Gejala Stroke yang Penting Anda Kenali dan Cara Penanganan yang Tepat

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Stroke merupakan salah satu masalah kesehatan serius yang sering dialami oleh banyak orang. Meski begitu, tak jarang orang yang salah memahami gejala stroke yang sedang dialami dengan kondisi serius lainnya. Oleh sebab itu, pahami beberapa gejala stroke dan perbedaannya dengan gejala penyakit lain di bawah ini.

Berbagai gejala stroke yang sering muncul

Ada beberapa ciri-ciri dari penyakit stroke yang harus Anda waspadai. Di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Tiba-tiba mati rasa

Tanda atau gejala stroke yang paling umum terjadi adalah mati rasa dan kelemahan pada wajah, lengan, kaki, atau salah satu sisi tubuh pasien. Untuk memastikan ada atau tidaknya gejala ini, cobalah untuk mengangkat kedua tangan ke atas.

Apabila salah satu tangan mulai jatuh tanpa digerakkan, Anda mungkin saja mengalami gejala stroke. Begitu pula saat Anda mencoba tersenyum dan salah satu sudut bibir mulai menurun tanpa digerakkan.

2. Gangguan penglihatan

Tanda-tanda dan gejala dari penyakit stroke berikutnya adalah munculnya gangguan penglihatan. Kondisi ini juga terjadi secara tiba-tiba, tanpa peringatan terlebih dahulu. Saat mengalaminya, Anda mungkin hanya merasakan pandangan mata berbayang.

Namun, ada pula yang mendadak tidak bisa melihat di salah satu atau kedua bola matanya. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini bisa menyebabkan kebutaan permanen pada pasien penderita stroke.

3. Gangguan berbicara dan kesulitan memahami ucapan orang lain

Ciri dari penyakit stroke yang juga sering dialami pasien adalah gangguan berbicara. Pasien mungkin saja kehilangan kemampuan berbicara seperti biasa. Pada saat itu, pasien tidak mampu menyebutkan kata demi kata dengan lancar. Sering kali, lidahnya seolah terpeleset sehingga tidak bisa mengeja kata dengan benar.

Tak hanya itu, pasien mungkin juga akan kesulitan untuk memahami ucapan orang lain. Padahal, bisa saja kalimat yang diucapkan oleh lawan bicaranya hanya kalimat sederhana yang biasanya akan dengan mudah untuk dipahami.

4. Sakit kepala sebagai gejala stroke

Gejala stroke yang satu ini juga termasuk yang banyak dialami. Sakit kepala yang biasanya disertai dengan muntah, pusing, dan hilangnya kesadaran diri merupakan tanda bahwa Anda sedang mengalami stroke. Biasanya, sakit kepala yang menjadi gejala stroke ini muncul tanpa penyebab tertentu.

5. Kesulitan berjalan

Pasien yang mengalami stroke juga berpotensi mengalami gangguan berjalan, mengatur keseimbangan hingga mengatur koordinasi tubuh. Jika Anda mendadak kehilangan keseimbangan saat berjalan diikuti pusing kepala yang cukup intens dan hilangnya koordinasi, mungkin itu adalah gejala stroke.

6. Kehilangan kesadaran diri

Jika sudah pada tingkatan yang cukup parah, orang yang mengalami stroke memiliki potensi untuk kehilangan kesadaran diri. Biasanya, kondisi ini terjadi jika pasien mengalami sakit kepala akut dan tidak segera diatasi.

Apa perbedaan gejala stroke dengan kondisi kesehatan lainnya?

Gejala stroke sering kali disalahpahami sebagai gejala penyakit lain. Sebaliknya, gejala penyakit lain sering dianggap sebagai gejala stroke. Padahal, jika melakukan self-diagnosis dan mendapatkan pengobatan yang salah baik untuk Anda atau orang terdekat, kondisi yang dialami dapat lebih parah.

Dari sekian banyak gejala stroke yang sering disalahpahami sebagai gejala penyakit lain, pusing kepala merupakan salah satunya. Pasalnya, pusing bisa menjadi pertanda dari berbagai penyakit serius, termasuk serangan jantung, hipertensi, meningitis, dan lain sebagainya.

Untuk membedakannya, yang perlu Anda ketahui adalah pusing yang disebabkan oleh stroke biasanya didampingi oleh gejala lain seperti muntah sampai hilang kesadaran diri. Sakit kepala atau pusing karena stroke biasanya muncul secara tiba-tiba, sementara pusing atau sakit kepala seperti migrain munculnya secara bertahap.

Jika Anda hanya merasakan pusing biasa, tidak disertai kondisi lain, dan tidak datang secara tiba-tiba, bisa jadi itu pertanda dari kondisi lain. Namun, untuk meyakinkan, Anda bisa memeriksakan kondisi kesehatan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis lebih lanjut.

Metode F.A.S.T. untuk mengetahui adanya gejala stroke

F.A.S.T. merupakan salah satu metode sederhana yang bisa dilakukan pasien dan orang di sekitarnya untuk mengetahui adanya gejala stroke, sebelum pasien dibawa ke dokter atau rumah sakit terdekat.

Metode ini dapat membantu pasien untuk mendapatkan pengobatan stroke yang sesuai dengan kondisi yang dialaminya. Perawatan stroke yang paling efektif dapat diberikan jika diagnosis stroke dapat dilakukan dalam kurun waktu tiga jam setelah pasien mengalami gejala stroke pertamanya.

Jika Anda merasa orang di sekitar mengalami gejala stroke, segeralah bertindak cepat dan lakukan metode F.A.S.T. untuk memprediksi adanya gejala stroke pada orang tersebut. Metode ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

F—Face: Mintalah orang tersebut untuk tersenyum. Perhatikan, apakah salah satu sisi wajahnya ada yang kendur dan tidak terangkat ke atas.

A—Arms: Mintalah orang tersebut mengangkat kedua tangannya ke atas. Perhatikan, apakah salah satu tangannya turun ke bawah dengan sendirinya.

S—Speech: Mintalah orang tersebut untuk mengucapkan kalimat sederhana yang Anda ucapkan terlebih dahulu. Perhatikan, apakah orang tersebut bisa mengucapkan kalimat yang sama persis dengan yang Anda ucapkan, atau terdengar ada kata yang tidak diucapkan dengan baik.

T—Time: Jika Anda melihat ada salah satu gejala tersebut yang muncul, segera periksakan kondisinya ke dokter atau bawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan.

Jika perlu, catat waktu di mana Anda melihat adanya gejala awal stroke yang muncul. Informasi ini dapat membantu dokter dan tim medis untuk menentukan perawatan paling efektif untuk pasien.

Hal yang harus dilakukan saat timbul gejala stroke

Selain menerapkan metode F.A.S.T. untuk mengetahui adanya gejala stroke, Anda juga perlu memerhatikan hal yang harus dilakukan untuk menolong pasien yang diduga mengalami penyakit stroke. Ada tiga hal yang harus dilakukan, seperti:

1. Menghubungi Unit Gawat Darurat atau 112

Mengobservasi adanya gejala stroke pada orang lain maupun diri sendiri mungkin bukan hal yang mudah. Apalagi jika Anda merasa awam atau tidak familiar dengan penyakit yang satu ini.

Jika setelah melakukan metode F.A.S.T. dan mengira Anda atau orang terdekat menunjukkan gejala stroke, segera hubungi Unit Gawat Darurat (UGD) dari rumah sakit terdekat atau nomor layanan darurat milik Indonesia, 112.

2. Mencatat waktu pertama kali muncul gejala stroke

Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala stroke, sebisa mungkin catat waktu pertama kali muncul gejala. Hal ini akan sangat berpengaruh dalam menentukan jenis pengobatan untuk pasien.

Pasalnya, tissue plasminogen activator (tPA), salah satu obat stroke yang berfungsi menghancurkan gumpalan darah, dapat menghentikan gejala jika diberikan pada pasien dalam kurun waktu 4.5 jam setelah muncul gejala awal.

Selain itu, terapi endovaskular yang biasanya digunakan untuk pengobatan stroke iskemik juga dapat mengatasi aneurisma atau pembuluh darah yang membesar dan pecah sehingga menyebabkan tekanan pada otak.

Terapi endovaskular akan sangat efektif jika dilakukan dalam kurun waktu 24 jam setelah gejala pertama muncul. Tak heran, waktu munculnya gejala awal sangat penting dan menentukan bagi pilihan pengobatan untuk pasien.

3. Berikan CPR

Sebenarnya, sebagian besar pasien stroke tidak membutuhkan bantuan cardiopulmonary resuscitation (CPR). Akan tetapi, jika orang terdekat tiba-tiba tidak sadarkan diri, cek detak nadi dan pernapasannya. Jika nadi tidak teraba dan dada pasien tidak naik turun (tidak bernapas), hubungi layanan darurat (112) dan mulai berikan CPR sembari menunggu ambulans datang.

Anda juga bisa bertanya pada petugas layanan darurat untuk memandu melalui telepon agar Anda bisa memberikan CPR. Biasanya CPR dilakukan dengan cara menekan dada pasien secara berulang kali dengan posisi tertentu.

Hal yang tidak boleh dilakukan saat menolong pasien stroke

Selain hal yang harus Anda lakukan, ada pula yang tidak boleh dilakukan jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala stroke, seperti:

1. Jangan biarkan pasien tidur

Penderita stroke biasanya sering kali mendadak mengantuk saat serangan stroke pertama terjadi. Sebenarnya tidak ada larangan khusus bagi penderita stroke untuk tidur. Sayangnya, pengobatan yang diberikan biasanya sangat sensitif dengan waktu.

Oleh sebab itu, saat mengonsumsi obat-obatan stroke, pasien tidak disarankan untuk tidur. Bahkan, pasien juga tidak disarankan untuk menghubungi dokter terlebih dahulu karena dalam situasi seperti ini, langsung pergi ke Unit Gawat Darurat adalah hal yang harus dilakukan.

2. Jangan berikan obat-obatan dan makanan serta minuman

Terdapat dua jenis stroke, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Stroke iskemik disebabkan adanya penyumbatan pembuluh darah. Sementara itu, stroke hemoragik disebabkan pecahnya pembuluh darah.

Menurut Penn Medicine, sering kali pasien stroke mengalami jenis stroke iskemik. Namun, jika tidak, mungkin pasien mengalami stroke hemoragik. Pasien stroke hemoragik sebaiknya tidak mengonsumsi obat aspirin.

Sayangnya, Anda atau orang terdekat harus menjalani prosedur diagnosis stroke terlebih dahulu untuk mengetahui jenis stroke manakah yang dialami. Itu sebabnya Anda tidak disarankan untuk mengonsumsi atau memberikan sembarang obat pada pasien.

Pasien stroke yang belum mendapatkan penanganan dari dokter juga tidak disarankan untuk mengonsumsi makanan atau minuman. Pasalnya, stroke dapat memengaruhi kemampuan pasien untuk menelan.

3. Jangan menyetir kendaraan atau gunakan mobil pribadi

Jika Anda hendak mengantarkan orang terdekat yang diduga mengalami stroke, hindari menyetir kendaraan pribadi. Apalagi jika Anda sendiri yang mengalami gejala stroke. Lebih baik hubungi layanan darurat (112) atau Unit Gawat Darurat (UGD) dari rumah sakit terdekat agar dijemput menggunakan ambulans.

Layanan darurat dapat membantu memberikan penanganan yang menyelamatkan nyawa pasien, hingga setidaknya, pasien tersebut sampai di UGD. Anda juga tidak disarankan untuk mengendarai kendaraan pribadi saat merasa ada gejala stroke karena dikhawatirkan gejala akan semakin parah saat sedang di dalam perjalanan.

Mengetahui bahwa diri sendiri atau orang terdekat mengalami gejala stroke memang bukan pengalaman yang menyenangkan. Bahkan, Anda mungkin merasa terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa.

Namun, ingatlah beberapa langkah yang telah disebutkan di atas, dan hindari pula langkah yang sebaiknya tidak dilalukan. Dengan begitu, Anda juga telah membantu menyelamatkan diri sendiri maupun orang terdekat mendapatkan penanganan terbaik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 13 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

13 Komplikasi yang Mungkin Terjadi Akibat Stroke, Apa Saja?

Konsekuensi paling umum akibat stroke adalah lumpuh, biasanya merupakan kelumpuhan hemiplegia atau hemiparesis. Ketahui informasi lebih lanjut di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Stroke, Kesehatan Otak dan Saraf 12 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

8 Sebab Mengapa Seseorang Memiliki Wajah yang Tidak Simetris

Bagaimana bentuk wajah Anda saat berkaca? Apakah posisi mata, telinga, dan bagian muka lainnya sudah tepat atau tidak simetris?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kesehatan, Informasi Kesehatan 11 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Lebih Baik Kompres Dingin atau Hangat untuk Menurunkan Demam?

Mana yang lebih baik untuk menurunkan demam: kompres dingin atau hangat? Simak masing-masing penjelasannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan, Gejala dan Kondisi Umum 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Berbagai Tes Medis yang Digunakan Dalam Evaluasi Stroke

Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 3 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit
perut bunyi saat lapar

5 Gejala Umum Gangguan Pencernaan dan Kemungkinan Penyebabnya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit
sarkopenia lansia

3 Kebiasaan Buruk di Masa Muda yang Bisa Picu Sarkopenia Saat Tua Nanti

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 19 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
oral thrush

Meski Tampak Sama, Ini Beda Oral Trush, Lidah Peta, dan Oral Hairy Leukoplakia (OHL)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit