Antibodi Pasien Sembuh COVID-19 Hanya Bertahan 3 Bulan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 10 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Banyak hal yang masih menjadi pertanyaan besar ilmuwan terkait virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Salah satunya, apakah tubuh pasien yang telah sembuh dari COVID-19 ini akan memiliki antibodi dan menjadi kebal?

Studi terbaru menunjukkan bahwa antibodi pada pasien COVID-19 yang telah sembuh akan terus menurun dan hanya bertahan dua sampai tiga bulan.

Antibodi pasien yang sembuh dari COVID-19 tidak bertahan lama

pasien sembuh covid-19 antibodi, coronavirus covid-19 flu babi

Antibodi adalah protein pelindung yang merespons terhadap infeksi suatu virus. Antibodi ini terbentuk pada orang yang sembuh dari infeksi virus dan bisa melindungi tubuh dari infeksi kedua. 

Tingkat antibodi yang terdapat di dalam tubuh pasien COVID-19 sembuh menunjukkan penurunan secara cepat hanya dalam kurun waktu 2-3 bulan. Penurunan keberadaan antibodi ini terjadi pada pasien dengan gejala maupun pasien yang positif COVID-19 tanpa gejala (OTG).

Hasil ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti Chongqing Medical University yang mempertanyakan berapa lama seseorang kebal terhadap infeksi virus corona.

Dalam studi ini, peneliti mempelajari 37 pasien COVID-19 bergejala dan 37 pasien COVID-19 tanpa gejala. Hasilnya, rata-rata pasien mengalami penurunan tingkat antibodi hingga 70 persen. Tercatat pasien OTG cenderung mengalami penurunan antibodi lebih besar daripada pasien bergejala.

Pada kasus infeksi virus corona lainnya, antibodi pasien sembuh bertahan lebih lama. Misalnya pada SARS dan MERS yang diperkirakan bertahan sekitar satu tahun. Para ilmuwan berharap antibodi pada SARS-CoV-2 setidaknya bertahan paling tidak selama itu.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

392,934

Terkonfirmasi

317,672

Sembuh

13,411

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Apakah ini berarti seseorang bisa terinfeksi untuk kedua kalinya?

coronavirus adalah

Antibodi memang memiliki kemampuan untuk melawan infeksi dari virus yang sama untuk kedua kalinya. Namun, penelitian ini tidak menjelaskan kemungkinan terulangnya infeksi COVID-19 pada pasien sembuh karena menurunnya tingkat antibodi. 

Beberapa ahli mengatakan serendah-rendahnya tingkat antibodi dalam tubuh masih mungkin memiliki kemampuan melindungi. Sebuah penelitian juga menunjukkan adanya rangsangan pada sel-sel tubuh lainnya yang mampu memberikan perlindungan.

“Kebanyakan orang pada umumnya fokus pada tingkat antibodi dan tidak menyadari kekebalan yang terdapat pada sel T,” ujar Angela Rasmussen, ahli virologi di University of Columbia.

Sel T atau limfosit T adalah sel darah putih yang memainkan salah satu peran utama dalam sistem kekebalan tubuh. Kekuatan sel T dapat membunuh virus yang masuk ke dalam tubuh.

Terlepas dari kekuatan sel T, ada yang namanya sel B memori yakni sel yang memiliki tugas untuk mengingat suatu virus atau zat asing jahat yang pernah masuk ke dalam tubuh.

“Jika mereka (sel B memori) menemukan virus itu lagi, mereka akan mengingat dan tubuh akan membuat antibodi dengan sangat cepat,” kata Florian Krammer, seorang ahli virus di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, AS.

Selain dari antibodi, peneliti saat ini sedang memperdalam studi tentang kemampuan sel B dan sel T dalam menghadang infeksi kedua pada pasien COVID-19.

Tinggal Sendiri Selama Pandemi, Apa yang Harus Diperhatikan?

Pesan lain disampaikan oleh Akiko Iwasaki, ahli imunologi virus di University of Yale. Ia mengingatkan bahwa studi ini memperlihatkan pentingnya vaksin untuk membentuk kekebalan. 

“Laporan-laporan ini menyoroti perlunya mengembangkan vaksin yang kuat, karena kekebalan yang dibentuk secara alami karena terinfeksi tidak optimal dan berumur pendek pada kebanyakan orang,” ujar Akiko. “Kita tidak bisa mengandalkan infeksi alami untuk mencapai herd immunity.”

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kepadatan Penduduk Sebuah Kota Menentukan Lama Waktu Pandemi COVID-19 Berlangsung

Kepadatan penduduk suatu kota dapat memengaruhi lama waktu pandemi COVID-19 berlangsung. Kota besar diprediksi bakal lebih lama mengalami pandemi, mengapa?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 19 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Kasus Norovirus di China, Apakah Wabah Baru?

Di tengah pandemi COVID-19, China juga sedang diserang wabah lain dari infeksi norovirus yakni penyakit yang menyebabkan peradangan usus.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Berita Luar Negeri, Berita 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Apakah Vaksin Mampu Menyelesaikan Semua Masalah Pandemi COVID-19?

Percepatan uji coba vaksin ini dilakukan demi menyelesaikan pandemi COVID-19 yang telah menginfeksi hampir seluruh dunia. Bagaimana kemungkinannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

4 Langkah Membersihkan Diri dan Rumah Setelah Keluar Bepergian

Pastikan untuk selalu membersihkan diri setelah keluar bepergian untuk melindungi keluarga dan orang terdekat. Yuk, ikuti langkah-langkah ini!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
membersihkan diri setelah keluar rumah
Hidup Sehat, Tips Sehat 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kebiasaan mencuci tangan covid-19

Seperti Apa Kebiasaan Mencuci Tangan di Masa Pandemi COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
covid-19 vaksin yang terburu-buru

Pro Kontra Rencana Vaksin COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
dampak COVID-19 pada laki-laki

Laki-laki Lebih Berisiko Mengalami Gejala Buruk Saat Terinfeksi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
COVID-19 gangguan pendengaran

Infeksi COVID-19 Menyebabkan Gangguan Pendengaran?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit