home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Benarkah Kepribadian Seseorang Bisa Berubah Setelah Menerima Donor Organ Tubuh?

Benarkah Kepribadian Seseorang Bisa Berubah Setelah Menerima Donor Organ Tubuh?

Transplantasi organ tubuh (juga dikenal dengan istilah cangkok) ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien, yakni si penerima donor organ. Rupanya dalam beberapa kasus langka, pasien yang menerima organ dari pendonor menunjukkan perubahan sifat. Sifat barunya ini diduga sangat mirip dengan sifat pemberi donor organ. Misalnya pasien jadi ngidam makanan kesukaan pemberi donor. Wah, apa benar transplantasi organ tubuh manusia juga bisa “memindahkan” sifat pemberi donor kepada penerimanya? Cari tahu jawabannya di bawah ini.

Teori memori sel, fakta atau hoaks?

Dalam teori memori sel, perubahan perilaku dan emosi yang didapat oleh penerima dari donor asli disebabkan oleh memori yang tersusun dan tersimpan dalam sel-sel saraf organ yang disumbangkan. Transplantasi jantung dikatakan paling rentan terhadap memori sel dimana penerima transplantasi mengalami perubahan pada organ jantungnya. Inilah yang disebut dengan teori memori sel dan teori tersebut mendukung bahwa transplantasi jantung dapat mengubah sifat penerimanya.

Sayangnya, teori ini sama sekali belum terbukti kebenarannya. Bahkan sejumlah ilmuwan menepis gagasan utama pada teori memori sel. Pasalnya, kesadaran, perilaku, dan emosi manusia diatur oleh otak. Bila Anda melakukan tranplantasi jantung atau ginjal, maka tidak ada hubungannya dengan kesadaran atau perilaku Anda.

Lagipula, sampai saat ini para ahli masih terus mempelajari dari mana datangnya kesadaran atau identitas manusia. Jadi, masih terlalu jauh untuk menyimpulkan bahwa kesadaran, perilaku, dan emosi seseorang bisa dipindahkan melalui transplantasi organ tubuh tertentu.

Apakah ada bukti penelitiannya?

Menurut sebuah penelitian dalam jurnal Quality of Life Research, sebanyak 47 pasien yang menerima transplantasi jantung selama dua tahun di Wina, Austria diminta untuk diwawancarai. Mereka diwawancarai mengenai adanya perubahan sifat yang terjadi setelah transplantasi organ tersebut.

Hasilnya, diperoleh 3 kelompok berdasarkan jawabannya. Kelompok pertama, sebanyak 79 persen, menjawab bahwa mereka tidak mengalami perubahan sifat sama sekali usai operasi.

Kelompok kedua sebanyak 15 persen menyatakan bahwa kepribadian mereka memang telah berubah, tapi bukan karena organ donor, namun karena adanya penyakit dan operasi yang harus mereka jalani.

Lalu, kelompok tiga sebesar 6 persen (tiga orang pasien) melaporkan perubahan kepribadian yang berbeda karena hati mereka yang baru.

persiapan operasi lepas perhiasan dan tindik

Tidak hanya itu, transplantasi organ kemungkinan juga bisa mengubah golongan darah seseorang. Hal ini terjadi pada seorang wanita Australia yang bernama Demi-Lee Brennan yang berubah setelah menerima transplantasi hati, lapor AFP. Sembilan bulan setelah transplantasi awal, dokter menemukan bahwa golongan darahnya berubah dan Brennan memperoleh sistem kekebalan tubuh donor karena sel induk dari jantung barunya yang berpindah ke sumsum tulangnya.

Michael Stormon, ahli hepatologi yang merawat Brennan di Rumah Sakit Anak di Westmead, menduga bahwa, “Akibat tranplantasi itu, mayoritas sistem kekebalan tubuhnya juga beralih menjadi seperti si pendonor.” Akan tetapi, tim dokter yang menangani Brennan saat itu belum menemukan jawaban pasti mengapa golongan darah pasien bisa berubah setelah transplantasi organ.

Jadi kenapa ada orang yang mengaku mengalami perubahan sifat setelah transplantasi organ?

Untuk menjawab pertanyaan ini, seorang ahli bedah sekaligus spesialis transplantasi dari University of Michigan, dr. Jeff Punch, menjelaskan dugaannya. Menurutnya, pasien sebenarnya tidak benar-benar berubah. Hanya saja, usai operasi tubuh mereka pasti terasa berbeda akibat konsumsi obat-obatan seperti prednisone.

Salah satu efek samping obat ini yaitu kehilangan nafsu makan. Jadi pasien yang biasanya makan nasi, mungkin jadi tidak minat lagi kalau harus makan nasi. Pasien kemudian minta makanan lain, misalnya roti. Ternyata diketahui bahwa pendonor organ suka makan roti juga. Dari situ, pasien dan keluarganya mungkin menyambung-nyambungkan sendiri hubungan antara pasien yang minta makan roti dengan makanan kesukaan pendonor organ.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Can An Organ Transplant Change A Recipient’s Personality? Cell Memory Theory Affirms ‘Yes’. http://www.medicaldaily.com/can-organ-transplant-change-recipients-personality-cell-memory-theory-affirms-yes-247498. Diakses pada 17 November 2017.

Does changing the heart mean changing personality? A retrospective inquiry on 47 heart transplant patients. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1299456. Diakses pada 17 November 2017.


Foto Penulis
Ditulis oleh Aprinda Puji pada 21/11/2017
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
x