Kerja 4 Hari Seminggu Terbukti Bikin Karyawan Microsoft Makin Produktif

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 09/12/2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Jepang terkenal memiliki budaya gila kerja hingga tak jarang mengakibatkan depresi bagi penduduknya. Namun, Microsoft Jepang belum lama ini membuat terobosan dengan mengurangi jam kerja karyawannya menjadi 4 hari seminggu. Hasilnya, para karyawan tidak hanya merasa lebih bahagia, tapi juga bertambah produktif.

Efek kerja 4 hari seminggu terhadap produktivitas karyawan

menjaga stamina

Sepanjang Agustus lalu, Microsoft Jepang melakukan eksperimen dengan memberikan 2.300 karyawannya jatah libur pada hari Jumat tiap pekan tanpa dipotong gaji.

Uji coba ini adalah bagian dari proyek yang dikenal sebagai Work-Life Challenge Summer 2019.

CEO sekaligus President Microsoft Jepang, Takuya Hirano, menyatakan dalam situs perusahaan bahwa proyek ini ‘menantang’ para karyawan untuk bekerja dengan lebih cepat dan efisien.

Dengan begitu, mereka bisa beristirahat dengan baik serta belajar lebih banyak.

Ia berharap karyawan mampu memikirkan bagaimana cara mencapai target yang sama dengan waktu kerja yang berkurang 20 persen.

Tujuan akhir dari proyek musim panas ini adalah meningkatkan produktivitas dan kreativitas karyawan dalam bekerja.

Hasilnya, waktu kerja selama 4 hari seminggu ternyata meningkatkan produktivitas karyawan hingga 40 persen.

Sebanyak 92 persen karyawan pun mengaku lebih senang dengan jam kerja yang baru, seperti dikutip dari laman National Public Radio Amerika Serikat.

Kosongnya kantor setiap hari Jumat juga menurunkan pemakaian listrik sebanyak 23 persen dan penggunaan kertas sebanyak 59 persen.

Secara keseluruhan, tingkat stres karyawan menurun 7 persen dan menandakan bahwa cara ini efektif menyeimbangkan kehidupan serta pekerjaan.

Mengapa pengurangan hari kerja bisa menambah produktivitas?

istirahat cukup setelah bekerja

Penerapan waktu kerja 4 hari seminggu sebenarnya bukan baru kali ini dilakukan.

Tahun lalu, sebuah perusahaan di Selandia Baru pernah mencoba hal serupa. Uji coba lain yang dimuat dalam Harvard Business Review pun menunjukkan bahwa waktu kerja 6 jam sehari bisa memacu produktivitas.

Hal ini disebabkan karena jam kerja yang panjang dan tuntutan kerja dapat membuat Anda merasa lelah, stres, serta kewalahan.

Stres yang berlarut-larut akan berdampak buruk bagi kondisi fisik dan psikis sehingga Anda tidak mampu bekerja dengan optimal.

Waktu kerja selama 4 hari seminggu bisa meningkatkan produktivitas, sebab perubahan ini mengurangi tingkat stres karyawan.

Mereka juga dapat beristirahat dan melakukan kegiatan yang disukai karena memiliki waktu akhir pekan yang lebih panjang.

Begitu kembali ke tempat kerja, tubuh Anda telah terisi kembali oleh energi sehingga Anda dapat bekerja dengan lebih produktif.

Alih-alih menerapkan libur panjang setiap tahun, akhir pekan selama 3 hari dinilai memberikan manfaat lebih besar bagi karyawan dan perusahaan.

Hari kerja yang panjang dapat meningkatkan stres, dan kondisi ini tentu berimbas pada produktivitas.

Dengan menerapkan hari kerja yang lebih singkat, perusahaan secara tak langsung telah mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan karyawan.

Tentu tidak semua perusahaan bisa langsung menerapkan ini, mengingat banyak hal akan berubah jika hari kerja berkurang.

Karyawan yang bekerja di bidang lain mungkin juga terbebani, sebab mereka harus memadatkan beban kerja ke dalam 4 hari.

Meski demikian, apa yang dilakukan Microsoft Jepang saat ini merupakan langkah awal yang baik bagi kesejahteraan karyawan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

9 Tips Menyeimbangkan Pekerjaan dan Merawat Bayi

Merawat bayi sekaligus bekerja tentu tidaklah mudah. Terkadang hal ini bisa membuat ibu stres. Lalu, bagaimana menyeimbangkan pekerjaan dan merawat bayi?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Parenting, Tips Parenting 28/04/2020 . Waktu baca 5 menit

Stres Kerja Bisa Menyebabkan Stroke? Cari Tahu Jawabannya di Sini

Banyak yang bilang stres kerja bisa menyebabkan stroke. Namun, benarkah anggapan ini? Bagaimana stres bisa membuat Anda berisiko stroke? Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Hidup Sehat, Fakta Unik 18/01/2020 . Waktu baca 3 menit

Stres Akibat Harus Lembur Kerja Saat Liburan? Siasati dengan 5 Cara Ini

Salah satu cara menghadapi stres lembur kerja selama liburan adalah dengan membuat lingkungan kerja Anda menjadi nyaman. Bagaimana caranya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Psikologi 01/01/2020 . Waktu baca 5 menit

3 Kunci Atasi Pegal dan Nyeri Otot bagi Orang Kantoran yang Super Sibuk

Rutinitas bekerja plus menerjang kemacetan setiap hari tak ayal membuat tubuh nyeri dan pegal. Intip cara menghilangkan pegal setelah bekerja di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Konten Bersponsor
menghilangkan pegal setelah bekerja
Nyeri Kronis, Health Centers 06/11/2019 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

rutinitas sehat agar produktif

Jalani 4 Rutinitas Sehat Ini di Pagi Hari Agar Lebih Produktif

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 03/06/2020 . Waktu baca 5 menit
meeting online melelahkan

Fenomena Zoom Fatigue, Meeting Online yang Melelahkan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 19/05/2020 . Waktu baca 6 menit
didi kempot meninggal

Didi Kempot Tutup Usia Diduga Kelelahan, Bagaimana Hingga Jadi Fatal?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 05/05/2020 . Waktu baca 5 menit
mengatasi stres karena phk

Begini Cara Mengatasi Stres Karena PHK Akibat dari Pandemi COVID-19

Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 04/05/2020 . Waktu baca 7 menit