Migrain Kronis dan Migrain Episodik, Apa Bedanya?

Migrain Kronis dan Migrain Episodik, Apa Bedanya?

Mungkin Anda salah satu orang yang sering mengalami sakit kepala sebelah atau migrain. Namun, tahukah Anda jika tak semua migrain sama? Ya, ada dua jenis migrain, yaitu migrain episodik dengan migrain kronis. Lantas, apa jenis migrain yang Anda alami?

Perbedaan definisi migrain kronis dan migrain episodik

perbedaan migrain dan vertigo

Migrain kronis dan migrain episodik dapat menimbulkan gejala sakit kepala sebelah yang sama. Namun, yang membedakan adalah seberapa sering gejala tersebut muncul.

Pada migrain episodik, gejala sakit kepala akan muncul kurang dari 15 kali dalam sebulan hingga tiga bulan. Migrain jenis ini yang paling banyak dialami.

Sementara itu, orang dengan migrain kronis bisa merasakan sakit kepala hingga lebih dari 15 kali dalam sebulan.

Biasanya, orang dengan migrain episodik memiliki peluang untuk mengalami migrain kronis dalam kurun waktu hitungan bulan atau bahkan tahun.

Perbedaan gejala migrain kronis dan migrain episodik

Berdasarkan masing-masing jenisnya, migrain kronis dan migrain episodik bisa menimbulkan gejala yang berbeda.

Untuk itu, mengetahui tiap gejalanya bisa membantu Anda mengenali migrain jenis apa yang dialami. Berikut gejala-gejalanya.

Ciri migrain episodik

Bila Anda mengalami lima kali serangan migrain dalam waktu 24 jam dan terjadi kurang dari 15 kali dalam sebulan, mungkin artinya Anda mengalami migrain episodik.

Gejala serangan migrain episodik sering disertai dengan mual, muntah, atau sensitivitas terhadap suara bising atau cahaya selama migrain terjadi.

Ciri migrain kronis

Tanda yang paling mewakili kejadian sakit kepala jenis ini adalah serangan migrain yang terjadi lebih dari 4 jam dalam satu waktu dan akan berlangsung lebih dari 15 hari sebulan.

Biasanya, migrain jenis ini akan menimbulkan gejala yang durasinya lebih lama dan lebih sering ketimbang dengan migrain episodik.

Sebuah penelitian di Current Pain and Headache Reports mendapatkan hasil terkait migrain kornis.

Menurut penelitian tersebut, individu yang menderita migrain jenis ini bisa mengalami nyeri kepala yang berlangsung selama rata-rata 65,1 jam bila tanpa pengobatan dan 24,1 jam disertai dengan pengobatan.

Bila dibandingkan dengan individu yang mengalami migrain episodik, gejalanya mampu bertahan rata-rata 38,8 jam tanpa pengobatan dan 12,8 jam dengan pengobatan.

Perbedaan penyebab migrain kronis dan migrain episodik

Secara umum, penyebab migrain belum dapat dipastikan.

Namun, migrain diduga disebabkan oleh adanya peradangan yang menyebabkan pembuluh darah di otak membengkak dan akhirnya menyerang saraf-saraf di sekitarnya.

Selain itu, faktor keturunan, lingkungan, dan gaya hidup juga diketahui bisa meningkatkan risiko migrain.

Pemicu migrain sendiri pada setiap jenis bisa berbeda-beda, tetapi umumnya yaitu kurang tidur, konsumsi kafein, dan stres.

Pada migrain episodik, pemicu umum dapat meliputi stres, menstruasi, dan perubahan cuaca.

Sementara itu, migrain kronis bisa semakin rentan terjadi saat migrain episodik semakin sering dialami.

Jika digunakan terlalu sering, obat-obatan untuk sakit kepala, seperti barbiturat dan narkotik (opioid), juga bisa menyebabkan sakit kepala kronis.

Siapa yang bisa mengalami migrain kronis dan migrain episodik?

Episodik migrain lebih umum terjadi dibandingkan dengan migrain kronis.

Berdasarjan sebuah studi yang dilakukan pada 2021, diketahui bahwa faktor ekonomi bisa menjadi pemicu migrain kronis sehingga lebih sering dialami oleh seseorang yang memiliki kesulitan ekonomi.

Pada wanita, sakit kepala jenis kronis ini juga diketahui bisa semakin rentan terjadi akibat perubahan hormon yang mungkin dialami.

Melansir dari National Headache Foundation, sekitar 60% wanita mengalami migrain saat menjelang menstruasi.

Bagaimana penanganan untuk kedua jenis migrain ini?

Kedua jenis migrain ini dapat diobati dengan jenis obat yang hampir sama. Biasanya, dokter akan merekomendasikan obat-obat yang sering digunakan untuk meredakan nyeri kepala.

Dokter umumnya juga akan menyarankan obat untuk mengobati gejala-gejala lain yang timbul, seperti mual dan muntah.

Pemberian obat-obatan pencegahan juga sering dilakukan untuk mencegah terjadinya gejala migrain.

Jenis obat-obatan seperti obat antidepresan, antiseizure, onabotulinumtoxinA (botox), dan obat pereda rasa sakit, yang dapat membantu mengurangi frekuensi, durasi, serta keparahan nyeri kepala Anda.

Sementara untuk mencegah kemungkinan terjadinya migrain, Anda sebaiknya menghindari beberapa hal.

Pencegahan yang bisa dilakukan di antaranya menghindari kelelahan, kecemasan, hingga berlebihan dalam minum jenis obat tertentu.

Perhatikan juga jenis makanan yang Anda konsumsi. Pasalnya, beberapa jenis makanan berpotensi menimbulkan migrain, seperti terlalu banyak kafein serta makanan dan minuman kemasan.

Penting juga untuk rutin berolahraga guna membantu Anda mencapai berat badan ideal. Sebab, kegemukan bisa meningkatkan risiko Anda terserang migrain.

Dengan menerapkan upaya pencegahan dan pengobatan yang tepat, Anda bisa mengurangi risiko mengalami migrain, termasuk migrain episodik dan migrain kronis.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan