home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Alergi Kedelai, dari Gejala Hingga Penanganannya

Alergi Kedelai, dari Gejala Hingga Penanganannya

Kedelai merupakan salah satu jenis polong-polongan yang banyak digunakan untuk membuat berbagai macam makanan. Produknya juga kerap dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari di Indonesia, beberapa di antaranya adalah susu kedelai, tahu, dan tempe.

Sayangnya, ada beberapa orang yang memiliki alergi terhadap bahan yang satu ini. Seperti apa reaksi alergi kedelai dan bagaimana cara mengatasinya?

Apa yang membuat seseorang mengidap alergi kedelai?

reaksi alergi

Alergi kedelai adalah salah satu jenis alergi makanan yang sering terjadi, terutama pada bayi dan anak-anak. Seringnya, alergi dikembangkan dari masa bayi dengan reaksi terhadap susu formula berbahan dasar kedelai.

Secara garis besar, reaksi alergi bisa terjadi karena respons dari sistem kekebalan tubuh yang berlebihan saat terpapar alergen, sebutan untuk zat dari makanan yang memicu reaksi.

Pada orang-orang yang memiliki alergi ini, sistem kekebalan tubuh keliru mengidentifikasi zat protein dalam kedelai sebagai ancaman yang berbahaya. Karena itulah tubuh menghasilkan antibodi bernama imunoglobulin E (IgE) yang akan mengirim sinyal untuk mengeluarkan histamin dan zat kimia lainnya pada aliran darah.

Keluarnya histamin tersebut pun melawan protein kedelai, sehingga muncullah berbagai reaksi seperti gatal-gatal, sensasi kesemutan pada sekitaran mulut, atau gejala lainnya.

Perlu diketahui, ada beberapa faktor yang membuat seseorang lebih berisiko mengidap alergi kedelai. Faktor-faktor tersebut meliputi riwayat keluarga, usia, serta alergi lainnya.

Penyebab Alergi yang Tersembunyi di Dalam Makanan Anda

Bila Anda atau anak Anda memiliki anggota keluarga yang memiliki alergi, risiko untuk mengidapnya menjadi lebih tinggi. Alergi makanan juga lebih rentan terjadi pada anak-anak, terutama bayi dan balita. Selain itu, Anda dapat mengembangkan sensitivitas pada kedelai jika memiliki alergi pada makanan lainnya.

Meski demikian, alergi kedelai yang terjadi pada waktu kecil biasanya akan menghilang seiring dengan bertambahnya usia. Anda yang memiliki alergi kedelai juga belum tentu akan mengalami reaksi bila memakan jenis polong-polongan lainnya.

Gejala yang bisa muncul saat reaksi alergi terjadi

rhinitis alergi atau hay fever adalah satu jenis rhinitis (radang membran hidung) yang muncul ketika Anda menghirup alergen. Ini adalah reaksi berlebihan tubuh dalam merespons alergen.

Gejala alergi makanan akibat kedelai umumnya hanya berupa gejala ringan. Biasanya reaksi akan terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa jam setelah mengonsumsi makanan beralergen. Berbagai gejalanya termasuk:

  • gatal-gatal,
  • ruam merah pada kulit,
  • rona merah pada kulit,
  • gatal atau sensasi kesemutan pada sekitar mulut,
  • pembengkakan pada beberapa bagian tubuh, seperti bibir, lidah, wajah, atau lainnya,
  • kram perut,
  • mual dan muntah,
  • diare,
  • pilek,
  • mengi, dan
  • sesak napas.

Pada kasus yang jarang terjadi, alergi kedelai juga bisa menimbulkan gejala yang lebih parah. Gejala yang kerap disebut syok anafilaksis ini sangatlah berbahaya karena dapat mengancam jiwa. Beberapa tandanya adalah:

  • pembengkakan pada tenggorokan yang membuat sesak napas,
  • penurunan tekanan darah yang drastis,
  • denyut nadi yang melemah, dan
  • pusing hingga hilang kesadaran.

Orang-orang yang memiliki penyakit asma atau juga memiliki alergi lain mungkin lebih rentan mengalami syok anafilaktik.

Bagaimana cara mengatasi alergi kedelai?

Jika Anda khawatir akan kemungkinan memiliki alergi, maka hal yang harus Anda lakukan adalah periksa ke dokter untuk mendapatkan diagnosisnya. Terutama ketika reaksi telah terjadi beberapa kali setelah mengonsumsi kedelai.

Saat pemeriksaan, dokter akan menanyakan seputar gejala yang Anda rasakan seperti apa saja gejala yang muncul, makanan apa yang Anda konsumsi sebelumnya, kapan gejala terjadi dan berapa lama Anda mengalaminya. Dokter mungkin juga menanyakan riwayat kesehatan Anda dan keluarga untuk mengetahui adanya kemungkinan alergi yang diturunkan.

Selanjutnya, Anda harus menjalani beberapa tes alergi makanan lanjutan guna memastikan adanya alergi dengan tes paparan alergen melalui tusuk kulit atau tes darah untuk mengukur seberapa banyak antibodi yang ada dalam tubuh.

Setelah Anda didagnosis memiliki alergi kedelai, dokter mungkin akan memberikan obat berupa antihistamin. Antihistamin bukanlah obat untuk menghilangkan alergi, tetapi obat ini dapat meringankan gejala setiap reaksi alergi terjadi.

Beberapa obat antihistamin yang dapat Anda beli di apotek meliputi diphenydramine, cetirizine, dan loratadine. Ketika Anda tak sengaja mengonsumsi makanan yang mengandung kedelai, segera minum obat ini untuk mengurangi gejalanya.

Bila alergi yang Anda miliki lebih parah, dokter akan memberi obat berupa auto injeksi epinefrin. Setiap Anda mengalami gejala reaksi alergi yang parah atau syok anafilaktik, Anda harus segera disuntikkan epinefrin di area paha bagian atas. Setelah itu, carilah pertolongan medis secepatnya dan jangan menunggu sampai gejala mereda.

Mencegah reaksi alergi dengan tidak makan yang mengandung kedelai

alergi kedelai
Sumber: Food & Nutrition Magazine

Mencegah alergi makanan dengan menjauhi produk-produk kedelai tetap menjadi cara terbaik. Memang, menghindari makanan berkedelai sangat sulit karena bahan ini sering digunakan dalam berbagai produk dan masakan sehari-hari.

Untuk membantu Anda, hal yang harus dilakukan adalah membaca label informasi tentang komposisi bahan yang tertera pada kemasan. Terkadang kedelai juga terkandung dalam bahan makanan yang tidak terduga seperti daging dan sup kalengan. Oleh karena itu, membaca komposisi bahan sangatlah penting.

Berikut makanan yang harus Anda hindari konsumsinya selain kacang kedelai sendiri.

  • Susu kedelai termasuk berbagai produknya seperti keju, es krim, dan yogurt
  • Tepung kedelai
  • Tahu
  • Tempe
  • Miso
  • Edamame
  • Minyak kedelai
  • Shoyu
  • Kecap
  • Protein kedelai (konsentrat, terhidrolisis, maupun isolat)
  • Natto

Terkadang ada beberapa makanan yang mengandung lesitin kedelai dan minyak kedelai olahan (bukan minyak yang menggunakan perisa). Pada produk seperti pelapis coklat dan margarin, lesitin kerap digunakan untuk memberikan tekstur yang lebih rata dan konsisten.

Makanan yang mengandung lesitin dikatakan cenderung aman untuk beberapa pasien alergi kedelai karena kandungan proteinnya yang sangat rendah. Meski demikian, Anda tetap harus berkonsultasi kepada dokter sebelum mengonsumsinya agar tidak terjadi reaksi yang tidak diinginkan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Soy. Allergy Research & Education. Retrieved 13 August 2020, from https://www.foodallergy.org/living-food-allergies/food-allergy-essentials/common-allergens/soy

Soy Allergy. (2020). Mayo Clinic. Retrieved 13 August 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/soy-allergy/symptoms-causes/syc-20377802

Soy Allergy. Allergy New Zealan. Retrieved 13 August 2020, from http://www.allergy.org.nz/A-Z+Allergies/Food+allergy/Soy+allergy.html

Soy Allergy, Causes, Symptoms, & Treatment. American College of Allergy, Asthma, and Immunology. Retrieved 13 August 2020, from https://acaai.org/allergies/types/food-allergies/types-food-allergy/soy-allergy

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui 13/11/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x