home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Peritoneography

Peritoneography

Bagi pasien masalah ginjal yang membutuhkan dialisis, ada banyak hal yang perlu mereka perhatikan ketika menjalani perawatan ini. Salah satunya pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui kemungkinan komplikasi yang disebut peritoneography.

Apa itu peritoneography?

Ct Scan Lumbar

Peritoneography adalah tes pencitraan CT scan pada perut dan pinggul. Umumnya, tes pencitraan ini dijalani setelah pasien mendapatkan dialisis peritoneal.

Pemeriksaan ini bertujuan memeriksa risiko komplikasi setelah seseorang melakukan prosedur cuci darah (dialisis).

Sama seperti CT scan, tes ini dilakukan setelah dokter memasukkan campuran zat pewarna kontras dan senyawa yang digunakan saat cuci darah, yakni dialisat.

Fungsi peritoneography

Peritoneography berfungsi mendeteksi kemungkinan komplikasi setelah menjalani dialisis peritoneal. Sederhananya, prosedur rutin ini dilakukan untuk melihat kebocoran atau perlengketan pada rongga peritoneum.

Dokter nantinya akan memanfaatkan senyawa kontrak osmolar rendah non-ionik beryodium guna membantu diagnosis ini.

Siapa yang membutuhkan prosedur ini?

Pada dasarnya, hampir setiap pasien yang menjalani dialisis peritoneal membutuhkan prosedur peritoneography, terutama ketika mengalami kondisi seperti:

  • hernia,
  • masalah ketika pertukaran cairan dialisis,
  • kelebihan cairan yang menyebabkan kaki bengkak dan hipertensi,
  • panggul atau punggung mengalami kebocoran cairan, atau
  • masalah pada penyaringan dialisis.

Prosedur peritoneography

Sebelum peritoneography dilakukan, rongga peritoneal akan dikeringkan dari dialisat. Lalu, dokter akan mencampur 1 mililiter per kilogram (ml/kg) pewarna kontras non-ionik dengan 30 ml/kg dialisat.

Campuran zat ini nantinya dimasukkan ke dalam rongga peritoneum. Beberapa dokter menambahkan sekitar 50 ml pewarna kontras untuk setiap 1 liter cairan dialisis. Volume yang tepat perlu diberikan minimal 1 jam sebelum CT scan dimulai.

Dokter mungkin akan meminta Anda untuk berjalan atau mengejan. Hal ini dilakukan untuk memastikan cairan dapat menyebar dengan merata, sehingga bisa mendeteksi kebocoran di dalam rongga tersebut.

Pada saat pemindaian dilakukan, Anda akan berbaring telentang setidaknya 1 jam setelah pewarna kontras disuntikkan. Bila masih belum terdeteksi secara tepat, dokter akan memindai tubuh Anda dengan posisi tengkurap.

Terakhir, campuran dialisat dan pewarna kontras akan dikeringkan bila sudah selesai.

Hasil dari peritoneography

Hasi dari peritoneography membantu dokter mengetahui ada atau tidaknya komplikasi usai menjalani dialisis. Hal ini dikarenakan agar dokter bisa meminimalisir risiko komplikasi dialisis, seperti peritonitis, hernia, dan kateter cuci darah.

Bila hasilnya tidak normal, tubuh artinya mengalami komplikasi cuci darah. Diagnosis ini nantinya membantu dokter untuk menentukan perawatan tergantung jenis komplikasi yang dialami.

Waspada, Ini Gejala Gagal Ginjal yang Harus Segera Ditangani

Risiko efek samping peritoneography

Meski tergolong aman, peritoneography tetap memiliki sejumlah efek samping yang mungkin terjadi pada beberapa orang. Ada pun beragam efek samping tersebut antara lain:

Tips mengurangi risiko komplikasi dialisis peritoneal

Mengingat peritoneography dilakukan untuk mendeteksi komplikasi dari dialisis peritoneal, ada banyak hal yang bisa diubah guna menurunkan risiko komplikasi. Di bawah ini perubahan yang perlu Anda perhatikan ketika memulai dialisis peritoneal.

1. Rutinitas harian

Pada saat Anda melakukan dialisis, rutinitas harian akan berubah karena perlu memasukkan prosedur cuci darah ke dalam jadwal. Anda disarankan untuk berhenti dari aktivitas normal dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk melakukan dialisis.

2. Aktivitas fisik

Anda pun perlu membatasi beberapa aktivitas fisik saat perut terasa penuh oleh cairan dialisis. Anda memang bisa aktif berolahraga, tetapi perlu berkonsultasi dahulu dengan dokter terkait jenis olahraga yang aman ketika menjalani cuci darah.

3. Pola makan

Pola makan pun perlu diubah ketika hendak menurunkan risiko komplikasi dialisis yang dapat terdeteksi peritoneography. Ada pun hal yang perlu diperhatikan dalam pola makan ketika menjalani dialisis peritoneal antara lain:

  • membatasi sodium, fosfor, kalori,
  • memperhatikan jumlah cairan yang dimakan atau diminum,
  • menambahkan protein ke dalam diet,
  • memilih makanan dengan jumlah potasium yang tepat, dan
  • minum suplemen untuk pasien gagal ginjal.

Konsumsi makanan yang tepat setidaknya membantu tubuh merasa lebih baik saat menjalani dialisis. Cobalah berkonsultasi dengan ahli diet untuk menemukan diet yang sesuai dengan kondisi Anda.

Jika memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait peritoneography, silakan diskusikan dengan dokter guna memahami solusi yang tepat untuk Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Bell, D.J., Thabet, M.K. (n.d). CT peritoneography. Radiopaedia. Retrieved 30 June 2021, from https://radiopaedia.org/articles/ct-peritoneography 

Questions About PD. (2014). International Society for Peritoneal Dialysis. Retrieved 30 June 2021, from https://ispd.org/question/is-that-safe-about-ct-peritoneographyis-it-safe-that-contrast-media-was-mixed-with-dialysate-and-infused-into-the-peritoneal-cavity-via-a-tenchkoff-catheter/ 

Peritoneal Dialysis. (2018). National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. Retrieved 30 June 2021, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/kidney-disease/kidney-failure/peritoneal-dialysis 

Fujino, Y., Kawada, N., Ito, K., Katsura, H., Maeda, H., Mitsumoto, K. and Uzu, T., (2018). Recurrent pleuroperitoneal leak caused by diaphragm blebs in a peritoneal dialysis patient: a case report with literature review. Renal Replacement Therapy, 4(1). Retrieved 30 June 2021. 

Complications of Peritoneal Dialysis (PD and APD). (n.d). University Hospitals Coventry and Warwickshire [PDF File]. Retrieved 30 June 2021, from https://www.uhcw.nhs.uk/download/clientfiles/files/Patient%20Information%20Leaflets/Medicine/Renal/119805_Complications_of_peritoneal_dialysis_(PD_and_APD)_(762).pdf

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nabila Azmi Diperbarui 2 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro