Mengenal Gejala Tuberkulosis (TB) Pada Anak

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Tuberkulosis alias TB merupakan penyakit infeksi yang paling banyak menyebabkan kematian. WHO memperkirakan kematian akibat TB lebih banyak daripada kematian akibat malaria dan AIDS. Tidak hanya menyerang orang dewasa, TBC juga dapat terjadi pada anak. Diperkirakan 10-15% kasus TB di Indonesia ditemukan pada anak berusia 0-14 tahun.

Perbedaan TBC orang dewasa dan TBC pada anak

TBC pada anak merupakan kasus unik dan mempunyai permasalahan yang berbeda dengan TB orang dewasa. Laporan tuberkulosis pada anak di Indonesia pada tahun 2012 menyatakan jumlah kasus TB anak adalah sebanyak 8,2% dengan angka bervariasi antara 1,7-15,6% dari tiap provinsi. Perbedaan mencolok ini menunjukkan bahwa tidak mudah mengenali TB pada anak karena gejalanya yang tidak khas seperti pada TB orang dewasa.

Kadang kala orangtua melarikan anaknya ke rumah sakit karena gejala lain, yang sekilas seperti tidak ada hubungan dengan penyebab kematian anak terbesar di negara- negara berkembang ini. Oleh sebab itu, mari pelajari cara mengenali infeksi TBC pada anak agar putra-putri Anda dapat tertangani segera mungkin.

Dua cara deteksi awal TBC pada anak

Kasus TB pada anak layaknya bongkahan gunung es di lautan. Jumlahnya banyak, namun sering kali orangtua terlambat mengenali.

Sebenarnya ada dua pendekatan yang cukup mudah yang dapat kita lakukan sebagai deteksi awal, yaitu investigasi terhadap anak yang kontak erat dengan pasien TB dewasa aktif dan menular, serta anak yang datang ke pelayanan kesehatan dengan gejala dan tanda klinis yang mengarah ke TB.

Anak yang kontak erat dengan pasien TB menular

Kontak erat yang dimaksud adalah anak yang tinggal serumah atau sering bertemu dengan pasien TB menular, misalnya anggota keluarga, tetangga, atau kerabat yang sehari-hari berinteraksi dengan anak. Laporkan segera bila di rumah Anda ada yang menderita TB menular, baik TB paru atau TB lainnya.

Biasanya TB menular diderita oleh pasien dewasa yang hasil pemeriksaan dahaknya menunjukkan adanya kuman (biasanya disebut BTA positif). Walaupun anak tidak menunjukkan gejala sakit, Anda wajib memeriksakan anak pada dokter untuk dilakukan skrining TB dan upaya pencegahan

Anak yang menunjukkan tanda dan gejala klinis

TBC pada anak merupakan penyakit infeksi sistemik, dan organ yang paling sering terkena adalah paru, walaupun organ lain juga dapat terserang kuman ini. Gejala klinis penyakit TB pada anak dapat berupa gejala sistemik/umum atau sesuai organ terkait.

Gejala umum TBC pada anak

Berikut adalah gejala-gejala yang umum ditemukan ketika tuberkulosis atau TB terjadi pada anak:

1. Nafsu makan berkurang atau tidak ada sama sekali (anoreksia), disertai gagal tumbuh

Berbeda dengan orang dewasa yang gejala utamanya batuk lama, gejala pertama TBC pada anak yang dikenali orangtua adalah pertumbuhan anak yang lebih kecil dari seusianya. Anak pun terlihat lebih kurus dari anak-anak seusianya.

2. Permasalahan pada berat badan

Berat badan anak akan turun selama 2-3 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas. Atau, berat badan tidak naik dengan cukup.

Dalam beberapa kasus TB pada anak, berat badan tidak naik dalam 1 bulan, walaupun anak telah menjalani upaya perbaikan gizi yang sesuai.

3. Lesu atau malaise

Anak terlihat malas dan tidak bertenaga melakukan kegiatan. Anak pun terlihat kurang aktif jika diajak bermain.

4. Batuk lama 3 minggu atau lebih

Batuk pada anak bersifat non-remitting. Ini artinya, batuk yang dialami anak tidak kunjung reda dan semakin lama semakin parah.

5. Demam lama (2 minggu atau lebih) dan/atau berulang tanpa sebab yang jelas

Demam umumnya tidak tinggi (badan hangat saja) dan berlangsung lama. Dapat pula disertai keringat malam. Demam yang dialami tidak disebabkan oleh demam tifoid (tipes), infeksi saluran kencing, atau malaria.

6. Keringat malam

Gejala ini tidak khas pada anak, namun dapat terjadi. Tapi kita harus perhatikan pula, bila hanya keringat malam saja tanpa disertai dengan gejala-gejala umum lain, ini mungkin bukan merupakan gejala spesifik TB pada anak.

Gejala yang muncul jika kuman TBC menyerang organ tubuh lain pada anak

Infeksi kuman TB pada anak tidak terbatas pada paru. Seluruh organ di tubuh dapat diserang oleh kuman ini. Oleh karena itu, gejala khusus juga akan timbul tergantung pada organ yang terkena. Di bawah ini adalah organ yang sering diserang kuman TBC pada anak-anak.

1. Tuberkulosis kelenjar

TB jenis ini menyerang terbanyak di daerah leher, dengan gejala pembesaran kelenjar getah bening yang banyak dengan diameter  ≥ 1 cm. Biasanya benjolan itu saling melekat sehingga berbentuk seperti kelereng yang berderet dengan konsistensi kenyal. Benjolan ini tidak nyeri.

2. Tuberkulosis otak dan selaput otak (meningitis TB)

Kuman TB juga gampang tersebar ke otak. Bila selaput otak yang terkena, anak akan menunjukkan gejala rewel, sakit kepala, kaku, sampai kejang. Hal ini terjadi akibat keterlibatan saraf-saraf otak yang terkena. Hati-hati bila anak cenderung diam dan mengantuk. Itu adalah tanda anak mengalami penurunan kesadaran

3. Tuberkulosis tulang

Tergantung dari bagian tulang yang terkena, seperti:

  • TB tulang belakang (spondylitis): penonjolan tulang belakang (gibbus).
  • TB tulang panggul (koksitis): pincang, gangguan berjalan, atau tanda peradangan di daerah panggul.
  • TB tulang lutut (gonitis): pincang dan/atau bengkak pada lutut tanpa sebab yang jelas.
  • TB tulang kaki dan tangan (spina ventosa/daktilitis): bengkak pada persendian tangan atau kaki

4. Skrofuloderma

Disebut juga tuberkulosis kulit. Gejalanya ditandai dengan adanya luka atau borok yang disertai dengan adanya fistula/jembatan kulit antar tepi luka (skin bridge). Biasanya, TBC skrofuloderma pada anak disertai dengan demam karena proses infeksi yang berlangsung.

5. Tuberkulosis usus

Adanya gejala-gejala pencernaan, seperti kembung, diare, nyeri perut. Biasanya anak sangat rewel. Komplikasi TB usus adalah radang selaput perut yang biasa disebut peritonitis TB.

6. Tuberkulosis ginjal

Dicurigai bila ditemukan gejala gangguan pada organ ginjal yaitu gangguan buang air kecil, urin yang terlalu pekat, dan nyeri pinggang tanpa sebab yang jelas dan disertai kecurigaan adanya infeksi TB.

Pengobatan untuk TBC pada anak

Setelah terpapar bakteri TBC, anak lebih rentan mengembangkan kondisi TBC laten menjadi penyakit TBC aktif. TBC laten adalah kondisi ketika bakteri telah berada di dalam tubuh, namun tidak aktif berkembang biak.

Pengobatan pada kasus TB laten dan TB aktif biasanya dibedakan. Berikut penjelasannya berdasarkan situs Centers for Disease Control and Prevention:

1. Pengobatan TBC laten pada anak

Anak-anak dengan TBC laten biasanya akan menerima pengobatan dengan isoniazid-rifapentine selama 12 minggu. Obat alternatif yang mungkin diberikan untuk mengatasi TB laten pada anak adalah rifampin selama 4 bulan, atau isoniazid selama 9 bulan.

2. Pengobatan penyakit TBC aktif pada anak

Jika TBC laten telah berkembang menjadi penyakit TBC, anak diharuskan menjalani pengobatan selama 6 hingga 9 bulan. Obat yang biasanya diberikan tidak berbeda jauh dengan obat-obatan TB laten, seperti isoniazid dan rifampicin.

Penting untuk diingat bahwa anak harus minum obat sampai habis dan sesuai dengan resep dokter. Jika tidak, anak berisiko mengalami kekambuhan ketika sudah beranjak dewasa, serta berpotensi terkena resistensi obat.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: September 14, 2016 | Terakhir Diedit: November 25, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca