Berbagai Metode untuk Mendiagnosis Stroke, Apa Saja?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 5 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Saat mengalami gejala stroke, sebaiknya Anda segera memastikan kondisi kesehatan dengan pergi ke tempat praktik dokter atau rumah sakit. Ada beberapa metode dan tes yang akan dilakukan dokter untuk mendiagnosis masalah kesehatan yang Anda alami.  Apa saja tes yang akan dilakukan dokter untuk diagnosis stroke? Simak penjelasannya berikut ini.

Berbagai pilihan tes kesehatan untuk mendiagnosis stroke

Berikut ini adalah beberapa tes kesehatan yang dapat membantu dokter mendiagnosis adanya penyakit stroke, di antaranya:

1. Pemeriksaan fisik

Sebelum melakukan diagnosis lebih lanjut, langkah awal yang biasanya diambil oleh dokter adalah melakukann pemeriksaan sederhana, seperti mendengarkan detak jantung dan memeriksa tekanan darah pasien.

Di samping itu, pasien mungkin akan diminta menjalani tes neurologi untuk melihat adanya kemungkinan penyakit stroke menyerang sistem saraf.

2. Tes darah

Ada beberapa tes darah yang mungkin perlu Anda jalani untuk mendiagnosis stroke. Termasuk tes darah yang berfungsi untuk memeriksa gumpalan darah, tingkat gula darah, dan memeriksa darah untuk memastikan ada tidaknya infeksi yang dialami oleh pasien.

3. Scan otak

Meski gejala fisik yang dialami oleh pasien stroke sangat jelas terlihat, biasanya dokter tetap akan menjalani scan otak yang dapat membantu menentukan beberapa hal berikut:

  • Apakah stroke telah menyebabkan penyumbatan arteri sehingga pasien mengalami stroke iskemik, atau pecahnya pembuluh darah atau stroke hemoragik.
  • Menentukan bagian otak yang terdampak.
  • Menentukan tingkat keparahan dari stroke yang dialami.

Setiap pasien yang diduga mengalami stroke harus segera melakukan scan otak setidaknya dalam kurun waktu 1 jam setelah sampai di rumah sakit. Pasalnya, diagnosis awal untuk stroke sangat penting, khususnya untuk:

  • Menggunakan obat-obatan stroke untuk memecah gumpalan darah, atau pengobatan menggunakan antikoagulan.
  • Telah menjalani perawatan antikoagulan.
  • Memiliki kesadaran yang rendah.

Dua jenis scan otak yang mungkin dilakukan untuk diagnosis stroke antara lain:

CT scan

CT scan dilakukan menggunakan serangkaian sinar X-ray untuk menghasilkan gambar yang jelas dan detil dari otak pasien. CT scan dapat menunjukkan adanya perdarahan pada otak, stroke iskemik, tumor, maupun berbagai kondisi kesehatan lainnya.

Dokter mungkin juga akan menyuntikkan cairan pewarna ke dalam aliran darah untuk dapat melihat pembuluh darah di bagian leher dan otak dengan lebih jelas.

Jika seorang pasien dianggap sedang mengalami stroke, CT scan dapat menunjukkan kepada dokter jenis stroke yang sedang dialami oleh pasien tersebut. Bahkan, CT scan dianggap lebih cepat dibanding MRI sehingga dapat membantu pasien mendapatkan penanganan yang efektif sesegera mungkin.

Magnetic resonance imaging (MRI)

MRI biasanya dilakukan menggunakan gelombang radio dan magnet yang kuat untuk menciptakan gambar yang jelas dan detil dari otak pasien. Metode ini dapat mendeteksi jaringan otak yang mengalami kerusakan akibat stroke iskemik dan perdarahan otak.

Biasanya, metode ini dilakukan pada pasien yang memiliki berbagai gejala, sehingga lokasi dari kerusakan masih belum diketahui. Metode ini juga dilakukan pada pasien yang baru sembuh dari transient ischaemic attack (TIA) atau stroke ringan.

Tes ini juga menunjukkan jaringan otak dengan gambar yang lebih detil dan menunjukkan lokasi-lokasi yang biasanya tidak terlihat menjadi lebih mudah terdeteksi.

Dokter mungkin akan menyuntikkan cairan bewarna ke dalam pembuluh darah untuk melihat arteri dan pembuluh vena serta menerangkan aliran darah di dalam tubuh.

4. Tes menelan

Tes menelan juga penting dilakukan untuk diagnosis stroke. Khususnya bagi penderita yang kemampuan menelannya sering terdampak setelah mengalami serangan stroke.

Ketika pasien stroke tidak dapat menelan dengan baik, terdapat risiko makanan dan minuman yang dikonsumsi salah masuk ke dalam saluran pernapasan, sehingga dapat memicu infeksi dada seperti pneumonia.

Tes ini dilakukan dengan amat sederhana. Pasien akan diminta untuk meminum air yang diberikan menggunakan sendok teh. Jika pasien bisa menelan tanpa tersedak atau terbatuk, pasien akan diminta untuk minum dari gelas dan menghabiskan setengah isinya.

Apabila memang terdapat kesulitan menelan, pasien stroke akan dirujuk kepada ahli terapi bicara untuk menjalani diagnosis lebih lanjut.

Umumnya, pasien dilarang untuk makan dan minum dengan cara yang normal hingga bertemu terlebih dahulu dengan ahli terapi. Dalam kondisi ini, pasien disarankan untuk mengonsumsi cairan dan nutrisi yang diberikan melalui infus atau tabung yang dimasukkan ke dalam perut melalui hidung.

5. Carotid ultrasound

Saat menjalani tes ini untuk diagnosis stroke, gelombang suara akan membentuk gambaran yang jelas dari dalam arteri karotid di dalam leher pasien. Tes ini dapat menunjukkan penumpukan plak dan aliran darah di dalam arteri karotid.

Selain itu, tes ini juga dapat membantu dokter untuk melihat adanya penyumbatan atau penyempitan pada pembuluh darah arteri yang terdapat di leher dan menuju ke otak. Tes ini biasanya berlangsung selama 48 jam atau sekitar dua hari lamanya.

6. Cerebral angiogram

Dibanding jenis tes lain, cerebral angiogram termasuk tes yang jarang dilakukan untuk diagnosis stroke. Biasanya, saat menjalani tes ini, dokter akan memasukkan tabung kecil yang fleksibel (kateter) melalui paha bagian dalam dan mengarahkannya ke pembuluh aorta serta ke dalam karotid atau arteri vertebral.

Kemudian, dokter akan menyuntikkan cairan pewarna ke dalam pembuluh darah agar terlihat di bawah sinar X-ray. Prosedur ini memberikan gambaran detil dari pembuluh arteri yang terdapat di dalam otak dan leher pasien.

7. Ekokardiografi

Ekokardiogram atau echo jantung yang biasanya digunakan untuk mendeteksi penyakit jantung, juga bisa digunakan untuk melakukan diagnosis stroke. Alat ini menunjukkan gambaran jelas jantung pasien sehingga dokter dapat memeriksa masalah kesehatan jantung yang mungkin berkaitan dengan stroke yang dialami pasien.

Selain itu, ekokardiogram juga dapat menemukan sumber penggumpalan darah di dalam jantung yang mungkin bergerak keluar dari jantung menuju ke otak sehingga menyebabkan pasien mengalami stroke.

Biasanya, metode ini dilakukan dengan menggunakan alat pemeriksaan ultrasound yang melintang pada dada pasien. Namun, menurut National Health Service, ada pula alternatif lain untuk metode ini, yaitu transoesophageal echocardiography (TOE) yang terkadang dilakukan.

Saat menjalani TOE, pemeriksaan ultrasound dimasukkan ke dalam tenggorokan, akan tetapi pasien akan dibius terlebih dahulu. Dengan metode ini, alat akan berada tepat di belakang jantung sehingga dapat menghasilkan gambaran yang jelas dari gumpalan darah yang berada di dalam pembuluh darah serta kondisi lain yang tidak normal dari jantung pasien.

Dari berbagai metode diagnosis untuk stroke, dokter akan menentukan metode diagnosis stroke yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan secara menyeluruh. Gejala awal yang muncul juga bisa menjadi penentu dari pemilihan metode diagnosis ini.

Jika Anda atau orang di sekeliling Anda menunjukkan gejala stroke, segera hubungi Unit Gawat Darurat dari rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat. Dengan begitu, dokter dapat menentukan metode pengobatan stroke yang sesuai sehingga potensi untuk pulih juga tinggi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Cara Jitu Mencegah Terjadinya Stroke, Apa Saja yang Bisa Dilakukan?

Stroke merupakan salah satu penyakit yang mematikan. Oleh sebab itu, sebelum terlambat, lebih baik lakukan pencegahan stroke sejak dini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Stroke, Kesehatan Otak dan Saraf 7 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Stroke Ringan (Transient Ischaemic Attack)

Stroke ringan merupakan salah satu jenis stroke yang belum dianggap seberbahaya stroke lainnya. Lalu apa bedanya dengan jenis stroke lainnya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Stroke, Kesehatan Otak dan Saraf 3 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit

Gejala Stroke yang Penting Anda Kenali dan Cara Penanganan yang Tepat

Ada berbagai gejala stroke yang muncul, kadang dianggap kondisi biasa. Padahal untuk penanganan terbaik, penting mengenali gejala tersebut.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Stroke, Kesehatan Otak dan Saraf 3 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit

Stroke Mata, Ketahui Mulai dari Gejala, Penyebab dan Pengobatannya

Selama ini Anda sudah tahu stroke bisa menyerang otak. Namun, ternyata Anda juga bisa kena serangan stroke mata. Apa itu stroke mata dan apa penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Stroke, Kesehatan Otak dan Saraf 2 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

komplikasi stroke

13 Komplikasi yang Mungkin Terjadi Akibat Stroke, Apa Saja?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 12 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
wajah tidak simetris

8 Sebab Mengapa Seseorang Memiliki Wajah yang Tidak Simetris

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 11 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
pantangan makanan untuk penderita stroke

Daftar Pantangan Makanan untuk Penderita Stroke

Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 10 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
pasca stroke

Apa yang Terjadi pada Pasien Setelah Stroke Berlalu?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 10 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit