home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Begini Cara Kerokan yang Benar dan Aman

Begini Cara Kerokan yang Benar dan Aman

Istilah kerokan sebagai salah satu pengobatan mungkin cuma ada di Indonesia. Cara ini dipercaya sebagai solusi mengatasi “masuk angin”. Ketika badan kita dikerok (biasanya dari leher ke pinggang) akan ada warna merah yang terlihat sebagai tanda kalau “anginnya keluar”.

Dilansir oleh Kompas.com, makin pekat warna merahnya, tandanya angin yang masuk ke dalam tubuh itu jumlahnya banyak. Sayangnya menurut dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Saptawati Bardosono, warna merah yang timbul adalah tanda pembuluh darah halus (kapiler) di bawah permukaan kulit yang pecah akibat kerokan. Maka itulah terlihat jejak merah di tempat yang dikerok.

Sayangnya sampai saat ini, banyak kalangan dari dunia pendidikan medis tidak meyakini bahwa kerokan itu mujarab bagi kesehatan.

“Di negara-negara barat, kerokan sama sekali tidak dikenal,” tutur Saptawati.

Menurut dokter dari Klinik Medizon Mulyadi, secara medis, kerokan adalah salah satu metode memperlebar pembuluh darah tepi yang menutup (vasokonstriksi) menjadi lebih lebar.

“Ini tidak berbahaya, asal tidak menjadi kebutuhan primer. Jika terus-terusan kerokan, pembuluh darah kecil dan halus yang akan pecah jadi banyak,” kata Mulyadi.

Masih menurut Mulyadi, kerokan membuat penderita masuk angin merasa nyaman karena tubuh melepas hormon endofin dalam taraf normal. Secara ilmiah, menurutnya, cara ini terbukti mampu mengobati gejala masuk angin atau sindroma angin yang memiliki gejala nyeri otot atau mialga.

“Prinsip kerokan tidak jauh beda dengan akupuntur yang menancapkan jarum ke dalam tubuh. Prinsip kerokan adalah meningkatkan temperatur dan energi pada tubuh yang dikerok. Peningkatan energi ini dilakukan melalui perangsangan kulit tubuh bagian luar,” paparnya.

Teknik kerokan yang benar

Bila kerokan diterapkan dengan benar, tubuh akan terasa segar dan fit setelah kerokan.

“Kerokan itu masih digunakan sampai sekarang, karena mau tidak mau ada beberapa penyakit ringan yang memang bisa disembuhkan hanya dengan pengobatan tradisional,” tutur Mien Rogi, Treatment Developer Martha Tilaar Day Spa.

Akan tetapi, menurutnya kerokan tidak bisa dilakukan sembarangan. Harus dengan cara dan teknik yang benar. Bagaimana caranya?

  1. Siapkan koin atau uang logam yang ujungnya tidak tajam, seperti uang koin Rp1.000.
  2. Gunakan minyak zaitun sebagai dasar untuk pengerokan di tubuh.
  3. Lakukan kerokan di samping tulang, tepatnya di sendi-sendi dekat tulang. Tidak dianjurkan mengerok tepat di atas tulang.
  4. Lakukan dari atas ke bawah.
  5. Jangan pernah mengerok bagian tulang punggung, karena bisa membahayakan kesehatan Anda.
  6. Setelah selesai, usapkan bagian punggung dengan minyak angin agar badan lebih hangat.
  7. Mandi esok harinya setelah suhu badan kembali normal, jangan langsung mandi.

Bila Anda merasa lebih baik setelahnya, berarti Anda sudah kerokan dengan benar. Akan tetapi, kalau kondisi Anda memburuk atau Anda masih sakit, ada baiknya Anda periksakan diri ke dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulis
Ditulis oleh Satria Perdana
Tanggal diperbarui 4 minggu lalu
x