home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Penyebab Kencing Bau Menyengat dan Cara Mengatasinya

Penyebab Kencing Bau Menyengat dan Cara Mengatasinya

Tanda air kencing atau urine yang normal bisa Anda perhatikan, mulai dari warna, bau, dan jumlahnya. Wajar saja jika urine memiliki bau kurang sedap. Namun terkadang, air kencing bisa menimbulkan bau yang menyengat. Lantas, apa penyebabnya?

Kondisi penyebab kencing bau menyengat

penyebab kencing bau menyengat dan cara mengatasinya

Amonia termasuk zat buangan metabolisme tubuh yang paling berpengaruh dalam membuat urine berbau. Beberapa kondisi lain berkaitan dengan gaya hidup, termasuk asupan makanan, minuman, obat dan suplemen, hingga masalah kesehatan tertentu.

Di bawah ini penyebab kencing Anda bau menyengat.

1. Kurang minum air putih

Kebiasaan jarang minum air putih yang bisa menyebabkan dehidrasi umumnya menjadi penyebab bau kencing menyengat. Hal ini karena kandungan urine sebagian besar terdiri dari air dan zat buangan yang ginjal keluarkan dari tubuh.

Banyak sedikitnya kandungan air dan zat buangan dapat memengaruhi bau urine. Apabila mengandung banyak air dan sedikit zat buangan, urine hanya akan memiliki sedikit bau atau tidak berbau sama sekali.

Namun, jika memiliki konsentrasi zat buangan tinggi dengan sedikit air, urine Anda bisa memiliki bau amonia yang kuat.

2. Konsumsi makanan atau minuman

Jenis makanan tertentu, seperti petai dan jengkol dapat menyebabkan kencing berbau. Petai dan jengkol memiliki kandungan senyawa sulfur bernama asam jengkolat (djenkolic acid) yang memengaruhi bau urine.

Selain petai dan jengkol, makanan dan minuman dengan aroma menyengat seperti bawang putih dan kopi juga bisa menimbulkan kondisi ini.

Minum kopi selain membuat aroma kencing berubah, juga bisa membuat Anda sering buang air kecil. Semakin banyak cairan tubuh yang terbuang, artinya risiko kencing berwarna lebih pekat dan berbau lebih menyengat bisa Anda rasakan.

3. Minum obat dan suplemen

Tubuh Anda akan membuang nutrisi yang tidak Anda butuhkan melalui urine. Kelebihan vitamin B6 atau piridoksin dari suplemen dapat menimbulkan bau kencing yang lebih menyengat.

Jenis obat untuk masalah kesehatan tertentu, seperti infeksi saluran kemih (ISK), diabetes, dan rheumatoid arthritis (rematik) juga bisa berpengaruh pada bau urine Anda.

4. Kehamilan

Wanita hamil yang memasuki trimester pertama kehamilan umumnya mengeluhkan aroma urine yang lebih menyengat. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya kadar hormon human chorionic gonadotropin (hCG) pada masa awal kehamilan.

Namun, aroma urine yang lebih menyengat juga bisa terjadi akibat kondisi hiperosmia, padahal urine wanita hamil tersebut normal. Hiperosmia yaitu kondisi meningkatnya kemampuan indra penciuman dalam merasakan bau.

Morning sickness juga berisiko membuat wanita hamil rentan dehidrasi. Minum lebih banyak air bisa mencegah bau urine meningkat selama masa kehamilan.

5. Gangguan kesehatan tertentu

Dikutip dari Mayo Clinic, bau kencing yang menyengat dan tidak seperti biasanya dapat menjadi salah satu gejala dari gangguan kesehatan tertentu, seperti:

Bagaimana cara menghilangkan bau kencing yang menyengat?

Sebagian besar perubahan bau urine hanya sementara dan bukan pertanda penyakit serius. Untuk menjaga agar air kencing normal, Anda bisa melakukan hal-hal di bawah ini.

  • Minum air putih secara rutin untuk membantu Anda buang air kecil secara teratur dan mencegah tubuh dehidrasi.
  • Minum lebih banyak cairan dalam kondisi cuaca panas atau saat berolahraga.
  • Hindari mengonsumsi minuman, seperti minuman bersoda, kopi, atau alkohol.
  • Hindari makanan yang mengandung bahan kimia berbau tajam, seperti petai, jengkol, dan bawang putih.
  • Atur asupan suplemen vitamin B6 tidak lebih dari 10 mg dalam sehari.

Umumnya, perubahan bau urine yang terjadi akibat masalah kesehatan tertentu akan disertai dengan gejala lain yang Anda alami. Beberapa gejala tersebut, antara lain:

  • rasa ingin buang air kecil tiba-tiba,
  • sakit dan sensasi terbakar saat buang air kecil,
  • warna kencing keruh,
  • kencing berdarah (hematuria),
  • rasa sakit pada perut bawah, punggung, atau tulang rusuk,
  • kelelahan berlebihan,
  • perasaan bingung atau gelisah, dan
  • demam dan tubuh menggigil.

Jika merasakan gejala tersebut atau khawatir akan kondisi kencing bau menyengat, konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Smelly urine. NHS. (2020). Retrieved 27 July 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/smelly-urine/ 

Urine Odor: Causes. Mayo Clinic. (2019). Retrieved 27 July 2021, from https://www.mayoclinic.org/symptoms/urine-odor/basics/causes/sym-20050704

Urine Odor: When to see a doctor?. Mayo Clinic. (2019). Retrieved 27 July 2021, from https://www.mayoclinic.org/symptoms/urine-odor/basics/when-to-see-doctor/sym-20050704 

Hendrickson, K. (2017). Early Urine Smell Signs of Pregnancy. Hello Motherhood. Retrieved 27 July 2021, from https://www.hellomotherhood.com/article/183661-early-urine-smell-signs-of-pregnancy/

Hyperosmia. Society of Sensory Professionals. (2021). Retrieved 27 July 2021, from https://www.sensorysociety.org/knowledge/sspwiki/Pages/Hyperosmia.aspx

Bunawan, N. C., Rastegar, A., White, K. P., & Wang, N. E. (2014). Djenkolism: case report and literature review. International medical case reports journal, 7, 79–84. https://doi.org/10.2147/IMCRJ.S58379

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 30/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x