Adakah Obat Jerawat yang Aman Digunakan Saat Hamil?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Kulit berjerawat adalah masalah umum yang dikeluhkan ibu hamil. Kondisi ini normal terjadi akibat adanya perubahan hormon di dalam tubuh. Meski wajar, kondisi tersebut tentu menimbulkan ketidaknyaman. Lantas, amankah jika ibu hamil menggunakan obat untuk mengatasi jerawat? Yuk, cari tahu kebenarannya pada ulasan berikut ini.

Bolehkah mengatasi jerawat saat hamil dengan obat?

Perubahan kadar hormon selama kehamilan dapat membawa banyak perubahan pada kondisi kulit. Satu masalah kulit yang paling umum dialami ibu hamil adalah jerawat.

Mengatasi jerawat bukan merupakan hal yang mudah bagi siapa pun. Namun, hal ini terutama menjadi lebih rumit jika jerawat muncul saat hamil. Wanita yang sedang mengandung perlu sangat berhati-hati jika ingin menggunakan obat untuk menghilangkan jerawat saat hamil.

Kebanyakan obat jerawat tidak aman untuk digunakan saat ibu hamil. Alasannya karena penggunaan obat tertentu dapat memberikan dampak buruk bagi proses tumbuh kembang janin dalam rahim, dan membahayakan bayi Anda. Beberapa obat jerawat bahkan mungkin bisa menyebabkan janin cacat lahir.

Itulah sebabnya, wanita hamil tidak boleh sembarangan menggunakan obat untuk mengobati jerawat. Jika jerawat sudah sangat mengganggu, ibu hamil perlu konsultasi lebih dahulu pada dokter. Dokter akan membantu menemukan pengobatan jerawat yang tepat dan aman digunakan saat hamil.

Daftar obat jerawat yang dilarang untuk ibu hamil

Untuk alasan keamanan dan kesehatan, ibu hamil sebisa mungkin harus menghindari menggunakan atau minum obat jerawat. Terutama sejumlah obat jerawat di bawah ini, menurut American Pregnancy Association:

1. Accutane

Provera

Accutane, yang dikenal dengan nama generik sebagai isotretinoin, adalah jenis obat jerawat minum. Obat ini biasanya diresepkan untuk jerawat parah yang tidak mempan diobati dengan pengobatan topikal (oles) nonresep.

Meskipun ampuh, ibu hamil tidak boleh memakai obat ini untuk menghilangkan jerawat mereka. Pasalnya, obat ini dan produk turunan lainnya seperti Roaccutane dapat menyebabkan efek samping yang merugikan bagi kandungan.

Efek samping yang mungkin terjadi pada janin dari penggunaan obat ini meliputi gangguan belajar, cacat bentuk otak, cacat jantung, cacat sistem saraf, serta kelainan bentuk telinga dan wajah. Accutane juga dikaitkan dengan keguguran dan kematian bayi setelah lahir.

2. Retinoid

efek samping krim steroid

Retinoid atau tretinoin, adapalene, dan tazarotene adalah obat jerawat mengandung vitamin A yang berbentuk krim, kapsul, gel atau salep oles. Penggunaan obat ini dapat mempercepat proses penyembuhan jerawat dengan mengurangi peradangan di kulit.

Walaupun umum digunakan untuk mengobati jerawat, obat ini ternyata tidak diresepkan untuk ibu hamil. Retinoid topikal belum terbukti menyebabkan masalah pada wanita hamil, namun pemakaian yang berulang dapat membuat zat obat bertahan lama di kulit. Ini meningkatkan kemungkinan penyerapan obat ke dalam tubuh.

Sementara itu, versi obat oralnya (retinoid minum) diketahui dapat meningkatkan risiko cacat lahir pada bayi. Maka, akan lebih baik jika obat ini dihindari oleh ibu hamil.

3. Antibiotik

antibiotik untuk jerawat

Jerawat yang disebabkan oleh infeksi bakteri dapat diobati dengan antibiotik. Beberapa antibiotik yang sering digunakan untuk mengobati jerawat adalah tetracycline, doxycycline, dan minocycline. Biasanya, pengobatan ini direkomendasikan jika obat topikal tidak efektif mengobati jerawat.

Sayangnya, obat antibiotik untuk jerawat ini tidak boleh digunakan saat hamil. Penggunaan antibiotik untuk jerawat saat hamil diketahui dapat menyebabkan kerusakan organ hati ibu. Selain itu, obat ini juga dapat menghambat pertumbuhan tulang dan merusak warna gigi bayi.

4. Terapi hormon

obat kolesterol

Jerawat yang muncul akibat gangguan hormon umum diobati dengan terapi hormon memakai kelas obat antiandrogen, seperti flutamide dan spironolactone. Keduanya dapat menghambat produksi minyak (sebum) sehingga mengurangi penyumbatan.

Namun, obat ini tidak direkomendasikan untuk ibu hamil karena bisa mengganggu produksi hormon kehamilan yang penting untuk janin. Bila hormon dalam tubuh terganggu, perkembangan bayi bisa saja terhambat dan menyebabkan bayi dilahirkan dengan kondisi cacat.

5. Obat jerawat nonresep

pelembap untuk kulit kering

Obat jerawat yang mengandung asam salisilat tidak aman untuk digunakan ibu hamil karena dapat menyebabkan cacat lahir.

Dokter juga menyarankan ibu hamil untuk tidak menggunakan obat jerawat yang mengandung asam alpha-hydroxy (AHA). Residu bahan kimia ini dapat terserap ke dalam aliran darah ibu yang bisa saja memberikan efek pada janin, meski belum diketahui secara pasti.

Jika Anda ingin menggunakan obat jerawat non-resep lain saat hamil, pastikan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan dokter. Satu-satunya yang tampak aman untuk ibu hamil adalah krim obat jerawat yang mengandung benzoil peroksida.

Cara mengatasi jerawat saat hamil tanpa obat

sabun muka untuk jerawat

Jerawat saat hamil merupakan kondisi yang umum. Biasanya, jerawat akan hilang ketika hormon dalam tubuh Anda kembali normal. Jadi, Anda tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.

Ketimbang menggunakan obat yang berisiko, dokter biasanya lebih menyarankan ibu hamil untuk mengobati jerawat dengan cara-cara alami seperti:

1. Rutin membersihkan wajah

Cuci muka Anda dengan sabun ringan atau pembersih yang bebas minyak dan bebas alkohol sebanyak dua kali sehari. Tanpa obat, cara ini dapat membantu mengobati jerawat untuk ibu hamil.

Cuci muka dapat membersihkan kulit dari debu, bakteri, sekaligus minyak berlebihan di wajah sehingga mengurangi terjadinya penyumbatan.

2. Cuci muka dengan benar

Agar wajah bersih, perhatikan cara Anda mencuci muka. Sebaiknya gunakan air hangat untuk membasahi wajah sebelum memakai sabun pembersih wajah.

Jangan menggosok wajah dengan kuat saat mencuci muka karena dapat menyebabkan iritasi kulit sehingga jerawat bisa menjadi lebih buruk. Anda lebih baik memijat kulit dengan jari secara merata dan bilas dengan air dingin.

Untuk mengeringkan wajah, sebaiknya tepuk-tepuk wajah Anda dengan kain secara lembut. Hindari mencuci muka terlalu sering karena dapat merangsang kelenjar minyak dalam kulit keluar secara berlebihan.

3. Pakai produk riasan yang sesuai kondisi kulit

Jika Anda menggunakan pelembab maupun kosmetik untuk wajah lainnya, sebaiknya pilih produk yang bebas minyak dan berbahan dasar air. Biasanya, produk yang aman untuk kulit berjerawat dilabeli “noncomedogenic” atau “nonacnegenic”.

Jangan lupa membersihkan riasan wajah sebelum Anda beranjak tidur dan bersihkan peralatan untuk merias wajah untuk mencegah penyebaran bakteri.

4. Hindari kebiasaan buruk yang memperparah jerawat

Agar jerawat tidak bertambah parah, ibu hamil harus menghindari kebiasaan menyentuh atau memencet jerawat. Menyentuh wajah memungkinkan perpindahan bakteri di tangan pada wajah yang berjerawat. Ini memungkinkan jerawat jadi bertambah buruk.

Selain itu, memencet jerawat juga tidak mempercepat penyembuhan kulit dari jerawat. Tindakan ini dapat meningkatkan risiko infeksi dan memungkinkan bekas luka permanen di kulit.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 18, 2017 | Terakhir Diedit: November 20, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca