home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Alergi Seafood, Alergi yang Banyak Terjadi Pada Orang Dewasa

Alergi Seafood, Alergi yang Banyak Terjadi Pada Orang Dewasa

Makanan laut alias seafood adalah makanan favorit banyak orang karena rasanya yang lezat dan menggugah selera. Namun sayangnya, ada beberapa orang yang tidak bisa menikmatinya karena memiliki reaksi alergi terhadap seafood.

Penyebab alergi seafood

keracunan seafood

Semua reaksi alergi makanan terjadi karena sistem kekebalan tubuh keliru mendeteksi zat tertentu dalam makanan sebagai zat yang berbahaya. Sistem kekebalan tubuh yang bereaksi berlebihan ini menghasilkan antibodi bernama Imunoglobulin E dan mengirim sinyal pada sel-sel tubuh untuk memproduksi histamin yang akan menyerang zat makanan tersebut.

Pada alergi seafood, terdapat zat spesifik dalam seafood yang memicu alergi Anda. Umumnya yang menjadi pemicu adalah protein bernama tropomyosin. Kemungkinan lainnya adalah adanya kandungan arginine kinase dan myosin light chain yang dapat membuat imun bereaksi negatif.

Karena jenis makanan laut yang bermacam-macam, orang yang punya alergi ini tak selalu menunjukkan reaksi ketika mengonsumsi jenis makanan laut yang berbeda. Misalnya, orang yang memiliki alergi pada ikan tetap baik-baik saja ketika makan hewan laut yang bercangkang seperti kepiting, ataupun sebaliknya. Ada juga orang-orang yang memiliki alergi terhadap lebih dari satu jenis makanan laut.

Dengan demikian, Anda tidak bisa memprediksi apakah Anda akan mengalami reaksi alergi saat mengonsumsi jenis makanan laut lainnya. Satu-satunya cara mengetahui dugaan alergi adalah dengan melihat reaksi setelah mengonsumsi makanan tersebut.

Apa saja gejala alergi seafood?

Sistem kekebalan setiap orang berbeda, terlebih lagi reaksi alergi yang Anda rasakan juga tak selalu sama setiap hal tersebut terjadi. Gejala alergi makanan akibat seafood yang muncul sangat beragam, mulai dari yang ringan hingga yang parah.

Gejala ringannya bisa berupa sensasi gatal-gatal serta munculnya benjolan atau ruam merah pada kulit. Rasa seperti kesemutan pada daerah mulut dan tenggorokan pun kerap menjadi gejala yang dialami oleh orang-orang yang memiliki alergi makanan laut.

Selain itu, gejala lain yang bisa muncul adalah gangguan pada pernapasan seperti sesak napas dan napas mengi. Ada pula beberapa orang yang mengalami diare, mual, atau muntah setelah mengonsumsi makanan yang mengandung alergen.

Bila alerginya parah, seseorang bisa mengalami syok anafilaksis. Gejalanya serupa dengan gejala biasa, hanya tentu saja tingkat keparahannya lebih tinggi dan dapat mengancam jiwa.

Syok anafilaktik dapat membuat tekanan darah menurun dengan drastis, sehingga orang yang mengalaminya bisa merasa pusing sampai kehilangan kesadaran. Karena itulah gejala ini harus ditanggapi dengan serius.

Bagaimana cara mengobati alergi seafood?

Belum diketahui pasti apakah alergi seafood bisa menghilang. Sejauh ini, belum ada obat alergi makanan yang menyembuhkan. Karena itulah cara terbaik yang bisa Anda lakukan adalah dengan menghindari makanan yang mengandung bahan-bahan laut sebisa mungkin.

Setiap membeli produk makanan, ingatlah untuk selalu membaca label informasi makanan terlebih dahulu untuk memastikan produk tersebut tidak mengandung alergen.

Bagi Anda yang memiliki alergi ikan, Anda mungkin harus berhati-hati dengan beberapa produk seperti saus barbeque, saus salad, atau kecap inggris karena terkadang produk tersebut menggunakan ikan dalam pembuatannya.

Jika alergi binatang laut bercangkang seperti kepiting dan udang, Anda akan dianjurkan juga untuk tidak mengonsumsi makanan yang mengandung bahan lain seperti kerang, cumi-cumi, atau siput karena dikhawatirkan bisa menimbulkan reaksi alergi yang sama.

Ketika makan di restoran, Anda sebaiknya bertanya kepada pelayan dan koki yang memasak untuk memastikan bahwa mereka menggunakan peralatan yang berbeda saat memasak seafood dengan makanan lainnya. Hal ini penting untuk menghindari risiko adanya kontaminasi silang.

Meski telah menghindari makan makanan laut, terkadang ada beberapa makanan yang memiliki alergen tersembunyi yang tidak Anda ketahui. Bila sudah terjadi, Anda bisa meminum obat antihistamin untuk meringankan gejala seperti gatal-gatal atau ruam merah.

Bila Anda memiliki gejala yang parah, maka Anda harus selalu membawa injeksi epinefrin yang nantinya harus disuntikkan pada paha atas setiap Anda mengalami reaksi. Setelah itu, segera cari pertolongan medis atau pergi ke ruang gawat darurat.

Apakah alergi ini bisa dicegah sejak kecil?

Alergi makanan laut kebanyakan terjadi pada usia remaja atau dewasa. Menurut Australian Society of Clinical Immunology and Allergy (ASCIA), sekitar 1 persen populasi di dunia punya alergi seafood. Bahkan, risiko alergi ini bisa meningkat sekitar 20 persen seiring dengan bertambahnya usia.

Biasanya, kulit gatal atau ruam yang muncul akibat alergi seafood dapat diobati dengan salep gatal atau obat oral antihistamin. Namun yang jadi pertanyaan, mungkinkah jenis alergi ini dicegah lebih dini?

Sebenarnya, tidak semua kasus alergi makanan pasti akan diturunkan dari orangtua ke anaknya. Ini artinya, bila Anda mengalami alergi pada seafood, maka belum tentu anak Anda juga akan memiliki alergi yang sama. Jadi, masih ada harapan bagi Anda untuk mencegah alergi pada si kecil.

Sayangnya belum diketahui secara pasti apakah Anda benar-benar bisa mencegah si kecil dari alergi ini. Namun, dipercaya bahwa pemberian ASI eksklusif selama enam bulan mungkin bisa membantu menurunkan risiko anak terkena alergi.

Pasalnya, zat dalam ASI yang melapisi usus bayi Anda akan mencegah bocornya partikel makanan ke aliran darah bayi Anda.

Meski demikian, masih ada kemungkinan zat yang terkandung dalam ASI bisa masuk ke dalam aliran darah si kecil. Bila hal ini terjadi, maka akan dilakukan eliminasi makanan, yaitu ibu akan mengurangi bahkan sama sekali tidak mengonsumsi jenis makanan yang sekiranya dapat menimbulkan reaksi alergi.

Untuk mengetahui adanya alergi pada anak, periksalah ke dokter dan menjalani tes alergi seperti tes paparan alergen dengan tusuk kulit. Melalui tes ini, Anda juga akan melihat seberapa besar risiko anak Anda mengalami jenis alergi yang sama dengan Anda.

Bagi ibu menyusui, jika yang memiliki alergi adalah pasangannya, maka ibu juga perlu menghindari makanan yang menjadi alergen pada pasangannya untuk berjaga-jaga.

Terlepas dari kemungkinan alergi, pemberian ASI adalah cara paling sederhana dan efektif untuk mencegah alergi pada anak. Bila Anda tidak ingin si kecil terkena alergi yang sama, berikan ASI eksklusif dan maksimalkan hingga dua tahun untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
Tanggal diperbarui 14/12/2018
x