home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

5 Fungsi Testosteron dan Cara Alami Meningkatkannya

5 Fungsi Testosteron dan Cara Alami Meningkatkannya

Berbicara mengenai kesehatan laki-laki, tentu tidak akan lepas dari pembahasaan tentang hormon testosteron. Hormon ini memegang banyak peranan fungsi dan penting pada laki-laki, secara khusus berkaitan dengan kesehatan seksualnya.

Ketidakseimbangan hormon dalam tubuh, seperti kelebihan atau kekurangan kadar testosteron akan membawa dampak buruk. Lalu, bagaimanakah cara mencegah kondisi ini agar tidak Anda alami?

Apa itu testosteron?

Testosteron adalah hormon reproduksi yang penting dan umum ditemukan pada laki-laki. Wanita juga memiliki hormon ini, namun jumlahnya tidak sebanyak laki-laki.

Saat laki-laki beranjak remaja atau memasuki masa pubertas umumnya akan mengalami peningkatan produksi hormon testosteron. Dikutip dari Hormone Health Network, hormon ini memengaruhi beberapa perubahan fisik pada laki-laki, seperti:

  • Pertumbuhan penis dan testis
  • Pertumbuhan janggut, kumis, dan rambut kemaluan atau bagian tubuh lainnya
  • Membentuk karakteristik suara
  • Membangun otot dan kekuatan tulang
  • Memproduksi sperma
  • Menghasilkan dorongan seks (libido)

Produksi hormon ini umumnya akan bertahan hingga laki-laki berumur sekitar 30-an, setelah itu kemudian akan mengalami penurunan produksi.

Kebanyakan laki-laki dapat memiliki kadar testosteron normal, tetapi ada beberapa kondisi ketika hormon diproduksi lebih sedikit ataupun lebih banyak dibanding biasanya.

Apa saja fungsi dari hormon testosteron?

Hormon ini memiliki beberapa peran penting dalam tubuh laki-laki, terutama berkaitan dengan perkembangan sistem reproduksi.

Sama halnya dengan estrogen yang memiliki fungsi dalam pembentukan tulang perempuan, testosteron atau hormon laki-laki juga memiliki fungsi dalam pembentukan kepadatan tulang dan kekuatan otot.

Selain itu, hormon ini juga memiliki peran penting dalam kebiasaan tertentu yang dilakukan oleh laki-laki. Di bawah ini berbagai fungsi penting dari hormon laki-laki.

1. Pada sistem endokrin

Sistem endokrin tubuh memiliki beberapa kelenjar yang memproduksi hormon. Proses terjadinya testosteron bisa dimulai dari hipotalamus.

Hipotalamus mengirim sinyal pada kelenjar pituitari, kelenjar di bawah otak, mengenai berapa banyak hormon testosteron yang dibutuhkan oleh tubuh. Lalu sinyal tersebut dikirim ke testis untuk kemudian testis memproduksinya.

Selain di testis, hormon ini juga dapat diproduksi di kelenjar adrenal. Namun hormon yang diproduksi di kelenjar adrenal hanya sebagian kecil. Ketika laki-laki beranjak remaja, hormon ini berfungsi dalam pembentukan suara, jambang, dan beberapa rambut di bagian tubuh.

2. Perkembangan sistem reproduksi

Ketika pembuahan terjadi, hormon testosteron membantu terjadi pembentukan genital laki-laki pada janin. Hal ini terjadi sekitar tujuh minggu setelah terjadinya pembuahan.

Saat laki-laki beranjak remaja, produksi hormon ini pun meningkat. Pada fase yang dikenal sebagai masa pubertas ini mulailah terjadi pembentukan dan perubahan lebih lanjut pada penis dan testis. Pada saat ini juga, testis pada laki-laki mulai bisa memproduksi sperma.

Ketika kadar testosteron rendah, kemungkinan laki-laki dapat mengalami disfungsi ereksi. Sementara kadar testosteron tinggi juga dapat membuat kondisi kulit berminyak, rambut rontok, hingga testis mengerut.

3. Perubahan fisik dan gairah seksual

Sejak remaja, laki-laki sudah mengalami adanya desakan seksual atau hasrat seksual. Meningkatnya produksi hormon testosteron juga membuat laki-laki mengalami perubahan fisik pada testis, penis, dan bulu pubis.

Selain itu, tubuh dan otot laki-laki pun mulai terbentuk karena adanya peningkatan produksi hormon ini. Pada usia ini, laki-laki akan mendapatkan stimulasi seksual bahkan melakukan aktivitas seksual. Kedua hal ini dapat membuat hormon yang diproduksi semakin meningkat.

Selain perubahan fisik, testosteron juga berpengaruh pada pertumbuhan bulu-bulu halus pada bagian tubuh laki-laki. Bulu-bulu halus akan mulai tumbuh lebat pada bagian tangan, kaki, ketiak, dan tidak jarang tumbuh pada bagian dada laki-laki.

4. Pertumbuhan tulang dan otot

Hormon ini juga mampu membuat terbentuknya tulang dan otot. Jika pada perempuan kekurangan estrogen dapat mengakibatkan risiko terjadinya osteoporosis, kekurangan testosteron dapat menyebabkan kepadatan tulang yang terbentuk tidak sempurna.

Selain itu, beberapa laki-laki dapat melakukan terapi hormon untuk menambah kegagahan fisiknya. Namun perlu Anda ketahui bahwa penambahan hormon ini juga dapat memengaruhi kulit dan pembesaran dada pada laki-laki. Efek yang ditimbulkan pada kulit bisa berupa iritasi.

Testosteron juga berguna untuk membakar lemak pada metabolisme tubuh. Kurangnya hormon ini dapat membuat lemak dalam tubuh bertambah.

5. Pembentukan kebiasaan tertentu

Pernah mendengar bahwa laki-laki suka berkompetisi? Ya, ternyata kebiasaan suka berkompetisi pada laki-laki dipengaruhi oleh kadar testosteron itu sendiri.

Hormon ini mempengaruhi beberapa kebiasaan tertentu, seperti hal-hal yang berkaitan dengan dominasi dan agresi. Laki-laki percaya bahwa dengan memenangkan kompetisi dapat membuatnya lebih percaya diri.

Ketika seorang laki-laki kalah dan kurang termotivasi, biasanya hormon laki-laki yang diproduksi saat itu rendah. Rendahnya hormon juga dapat memengaruhi kurangnya energi pada laki-laki, sehingga sering berpengaruh pada gangguan tidur.

Apakah wanita juga memiliki hormon laki-laki?

Tubuh wanita juga dapat memproduksi hormon testosteron. Namun tentu kadar yang dihasilkan tidak sebanyak yang dialami pada tubuh laki-laki.

Hormon testosteron pada wanita dihasilkan oleh ovarium dan kelenjar adrenal. Hormon ini akan bekerja sama dengan hormon-hormon lain dalam tubuh wanita, seperti estrogen dan progesteron untuk mengatur berbagai fungsi tubuh.

Beberapa fungsi tersebut, di antaranya menjaga gairah seks (libido) tetap tinggi, meningkatkan fungsi kognitif otak, mengatur mood atau suasana hati, dan menjaga kesehatan tulang. Hormon testosteron pada wanita juga memengaruhi ovarium agar bisa bekerja normal.

Apa yang terjadi jika produksi testosteron tinggi?

Kelebihan produksi testosteron pada tubuh laki-laki umumnya bukan suatu kondisi yang serius. Pasalnya, kadar hormon ini cenderung bervariasi dan berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Kelebihan hormon testosteron dengan kondisi abnormal cenderung dimiliki oleh atlet yang menggunakan suplemen steroid anabolik, suntik testosteron, atau hormon terkait untuk meningkatkan massa otot dan kinerja tubuh.

Dikutip dari Harvard Health Publishing, beberapa masalah yang dapat terjadi akibat kelebihan hormon ini, antara lain:

  • Jumlah sperma rendah, testis mengerut, dan disfungsi ereksi (impotensi)
  • Peningkatan risiko serangan jantung
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Gangguan pembekuan darah
  • Gangguan penyakit hati
  • Kulit berminyak dan jerawatan
  • Pembesaran prostat dan kesulitan buang air kecil
  • Kenaikan berat badan akibat peningkatan nafsu makan
  • Insomnia
  • Sakit kepala
  • Perilaku agresif dan tidak biasa
  • Perubahan suasana hati, mudah marah, gangguan penilaian, dan delusi

Sementara itu, kelebihan kadar testosteron pada wanita dapat meningkatkan risiko timbulnya sindrom ovarium polikistik (PCOS). Kondisi ini memengaruhi 6-10% wanita mengalami pramenopause.

Apa yang terjadi jika produksi testosteron rendah?

Produksi testosteron yang rendah menjadi salah satu penyebab terjadinya disfungsi ereksi. Hormon ini memang sangat berperan pada kehidupan laki-laki sehari-hari, tidak hanya pada sistem reproduksi saja.

Ketika tidak digunakan untuk aktivitas seksual yang cukup lama, maka hal ini bisa saja membuat produksi testosteron menurun atau dikenal dengan istilah medis hipogonadisme.

Beberapa tanda kalau tubuh Anda kekurangan testosteron, antara lain:

  • Rambut rontok hingga kebotakan
  • Berkurangnya kekuatan dan massa otot
  • Libido rendah, disfungsi ereksi (impotensi), testis mengerut, dan gangguan kesuburan
  • Hot flashes, sensasi rasa hangat tiba-tiba pada area wajah, leher, dan dada
  • Depresi dan perubahan suasana hati tiba-tiba
  • Perubahan suasana hati, hingga munculnya rasa sedih
  • Tulang rapuh hingga berisiko patah tulang

Walaupun jumlahnya tidak sebanyak laki-laki, wanita juga berisiko mengalami kekurangan hormon ini dalam tubuhnya. Gejala yang umum, seperti libido rendah, kekuatan tulang berkurang, sulit konsentrasi, dan depresi.

Bagaimana cara meningkatkan kadar testosteron?

Umumnya masalah dengan ketidakseimbangan hormon dalam tubuh yang paling banyak dikeluhkan adalah saat tubuh kekurangan testosteron. Sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan terapi hormon yang sesuai.

Anda juga bisa mencoba cara alami untuk meningkatkan hormon ini dalam tubuh, seperti:

  • Tidur yang cukup. Menurut George Yu, MD, dosen di George Washington University Medical Center di Washington D.C, kurang tidur dapat menyebabkan laki-laki mengalami penurunan produksi hormon yang disebabkan oleh munculnya hormon lain yang mempengaruhinya.
  • Kurangi berat badan. Bila Anda mengalami obesitas atau kegemukan, produksi testosteron biasanya akan menurun.
  • Berolahraga. Ketika tubuh tidak dipakai untuk beraktivitas, maka tubuh akan mengirim sinyal untuk tidak memproduksi hormon testosteron berlebih. Ketika Anda aktif dan berolahraga, maka otak pun akan mengirim sinyal untuk memproduksi hormon lebih banyak. Jika Anda tidak sempat berolahraga yang berat, usahakan untuk berjalan-jalan sekitar 20 hingga 30 menit per hari.
  • Hindari stres. Mengelola stres akan membantu meningkatkan produksi hormon ini. Stres membuat tubuh memproduksi hormon kortisol yang mempengaruhi produksi hormon laki-laki. Hindari stres dengan sering berolahraga dan tenangkan pikiran dengan bermeditasi.
  • Cek obat dan suplemen yang sedang digunakan. Jika sedang dalam masa pengobatan, ada baiknya Anda perhatikan obat dan suplemen yang digunakan. Ada beberapa obat yang dapat mengurangi produksi hormon, misalnya obat opioid seperti fentanyl atau MS Contin, dan OxyContin seperti obat glucocorticoid serta steroid anabolik.
  • Mengonsumsi makanan tertentu. Memakan makanan tertentu juga dapat meningkatkan testosteron. Makanan tersebut adalah makanan yang kaya akan vitamin D, tuna, susu rendah lemak, kuning telur, tiram, kerang-kerangan, daging sapi, dan kacang.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Sally Robertson, B., 2016. What Is Testosterone?. [online] News-Medical.net. Available at: <https://www.news-medical.net/health/What-is-Testosterone.aspx> [Accessed 26 September 2016].

Pietrangelo, A. and Krucik, G., 2016. 16 Effects Of Testosterone On The Body. [online] Healthline. Available at: <https://www.healthline.com/health/low-testosterone/effects-on-body> [Accessed 26 September 2016].

Cherney, K. and Marengo, K., 2016. 8 Testosterone-Boosting Foods. [online] Healthline. Available at: <https://www.healthline.com/health/low-testosterone/boosting-food> [Accessed 26 September 2016].

Metcalf, E. and Bergman, S., 2015. Can You Boost Low Testosterone Naturally?. [online] WebMD. Available at: <https://www.webmd.com/men/features/can-you-boost-testosterone-naturally#2> [Accessed 26 September 2016].

Arora, P. and Topiwala, S., 2020. Testosterone | Hormone Health Network. [online] Hormone.org. Available at: <https://www.hormone.org/your-health-and-hormones/glands-and-hormones-a-to-z/hormones/testosterone> [Accessed 26 January 2021].

Harvard Health. 2019. Testosterone — What It Does And Doesn’t Do – Harvard Health. [online] Available at: <https://www.health.harvard.edu/drugs-and-medications/testosterone–what-it-does-and-doesnt-do> [Accessed 26 January 2021].

Urologyhealth.org. 2020. Low Testosterone: Symptoms, Diagnosis & Treatment – Urology Care Foundation. [online] Available at: <https://www.urologyhealth.org/urology-a-z/l/low-testosterone> [Accessed 26 January 2021].

Foto Penulis
Ditulis oleh Rizki Pratiwi pada 07/04/2021
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x