home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

3 Benda Sehari-hari yang Sarat Amonia, dan Bahaya Amonia Buat Kesehatan

3 Benda Sehari-hari yang Sarat Amonia, dan Bahaya Amonia Buat Kesehatan

Disadari atau tidak, kita mungkin menghirup gas amonia selama beraktivitas dalam rumah atau di kantor. Amonia adalah senyawa kimia yang terkandung dalam banyak produk pembersih rumah tangga. Memang, apa bahayanya? Mari simak penjelasan lengkapnya dalam ulasan berikut.

Apa itu gas amonia?

Ammonia atau amonia adalah gas kimia dengan dengan rumus NH3. Karakteristik gas ammonia adalah bening, tidak berwarna, tapi mengeluarkan bau menyengat.

Ammonia yang secara alami hadir di lingkungan sekitar dihasilkan dari sisa bahan organik di tanah seperti tumbuhan, bangkai, dan kotoran hewan yang diurai oleh bakteri.

Tubuh manusia juga memproduksi “porsi” amonia alaminya sendiri setiap kali mencerna makanan. Ketika sistem pencernaan memecah protein makanan, terbentuklah amonia yang nantinya akan diuraikan lebih lanjut menjadi urea.

Urea merupakan komponen organik terbanyak di dalam urine. Itulah salah satu alasan mengapa amonia memiliki ciri khas berupa bau yang cukup menyengat.

Selain bentuk murni yang berupa gas, terkadang Anda juga dapat menemukan sediaan produk amonia dalam bentuk padat atau cair, tergantung tujuan kegunaannya.

Apa saja produk rumah tangga yang mengandung amonia?

produk pembersih rumah

Ternyata, berbagai produk rumah tangga yang mungkin sering Anda gunakan sehari-hari juga melepaskan gas amonia ke udara sekitar. Apa saja?

1. Pupuk

Ammonia yang digunakan dalam pupuk adalah sediaan cair. Ketika disuntikkan ke dalam tanah, amonia cair akan menguap menjadi gas. Sekitar 80-90% gas ammonia yang dilepaskan ke udara berasal dari pupuk pertanian.

Ammonia membantu meningkatkan kadar pH tanah untuk mematikan mikroorganisme yang berbahaya, sembari meningkatkan kadar nutrisi penting di dalam tanah untuk diserap tanaman.

2. Produk pembersih rumah tangga

Ammonia adalah agen pembersih yang sangat efektif. Senyawa kimia ini ampuh membasmi kotoran atau noda yang berasal dari lemak hewani atau minyak nabati, seperti noda karena minyak goreng.

Itu kenapa produk pembersih rumah tangga seperti sabun pembersih kaca, pembersih bak mandi, sabun pel lantai, dan larutan pembersih toilet dibuat dengan ammonia.

Tak jarang, ammonia juga digunakan sebagai larutan pencegah goresan pada kaca dan badan mobil (polish wax)

3. Produk lainnya

Selain dalam pupuk dan produk pembersih, ammonia juga cukup banyak ditemukan dalam berbagai produk komersil lainnya. Ammonia digunakan dalam proses pembuatan plastik, kain tekstil, dan pewarna rambut.

Bahkan, senyawa kimia ini juga kerap dimanfaatkan sebagai penstabil, penetral, dan sumber nitrogen dalam proses pengolahan air, limbah, produksi karet, kertas, obat-obatan, hingga pada industri makanan.

Jumlah senyawa ammonia yang ditambahkan ke dalam produk industri biasanya berkonsentrasi cukup tinggi. Biasanya dapat mencapai sekitar 25% sehingga dinilai bersifat korosif (penyebab kerusakan).

Apa bahaya gas amonia?

masuk IGD

Risiko kesehatan ammonia terutama paling berbahaya jika kita menerima paparan dalam jumlah yang berlebihan. Baik itu sekaligus banyak dalam satu waktu maupun sedikit demi sedikit tapi berkelanjutan.

Ammonia biasanya segera menimbulkan reaksi jika terjadi paparan pada kulit, mata, rongga mulut, saluran pernapasan, dan saluran pencernaan yang memiliki lapisan lembap (mukus).

1. Pada saluran napas (terhirup)

Kebanyakan orang bisa dengan mudah terpapar amonia dalam dosis tinggi karena berat gas amonia lebih ringan daripada udara biasa di atmosfer. Ini memungkinkan gas tersebut lebih cepat menguap dan terhirup ke dalam tubuh.

Menghirup ammonia dalam konsentrasi rendah dapat mengiritasi jalur napas sehingga menyebabkan batuk-batuk.

Namun dalam konsentrasi tinggi, gas amonia berisiko menyebabkan luka bakar langsung pada saluran hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan saluran napas berupa edema bronkiolar dan alveolar, yang mengakibatkan sesak napas parah hingga gagal pernapasan.

2. Pada kontak kulit dan mata (sentuhan)

Sementara itu, paparan amonia dosis rendah dalam bentuk gas atau cair langsung pada mata dan kulit dapat menyebabkan iritasi (mata merah atau kulit ruam)/

Dalam dosis tinggi, paparan ammonia cair pada kulit dapat menyebabkan cedera permanen dan luka bakar serius. Kontak dengan amonia cair juga dapat menyebabkan radang dingin (frostbite) pada kulit.

Apabila terkena atau terciprat ke mata, ammonia dosis tinggi dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kerusakan penglihatan permanen (kebutaan).

3. Pada sistem pencernaan (tertelan)

Mual, muntah, dan sakit perut adalah gejala umum setelah menelan amonia. Baik sengaja atau tidak.

Pada kasus yang jarang, sengaja menelan konsentrat ammonia 5-10% menyebabkan luka bakar parah pada rongga mulut, tenggorokan, kerongkongan, dan lambung.

4. Keracunan

Melansir dari jurnal Metabolic Brain Disease, profesor Erlend Nagelhus dan tim peneliti dari Institute for Basic Medical Sciences melaporkan bahwa kadar ammonia berlebihan dalam tubuh, khususnya di otak, dapat mengganggu kerja metabolisme tubuh. Hal ini khususnya berdampak buruk terhadap fungsi sel-sel dan saraf otak.

Menelan ammonia dalam jumlah banyak menyebabkan keracunan sistemik dengan gejala khas berupa kejang-kejang, dan bahkan bisa hingga koma.

Hati-hati pakai amonia jika punya penyakit hati

Masalah kesehatan akibat paparan ammonia terutama akan lebih berisiko tinggi bagi orang yang memiliki gangguan atau penyakit hati.

Normalnya, hati atau liver yang sehat dapat mengubah amonia menjadi urea dengan lancar. Urea tersebut adalah produk limbah yang nantinya akan dibuang keluar bersama dengan urin.

Namun, hati yang tidak berfungsi baik akan kesulitan untuk membilas racun-racun dari dalam tubuh sehingga pada akhirnya malah menumpuk dalam darah.

Di sisi lain, penumpukan ammonia dalam tubuh juga bisa dipengaruhi oleh penyakit hati atau penyakit ginjal kesehatan yang memang sudah Anda miliki. Hal ini pun sama-sama berpeluang menimbulkan berbagai bahaya untuk kesehatan.

Tips aman menggunakan produk mengandung amonia

cara membersihkan rumah

Supaya terhindari dari risiko bahaya dari gas ammonia, Anda bisa menerapkan beberapa cara seperti:

  • Baca dan ikuti semua petunjuk instruksi yang tertera pada label kemasan saat menggunakan produk pembersih.
  • Gunakan sarung tangan, masker, pakaian yang tertutup, bahan kacamata pelindung saat menggunakan produk tersebut guna mencegah iritasi dan keracunan.
  • Buka jendela dan pintu untuk memastikan sirkulasi udara lancar saat membersihkan perabot atau rumah.
  • Hindari mencampur amonia dengan pemutih klorin karena dapat menghasilkan gas beracun yang disebut kloramin.
  • Letakkan produk pembersih rumah di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan anak-anak.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Identifying the Direct Effects of Ammonia on the Brain. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19104924 Diakses pada 13 Maret 2019.

When Ammonia Become Toxic. https://www.med.uio.no/imb/english/research/news-and-events/news/2014/when-ammonia-becomes-toxic.html Diakses pada 13 Maret 2019.

Ammonia. https://www.chemicalsafetyfacts.org/ammonia/ Diakses pada 13 Maret 2019.

The Facts About Ammonia. https://www.health.ny.gov/environmental/emergency/chemical_terrorism/ammonia_tech.htm Diakses pada 13 Maret 2019.

Ammonia: Its Effects on Biological Systems, Metabolic Hormones, and Reproduction. https://www.journalofdairyscience.org/article/S0022-0302(84)81331-4/abstract Diunduh pada 13 Maret 2019.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri Diperbarui 26/11/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x