Manfaat, Aturan Pakai, dan Risiko Efek Samping Salep Kortikosteroid untuk Mengatasi Masalah Kulit

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13/03/2020
Bagikan sekarang

Peradangan kulit yang diakibatkan oleh penyakit seperti dermatitis dapat memicu gejala meresahkan. Nah salah satu cara untuk mengobati masalah kulit ini adalah dengan pemberian krim atau salep kortikosteroid. Sebenarnya apa, sih, obat kortikosteroid itu? Apakah aman jika digunakan terus-menerus?

Fungsi krim dan salep kortikosteroid

Kortikosteroid adalah golongan obat untuk menghentikan proses inflamasi alias peradangan dalam tubuh. Kortikosteroid bekerja menyerupai kortisol, hormon yang diproduksi secara alami oleh kelenjar adrenalin tubuh. Obat ini juga berfungsi untuk menekan reaksi sistem imun tubuh dan mempersempit pembuluh darah.

Golongan obat kortikosteroid juga sering disebut sebagai steroid. Obat kortikosteroid juga tersedia dalam beragam bentuk, mulai dari obat oral (minum), topikal/oles (krim, losion, gel, atau salep), dan sistemik (infus atau injeksi). Nah, obat kortikosteroid topikal dalam bentuk krim atau salep paling sering diresepkan untuk mengatasi peradangan dan iritasi pada kulit akibat dari:

Sebagai bentuk pengobatan dari penyakit kulit, krim dan salep steroid dapat membantu meredakan pembengkakan, gatal, dan ruam kemerahan yang ditimbulkan dari semua masalah kulit di atas.

Lantas, apa bedanya bentuk salep dan krim?  Salep kortikosteroid adalah obat topikal berbasis minyak atau lemak yang mengandung hormon steroid sintetik. Sementara itu, steroid dalam sediaan krim dibuat berbasis air.

Salep memiliki konsentrasi minyak yang lebih tinggi. Semakin tinggi konsentrasi minyak dalam sebuah obat oles, hasil akhirnya akan terasa lebih lengket dan bertahan lama di kulit. Kulit menyerap krim lebih cepat dan tidak meninggalkan sensasi lengket setelah pengolesan. Krim juga bekerja lebih baik pada area kulit yang lebih luas karena lebih mudah disebarluaskan.

Berdasarkan sifat obatnya, tekstur salep lebih cocok untuk dioles pada kulit kering dan berkerak, atau kulit yang menebal atau kapalan, terutama pada telapak kaki. Obat oles dalam sediaan krim lebih baik digunakan pada bagian kulit yang lembap, basah, dan berbulu.

Klasifikasi potensi kortikosteroid topikal

Obat oles ini memiliki tingkatan dosis dari rendah hingga tinggi, yang akan ditakar oleh dokter sesuai dengan kebutuhan.

Selain itu, obat kortikosteroid topikal diklasifikasikan ke dalam tujuh tingkat potensi steroid yang berbeda-beda. Berdasarkan National Eczema Association, berikut adalah tingkatan potensi salep dan krim kortikosteroid mulai dari yang paling lemah hingga paling kuat:

  • Least potent
  • Mild
  • Lower mid-strength
  • Mid-strength
  • Upper mid-strength
  • Potent
  • Super potent

Pengelompokan potensi sebuah obat topikal steroid didasari oleh dosis atau jumlah kandungan steroid utamanya, seperti fluocinonide, halobetasol, atau hydrocortisone, yang ditentukan oleh sebuah tes khusus. Tes ini akan mengukur efek penyempitan pembuluh darah di lapisan epidermis atas setelah pemakaian obat tersebut.

Sebagai gambaran, salep kortikosteroid dengan potensi super potent lebih kuat 600-1000 kali dari yang salep kortikosteroid yang dengan potensi paling lemah (least potent).

Salep kortikosteroid dengan potensi steroid yang lebih kuat digunakan untuk mengendalikan gejala dermatitis yang sangat parah. Namun, bagian kulit yang lebih tebal seperti telapak kaki biasanya lebih sulit menyerap obat oles sehingga dibutuhkan potensi steroid yang lebih kuat.

Obat dengan kandungan steroid kuat biasanya diberikan hanya lewat resep dan digunakan dalam pengawasan dokter.

Kelompok orang yang boleh menggunakan kortikosteroid topikal

Obat oles ini sebenarnya aman untuk digunakan oleh siapa saja yang punya masalah kulit, dari anak-anak sampai lansia.

Namun, Anda tidak boleh menggunakan obat ini jika kulit memiliki luka terbuka atau menunjukkan tanda-tanda infeksi (memiliki borok yang disertai nanah). Anda juga tidak boleh sembarangan menggunakan salep kortikosteroid ketika kulit sedang berjerawat, apalagi jerawat yang meradang.

Krim dan salep steroid tergolong aman digunakan oleh ibu hamil dan yang sedang menyusui. Akan tetapi, tidak dalam dosis tinggi dengan jenis potensi yang kuat. Bayi pun juga tidak dibolehkan memakai salep steroid yang berpotensi kuat karena kulitnya cenderung lebih mudah untuk menyerap obat.

Jika dokter merasa perlu meresepkan krim atau salep steroid untuk ibu hamil, menyusui, atau bayi, ia biasanya akan memberikan obat dalam dosis rendah dengan potensi yang tidak terlalu kuat.

Bila Anda ibu menyusui dan akan mengoleskan obat pada area payudara,hamil atau  pastikan dulu obat sudah benar-benar meresap dan kulit benar-benar bersih serta kering dari sisa obat sebelum menyusui.

Cara menggunakan krim dan salep kortikosteroid

Salep dan krim kortikosteroid aman digunakan anak-anak maupun orang dewasa asalkan mengikuti aturan pakai yang dianjurkan dokter.

Berikut hal-hal dalam cara pemakaian obat steroid topikal yang perlu Anda perhatikan:

  • Oleskan obat hanya pada bagian kulit yang terdampak; tidak boleh digunakan sebagai pelembap seluruh badan.
  • Oleskan sekitar tiga menit setelah mandi dalam kondisi kulit masih lembap (setengah kering).
  • Jika anda diresepkan obat oles jenis lain, misalnya emolien, beri jeda sekitar 30 menit di antara pengolesan dua obat tersebut.
  • Obat tidak boleh digunakan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Biasanya obat oles ini digunakan selama 5 hari atau beberapa minggu sampai gejala mulai teratasi. Jika tidak kunjung ada perubahan, biasanya dokter akan meningkatkan dosis yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Ikuti petunjuk dokter saat akan menghentikan penggunaan salep atau krim kortikosteroid. Pada kondisi tertentu, penghentian kortikosteroid topikal perlu dilakukan perlahan-lahan untuk menghindari efek samping yang tidak diinginkan. Salah-salah, malah kondisi kulit yang sudah membaik justru semakin memburuk.

Risiko efek samping pemakaian salep dan krim steroid jangka panjang

Hindari penggunaan salep atau krim kortikosteroid secara jangka panjang. Meski secara umum memang aman dan berpotensi baik, kortikosteroid topikal dapat menimbulkan efek samping yang seringnya tak terhindari.

Secara umum efek samping yang mungkin muncul dari salep kortikosteroid adalah:

  • Penipisan kulit.
  • Penebalan kulit.
  • Stretch mark (striae) pada pangkal paha dalam, legan bagian dalam, siku, siku, dan lutut.
  • Kulit menggelap.
  • Sensasi panas dan kencang di kulit setelah mengoleskan obat.

Beberapa efek samping lain seperti jerawat, folikulitis atau rontoknya folikel rambut kulit, dan adiksi terhadap kandungan steroid juga bisa muncul, tapi tidak begitu umum.

Namun, pada kasus yang jarang, krim ini dapat menyebabkan:

  • Memperparah infeksi kulit yang terjadi
  • Menimbulkan jerawat
  • Mengubah warna kulit, biasanya menjadi lebih hitam
  • Area kulit berubah menjadi kemerahan

Pada anak-anak, terdapat kemungkinan untuk salep kortikosteriod terserap masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan efek samping yang menghambat pertumbuhan dan Cushing’s syndrome.

Penting untuk diingat bahwa pengobatan kortikosteroid tetap aman ketika dilakukan sesuai dosis dan dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Efek samping cenderung akan muncul jika Anda menggunakan salep atau krim kortikosteroid dalam dosis yang tinggi atau penggunaan jangka panjang.

Orang yang telah lanjut usia dan anak-anak yang berisiko mengalami efek samping tersebut. Maka dari itu,  lebih baik diskusikan terlebih dahulu dengan dokter kulit Anda tentang efek samping yang mungkin terjadi sebelum menggunakannya.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Kesalahan yang Membuat Kulit Rentan Rusak Selama Bulan Puasa

Apabila tidak dijaga dengan baik, kulit wajah Anda bisa menjadi kurang nutrisi sampai rusak saat puasa. Ketahui beberapa penyebabnya di bawah ini!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Hari Raya, Ramadan 02/05/2020

Pilihan Obat Biduran untuk Anak yang Aman

Anak Anda mengalami ruam merah dan gatal secara tiba-tiba? Bisa jadi itu biduran. Ketahui beberapa jenis obat biduran anak yang diperbolehkan.

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila

Mana yang Lebih Baik: Eksfoliasi Pakai Chemical Peeling atau Scrub?

Mungkin Anda bingung lebih baik pilih chemical peeling atau scrub untuk perawatan kulit. Ternyata perawatan kulit perlu menyesuaikan kondisi kulit Anda.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda

4 Trik Mengatasi Kulit Kering di Bawah Mata

Mengatasi kulit kering di bawah mata dapat dilakukan dengan perawatan dan konsumsi asupan bernutrisi untuk menjaga kelembapan kulit.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda

Direkomendasikan untuk Anda

Salep untuk cacar air

Salep Apa yang Baik untuk Mengatasi Gatal Cacar Air?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 22/05/2020
Skin care dengan asam aktif

Manfaat dan Cara Aman Pakai Skin Care yang Mengandung Asam Aktif

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 08/05/2020
perbedaan hydrating dan moisturizing

Apa Bedanya Skincare yang Hydrating dan Moisturizing untuk Kulit Anda?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 08/05/2020
glass skin

5 Langkah Wujudkan Kulit Bening Bercahaya ala Glass Skin

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 03/05/2020