Bukan Ular atau Kelelawar, Novel Coronavirus Diduga Berasal dari Trenggiling

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Novel coronavirus yang kini merebak di 28 negara sempat diduga berasal dari ular dan kelelawar. Akan tetapi, dugaan ini ditampik oleh beberapa peneliti di Tiongkok, setelah mereka meneliti sampel virus pada lebih dari 1.000 hewan liar. Hasil pengamatan tersebut menemukan bahwa novel coronavirus kemungkinan berasal dari trenggiling.

Coronavirus adalah virus yang menular dengan perantara hewan. Jenis hewan yang berpotensi menyebarkan coronavirus pun beragam, mulai dari yang umum dikonsumsi hingga yang jarang ditemui seperti kelelawar dan trenggiling.

Banyaknya hewan yang berpotensi menyebarkan coronavirus menjadi kendala bagi peneliti dalam melacak penyebarannya. Lantas, bagaimana coronavirus akhirnya bisa ditemukan pada trenggiling?

Mengenal berbagai hewan penyebar coronavirus

Sumber: Wikimedia Commons

Coronavirus merupakan kelompok virus yang kerap menginfeksi saluran pernapasan manusia dan hewan. Virus berukuran besar ini terbagi menjadi beberapa tipe, dan novel coronavirus yang berasal dari Kota Wuhan, Tiongkok, adalah jenis yang paling baru.

Ada empat genus (marga) coronavirus yang sudah diketahui, yakni:

  • Alphacoronavirus dan betacoronavirus, hanya ditemukan pada mamalia seperti kelelawar, babi, serta manusia.
  • Gammacoronavirus dan deltacoronavirus, keduanya bisa menginfeksi mamalia serta burung.

Sebelum muncul isu novel coronavirus berasal dari trenggiling, peneliti di Tiongkok pada Januari lalu meyakini virus ini menyebar melalui ular. Dalam Journal of Medical Virology, mereka menyebut virus berpindah ke manusia melalui konsumsi daging ular.

Namun, hasil studi ini menuai kritik karena coronavirus belum terbukti dapat menjangkiti hewan selain mamalia dan burung. Menurut peneliti dari Pasteur Institute of Shanghai, Tiongkok, hewan penyebar virus berkode 2019-nCoV ini kemungkinan besar adalah kelelawar.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

24,538

Terkonfirmasi

6,240

Sembuh

1,496

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Mereka menemukan kemiripan antara 2019-nCoV dan coronavirus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang pernah mewabah pada 2003 lalu. Keduanya termasuk dalam kelompok betacoronavirus dan banyak ditemukan pada kelelawar.

Analisis genetik juga menunjukkan bahwa tipe virus yang saat ini mewabah 96% mirip dengan coronavirus pada kelelawar. Seluruh dunia pun meyakini coronavirus memang berasal dari kelelawar, hingga muncul hasil studi yang menemukan kaitan antara virus ini dengan trenggiling.

Belum lama ini, peneliti di Tiongkok dan Prancis menemukan bahwa mamalia yang menjadi asal penyebaran novel coronavirus bukanlah kelelawar, melainkan trenggiling. Seperti kelelawar, hewan ini pun dijual di Pasar Huanan, Wuhan, dan kerap dikonsumsi.

Menurut Arnaud Fontanet, seorang peneliti epidemiologi dari Pasteur Institute Prancis, coronavirus tidak berpindah secara langsung dari kelelawar ke manusia. Virus ini butuh hewan perantara untuk berpindah spesies, dan trenggiling mungkin adalah perantaranya.

Trenggiling, mata rantai penyebaran coronavirus dari kelelawar

Sumber: Wikipedia

Ada banyak hewan yang dapat menyebarkan virus ke spesies lain, dan hampir semua tipe coronavirus yang menjangkiti manusia ditularkan dari hewan liar. Kendati demikian, perpindahan virus dari hewan ke manusia tidak selalu terjadi secara langsung.

Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa virus yang berasal dari kelelawar tidak mempunyai molekul yang diperlukan untuk menempel pada reseptor sel manusia. Virus-virus ini memerlukan missing link, atau mata rantai berupa hewan perantara.

Hewan yang menjadi perantara tidak selalu diketahui. Pada kasus novel coronavirus, peneliti awalnya belum menduga penyebarannya bersumber dari trenggiling. Fontanet meyakini perantaranya merupakan mamalia dari famili hewan yang sama dengan luak.

Pada 2003 ketika SARS merebak, mata rantai penularannya juga berasal dari kerabat luak, yakni musang. SARS-CoV dari kelelawar awalnya menjangkiti musang, kemudian berpindah ke manusia yang mengonsumsi daging hewan ini.

Guna menentukan mata rantai penyebaran novel coronavirus, peneliti dari South China Agricultural University, Tiongkok, menguji sampel virus pada lebih dari 1.000 jenis hewan liar. Hasilnya, urutan gen virus pada trenggiling memiliki 99% kemiripan dengan coronavirus yang berasal dari Wuhan.

Sebelum studi ini dilakukan, banyak peneliti sebenarnya telah mencurigai trenggiling sebagai perantara penularan virus dari kelelawar ke manusia. Inilah mengapa para peneliti tidak terkejut begitu mengetahui coronavirus pada trenggiling memiliki molekul yang dibutuhkan untuk berikatan dengan sel tubuh manusia.

Temuan ini memang menjanjikan, tapi ini tidak dapat dijadikan satu-satunya bukti. Para peneliti masih harus melakukan investigasi lebih lanjut untuk betul-betul mengetahui dalang di balik wabah yang telah memakan korban jiwa ratusan orang ini.

Pentingnya memutus mata rantai penyebaran virus

Sumber: Business Insider Singapore

Hasil penelitian menemukan kaitan kuat antara susunan genetik virus pada trenggiling dengan novel coronavirus dari Wuhan. Walau demikian, masih ada banyak faktor yang perlu dikaji sebelum para peneliti dapat memastikan hal ini dan menyebarluaskannya.

Saat ini, langkah terbaik yang dapat dilakukan masyarakat adalah melakukan upaya pencegahan dan menghentikan konsumsi daging hewan liar. Pasalnya, kedua faktor tersebut berperan penting dalam mencegah wabah bertambah luas.

Trenggiling merupakan hewan yang dilindungi, bahkan beberapa spesies trenggiling kini tergolong sebagai hewan langka. Sayangnya, kondisi tersebut ternyata tidak cukup untuk menghentikan perburuan hewan liar yang merajalela.

Tingginya minat beberapa kelompok masyarakat terhadap daging hewan liar membuat perburuan kian marak. Sebelum novel coronavirus merebak, daging trenggiling adalah satu dari 112 jenis hewan liar yang dijual di sudut terdalam pasar tersebut.

Indonesia pun mempunyai beberapa tempat penjualan daging hewan liar yang mirip dengan Pasar Huanan di Tiongkok. Meski telah lekat dengan keseharian masyarakat, pasar hewan liar sebenarnya merupakan tempat ideal bagi berkembangnya virus baru.

Hingga saat ini, tidak ada laporan mengenai perkembangan novel coronavirus di pasar daging hewan liar yang ada di Indonesia. Namun, masyarakat disarankan untuk menghindari konsumsi daging liar guna mencegah penyebaran virus lebih lanjut.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Baru-baru ini terdengar kabar bahwa minum alkohol dapat membunuh coronavirus di dalam tubuh. Benarkah demikian? Simak penjelasannya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Selain berpengaruh terhadap kesehatan fisik, ternyata dampak pandemi COVID-19 juga menyasar kesehatan mental terutama remaja. Mengapa demikian?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/05/2020

Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Penyakit lupus termasuk dalam kategori kelompok yang rentan terhadap gejala COVID-19 yang lebih parah. Bagaimana risiko COVID-19 pada penderita lupus?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Arus mudik yang tak bisa dikendalikan membuat masyarakat di desa harus siaga kedatangan potensi sumber penularan COVID-19. Bagaimana kesiapannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 20/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
panduan new normal covid-19

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
COVID-19 penyakit endemi

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020