Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Sistem Reproduksi Manusia, dari Organ hingga Fungsinya

Sistem Reproduksi Manusia, dari Organ hingga Fungsinya

Manusia bisa memiliki keturunan karena tubuhnya memiliki organ dan sistem reproduksi. Namun, masih banyak orang belum paham bagian dan fungsi dari sistem reproduksinya sendiri. Apa saja bagian organ reproduksi beserta fungsinya?

Sistem reproduksi pria

sistem reproduksi pria

Sistem reproduksi pria terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian luar dan dalam. Setiap bagian tentu memiliki fungsi masing-masing yang sangat vital.

Dilansir dari Cleveland Clinic, berikut anatomi sistem reproduksi pria.

1. Penis

Penis adalah organ seks pria yang terdiri dari tiga bagian utama, yaitu pangkal (radix), batang (corpus), dan kepala (glans). Pada umumnya, organ ini akan mencapai ukuran maksimal selama masa puber.

Pada ujung kepala penis, terdapat uretra yang merupakan saluran untuk mengeluarkan urine dari tubuh. Saluran ini juga berfungsi untuk mengeluarkan cairan mani ketika mencapai klimaks (orgasme).

Pada sepanjang batang penis, terdapat jaringan yang dinamakan korpus kavernosum. Saat jaringan ini dipenuhi darah, penis akan menjadi kaku dan mengalami ereksi.

2. Skrotum

Skrotum merupakan sebuah kantong kulit yang longgar dan menggantung di belakang penis. Di dalam skrotum, terdapat sepasang organ sekaligus kelenjar yang disebut testis.

Selain melindungi testis, skrotum juga mendukung fungsi testis dalam memproduksi sperma. Otot-otot khusus pada dinding skrotum memungkinkan testis untuk menjaga suhu optimal bagi produksi sperma.

3. Testis

Testis merupakan organ berbentuk oval di dalam kantung sebelah kanan dan kiri bagian belakang penis. Fungsinya untuk memproduksi dan menyimpan sperma.

Organ yang biasa disebut buah zakar ini juga berperan dalam produksi hormon testosteron. Fungsi testosteron yaitu menghasilkan sperma dan memberi perubahan pada tubuh selama pubertas.

Biasanya, testis pria akan mulai tumbuh sekitar usia 1013 tahun. Ukuran testis setiap pria berbeda-beda, tetapi rata-rata panjangnya sekitar 5–7,5 cm dengan lebar 2,5 cm.

4. Epididimis

Epididimis merupakan saluran yang terletak di belakang testis. Fungsinya membawa sperma dari testis menuju vas deferens (saluran panjang untuk menyalurkan sperma matang), untuk kemudian dikeluarkan melalui uretra.

5. Alat reproduksi bagian dalam

Tak hanya di luar, alat reproduksi pria juga terdapat di dalam tubuh. Berikut organ dan struktur yang terlibat di dalamnya.

  • Vas deferens: saluran yang berfungsi sebagai jalur keluarnya sperma.
  • Vesikula seminalis: kantong yang menempel pada vas deferens dengan fungsi memproduksi air mani dan membantu proses ejakulasi.
  • Saluran ejakulasi (ejaculatory ducts): saluran gabungan antara vesikula seminalis dan vas deferens.
  • Uretra: saluran untuk mengeluarkan air mani yang telah bercampur sperma ketika ejakulasi.
  • Kelenjar prostat: kelenjar dengan fungsi memproduksi cairan yang melindungi dan menutrisi sel sperma.
  • Kelenjar bulbouretral: kelenjar yang memproduksi cairan untuk melumasi uretra dan menetralkan keasaman sisa urine di dalamnya.

Sistem reproduksi wanita

Seperti pada pria, sistem reproduksi wanita terbagi menjadi beberapa bagian dengan fungsi masing-masing. Berikut sejumlah organ reproduksi wanita beserta fungsinya.

1. Vulva

Vulva adalah bagian luar dari alat reproduksi wanita yang bisa Anda lihat dengan mata telanjang.

Bagian depan vulva yang ditumbuhi rambut kemaluan disebut mons pubis. Selain itu, terdapat klitoris, bukaan uretra, serta labia yang terbagi menjadi dua.

  • Labia mayora atau bibir besar: bagian ini mengandung banyak kelenjar keringat dan minyak. Usai pubertas, labia mayora akan ditutupi rambut-rambut halus.
  • Labia minora atau bibir kecil: berada di dalam labia mayora, mengelilingi lubang vagina dan uretra.

Sementara itu, klitoris merupakan tonjolan kecil yang berada di dalam labia minora. Klitoris dikelilingi banyak saraf sehingga sangat sensitif terhadap rangsangan dan bisa menegang (ereksi).

2. Vagina

Vagina merupakan saluran yang menghubungkan serviks (leher rahim) ke bagian luar tubuh. Letak vagina tepatnya di belakang kandung kemih, agak lebih rendah dari rahim.

Beberapa fungsi vagina meliputi:

  • jalan lahir bayi saat persalinan,
  • tempat keluarnya darah saat menstruasi, dan
  • jalur akses sperma untuk menuju rahim.

3. Rahim (uterus)

sistem reproduksi wanita

Rahim merupakan organ kecil berongga yang berada di antara kandung kemih dan dubur. Organ dengan bentuk seperti buah pir ini memiliki banyak fungsi penting dalam proses reproduksi.

Selama siklus menstruasi normal, lapisan rahim (endometrium) akan menebal. Ini dilakukan sebagai upaya untuk mempersiapkan kehamilan.

Jika terjadi pembuahan, rahim akan menjadi rumah bagi embrio untuk tumbuh dan berkembang. Namun, jika tidak ada pembuahan, lapisan rahim akan keluar dari vagina saat menstruasi.

4. Ovarium

Ovarium merupakan sepasang kelenjar kecil berbentuk oval di sisi kanan dan kiri rongga panggul, bersebelahan dengan bagian rahim atas.

Fungsi organ reproduksi wanita ini ialah menghasilkan sel telur. Selain itu, ovarium juga menghasilkan hormon seks seperti estrogen dan progesteron.

5. Tuba falopi (oviduk)

Tuba falopi merupakan dua saluran panjang yang membentang pada bagian atas rahim ke ujung masing-masing ovarium. Fungsi organ ini sebagai saluran bagi sel telur untuk bergerak dari ovarium menuju rahim.

Konsepsi, alias pembuahan sel telur oleh sperma, terjadi di saluran tuba falopi. Nantinya, sel telur yang berhasil dibuahi di saluran tuba falopi akan bergerak menuju rahim.

Cara menjaga kesehatan sistem reproduksi

Organ reproduksi pada manusia tidak luput dari risiko masalah kesehatan. Maka dari itu, perawatan harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak boleh sembarangan.

Berikut panduan sederhana untuk menjaga kesehatan sistem reproduksi Anda.

  • Pastikan penis dan vagina dibersihkan serta dikeringkan dengan baik dan menyeluruh setelah buang air kecil.
  • Hindari pemakaian bedak, sabun wangi, gel, dan antiseptik karena dapat menyebabkan iritasi.
  • Pilih celana dalam yang berbahan katun untuk digunakan sehari-hari.
  • Rutin mengganti celana dalam setiap hari.
  • Pilihlah baju atau celana yang longgar, sebab pakaian yang ketat dapat membuat area genital lembap dan rentan terinfeksi.
  • Bersihkan area genital sebelum dan setelah berhubungan seks.
  • Gunakan kondom untuk mencegah infeksi menular seksual dan kehamilan yang tidak diinginkan.

Selain cara di atas, menerapkan pola hidup sehat turut membantu menjaga kesehatan sistem reproduksi. Pastikan Anda mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, dan mengelola stres.

Jika Anda menemui masalah pada organ reproduksi, segera konsultasikan ke dokter. Penanganan sedini mungkin membantu mencegah kondisi bertambah parah.


Pernah alami gangguan menstruasi?

Gabung bersama Komunitas Kesehatan Wanita dan dapatkan berbagai tips menarik di sini.


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Technical Issues In Reproductive Health. (2022). Retrieved 12 September 2022, from http://www.columbia.edu/itc/hs/pubhealth/modules/reproductiveHealth/anatomy.html

Male Reproductive System: Structure & Function. (2022). Retrieved 12 September 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/articles/9117-male-reproductive-system

Female Reproductive System: Structure & Function. (2022). Retrieved 12 September 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/articles/9118-female-reproductive-system

Anatomy and Physiology of the Male Reproductive System. (2022). Retrieved 12 September 2022, from https://opentextbc.ca/anatomyandphysiology/chapter/27-1-anatomy-and-physiology-of-the-male-reproductive-system/

Anatomy and Physiology of the Female Reproductive System. (2022). Retrieved 12 September 2022, from https://opentextbc.ca/anatomyandphysiology/chapter/27-2-anatomy-and-physiology-of-the-female-reproductive-system/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Bayu Galih Permana Diperbarui 5 days ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
Next article: