home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Transplantasi Pankreas dan Pankreas Buatan, Harapan Baru Pengobatan Diabetes

Transplantasi Pankreas dan Pankreas Buatan, Harapan Baru Pengobatan Diabetes

Diabetes melitus merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Meski begitu, penyakit diabetes tipe ini masih bisa dikendalikan. Penderita diabetes tipe 1 tetap bisa hidup sehat, tapi sangat bergantung dengan terapi insulin akibat kerusakan sel-sel penghasil insulin di pankreas. Namun, transplantasi pankreas dan pankreas buatan disebut menjadi harapan baru dalam pengobatan diabetes tipe 1.

Dalam kondisi apa penderita diabetes perlu melakukan transplantasi pankreas atau pankreas buatan? Simak penjelasan lebih lengkapnya berikut ini.

Kerusakan pankreas pada diabetes melitus tipe 1

Insulin diproduksi oleh tubuh di pankreas (sel beta). Tingginya kadar gula darah pada kondisi diabetes tipe 1 disebabkan oleh kerusakan pankreas.

Padahal, hormon insulin memiliki peranan penting dalam proses metabolisme atau produksi dan pembakaran energi di dalam tubuh.

Umumnya, setelah makan, pankreas akan melepaskan insulin ke dalam aliran darah. Insulin membantu mengubah gula dalam darah (glukosa) menjadi energi.

Insulin juga membantu organ dan jaringan lain seperti hati, otot, dan sel-sel lemak untuk mengambil kelebihan glukosa dan menyimpannya sebagai cadangan energi.

Pada diabetes tipe 1, kondisi autoimun menyebabkan kerusakan pada sel beta pankreas yang menghasilkan insulin. Akibatnya, pankreas tidak dapat memproduksi insulin secara optimal.

Ketika semua sel beta rusak, produksi insulin bisa benar-benar terhenti.

Tanpa hormon insulin, glukosa bisa menumpuk dalam darah dan menyebabkan hiperglikemia.

Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan terganggunya metabolisme tubuh sehingga memunculkan berbagai gejala diabetes seperti kelelahan kronis, sering buang air kecil, dan luka yang sulit sembuh.

Jika tidak ditangani dengan tepat, gangguan metabolisme dapat mengarah pada komplikasi diabetes, seperti neuropati diabetik (gangguan saraf) dan gastropati diabetik (gangguan pencernaan).

Oleh karena itu, pengobatan diabetes tipe 1 tidak dapat lepas dari terapi insulin.

Namun, sejalan dengan perkembangan teknologi kesehatan, ditemukan bentuk pengobatan lain yang membuat penderita diabetes tipe 1 tidak lagi harus bergantung dengan penggunaan insulin secara manual.

Transplantasi pankreas dan pankreas buatan merupakan prosedur pengobatan diabetes, khususnya untuk tipe 1, yang juga dapat dilakukan untuk mengendalikan kadar gula darah.

Sekalipun menjadi alternatif yang direkomendasikan, tak semua pasien diabetes tipe 1 dapat langsung melakukan transplantasi pankreas atau memasang sistem pankreas buatan.

Transplantasi pankreas untuk diabetes

Operasi transplantasi pankreas

Dalam studi American Diabetes Association, prosedur transplantasi atau pencangkokkan pankreas menjadi pengobatan yang direkomendasikan bagi penderita diabetes tipe 1.

Meski memberikan hasil positif bagi diabetes tipe 1, prosedur ini tidak umum dilakukan pada pasien dengan diabetes tipe 2.

Transplantasi pankreas dapat meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes dengan lebih baik.

Meski demikian, pasien diabetes tipe 1 biasanya tidak serta-merta dapat langsung melakukan prosedur ini. Hal ini karena risiko operasi juga membawa risiko kesehatan.

Transplantasi pankreas akan dianjurkan ketika kondisi diabetes tidak bisa lagi diatasi dengan terapi insulin, konsumsi obat-obatan, dan perubahan gaya hidup yang lebih sehat.

Kondisi tersebut bisa disebabkan karena kerusakan pankreas yang parah atau adanya komplikasi.

Proses transplantasi pankreas dilakukan dengan mengganti pankreas yang rusak dengan pankreas sehat dari pendonor.

Untuk melakukan prosedur transplantasi pankreas, diperlukan beberapa pemeriksaan terlebih dahulu. Salah satunya adalah uji kecocokan antara organ pendonor dengan tubuh si penerima donor.

Jika hasil tes menunjukkan banyak kesesuaian, transplantasi pankreas akan memiliki risiko penolakan yang lebih kecil.

Transplantasi pankreas untuk pengobatan diabetes tipe 1 biasanya akan dilakukan apabila disertai dengan komplikasi pada ginjal.

Dengan begitu, pasien akan langsung menjalani dua proses tranplantasi sekaligus, yaitu pankreas dan ginjal.

Namun demikian, terdapat beberapa kelompok orang yang tidak dapat menjalani transplantasi pankreas, yaitu:

  • orang dengan obesitas,
  • pasien HIV/AIDS,
  • memiliki riwayat kanker,
  • minum alkohol, dan
  • merokok.

Sistem pankreas buatan untuk pengobatan diabetes tipe 1

Pankreas buatan untuk diabetes

Berbeda dari transplantasi, pemasangan pankreas buatan tidak melibatkan donor organ alami.

Pankreas buatan tidak berbentuk seperti pankreas asli. Pankreas buatan di sini adalah sebuah perangkat yang merupakan sistem eksternal.

Pankreas buatan ini menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni memantai kadar gula darah (glukosa) dan memompa insulin secara terus-menerus.

Terdapat tiga komponen dalam sistem pankreas buatan.

  1. Sistem pemantauan glukosa berkelanjutan/Continuous Glucose Monitoring (CGM)
    Alat ini berfungsi memantau kadar glukosa melalui sensor di bawah kulit. CGM nantinya akan mengirimkan hasilnya ke monitor nirkabel.Orang yang menggunakan CGM harus memeriksa monitor untuk mengetahui apakah kadar glukosa mereka terlalu tinggi atau terlalu rendah. Mereka juga dapat mengatur alat tersebut sehingga memberikan tanda apabila kadar glukosa dalam tubuh terlalu tinggi.
  2. Pompa insulin, yang dipasang di tubuh agar dapat melepaskan insulin secara otomatis tanpa Anda harus menyuntikkannya sendiri
  3. Komponen teknologi yang menghubungkan CGM dan pompa insulin agar bisa berkoordinasi.

Bagaimana sistem pankreas buatan bekerja?

Pertukaran informasi dalam setiap komponen perangkat ini akan bekerja selayaknya pengaturan insulin dalam organ pankreas sehat.

Pada sistem pankreas buatan, monitor glukosa akan mengirimkan informasi menuju pengontrol eksternal yang dilengkapi dengan algoritma tertentu.

Algoritma perangkat ini akan menghitung kadar insulin dalam tubuh dan memerintahkan pompa insulin untuk melepaskan insulin sesuai dengan dosis yang dibutuhkan.

Dengan begitu, sistem ini secara signifikan dapat menurunkan risiko terjadi tingginya kadar gula darah (hiperglikemia) ataupun kondisi gula darah yang terlalu rendah (hipoglikemia) pada penderita diabetes.

Sayangnya, sistem pankreas buatan yang dirancang saat ini masih belum sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Belum ditemukan sistem pankreas buatan yang benar-benar efektif dan minim risiko.

Food and Drug Administration Amerika Serikat bahkan belum menyetujui perangkat ini untuk digunakan untuk penanganan diabetes.

Penderita diabetes tipe 1 yang tidak dapat dibantu dengan pengobatan insulin juga lebih dianjurkan untuk melakukan transplantasi pankreas dibandingkan memasang perangkat ini.

Namun, uji klinis untuk pengobatan diabetes dengan pankreas buatan masih terus dilakukan.

Melihat potensi kegunaan dan kemudahan pemakaiannya, bukan tak mungkin pankreas buatan menjadi salah satu pilihan pengobatan diabetes yang paling diandalkan di masa depan.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

American Diabetes Association. (2020). Diabetes Medication Management. Retrieved 29 July 2020, from https://www.diabetes.org/diabetes/medication-management

Orlando, G., Gianello, P., Salvatori, M., Stratta, R., Soker, S., Ricordi, C., & Domínguez-Bendala, J. (2014). Cell Replacement Strategies Aimed at Reconstitution of the β-Cell Compartment in Type 1 Diabetes. Diabetes, 63(5), 1433-1444. https://doi.org/10.2337/db13-1742

American Diabetes Association. (2003). Pancreas Transplantation for Patients With Type 1 Diabetes.Diabetes Care, 26(Supplement 1), S120-S120. https://doi.org/10.2337/diacare.26.2007.S120

Montagud-Marrahi, E., Molina-Andújar, A., Pané, A., Ramírez-Bajo, M. J., Amor, A., Esmatjes, E., Ferrer, J., Musquera, M., Diekmann, F., & Ventura-Aguiar, P. (2020). Outcomes of pancreas transplantation in older diabetic patients. BMJ open diabetes research & care8(1), e000916. https://doi.org/10.1136/bmjdrc-2019-000916

JDRF. (2013). Testing an Artificial Pancreas System. Retrieved 29 July 2020, from https://www.jdrf.org/blog/2013/06/05/testing-an-artificial-pancreas-system/

FDA. (N.d.). What is the pancreas? What is an artificial pancreas device system?. Retrieved 29 July 2020, from https://www.fda.gov/medical-devices/artificial-pancreas-device-system/what-pancreas-what-artificial-pancreas-device-system

Mayo Clinic. (2020). Pancreas transplant. Retrieved 29 July 2020, from https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/pancreas-transplant/about/pac-20384783

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 25/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x