home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Semua yang Perlu Anda Ketahui Seputar Alat Reproduksi Pria, Penyakit, dan Pencegahannya

Semua yang Perlu Anda Ketahui Seputar Alat Reproduksi Pria, Penyakit, dan Pencegahannya

Anda mungkin telah menyadari pentingnya penis dan skrotum sebagai bagian dari sistem reproduksi pria. Namun tak hanya kedua organ itu yang penting dalam sistem reproduksi pria. Berikut ini ulasan lengkap tentang alat reproduksi pria.

Mengenal alat reproduksi pria dan fungsinya

Alat reproduksi pria terdiri dari beberapa bagian, terutama organ eksternal dan internal. Setiap bagian dari organ reproduksi ini memiliki fungsinya masing-masing. Berikut beberapa bagian alat reproduksi pria yang perlu Anda ketahui.

anatomi reproduksi pria

1. Penis

Jika wanita punya vagina, maka pria punya penis. Organ reproduksi pria ini bukan berupa otot, melainkan jaringan seperti spons yang berisi darah.

Ketika Anda menerima rangsangan, penis yang sehat akan mendapat aliran darah masuk dan mengisi ruang kosong di dalamnya. Aliran darah yang deras ini kemudian menciptakan tekanan. Alhasil, penis jadi membesar dan mengeras yang disebut sebagai proses ereksi.

Secara umum, anatomi penis memiliki tiga bagian utama, yaitu akar (radix), batang (corpus), dan kepala (glans).

  • Akar (radix), bagian pangkal penis yang terletak di dekat dasar panggul. Akar penis memiliki tiga jaringan ereksi dan dua otot, yakni ischiocavernosus dan bulbospongiosus.
  • Batang (corpus), bagian penghubung akar dan kepala penis yang terdiri dari tiga silinder jaringan ereksi, yakni dua buah corpora cavernosa dan sebuah corpus spongiosum.
  • Kepala (glans), bagian ujung penis dengan bentuk mengerucut yang terdapat lubang saluran uretra untuk mendukung fungsi penis sebagai tempat keluar urine dan air mani.

2. Testis

Orang awam mengenal testis dengan sebutan pelir atau biji kemaluan. Organ satu ini berbentuk oval, seperti telur ayam. Testis dibungkus oleh skrotum dan terletak di belakang penis. Testis akan mulai tumbuh ketika laki-laki memasuki masa pubertas, sekitar usia 10-13 tahun.

Ketika organ reproduksi pria ini tumbuh, kulit di sekitar skrotum nantinya akan diselimuti rambut halus, berwarna lebih gelap, dan menggantung ke bawah. Setiap pria umumnya memiliki ukuran testis yang berbeda-beda.

Fungsi testis adalah memproduksi dan menyimpan sperma. Tak hanya itu, testis juga berfungsi untuk memproduksi hormon testosteron, yaitu hormon untuk memberikan perubahan pada bentuk tubuh pria selama masa pubertas dan menghasilkan sperma.

Bagian sistem reproduksi pria lainnya yang terhubung langsung dengan testis, di antaranya:

  • Epididimis, tempat penyimpanan sementara dan pematangan sel sperma yang dihasilkan oleh testis sebelum dapat digunakan untuk membuahi sel telur.
  • Vas deferens, saluran berbentuk tabung yang berfungsi menyalurkan sel sperma matang dari epididimis menuju saluran uretra untuk dikeluarkan saat ejakulasi.

3. Skrotum

Skrotum merupakan sebuah kantong kulit yang menggantung di belakang penis. Organ ini berfungsi untuk membungkus testis dan mengontrol suhu testis.

Testis harus berada pada suhu yang tepat agar bisa memproduksi sperma yang normal. Idealnya, testis harus berada pada suhu yang sedikit lebih dingin daripada suhu tubuh.

Otot-otot khusus yang ada di dinding skrotum memungkinkan testis mengerut atau menegang apabila terjadi perubahan suhu dari lingkungan sekitarnya.

Testis secara alamiah akan mengerut atau mengecil ukurannya ketika mereka terkena suhu dingin. Sebaliknya, testis juga bisa menjadi elastis ketika berada di suhu yang hangat.

4. Kelenjar prostat

Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi saluran kemih (uretra), yakni saluran tempat keluarnya urine dan sperma dari dalam tubuh.

Fungsi utama prostat adalah menghasilkan cairan yang bercampur sel sperma yang diproduksi testis untuk proses ejakulasi.

Cairan prostat ini juga berfungsi untuk menjaga sel sperma agar tetap sehat dan kualitasnya baik. Sebab ia memiliki komponen antibodi untuk melindungi dari bakteri dan patogen penyebab penyakit.

Berbagai risiko penyakit yang bisa menyerang alat reproduksi pria

penyakit kelamin pria

Beberapa jenis gangguan dan penyakit yang paling sering menyerang alat reproduksi pria antara lain sebagai berikut.

1. Impotensi

Impotensi atau yang juga dikenal dengan disfungsi ereksi adalah kondisi ketika penis tidak bisa mengeras (ereksi) secara optimal.

Disfungsi ereksi memiliki beberapa bentuk, seperti tidak bisa ereksi, kesulitan mempertahankan ereksi, hingga bisa ereksi tapi penis kurang keras. Alhasil, pria jadi kesulitan untuk melakukan penetrasi saat berhubungan seksual.

Kondisi ini bisa terjadi seiring bertambahnya usia pria. Akan tetapi, seorang pria juga bisa mengalami impotensi karena mengalami kondisi psikologis dan riwayat medis tertentu, gangguan hormon, kerusakan saraf di penis, hingga kelebihan berat badan.

2. Anorgasmia

Dalam beberapa kasus, pria mungkin tidak bisa mencapai orgasme meski sudah mendapatkan stimulasi yang memadai.

Kondisi ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari masalah hormonal atau penyakit saraf di sekitar alat reproduksi pria. Selain itu, riwayat penyakit seperti diabetes juga bisa membuat kondisi ini lebih mungkin terjadi.

3. Infeksi menular seksual

Berbagai infeksi menular seksual dapat memengaruhi alat reproduksi pria. Penyakit menular seksual ini termasuk kutil kelamin, klamidia, gonore, sifilis, dan herpes genital.

Buang air kecil yang menyakitkan, keluarnya cairan yang tidak biasa dari penis, hingga penis terasa nyeri terus-terus merupakan berbagai gejala khas dari infeksi menular seksual yang perlu Anda waspadai.

4. Gairah seksual rendah

Gairah seks rendah pada pria digambarkan sebagai sebuah kondisi terjadinya penurunan minat seseorang terhadap aktivitas seksual.

Meski bisa terjadi seiring bertambahnya usia, gairah seksual rendah juga bisa disebabkan oleh banyak faktor, seperti gaya hidup tidak sehat, riwayat penyakit tertentu, atau pengaruh hormon.

5. Penyakit dan kondisi lainnya

Jika Anda tidak menjaga kebersihan organ intim ini dengan baik dan benar, maka Anda lebih rentan terkena berbagai infeksi. Salah satunya infeksi jamur pada penis yang dapat menimbulkan ruam kemerahan dan bercak putih pada penis.

Kulit dan kepala penis juga bisa mengalami peradangan dan menimbulkan rasa nyeri. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut dengan balanitis. Balanitis dapat menyebabkan rasa sakit dan keluarnya kotoran dari penis yang berbau busuk. Kondisi ini cenderung lebih sering terjadi pada pria yang tidak disunat.

Selain itu, pria juga bisa mengalami penis bengkok, yang dalam istilah medis disebut penyakit Peyronie. Penyakit Peyronie adalah masalah pada penis yang disebabkan oleh jaringan parut, atau disebut plak, yang terbentuk di dalam penis.

Penyakit ini dapat membuat penis bengkok ke atas atau ke samping. Kebanyakan pria dengan penyakit Peyronie masih bisa berhubungan seks. Akan tetapi, mungkin terasa sangat sulit dan menyakitkan.

Tips mudah merawat kesehatan alat reproduksi pria

merawat penis

Merawat penis tak boleh sembarangan. Pasalnya, alat reproduksi pria ini sangat sensitif sehingga salah perawatan justru bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Nah, guna menghindari hal tersebut, berikut panduan merawat alat reproduksi pria yang dapat Anda lakukan dengan mudah dan aman.

1. Bersihkan penis dengan cara yang benar

Membersihkan penis tak sekadar membasuhnya dengan air saja. Ada beberapa langkah yang perlu Anda perhatikan agar kesehatan penis bisa terjaga dengan baik, di antaranya:

  • Bilas area pangkal penis termasuk testis dan rambut kemaluan dengan air bersih setelah berkemih. Pastikan daerah pangkal testis dan anus juga bersih dan bebas bau. Setelah itu, keringkan area tersebut dengan baik dan menyeluruh.
  • Selain berkemih, Anda juga dianjurkan untuk membilas penis sebelum dan setelah berhubungan seksual, atau selesai melakukan masturbasi.
  • Hindari menaburkan bedak, menyemprotkan deodoran, atau menggunakan sabun pewangi karena bisa menyebabkan iritasi kulit.

2. Pilih celana dalam yang tepat

Di pasaran, terdapat banyak sekali pilihan celana dalam untuk pria. Secara umum untuk menjaga kesehatan alat reproduksi pria secara keseluruhan, sebaiknya Anda memilih celana dalam yang berbahan katun dan tidak ketat, seperti boxer.

Dikutip dari sebuah studi yang diterbitkan oleh European Society of Human Reproduction and Embryology, peningkatan suhu di area penis dan skrotum tidak baik untuk sperma.

Peningkatan suhu akibat memakai celana dalam ketat dapat berpengaruh pada tingkat motilitas dan kualitas sperma, termasuk kemampuannya dalam membuahi sel telur.

Selain hal tersebut, yang tidak kalah penting untuk Anda perhatikan adalah untuk selalu menjaga kebersihannya, dengan rutin ganti celana dalam setiap hari.

3. Berhubungan seks aman

Salah satu prinsip untuk melakukan hubungan seks yang aman adalah menggunakan kondom. Kondom berguna untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tak diinginkan. Lebih jauh, kondom juga dapat membantu Anda terhindar dari risiko penyakit menular seksual.

Selain itu beberapa tips perilaku seks yang aman untuk Anda perhatikan, di antaranya:

  • Hindari bergonta-ganti pasangan seks.
  • Menjaga kebersihan organ intim, baik sebelum atau sesudah berhubungan seks.
  • Melakukan tes penyakit kelamin berkala, serta cek riwayat seksual bersama pasangan.
  • Menggunakan alat kontrasepsi, seperti kondom dan pil KB untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan.

4. Menjalani pola hidup sehat dan seimbang

Kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan akan memengaruhi sistem reproduksi pria. Langkah awal yang dapat Anda lakukan adalah dengan memilih asupan makanan sehat dan seimbang dengan memenuhi kebutuhan karbohidrat, serat, protein, dan lemak.

Selain itu, berhenti merokok dan membatasi konsumsi alkohol juga dapat memperbaiki kondisi kesehatan tubuh. Imbangi hal ini dengan berolahraga secara rutin dan istirahat yang cukup.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hoffman, M. and DerSakissian, C., 2019. The Penis (Human Anatomy): Diagram, Function, Conditions, And More. [online] WebMD. Available at: <https://www.webmd.com/men/picture-of-the-penis#1> [Accessed 12 March 2019].

Mayo Clinic. 2019. Penis Health: Identify And Prevent Problems. [online] Available at: <https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/mens-health/in-depth/penis-health/art-20046175> [Accessed 12 March 2019].

nhs.uk. 2018. How To Keep A Penis Clean. [online] Available at: <https://www.nhs.uk/live-well/sexual-health/how-to-keep-a-penis-clean/> [Accessed 12 March 2019].

Jewell, T., 2018. Penis Diseases: Common Conditions, Skin Infections, Stis, And More. [online] Healthline. Available at: <https://www.healthline.com/health/penis-diseases> [Accessed 12 March 2019].

Healthline. 2018. Sperm Health And Boxers, Briefs Underwear. [online] Available at: <https://www.healthline.com/health-news/boxers-vs-briefs-underwear-affects-sperm-health> [Accessed 12 March 2019].

Lidia Mínguez-Alarcón, Audrey J Gaskins, Yu-Han Chiu, Carmen Messerlian, Paige L Williams, Jennifer B Ford, Irene Souter, Russ Hauser, Jorge E Chavarro, Type of underwear worn and markers of testicular function among men attending a fertility center, Human Reproduction, Volume 33, Issue 9, September 2018, Pages 1749–1756, https://doi.org/10.1093/humrep/dey259

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Risky Candra Swari Diperbarui 18/02/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x