Bahaya Menyemprot Disinfektan Langsung ke Tubuh Manusia

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Penyemprotan disinfektan kini makin sering dilakukan guna menghambat penyebaran COVID-19. Bilik-bilik semprot disinfektan pun dibangun di beberapa titik pusat keramaian untuk menjangkau lebih banyak orang. Namun, World Health Organization (WHO) baru-baru ini mengingatkan bahaya disinfektan bagi tubuh bila disemprotkan secara langsung.

Melalui akun media sosialnya, WHO melarang penyemprotan disinfektan langsung ke tubuh manusia karena hal ini bisa membahayakan.

Kendati efektif membunuh kuman, berbagai bahan kimia yang terkandung dalam disinfektan dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan.

Bahaya disinfektan bagi tubuh manusia

obat iritasi kulit

Disinfektan adalah cairan dari campuran bahan kimia yang digunakan untuk membasmi kuman pada permukaan benda mati. Produk ini bekerja dengan membunuh kuman atau membuat kuman menjadi tidak aktif sehingga tidak mampu menyebabkan penyakit.

Produk disinfektan umumnya terbuat dari campuran etanol (alkohol) dan klorin. Akan tetapi, saat ini banyak pula disinfektan yang menggunakan hidrogen peroksida, larutan pemutih, amonium kuartener, maupun bahan kimia lainnya.

Saat disemprotkan pada permukaan benda, senyawa dalam disinfektan akan berikatan dengan dinding pelindung virus dan menghancurkannya hingga virus mati.

Selain virus, senyawa-senyawa ini juga ampuh membunuh mikroba hidup seperti bakteri dan jamur.

Kemampuan disinfektan dalam membasmi mikroba memang tidak bisa diragukan, tapi ini pula yang menjadikan disinfektan berbahaya bagi sel-sel hidup tubuh manusia.

Jika disemprotkan secara langsung, disinfektan malah menimbulkan bahaya bagi tubuh.

Paparan alkohol dan natrium hipoklorit dalam konsentrasi rendah dapat menyebabkan iritasi pada kulit manusia. Jika digunakan dalam jangka waktu lama, kedua senyawa ini bahkan berisiko mengakibatkan kerusakan pada kulit.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

25,216

Terkonfirmasi

6,492

Sembuh

1,520

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Tidak hanya kulit, bahan-bahan kimia pada disinfektan pun dapat menyebabkan iritasi pada mata serta selaput lendir lainnya. Dampak yang ditimbulkan beragam, mulai dari iritasi ringan jangka pendek hingga kerusakan permanen pada kornea.

Selain itu, WHO turut menyebutkan bahwa klorin dalam bentuk gas bisa menyebabkan iritasi pada paru-paru.

Meskipun klorin dalam disinfektan tidak berbentuk gas, percikan yang dihasilkannya tetap dapat terhirup dan memasuki sistem pernapasan.

Kandungan berbahaya lainnya pada disinfektan adalah amonium kuartener. Bahan ini sebenarnya aman digunakan pada permukaan barang dan tidak mudah menguap, tapi paparan langsung pada kulit dalam jumlah tinggi dapat memicu dermatitis kontak.

Disinfektan juga mempunyai bahaya tersendiri bagi tubuh penderita asma. Percikan disinfektan dapat memasuki saluran pernapasan dengan mudah.

Jika penderita asma terpapar secara terus-menerus, bahan-bahan tersebut bisa saja memperparah gejala asma yang sudah ada.

Apakah penggunaan bilik semprot disinfektan aman dan efektif?

Bilik disinfektan bekerja dengan menyemprotkan cairan disinfektan langsung ke badan orang yang berada di dalamnya. Cara ini mungkin bisa menghilangkan kuman dan virus yang menempel pada pakaian, bahkan termasuk virus penyebab COVID-19.

Namun, penyemprotan dalam bilik disinfektan tidak dapat membunuh virus yang sudah ada dalam tubuh. Pasien positif COVID-19 yang sudah melewati bilik disinfektan tetap bisa menularkan virus melalui air liur ketika ia batuk, bersin, atau berbicara.

Penggunaan bilik disinfektan juga membuat penggunanya terpapar bahan-bahan kimia yang dapat memicu iritasi pada kulit, mata, serta mulut.

Dibandingkan bilik disinfektan, mencuci tangan dan social distancing masih menjadi cara terbaik mencegah COVID-19 dengan risiko efek samping minimal.

Bagaimana Sabun Membunuh COVID-19 dan Kuman-Kuman Jahat

Tips menggunakan disinfektan dengan aman

aktivitas bersih-bersih rumah membakar kalori

Disinfektan sebenarnya dapat mencegah penyebaran COVID-19 bila digunakan dengan tepat. Maksudnya tentu dengan menyemprotkan disinfektan pada permukaan barang, bukan ke tubuh manusia secara langsung.

Berikut beberapa tips yang bisa Anda terapkan untuk menghindari bahaya disinfektan bagi tubuh:

1. Hanya melakukan disinfeksi bila betul-betul diperlukan

Disinfektan penting guna mencegah penularan penyakit di area berisiko tinggi, misalnya rumah sakit. Sementara di lingkungan rumah tangga, bersih-bersih menggunakan air dan sabun sebenarnya sudah cukup untuk membasmi kuman.

2. Melakukan disinfeksi dengan benar

Jika Anda ingin melakukan disinfeksi, pastikan permukaan barang yang akan disemprot cairan sudah dibersihkan dari debu dan kotoran.

Setelah menyemprotkan disinfektan, biarkan barang tersebut selama setidaknya setengah jam agar disinfektan bekerja.

3. Jauhkan disinfektan dari anak-anak

Bahaya disinfektan bisa jadi lebih besar bagi tubuh anak-anak. Oleh sebab itu, pastikan Anda menjauhkan produk ini dari jangkauan anak. Saat melakukan disinfeksi, pastikan pula anak berada di ruangan yang berbeda.

Disinfektan memang ampuh mencegah penyebaran penyakit, tapi penggunaan yang keliru justru bisa memicu dampak negatif bagi kesehatan.

Hindari risiko ini dengan menggunakan disinfektan sesuai anjuran dan tidak menyemprotnya secara langsung ke badan manusia.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020