Tak Perlu Panik, Lakukan Langkah Pertolongan Pertama Ini Saat Stroke Menyerang

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Stroke dapat menyerang secara tiba-tiba dan terjadi dengan cepat. Dalam seketika stroke dapat mematikan sel-sel otak sehingga tidak lagi berfungsi. Pertolongan pertama stroke diperlukan guna meminimalkan kerusakan otak dan komplikasi,  sekalipun gejala stroke telah mereda. Menyegerakan penanganan darurat juga dapat meningkatkan peluang hidup penderita stroke. Simak langkah-langkah yang harus Anda lakukan dalam melakukan pertolongan pertama stroke berikut ini.

Langkah pertolongan pertama stroke

Serangan stroke dapat terjadi kapan saja, baik terjadi pada anak-anak hingga orang dewasa dan lansia. Penyakit ini terjadi akibat berkurangnya pasokan darah yang mengalir ke otak .

Orang yang mengalami serangan stroke biasanya akan kesulitan untuk mencari pertolongan. Oleh sebab itu, penting bagi keluarga dan orang-orang terdekat untuk lebih peka, siaga, dan bertindak cepat dalam melakukan portolongan pertama stroke.

Pasalnya, semakin cepat pasien mendapatkan pertolongan pertama, semakin cepat pula pasien mendapatkan pengobatan stroke yang tepat dan efektif.  Langkah pertolongan pertama yang harus dilakukan adalah:

1. Memerhatikan kondisi penderita

Serangan stroke dapat menyebabkan seseorang kehilangan keseimbangan atau kesadaran hingga jatuh. Penanganan darurat pada orang yang telah kehilangan kesadaran tentunya berbeda. Oleh karena itu, dalam pertolongan pertama stroke pastikan terlebih dahulu apakah penderita berada dalam kondisi sadar atau tidak.

Pada orang yang hilang kesadaran, Anda perlu memeriksa detak jantung dan pernapasannya. Jika tidak terdapat suara napas dan detak jantung pun tidak terasa, Anda perlu memberikan CPR (cardiopulmonary resuscitation) dan segera menghubungi nomor pertolongan darurat di 112 atau ambulans dari Unit Gawat Darurat di rumah sakit terdekat. Pastikan Anda melakukannya dalam keadaan tenang.

2. Memastikan stroke dengan FAST

Ketika penderita masih dalam keadaan sadar, bagaimana Anda mengetahui seseorang terserang stroke? Akan sulit untuk mendeteksi stroke ketika gejala yang nampak tidak terlalu spesifik, seperti mengalami kebingungan, disorientasi, atau sakit kepala.

Banyak tanda stroke yang mirip dengan tanda masalah neurologis darurat lainnya. Beberapa kondisi yang kerap disalahartikan seperti stroke di antaranya kejang, tumor otak, penggunaan obat, efek samping obat, serangan jantung, detak jantung tidak teratur, dan tekanan darah yang sangat rendah (hipotensi).

Pun demikian, kondisi medis yang bisa disalahartikan sebagai stroke ini juga memerlukan perawatan darurat. Tidak ada gunanya bagi Anda untuk mencoba mengidentifikasi apakah itu stroke atau kondisi darurat kesehatan lainnya sebelum Anda menghubungi tenaga medis.

Maka dari itu, penting untuk segera mendapatkan pertolongan pertama agar dokter atau ahli medis profesional dapat segera melakukan diagnosis stroke dan memastikan kondisi yang sedang dialami oleh pasien.

Untuk memastikan apakah seseorang benar-benar terserang stroke atau tidak, Anda harus bisa melakukan empat langkah pendeteksian stroke lewat metode F.A.S.T., yang merupakan kepanjangan dari:

  • Face: Periksa apakan wajahnya bisa digerakan dengan normal, mengalami rasa kebas, atau salah satu sisi wajahnya menurun.
  • Arms: Cobalah meminta orang tersebut untuk mengangkat kedua tangannya. Periksa apakah salah satu tangan terangkat lebih rendah dari yang lain.
  • Speech: Ajaklah orang tersebut berkomunikasi, ajukan pertanyaan dan perhatikan cara ia berbicara dan seperti apa reaksinya. Orang yang terserang stroke sulit mengucapkan kata dengan jelas dan kesulitan memahami maksud yang dibicarakan orang lain.
  • Time: Ketika setiap langkah pemeriksaan menujukkan tanda stroke maka segerakan mencari pertolongan medis darurat.

2. Mengenali gejala stroke

Akan tetapi, pertolongan pertama stroke tidak bisa dilakukan tanpa mengenali terlebih dahulu seperti apa gejala stroke. Gejala stroke terutama yang terjadi dalam waktu sementara, seperti stroke ringan, kerap luput dari perhatian orang-orang di sekitar.

Sering orang yang mengalami pusing, mati rasa, kesemutan, lemas, atau perubahan pada penglihatan mencoba mengabaikan atau menundanya karena tidak merasa sakit, padahal nyeri bukan sifat utama dari stroke.

Gejala stroke bisa termasuk salah satu atau kombinasi dari melemahnya pergerakan salah satu sisi tubuh, penglihatan yang berubah kabur, atau kesulitan berbicara dengan jelas. Beberapa gejala yang secara umum dialami oleh penderita stroke di antaranya adalah:

  • Kehilangan keseimbangan dan koordinasi anggota gerak.
  • Salah satu sisi tubuh mengalami pelemahan atau kelumpuhan.
  • Rrasa kebas pada bagian wajah, tangan, dan kaki juga merupakan beberapa gejala stroke.
  • Kesulitan untuk menggerakan wajah, tangan, dan kaki.
  • Kesulitan berbicara sehingga ucapan menjadi tidak jelas.
  • Sakit kepala yang berlebihan.
  • Kebingungan atau kesulitan memahami perkataan orang lain.
  • Gangguan penglihatan seperti rabun, penglihatan ganda, atau kebutaan pada salah satu atau kedua mata.
  • Kesulitan menelan makanan.

4. Menghubungi nomor darurat atau ambulans

Ketika berhasil mengidentifikasi serangan stroke yang terjadi pada diri sendiri atau orang lain, Anda sebaiknya segera mencari bantuan medis dengan menghubungi nomor layanan darurat (112).

Membawa pasien stroke langsung ke rumah sakit memang sangat dianjurkan dalam pertolongan pertama stroke. Akan tetapi jika dilakukan secara mandiri tanpa bantuan petugas medis, justru Anda bisa membahayakan kesehatan pasien stroke.

Pasalnya, membawa pasien stroke langsung ke rumah sakit tanpa bantuan petugas medis dapat meningkatkan risiko cacat dan kematian pada pasien. Penanganan stroke yang paling tepat justru dengan menelepon ambulans sesegera mungkin.

Ambulans tentu menyediakan fasilitas yang lebih lengkap sebagai pertolongan pertama pada pasien stroke. Sebagai langkah awal, tim ambulans akan memantau gejala stroke pasien selama di perjalanan.

Selanjutnya, tim akan mengawasi detak jantung dan tekanan darah pasien serta memastikannya tetap normal. Bersama dengan dokter spesialis stroke, tim ambulans bahkan dapat melakukan tes darah dan CT scan pada pasien di dalam ambulans (pada mobil ambulans tertentu).

Yang tak kalah penting, tim ambulans akan terus berkomunikasi dengan pihak rumah sakit supaya tim medis tahu bahwa pasien stroke akan tiba dalam waktu dekat. Hal ini memudahkan bagi pihak rumah sakit untuk menyiapkan segala peralatan dan obat-obatan yang diperlukan oleh pasien.

5. Memperoleh perawatan dan pengobatan

Umumnya, tanda vital seperti denyut nadi dan napas akan segera diperiksa begitu bantuan medis tiba.

Banyak pasien stroke tidak dapat mendeskripsikan gejala yang mereka alami. Oleh karena itu, seseorang yang mengetahui perubahan gejala bisa menjelaskan informasi tersebut ke tenaga medis. Informasi atau laporan medis apapun yang menyangkut kondisi kesehatan dan obat-obatan juga akan sangat membantu.

Selain itu, informasi ini akan sangat berguna bagi dokter dalam menentukan pengobatan stroke yang ketika pasien sampai di rumah sakit. Kerusakan pada sel-sel otak dapat terjadi dalam waktu yang cepat.

Berdasarkan American Heart Association, pengobatan dalam pertolongan pertama stroke perlu diberikan dalam waktu kurang dari 4,5 jam setelah serangan stroke berlangsung. Jika kondisi pasien sangat parah, tindakan yang dilakukan dokter bisa meliputi operasi pengangkatan gumpalan darah yang dilakukan dalam 24 jam gejala stroke berlangsung.

Pertolongan pertama pada pasien stroke ini berlaku untuk semua jenis stroke, baik stroke iskemik, stroke hemoragik, dan stroke ringan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Penyakit yang Banyak Menyerang Lansia di Indonesia

Semakin bertambah usia seseorang, pada umumnya semakin banyak penyakit yang diderita. Apa saja penyakit pada lansia yang sering terjadi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kesehatan Lansia, Masalah Kesehatan pada Lansia 12 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Stroke pada Anak, Apakah Masih Bisa Sembuh?

Banyak orangtua yang mencemaskan dampak dan peluang sembuh pada anak yang mengalami stroke. Ternyata masih ada kemungkinan pulih dari masalah kesehatan ini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Stroke, Kesehatan Otak dan Saraf 28 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit

7 Hal yang Paling Sering Ditanyakan Tentang Kolesterol

Kadar kolesterol tinggi bisa menghantui siapa pun. Pelajari sekarang juga apa itu kolesterol dan semua pertanyaan seputar kolesterol yang sering diajukan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 22 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Bagaimana COVID-19 Memicu Risiko Stroke pada Orang yang Lebih Muda?

Tidak hanya saluran pernapasan, ternyata virus COVID-19 juga dapat menyebabkan masalah pada otak dan pembuluh darah hingga meningkatkan risiko stroke.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat pengencer darah

Daftar Obat Pengencer Darah yang Paling Umum Digunakan, Plus Risiko Efek Samping

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 28 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit
terapi stroke

Menjalani Terapi Setelah Mengalami Stroke, Apa Saja yang Harus Dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 23 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit
senam stroke

Senam untuk Penderita Stroke, Ini Manfaat dan Cara Melakukannya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 22 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit
atrofi otot

Informasi Lengkap Atrofi Otot, Mulai dari Gejala Hingga Pengobatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 18 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit