home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kenapa Beberapa Orang Lebih Sensitif Terhadap Bau (Hiperosmia)?

Kenapa Beberapa Orang Lebih Sensitif Terhadap Bau (Hiperosmia)?

Pernahkah Anda mendengar kondisi hiperosmia sebelumnya? Hiperosmia adalah gangguan penciuman ketika seseorang terlalu sensitif atau peka terhadap bau tertentu. Jika Anda mengalaminya, jangan senang dulu karena hal ini bukan suatu kemampuan yang bisa dibanggakan. Sebaliknya, ini bisa jadi tanda dari gangguan kesehatan. Lalu, apa yang menjadi penyebab seseorang mengalami hiperosmia atau sensitif terhadap bau?

Mengenal hiperosmia, ketika hidung lebih sensitif terhadap bau

cara menghilangkan bau jengkol

Tak semua orang memiliki indra penciuman yang bekerja dengan sempurna. Ada segelintir orang yang tidak dapat mencium bau sama sekali (anosmia).

Kondisi ini biasanya terjadi karena adanya gangguan kesehatan tertentu, salah satunya akibat penyakit COVID-19 yang saat ini sedang merajalela.

Di samping itu, kebalikan dari anosmia, ada pula orang yang mampu mencium aroma terlalu kuat. Nah, kondisi ini disebut dengan hiperosmia.

Orang yang mengalami hiperosmia bisa dengan mudah mencium parfum atau wangi-wangian dari produk kimia lainnya. Sayangnya, wangi atau bau tersebut justru membuat mereka tak nyaman karena dianggap terlalu kuat.

Meskipun menurut orang normal wangi atau bau tersebut biasa saja dan tak terlalu menyengat, orang dengan hiperosmia tidak merasa demikian.

Kondisi ini bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan kecemasan dan depresi karena tidak nyaman dengan bau tersebut.

Hiperosmia kadang dapat disebabkan oleh migrain. Diperkirakan 25-50% dari 50 pasien migrain mengalami beberapa versi hiperosmia selama serangan migrain terjadi.

Kepekaan indra penciuman yang parah dapat mengganggu hidup Anda karena menyebabkan kecemasan dan depresi, terutama jika Anda tidak yakin bau apa yang mungkin memicu ketidaknyamanan.

Apa saja tanda dan gejala hiperosmia?

napas bau urine

Orang yang mengalami peningkatan kemampuan mencium biasanya akan mengendus bau lebih tajam dibandingkan dengan orang biasa.

Hal ini justru dapat menimbulkan ketidaknyamanan, bahkan rasa mual pada tubuh.

Aroma yang menjadi pemicu bisa berbeda-beda pada setiap orang dengan hiperosmia. Berikut adalah contoh-contoh bau yang umumnya memicu rasa tidak nyaman atau mual pada pengidap hiperosmia:

  • bau zat kimia,
  • parfum,
  • produk pembersih, dan
  • lilin aromaterapi.

Karena penyebab meningkatkan indra penciuman bisa berbeda-beda, setiap orang mungkin akan mengalami gejala-gejala tambahan yang berbeda pula.

Apa penyebab seseorang mengalami hiperosmia?

indra penciuman

Hiperosmia atau sensitif terhadap bau biasanya terjadi bersamaan dengan kondisi lain. Beberapa kondisi ini dapat menyebabkan perubahan indra penciuman.

Kadang-kadang, perubahan kemampuan indra penciuman dapat memperburuk masalah yang mendasarinya. Kemungkinan penyebab hiperosmia adalah sebagai berikut:

1. Kehamilan

Perubahan hormonal saat hamil dapat menyebabkan perubahan indra penciuman. Umumnya, mayoritas wanita hamil mengalami penciuman tinggi pada trimester pertama kehamilan.

Orang yang mengalami hiperosmia selama kehamilan mungkin juga mengalami peningkatan mual dan muntah yang biasanya dikaitkan dengan kondisi hiperemesis gravidarum.

Hiperosmia yang disebabkan oleh kehamilan cenderung hilang setelah kehamilan berakhir dan kadar hormon kembali normal.

2. Gangguan autoimun

Hiperosmia adalah gejala umum dari beberapa gangguan autoimun. Ini juga dapat terjadi ketika ginjal tidak berfungsi dengan benar sehingga menyebabkan penyakit Addison atau gangguan kelenjar adrenal.

Systemic lupus erythematosus (SLE) juga memengaruhi indra penciuman, terutama karena berdampak pada sistem saraf.

3. Migrain

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, migrain dapat menyebabkan dan disebabkan oleh hiperosmia. Kepekaan yang lebih sensitif terhadap bau dapat terjadi antara episode migrain.

Sensitivitas bau juga bisa memicu migrain atau membuat Anda lebih rentan untuk mengalaminya.

4. Penyakit Lyme

Sebuah penelitian dari Archives of Neuro-Psychiatry menunjukkan bahwa sebanyak 50% orang yang memiliki penyakit Lyme mengembangkan kepekaan mencium bau.

Para ahli masih belum mengetahui secara pasti apa hubungan penyakit Lyme dengan kemampuan mencium bau.

Namun, hal ini diduga karena penyakit Lyme memengaruhi sistem saraf. Alhasil, penyakit ini dapat memberikan efek negatif pula pada perubahan indra penciuman.

5. Obat-obatan yang diresepkan

Banyak obat yang diresepkan dapat memengaruhi indra penciuman.

Kebanyakan obat menumpulkan indra penciuman, tetapi kadang-kadang obat yang diresepkan dapat membuat bau tertentu menjadi lebih kuat.

Orang yang mengalami perubahan indra penciuman setelah memulai pengobatan baru harus berkonsultasi dengan dokter.

Hal ini bertujuan agar dokter dapat memberikan pilihan pengobatan baru yang lebih sesuai.

6. Diabetes

Dalam kasus yang jarang terjadi, diabetes tipe 1 dapat menyebabkan hiperosmia. Ini umumnya terjadi ketika diabetes tipe 1 belum diobati atau tidak dikelola dengan baik.

7. Kekurangan gizi

Beberapa masalah kekurangan nutrisi, termasuk kekurangan vitamin B12, dapat memengaruhi indra penciuman.

Kekurangan vitamin B12 dapat mengganggu sistem saraf hingga akhirnya membuat saraf hidung terlalu sensitif terhadap bau.

8. Kondisi neurologis lainnya

Kondisi neurologis berikut juga diduga kuat berkaitan dengan terjadinya hiperosmia:

  • penyakit Parkinson,
  • epilepsi,
  • penyakit Alzheimer,
  • multiple sclerosis, dan
  • polip atau tumor di hidung atau tengkorak.

Bagaimana cara mengobati hiperosmia?

sepatu bau tidak pakai kaus kaki

Pengobatan biasanya akan difokuskan pada penyebab di balik hiperosmia itu sendiri. Namun, pada kebanyakan kasus, bentuk pengobatan terbaik adalah dengan menghindari bau yang menjadi pemicunya.

Seperti yang dijelaskan sebelummnya, masing-masing orang mungkin akan memiliki pemicu bau yang berbeda-beda, mulai dari makanan hingga zat kimia tertentu.

Apabila memang sulit untuk dihindari sama sekali, Anda bisa mencoba mengunyah permen karet mint atau permen mint untuk mengurangi gejala.

Selain itu, dokter dapat meresepkan obat-obatan yang dapat mengatasi penyebab hiperosmia Anda. Ambil contohnya pada orang yang menderita migrain, dokter mungkin akan meresepkan obat migrain yang sesuai.

Tak hanya itu, dokter juga bisa mengubah resep pengobatan yang sedang Anda konsumsi apabila hiperosmia dipicu oleh obat-obatan tertentu.

Dalam kasus tertentu, kondisi ini bisa diatasi melalui prosedur operasi atau bedah. Namun, hal ini tentunya kembali lagi ke kondisi atau penyebab apa yang mendasari peningkatan indra penciuman Anda.

Oleh karena itu, selalu konsultasikan ke dokter mengenai kondisi-kondisi kesehatan yang Anda alami. Dengan demikian, Anda bisa mendapatkan penanganan dan pengobatan yang paling sesuai dengan kondisi Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

What’s That Smell? What You Need to Know About Hyperosmia – Cleveland Clinic. (2019). Retrieved January 6, 2021, from https://health.clevelandclinic.org/whats-that-smell-what-you-need-to-know-about-hyperosmia/

Hyperosmia – Society of Sensory Professionals. (n.d.). Retrieved January 6, 2021, from https://www.sensorysociety.org/knowledge/sspwiki/Pages/Hyperosmia.aspx

Hummel, T., Landis, BN.,  Huttenbrink, K. (2012). Smell and taste disorders. GMS Current Topics in Otorhinolaryngology – Head and Neck Surgery, https://dx.doi.org/10.3205/cto000077

Puri, B., Monro, J., Julu, P., Kingston, M., & Shah, M. (2014). Hyperosmia in Lyme disease. Arquivos De Neuro-Psiquiatria72(8), 596-597. https://doi.org/10.1590/0004-282X20140109

Nesbit, S., Broome, A., & Geist, S. (2017). Common diagnoses in dentistry. Diagnosis And Treatment Planning In Dentistry, 24-71.e12. https://doi.org/10.1016/B978-0-323-28730-2.00011-X

Perricone, C., Shoenfeld, N., Agmon-Levin, N., de Carolis, C., Perricone, R., & Shoenfeld, Y. (2013). Smell and autoimmunity: a comprehensive review. Clinical reviews in allergy & immunology45(1), 87–96. https://doi.org/10.1007/s12016-012-8343-x

Puri, B. K., Monro, J. A., Julu, P. O., Kingston, M. C., & Shah, M. (2014). Hyperosmia in Lyme disease. Arquivos de neuro-psiquiatria72(8), 596–597. https://doi.org/10.1590/0004-282×20140109

Cameron E. L. (2014). Pregnancy and olfaction: a review. Frontiers in psychology5, 67. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2014.00067

Douglass, R., & Heckman, G. (2010). Drug-related taste disturbance: a contributing factor in geriatric syndromes. Canadian family physician Medecin de famille canadien56(11), 1142–1147.

Hummel, T., Landis, B. N., & Hüttenbrink, K. B. (2011). Smell and taste disorders. GMS current topics in otorhinolaryngology, head and neck surgery10, Doc04. https://doi.org/10.3205/cto000077

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Andisa Shabrina
Tanggal diperbarui 3 minggu lalu
x