Ibu Hamil Stres Berat, Berisiko Lahirkan Anak yang Rentan Asma Saat Dewasa

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Seiring dengan rasa bahagia menanti kedatangan buah hati ke dunia, tak dapat dipungkiri kehamilan juga bisa menjadi sumber stres bagi banyak wanita. Namun, bukan berarti Anda boleh membiarkan stres makin menjadi di penghujung hari. Stres saat hamil berpotensi memupuk beragam masalah yang dapat memengaruhi kesehatan jabang bayi.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Physiology menemukan bahwa stres saat hamil yang tidak tertangani dengan baik dapat meningkatkan risiko asma pada anak saat ia dewasa nanti. Kenapa begitu?

Yang terjadi pada tubuh saat sedang stres

Stres biasanya dimulai dari rasa kewalahan akibat banyaknya tekanan dari luar dan dalam diri yang telah berlangsung cukup lama — baik secara fisik, mental, dan emosional. Misalnya, karena pekerjaan, masalah keuangan, masalah dengan pasangan atau keluarga, gejolak perubahan hormon dan fisik yang umum terjadi selama hamil, hingga persiapan melahirkan.

Segala macam pemicu stres ini dianggap sebagai serangan atau ancaman oleh tubuh. Sebagai mekanisme perlindungan diri, tubuh akan memproduksi berbagai hormon stres seperti adrenalin, kortisol, dan norepinefrin. Peningkatan produksi hormon stres ini membuat denyut jantung meningkat, tekanan darah naik, gula darah melonjak, napas pendek dan lebih cepat, hingga otot yang jadi menegang.

Stres adalah suatu hal yang wajar. Akan tetapi, stres yang berlangsung terus menerus akan menyebabkan hormon kortisol dalam darah terus-terusan tinggi. Peningkatan hormon kortisol yang stabil dalam waktu lama akan mengubah cara tubuh beradaptasi sehingga pada akhirnya memicu respon peradangan yang berlebihan.

Stres saat hamil meningkatkan risiko asma pada anak saat dewasa nanti

Peradangan dalam tubuh telah lama dikaitkan dengan menurunnya kesehatan kehamilan dan masalah perkembangan janin. Sejumlah penelitian melaporkan bahwa kadar kortisol yang abnormal dalam tubuh ibu dapat memengaruhi perkembangan paru-paru anak. Kenapa begitu?

Janin mendapat oksigen dari darah Anda. Pasokan oksigen tidak boleh terputus sama sekali demi proses tumbuh kembangnya berjalan normal. Peningkatan hormon kortisol akibat stres saat hamil dapat mengerutkan pembuluh darah ibu, sehingga bayi tidak mendapat cukup darah beroksigen untuk mengembangkan setiap organnya secara optimal.

Terlebih, hormon kortisol yang terdapat dalam aliran darah ibu dapat menembus plasenta sehingga bayi Anda pun juga ikut memiliki kadar kortisol tinggi dalam tubuhnya. Hal ini dapat mengubah susunan hormon janin yang akan semakin mengganggu tumbuh kembangnya. Pasalnya, janin akan merespon rangsangan stres dari ibu dan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi.

Peningkatan risiko asma pada anak juga dipengaruhi oleh sebuah hormon yang bernama glukokortikoid (GCs) dalam tubuh ibu. Dalam kondisi normal, hormon ini seharusnya bekerja membantu sistem imun ibu untuk menghambat peradangan. Namun ketika dilepaskan sebagai respon stres, GCs bukannya melawan, malah melemahkan sistem imun sehingga ibu jadi rentan sakit dan terinfeksi.

Peningkatan hormon GCs saat hamil seiring dengan stres yang tak kunjung mereda akan meningkatkan risiko respon alergi Anda terhadap zat pemicu iritasi. Hormon ini pun dapat diturunkan ke janin lewat aliran darah yang melewati plasenta, sehingga ikut meningkatkan risiko alergi dan asma pada anak. 

Menurut CDC, asma adalah satu dari banyak jenis penyakit kronis yang diderita anak-anak. Pada tahun 2010, satu dari 11 anak memiliki asma yang berlanjut hingga dewasa. Pada tahun 2009, terdapat hampir lebih dari 3 ribu orang di dunia meninggal karena asma.

Bagaimana mengelola stres saat hamil?

Setiap orang mempunyai cara berbeda untuk menangani stres, sehingga penting untuk mengenali diri sendiri. Anda dapat memulai dengan mencari tahu apa yang membuat Anda stres. Misalnya, tumpukan pekerjaan rumah yang tidak kunjung selesai. Langkah selanjutnya adalah mencari tahu cara terbaik untuk menangani stres tersebut. Jika urusan beres-beres rumah tak kunjung usai, Anda bisa meminta suami atau anggota keluarga lainnya untuk ikut turun tangan.

Terkadang, curhat dan bertukar pikiran dengan sesama ibu hamil dapat membantu Anda mengurangi stres. Dengan begini, Anda tahu bahwa Anda tidak sendirian dan bisa menemukan cara untuk memecahkan masalah Anda berdasarkan pengalaman rekan sejawat. Anda juga bisa menumpahkan isi hati dalam jurnal, beryoga atau olahraga lainnya, meditasi, atau melakukan hobi yang membuat Anda merasa tenang dan rileks.

Selain itu, dukungan dari keluarga, teman, dan orang sekeliling Anda sangat dibutuhkan untuk membuat Anda bahagia dan memastikan kesehatan Anda. Hindari pertengkaran sekecil apapun dengan orang sekeliling Anda agar tidak menambah beban pikiran Anda. Usahakan untuk selalu berpikir positif karena dapat membuat hati Anda senang.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Desember 11, 2017 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca