Penyebab Alergi yang Tersembunyi di Dalam Makanan Anda

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Walaupun termasuk umum, alergi makanan sangat berbahaya. Biasanya, alergen atau zat yang menimbulkan alergi yang terdapat dalam makanan sering kali tidak kita ketahui. Alergi makanan biasanya melibatkan protein yang telah dicerna.

Lantas, apa sesungguhnya penyebab alergi dan apa saja zat dalam makanan yang mungkin menimbulkan reaksi alergi?

Penyebab terjadinya alergi pada makanan

Pada dasarnya, reaksi alergi bisa muncul karena sistem kekebalan tubuh yang mengira bahwa zat yang ada dalam makanan adalah zat berbahaya.

Sitem kekebalan bertugas untuk melindungi tubuh dengan memproduksi antibodi yang akan mengidentifikasi dan menghancurkan kuman seperti bakteri atau virus penyebab penyakit.

Pada tubuh orang yang memiliki alergi, suatu antibodi yang dikenal dengan nama Immunoglobulin E (IgE) keliru menargetkan protein tertentu yang ditemukan dalam makanan sebagai ancaman. Lalu, IgE pun bergerak menuju sel-sel untuk melepas beberapa bahan kimia, salah satunya adalah histamin.

Histamin inilah yang kemudian menjadi penyebab sebagian besar gejala khas yang terjadi saat reaksi alergi pada makanan tertentu muncul.

Histamin akan membuat pembuluh darah mengembang, sehingga memengaruhi kulit di sekitarnya menjadi lebih merah dan membengkak. Histamin juga memengaruhi saraf di kulit yang menyebabkan gatal. Selain itu, histamin meningkatkan jumlah lendir yang diproduksi dalam lapisan hidung, hingga menimbulkan rasa gatal atau sensasi terbakar.

Ada juga jenis alergi makanan lain yang tidak melalui perantara Immunoglobulin E. Pada jenis ini, alergi disebabkan oleh berbagai sel yang ada dalam sistem kekebalan tubuh. Reaksinya muncul lebih lama dan biasanya akan mienumbulkan gejala berupa reaksi pada saluran pencernaan seperti muntah, kembung, dan diare.

Alergi Kedelai, Dari Gejala Hingga Penanganannya

Cari tahu bahan makanan yang mengandung alergen

Produsen telah diminta untuk membuat daftar makanan penyebab alergi umum pada label kemasan. Itu sebabnya kadang Anda menemukan informasi semacam “Produk ini mengandung kacang kedelai” untuk menginformasikan kepada mereka yang memiliki alergi kacang-kacangan.

Alergen yang umum ditemukan dalam makanan, utamanya kacang, susu, telur, kacang pohon, ikan, kerang-kerangan, kedelai, dan gandum. Tipe tertentu dari ikan, krustasea, dan pohon kacang-kacangan harus terdaftar jika ada.

Produsen makanan juga diwajibkan untuk menggunakan istilah “susu” pada produk yang mengandung kasein untuk menginformasikan kepada mereka yang memiliki alergi terhadap protein susu.

Menurut U.S. Food and Drug Administration, alergen utama dalam makanan itu mencapai lebih dari 90 persen zat yang membuat seseorang memiliki food allergy. Untuk menghindari paparan alergi pada makanan, bacalah label dengan hati-hati.

Bahan atau bahkan fasilitas kemasan bisa berubah. Jangan berasumsi bahan-bahan yang familier dalam makanan bebas dari alergen. Anda harus memeriksanya untuk memastikan.

Ketika makan di luar, jangan pernah makan makanan yang Anda tidak yakin bebas dari alergen. Karyawan restoran biasanya bersedia untuk membantu Anda.

Masalah muncul ketika banyak orang yang sering kali tidak paham betapa seriusnya masalah alergi makanan. Makan dalam situasi sosial sangat berisiko untuk alasan ini. Kecuali jika Anda tahu persis apa yang dibuat oleh seseorang tersebut, bagaimana membuatnya, dan apa saja bahan-bahan yang digunakan.

Alergen dalam makanan penyebab munculnya alergi

Setelah mengetahui penyebab alergi makanan, hal lain yang harus dilakukan tentu adalah menghindari makanan yang bisa memicu reaksinya. Terkadang, ada beberapa makanan tak terduga yang dapat menimbulkan alergi. Berikut daftar makanan beserta alergen yang terkandung di dalamnya.

Produk susu

infeksi saluran pernapasan anak

Alergi terhadap makanan yang mengandung produk susu merupakan salah satu alergi yang umum terjadi, terutama pada bayi atau anak kecil. Sebabnya, susu hewani mengandung protein bernama kasein. Kasein yang telah masuk ke dalam tubuh disalahartikan sebagai virus atau bakteri, inilah yang nantinya menimbulkan reaksi alergi.

Maka, jika Anda memiliki alergi laktosa atau protein susu, Anda juga harus menghindari konsumsi makanan berikut ini.

  • Beberapa merek tuna mengandung kasein.
  • Beberapa daging olahan mengandung kasein.
  • “Non dairy” produk kadang-kadang mengandung bahan-bahan susu.
  • Beberapa obat tanpa resep menggunakan gula susu (laktosa) sebagai pengisi.

Kacang-kacangan

Alergi kacang juga termasuk alergi makanan yang dialami banyak orang. Tak hanya reaksi yang ringan, alergi kacang bisa menjadi penyebab reaksi alergi yang parah seperti anafilaksis. Beberapa gejalanya meliputi penyempitan saluran udara, pembengkakan di tenggorokan yang membuat sulit bernapas, syok tekanan darah, sampai kehilangan kesadaran.

Kacang umumnya terdapat dalam selai, es krim, sereal, dan roti. Kacang juga mungkin ada pada:

  • dressing salad, yang mungkin mengandung minyak kacang,
  • bumbu masak yang sering mengandung kacang tanah, dan
  • permen dengan nougat.

Telur

Protein dalam telur (albumin) paling sering menjadi penyebab kemunculan reaksi alergi pada anak-anak. Dipercaya bahwa bagian putihnya sering menjadi “dalang”, mengingat kandungan proteinnya lebih tinggi daripada bagian kuning telur.

Orang-orang yang memiliki alergi telur umumnya juga memiliki alergi pada telur unggas lainnya seperti telur bebek dan telur burung puyuh. Karena alasan inilah kebanyakan dokter menganjurkan pada pasien untuk tidak sama sekali mengonsumsi produk telur.

Telur atau proteinnya yang menjadi alergen bisa ditemui pada banyak bahan makanan, termasuk:

  • marshmallow,
  • mayones,
  • meringue,
  • frosting pada cake,
  • produk daging kemasan atau diproses, dan
  • vaksin tertentu (minta keterangan dokter Anda).

Serba-serbi Alergi Telur yang Harus Anda Ketahui

Kedelai

Meski memiliki banyak manfaat, protein yang terdapat pada kedelai dianggap sebagai zat yang berbahaya oleh tubuh orang yang memiliki alergi. Kebanyakan alergi kedelai terjadi saat masih bayi dan akan menghilang seiring dengan pertumbuhannya. Meski demikian, ada juga orang dewasa yang masih memiliki alergi kedelai.

Kedelai jarang menimbulkan reaksi yang parah, seringnya efek yang akan muncul hanya berupa ruam atau gatal-gatal di sekitar mulut. Namun jika Anda memiliki asma atau alergi lain seperti kacang, Anda mungkin bisa mengalami gejala yang lebih parah.

Seperti susu dan kacang, kedelai tersebar luas dalam rantai makanan. Berikut adalah beberapa makanan yang harus diperhatikan jika Anda memiliki alergi kedelai.

  • Makanan panggangan dalam kemasan.
  • Saus dalam kemasan.
  • Pengganti daging.
  • Edamame (seluruh kacang polong), tofu, miso, tempe.
  • Hydrolyzed vegetable protein  (HVP), textured vegetable protein (TVP), lecithin, monodiglyceride.

Daging

Ternyata, daging juga bisa menjadi makanan penyebab munculnya reaksi alergi. Saat daging dimasak, daging akan melepaskan banyak protein yang dapat memicu alergi. Ditambah lagi, daging mamalia juga mengandung antibodi alami bernama galactose-alpha-1 yang juga dikenal dengan nama alpha-gal.

Ketika alpha-gal berinteraksi dengan karbohidrat yang terkandung dalam daging, hal ini akan menimbulkan gejala seperti gatal di seluruh tubuh, ruam kulit, atau sakit perut.

Memang, daging sapi adalah bentuk alergi daging yang sering terjadi. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa daging lainnya bisa memicu alergi, terlebih pada orang-orang yang sensitif. Tubuh bisa saja memunculkan reaksi alergi setelah makan daging ayam, bebek, babi, atau kambing.

Makanan laut

Alergi seafood atau makanan laut merupakan salah satu alergi yang paling umum terjadi. Bahkan diperkirakan ada sekitar 1% dari seluruh populasi di dunia yang memiliki alergi ini.

Alergen protein yang terdapat dalam satu kelompok makanan laut pun tidak selalu sama dan dapat berbeda dengan yang lain. Ini sebabnya, ada seseorang yang hanya alergi pada ikan, ada juga seseorang yang memiliki alergi pada lebih dari satu jenis makanan laut seperti ikan dan kerang.

Sayuran nightshade

nightshade penyebab alergi makanan
Sumber: Medical News Today

Ternyata, sayuran juga bisa mejadi penyebab yang memicu reaksi alergi, terutama sayuran yang termasuk dalam jenis nightshade.

Sayur nightshade adalah anggota dari keluarga tanaman bernama Sloaneceae. Kebanyakan sayuran nightshade tidak dapat dikonsumsi dan bahkan ada beberapa yang mematikan jika dimakan, seperti tanaman belladonna. Meski demikian, ada beberapa jenis nightshade yang bisa dimakan, di antaranya adalah kentang, tomat, terong, dan paprika.

Sayangnya, sayuran nightshade juga bisa menimbulkan reaksi alergi pada orang-orang yang sensitif. Sayuran nightshade mengandung sekelompok komponen kimia bernama alkaloid. Alkaloid adalah komponen beracun (jika dalam konsentrasi tinggi) yang berfungsi untuk melindungi tanaman dari jamur dan hama.

Karena itulah ada beberapa orang yang mengaku bahwa mereka memiliki alergi terhadap terong atau kentang, kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh adanya kandungan alkaloid tersebut. Gejala yang bisa timbul meliputi gatal-gatal, ruam kulit, mual dan muntah, serta peradangan.

Buah

Siapa sangka bahwa buah juga bisa menjadi salah satu makanan penyebab terpicunya reaksi alergi? Nyatanya, ada beberapa orang yang memiliki alergi terhadap bahan makanan satu ini.

Alergi buah juga kerap disebut sindrom alergi oral atau pollen-food allergy syndrome. Pasalnya, ada beberapa buah yamg mengandung protein yang mirip dengan protein penyebab alergi. Protein ini juga ditemukan dalam serbuk sari.

Selain itu, alergi lateks juga bisa menjadi penyebab Anda mengalami reaksi alergi. Misalnya, jika reaksi muncul setelah makan pisang atau alpukat, kemungkinan hal ini terjadi karena adanya protein dalam buah tersebut yang mirip dengan protein dalam lateks.

Untungnya, reaksi alergi buah biasanya hanya berlangsung selama beberapa detik atau menit. Protein dalam buah dapat terpecah dengan lebih cepat 0leh air liur, maka bila terjadi umumnya Anda tak memerlukan perawatan khusus.

Ternyata Buah Juga Bisa Bikin Alergi, Lho!

Gandum

alergi gandum
Sumber: MDVIP.com

Memang, gandum kerap digadang-gadang sebagai sumber karbohidrat yang lebih baik daripada makanan yang termasuk dalam karbohidrat sederhana. Meski demikian, ada beberapa orang yang mengalami reaksi alergi setelah memakan gandum.

Berbagai macam protein yang terkandung dalam gandum seperti albumin, globulin, gliadin, maupun gluten biasanya menjadi pemicu munculnya reaksi alergi. Protein yang masuk ke dalam tubuh itu pun membuat sistem kekebalan tubuh menghasilkan antibodi untuk menyerangnya, sehingga timbul gejala seperti gatal-gatal atau ruam kulit.

Kebanyakan alergi gandum menyerang anak-anak dan umumnya dapat menghilang seiring dengan bertambahnya usia.

Hal yang harus diingat jika Anda memiliki alergi makanan

Mengingat mungkin saja ada alergen yang tersembunyi dalam makanan, Anda tentu membutuhkan usaha ekstra untuk mencegah alergi makanan. Untungnya, Anda bisa mengganti bahan makanan pengandung alergen dengan makanan lainnya.

Misalnya, jika Anda punya alergi pada susu sapi tapi tidak alergi terhadap kacang-kacangan, Anda bisa mengonsumsi alternatifnya dengan susu nabati seperti susu kedelai atau susu almon. Anda juga bisa mengganti kebutuhan akan konsumsinya dengan minum suplemen yang eapat menyuplai asupan vitamin tersebut.

Jika Anda memiliki anak punya alergi makanan, ajarkan orang dewasa lain yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga anak bagaimana mengenali tanda-tanda reaksi. Mereka juga harus diajarkan bagaimana menghadapi keadaan darurat alergi makanan. Guru, perawat sekolah, dan orang dewasa lainnya yang merawat anak Anda harus menerima instruksi tertulis, mungkin dalam bentuk rencana aksi darurat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Mengatasi Alergi Obat yang Tepat dan Perawatannya

Jangan biarkan alergi mengganggu aktivitas harian Anda. Ketahui cara cepat mengatasi alergi obat yang kambuh sekaligus perawatan kondisinya di rumah.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Anda Punya Alergi pada Obat? Kenali Ciri-Ciri dan Cara Mencegahnya

Alergi obat adalah reaksi abnormal tubuh terhadap efek obat. Cari tahu gejala, penyebab, dan perbedaannya dengan efek samping obat.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 11 menit

Memiliki Alergi Terhadap Sperma, Mitos atau Fakta?

Alergi sperma bukan sekadar mitos. Menurut penelitian ada 12% wanita di dunia ini yang mengalami kondisi ini. Apakah bisa disembuhkan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Mengenal Alergi Lateks, Termasuk Karet Gelang dan Kondom

Orang yang mengidap alergi lateks bisa mengalami mulai dari gatal-gatal hingga sesak napas setiap terpapar bahan karet lateks. Bagaimana cara mencegahnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

alergi binatang kucing dan anjing

Alergi Binatang Kucing dan Anjing: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit
Kulit bayi Sensitif

Ketahui 4 Tips Merawat Kulit Bayi Sensitif

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
alergi ibuprofen dan asam mefenamat

Mengenal Alergi Obat Pereda Nyeri: Ibuprofen dan Asam Mefenamat

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 6 menit
alergi obat antibiotik

Hati-Hati Minum Obat, Barangkali Anda Memiliki Alergi Terhadap Antibiotik

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 7 menit