home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apakah Minum Obat Jangka Panjang Menyebabkan Penyakit Ginjal?

Apakah Minum Obat Jangka Panjang Menyebabkan Penyakit Ginjal?

Penggunaan obat-obatan bisa jadi penyebab penyakit ginjal. Sayangnya, beberapa orang dengan kondisi kesehatan tertentu harus mereka minum obat medis dalam jangka panjang. Lantas, apakah minum obat bisa menyebabkan penyakit ginjal?

Benarkah minum obat jangka panjang menyebabkan penyakit ginjal?

Banyak kalangan masih ragu untuk minum obat dalam jangka panjang, karena disinyalir bisa memicu kerusakan ginjal. Hal ini umumnya terjadi pada penderita penyakit kronis, misalnya diabetes melitus atau tekanan darah tinggi (hipertensi).

Dokter mengharuskan penderita penyakit kronis minum obat-obatan medis dalam rentang waktu tertentu untuk mengelola kondisinya. Namun, khusus dua kondisi di atas, minum obat tidak lantas dapat menyebabkan penyakit ginjal.

Menurut beberapa ahli, penggunaan obat untuk menangani diabetes dan hipertensi bisa mencegah komplikasi lebih serius berkaitan dengan kesehatan ginjal.

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, obat ACE inhibitor (lisinopril) dan ARB (losartan) merupakan dua jenis pengobatan untuk darah tinggi yang bisa memperlambat hilangnya fungsi ginjal pada penderita hipertensi.

Selain bisa menurunkan tekanan darah, kedua obat darah tinggi ini bisa mencegah timbulkan penyakit ginjal. Hal ini karena organ ginjal terdiri dari banyak pembuluh darah kecil yang rentan mengalami kerusakan akibat tekanan darah tinggi.

Sementara itu, penderita diabetes juga rentan mengalami komplikasi berupa gagal ginjal jika tidak mampu mengontrol kadar gula darah mereka dengan baik.

Minum obat diabetes secara rutin bisa membantu seseorang mengalami komplikasi diabetes, yang mana juga perlu dibarengi dengan perubahan diet dan aktivitas fisik.

Jenis obat-obatan yang berisiko merusak ginjal

obat merusak ginjal

Pada umumnya, penderita diabetes dan hipertensi tidak perlu takut untuk minum obat dalam jangka panjang asalkan sesuai dengan anjuran yang dokter berikan.

Walaupun begitu, ada sejumlah obat-obatan, baik obat resep bahkan obat bebas, yang ternyata berisiko bagi kesehatan ginjal, terlebih apabila Anda menggunakannya secara berlebihan.

Beberapa jenis obat-obatan yang berpotensi bisa menyebabkan penyakit ginjal seperti berikut ini.

1. Obat NSAID

Obat non-steroid anti-inflamasi (NSAID), seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen bermanfaat sebagai pereda nyeri, demam, dan peradangan. Sejumlah jenis obat NSAID bisa Anda temukan secara bebas di apotik tanpa resep dokter.

Anda tidak boleh minum obat NSAID melebihi dosis atau dalam jangka waktu panjang, karena hal ini bisa memicu penyakit ginjal kronis yang dikenal sebagai nefritis interstisial.

Label pada obat ini umumnya tidak memperbolehkan Anda minum lebih dari 6 – 8 tablet per hari atau menggunakannya dalam jangka panjang lebih dari 10 hari.

2. Antibiotik

Antibiotik tertentu, khususnya penisilin, sefalosporin, dan sulfonamid dapat berbahaya bagi kesehatan ginjal. Hal ini karena obat antibiotik tersebut akan tubuh Anda keluarkan melalui ginjal, sehingga meminumnya bisa membuat organ ini bekerja lebih berat.

Minum obat antibiotik dalam jangka panjang selain bisa memicu resistensi antibiotik, juga bisa melukai ginjal bahkan jika Anda memiliki ginjal sehat sebelumnya. Maka dari itu, penting untuk mengikuti saran dokter tiap kali menerima resep obat antibiotik.

3. Obat pereda asam lambung

Penderita maag dan asam lambung juga perlu hati-hati saat minum obat jangka panjang. Proton pump inhibitor (PPI), seperti omeprazol termasuk golongan obat yang bekerja pada sel-sel lambung dan secara efektif menurunkan produksi asam lambung.

Namun, penggunaan obat PPI dalam waktu lama bisa meningkatkan risiko Anda mengalami masalah ginjal. Obat antasida yang tersedia bebas juga dapat mengganggu keseimbangan elektrolit tubuh apabila Anda menderita penyakit ginjal kronis.

4. Obat pencahar

Obat pencahar bebas dan resep dokter yang diminum sebelum kolonoskopi untuk membersihkan usus bisa menyebabkan gangguan ginjal. Terlebih pada jenis obat dengan kandungan pembersih usus bernama oral sodium phosphate (OSP).

Menurut National Kidney Foundation, kandungan OSP dalam obat pencahar ini menyebabkan tubuh kehilangan cairan lebih cepat dan memicu kondisi dehidrasi.

Kedua hal ini yang lama-kelamaan bisa menyebabkan gangguan fungsi ginjal. Selain itu, obat pencahar juga dapat membentuk kristal pada organ ginjal yang menyebabkan penyakit ginjal.

5. Pewarna kontras

Beberapa tes pencitraan, seperti MRI dan CT-scan, dokter terkadang dapat menggunakan cairan pewarna kontras untuk melihat gambaran organ tubuh secara lebih jelas. Pewarna kontras ini bisa berbahaya bagi orang yang mengalami gangguan ginjal.

Dalam beberapa kasus, pewarna kontras ini bisa menyebabkan kondisi serius yakni contrast-induced nephropathy (CIN) dan nephrogenic systemic fibrosis (NSF). Selalu pastikan Anda memberi tahu kondisi tubuh sebelum menjalani prosedur medis ini.

Beberapa jenis obat lainnya juga bisa menyebabkan penyakit ginjal, seperti obat antivirus, obat antijamur, dan kemoterapi. Obat herbal dan suplemen nutrisi tertentu juga dikaitkan dengan cedera ginjal, bahkan pada orang dengan kondisi ginjal sehat.

Walaupun begitu, minum obat medis secara umum aman bagi kesehatan ginjal asal mengikuti dosis dan anjuran pemakaian. Jika menderita penyakit kronis atau gejala penyakit ginjal, lebih baik konsultasikan ke dokter agar mendapatkan obat yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Supplements + OTCs May Hurt Your Kidneys. Health Essentials from Cleveland Clinic. (2019). Retrieved 26 July 2021, from https://health.clevelandclinic.org/supplements-otcs-may-hurt-kidneys/

Keeping Kidneys Safe: Smart Choices about Medicines. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2018). Retrieved 26 July 2021, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/kidney-disease/keeping-kidneys-safe

5 Drugs You May Need to Avoid or Adjust if You Have Kidney Disease. National Kidney Foundation. (2017). Retrieved 26 July 2021, from https://www.kidney.org/atoz/content/5-drugs-you-may-need-avoid-or-adjust-if-you-have-kidney-disease

Which Drugs are Harmful to Your Kidneys?. National Kidney Foundation. (2021). Retrieved 26 July 2021, from https://www.kidney.org/atoz/content/drugs-your-kidneys

Herbal Supplements and Kidney Disease. National Kidney Foundation. (2021). Retrieved 26 July 2021, from https://www.kidney.org/atoz/content/herbalsupp

Yang, B., Xie, Y., Guo, M., Rosner, M., Yang, H., & Ronco, C. (2018). Nephrotoxicity and Chinese Herbal Medicine. Clinical Journal Of The American Society Of Nephrology, 13(10), 1605-1611. https://doi.org/10.2215/cjn.11571017

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 30/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x