan flu babi memang tidak begitu jauh berbeda. Maka itu, sebaiknya ketika Anda merasa kurang sehat dan mengalami gejala di atas, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkanya penanganan.

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Baru-baru ini terdengar kabar bahwa minum alkohol dapat membunuh coronavirus di dalam tubuh. Benarkah demikian? Simak penjelasannya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Selain berpengaruh terhadap kesehatan fisik, ternyata dampak pandemi COVID-19 juga menyasar kesehatan mental terutama remaja. Mengapa demikian?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Penyakit lupus termasuk dalam kategori kelompok yang rentan terhadap gejala COVID-19 yang lebih parah. Bagaimana risiko COVID-19 pada penderita lupus?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Arus mudik yang tak bisa dikendalikan membuat masyarakat di desa harus siaga kedatangan potensi sumber penularan COVID-19. Bagaimana kesiapannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
panduan new normal covid-19

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
COVID-19 penyakit endemi

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020