Obat Chloroquine Sebagai Salah Satu Opsi Pengobatan untuk COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus corona baru dengan nama SARS-CoV-2, telah dinyatakan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Maret 2020. Seiring dengan peningkatan kasusnya di berbagai belahan dunia, para ahli terus melakukan penelitian untuk mencari tahu obat serta vaksinasi yang dapat menyembuhkan COVID-19, salah satunya chloroquine. Benarkah obat ini mampu mengatasi pandemi ini?

Mengenal chloroquine, obat antimalaria sebagai potensi pengobatan COVID-19

Chloroquine phosphate, atau klorokuin fosfat, adalah obat yang umum digunakan sebagai pengobatan malaria, penyakit akibat parasit Plasmodium yang terbawa oleh gigitan nyamuk Anopheles. Obat antimalaria ini menjadi salah satu dari sekian banyak obat yang tengah ditelusuri efektivitasnya untuk pengobatan COVID-19.

Dilansir dari MedlinePlus, selain diresepkan untuk mengobati dan mencegah malaria, chloroquine juga dapat digunakan untuk mengatasi amebiasis. Amebiasis adalah infeksi parasit yang menyebabkan gangguan pencernaan.

Chloroquine sendiri memang sudah lama diketahui memiliki potensi antivirus. Bahkan, obat ini sedang dalam beberapa penelitian untuk mengobati HIV.

Berdasarkan informasi dari U.S. National Library of Medicine, obat ini mengandung senyawa yang membantu mengaktifkan, meningkatkan, atau mengembalikan fungsi sistem imun tubuh pada penderita HIV sembari mengganggu kembang-biak virus HIV dalam tubuh manusia.

Potensi antivirus dari chloroquine didasari pada kemampuannya mengubah keseimbangan asam-basa dalam sel tubuh manusia, sehingga menciptakan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi perkembangan virus.

Kemampuan itulah yang kemudian mendorong para ahli untuk mempertimbangkan efek chloroquine sebagai obat COVID-19.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

266,845

Terkonfirmasi

196,196

Sembuh

10,218

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Penelitian terhadap obat chloroquine masih terus dilakukan

Di tengah maraknya peningkatan kasus kejadian COVID-19, chloroquine termasuk dalam beberapa obat yang diteliti sebagai alternatif pengobatan penyakit ini.

Hingga saat ini, setidaknya telah terdapat lebih dari 10 uji klinis yang meneliti efektivitas chloroquine sebagai obat untuk melawan virus corona baru (SARS-CoV-2). Sebagian besar penelitian obat ini sebagai antiviral dilakukan pada hewan, serta pada sel di luar tubuh manusia (in vitro).

Salah satunya adalah riset terbaru yang dilakukan oleh sekelompok peneliti di Tiongkok sebagaimana dilansir dalam jurnal Cell Research. Riset tersebut meneliti pemberian chloroquine yang dikombinasikan dengan obat antivirus remdesivir.

Hasilnya, kombinasi dari obat chloroquine dan remdesivir terbukti efektif mengendalikan infeksi virus corona penyebab COVID-19. Kedua obat tersebut, terutama chloroquine, menunjukkan efek antivirus serta berpotensi memperbaiki sistem imun tubuh penderita yang terinfeksi.

Kendati demikian, belum ada keputusan yang menyepakati dosis efektif klorokuin dalam pengobatan dan pencegahan COVID-19. Beberapa penelitian menganjurkan pemberian klorokuin sebanyak 600 mcg, dan ada pula yang merekomendasikan 150 mg untuk pencegahan. Namun, pada dasarnya, hal ini belum bisa ditetapkan secara pasti.

Harapan untuk selanjutnya adalah, chloroquine dapat dijadikan sebagai opsi yang murah dan mudah didapat untuk menekan kasus kejadian COVID-19. Beberapa negara pun telah memasukkan klorokuin dalam protokol penanganan penyakit ini, mulai dari Tiongkok, Inggris, Korea Selatan, hingga Qatar.

Obat ini digunakan sebagai penyembuhan COVID-19 di negara-negara tersebut, yang dibuktikan dengan berkurangnya masa rawat penderita di rumah sakit. Namun, berdasarkan pedoman resmi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, obat klorokuin belum terdaftar sebagai pengobatan spesifik anti-COVID-19.

Sementara itu, efek samping konsumsi klorokuin untuk COVID-19 belum diketahui secara pasti. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai keamanan obat ini untuk pasien penderita COVID-19.

Akan tetapi, obat yang telah ditemukan sejak puluhan tahun lalu ini telah teruji secara klinis aman dikonsumsi untuk pasien penderita malaria. WHO juga sudah menetapkan chloroquine sebagai obat paling aman dan efektif dalam daftar obat esensial.

Selain untuk menyembuhkan, bisakah chloroquine digunakan sebagai obat pencegah COVID-19?

Tidak hanya digadang-gadang sebagai obat penyembuh, chloroquine juga diteliti sebagai obat untuk pencegahan infeksi coronavirus, serta penurun risiko kambuhnya penyakit COVID-19 pada pasien yang sudah sembuh.

Sebuah riset yang sedang dilakukan oleh University of Oxford tengah menguji penggunaan obat chloroquine untuk mencegah COVID-19 di fasilitas kesehatan.

Penelitian ini melibatkan 10.000 pekerja medis serta orang-orang yang berisiko terinfeksi coronavirus. Nantinya, para partisipan akan diberikan chloroquine atau plasebo (obat kosong) secara acak selama 3 bulan, atau hingga ada yang terinfeksi COVID-19.

Sementara itu, untuk efektivitas chloroquine dan remdesivir sebagai pencegahan COVID-19 masih belum dapat dipastikan.

COVID-19 adalah penyakit menular yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China, pada tahun 2019. Sejauh ini, angka positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 309 kasus dengan angka kematian 25 orang.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Izin Konser saat Pilkada, Seberapa Bahaya Penularan COVID-19 di Tengah Konser?

Pilkada Serentak 2020 rencananya akan diizinkan untuk melakukan kampanye konser dan jalan sehat, bagaimana dampaknya dalam penanggunalan penularan COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Dampak Jangka Panjang Setelah Pasien Sembuh dari COVID-19

Beberapa studi melaporkan banyak pasien COVID-19 mengalami dampak jangka panjang, terlepas berat atau ringannya infeksi yang dialami.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Kasus Pasien COVID-19 Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Selama Pandemi

Beberapa kasus pasien COVID-19 yang bunuh diri menandakan penanganan COVID-19 juga membutuhkan penanganan perhatian khusus pada kesehatan mental pasien.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Klaster Penularan COVID-19 di Perkantoran Terus Bertambah, Apa yang Salah?

Memasuki new normal, angka penularan COVID-19 klaster perkantoran terus bertambah. Data terbaru mencatat setidaknya ada 90 klaster perkantoran di Jakarta.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 21 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

hidup sehat dan bersih di rumah

Pentingnya Menerapkan Protokol Kesehatan untuk Melindungi Keluarga di Rumah

Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 26 September 2020 . Waktu baca 5 menit
risiko penularan covid-19 banjir

Banjir dan Risiko Penularan COVID-19, Ancaman Dobel Bencana

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Indonesia bisa menjadi episentrum covid-19 dunia

Apakah Indonesia akan Menjadi Episentrum COVID-19 di Dunia?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit
thermo gun tidak merusak otak

Thermo Gun Tidak Merusak Saraf dan Otak, Cek Suhu di Dahi Lebih Akurat

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit