Berbagai Pilihan Obat Asma yang Manjur dan Aman untuk Anak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Asma adalah gangguan pernapasan kronis yang umum terjadi pada orang dewasa dan dapat terjadi pada anak-anak. Tahukah kalau kondisi ini tidak bisa disembuhkan? Akan tetapi, Anda dapat membantu mengendalikan penyakitnya dengan memberikan obat asma yang tepat untuk anak.

Pilihan obat asma anak yang manjur dan aman

Asma merupakan kondisi yang terjadi karena adanya peradangan di saluran pernapasan. Dikutip dari Mayo Clinic, Anda dapat mengelola sekaligus mengendalikan penyakit asma dengan menghindari pemicu. Selain itu, hal yang bisa dilakukan adalah menggunakan obat ketika serangan asma pada anak muncul.

Ada beberapa jenis atau bentuk obat asma tersedia untuk Anda dan juga anak. Termasuk inhaler dosis tertukur, inhaler bubuk kering, cairan yang bisa digunakan dalam nebulizer, pil, hingga obat suntik.

Obat asma hirup lebih umum diresepkan karena dapat langsung menargetkan obat menuju saluran napas dengan risiko efek samping yang minim. Namun, pemilihan obat harus disesuaikan dengan usia, berat badan, dan seberapa parah asma yang dialami oleh anak.

Maka dari itu, hanya dokterlah yang dapat menentukan jenis obat asma paling tepat untuk anak Anda.

Secara umum ada dua jenis obat asma yang tergolong aman dan manjur meredakan gejala, yaitu:

Obat kontrol jangka panjang

obat asma untuk anak

Obat asma jangka panjang diperlukan untuk mencegah serangan asma kembali muncul. Obat ini bekerja efektif untuk mengurangi peradangan di saluran napas. Dengan begitu risiko kambuhnya gejala asma juga dapat diminimalisir.

Pada umumnya, obat asma yang satu ini diberikan bagi seorang anak yang mengalami:

  • Serangan asma lebih dari 2 kali seminggu.
  • Gejala asma muncul di malam hari lebih dari 2 kali sebulan.
  • Sering dirawat di rumah sakit karena asma.
  • Membutuhkan lebih dari dua rangkaian obat steroid oral dalam setahun.

Beberapa jenis obat asma untuk anak jangka panjang meliputi:

1. Kortikosteroid inhalasi

Kortikosteroid inhalasi merupakan obat antiradang yang berbentuk semprotan atau bubuk untuk membantu anak bernapas lebih lega. Selain sebagai obat asma, kortikosteroid inhalasi juga sering digunakan dalam pengobatan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Obat ini hanya tersedia dengan resep dokter dan biasanya diberikan pada anak di bawah 5 tahun. Contoh obat asma anak jenis ini adalah budesonide (Pulmicort®), fluticasone (Flovent®), dan beclomethasone (Qvar®).

Pada bayi dan anak kecil, kortikosteroid hirup mungkin akan diberikan melalui nebulizer  dengan masker wajah. Dibanding inhaler, uap yang dihasilkan nebulizer sangat kecil, sehingga obat akan lebih cepat meresap ke bagian paru-paru yang ditargetkan.

2. Leukotriene modifiers

Obat asma untuk anak ini berfungsi untuk melawan leukotriene atau sel darah putih yang menghambat aliran udara di paru.

Contoh obat leukotriene modifiers adalah montelukast (Singulair®). Obat tersebut tersedia dalam bentuk tablet kunyah untuk anak usia 2-6 tahun, juga dalam bentuk obat puyer untuk anak di bawah 1 tahun.

Pilihan obat ini baru dipertimbangkan jika penggunaan kortikosteroid hisap tidak dapat mengontrol gejala asma. Selain itu, obat ini tidak dapat diberikan secara monoterapi, harus dikombinasi dengan kortikosteroid hisap.

3. Long-acting beta 2 agonist

Long-acting beta 2 agonist adalah obat asma untuk anak yang termasuk ke dalam rangkaian pengobatan kortikosteroid. Dikatakan long-acting karena efeknya yang bisa bertahan setidaknya hingga 12 jam. Salmeterol (Advair®) dan formoterol merupakan beberapa jenis obat asma long-acting beta 2 agonist yang paling sering diresepkan dokter.

Obat ini hanya bekerja untuk melegakan saluran udara, tidak mengobati peradangan di saluran udara. Untuk meredakan peradangannya, obat ini biasanya akan dikombinasikan dengan obat kortikosteroid hirup.

Dokter dapat menggabungkan obat fluticasone dengan salmeterol, budesonide dengan formeterol, serta fluticasone dengan fomoterol untuk mengobati asma.

Berbagai obat asma anak jangka panjang di atas harus diminum setiap hari untuk mencegah serangan asma datang tiba-tiba.

Obat kontrol jangka pendek

obat asma untuk anak

Selain obat-obatan jangka panjang, anak dengan asma juga butuh pengobatan jangka pendek. Pengobatan ini bertujuan untuk segera meredakan gejala asma akut begitu serangannya kambuh.

Berikut jenis obat asma untuk anak jangka pendek meliputi:

1. Bronkodilator

Gejala asma pada anak yang datang dan pergi bisa membaik jika diberi obat bronkodilator. Bronkodilator adalah jenis obat yang berfungsi untuk membuka saluran bronkus (saluran yang menuju ke paru) supaya anak dapat bernapas lebih leluasa.

Bronkodilator sering disebut sebagai obat asma untuk jangka pendek. Maksudnya obat ini diberikan sebagai pertolongan pertama saat asma anak kambuh sewaktu-waktu.

Contoh obat bronkodilator di antaranya adalah albuterol dan levalbuterol. Obat-obatan ini bekerja efektif meredakan gejala asma selama 4-6 jam.

Minta si kecil untuk minum obat ini terlebih dahulu sebelum mulai berolahraga, supaya asma tidak kambuh dan mengganggu aktivitasnya. Agar obat bisa lebih mudah dihirup, Anda juga dapat memasukkan obat-obatan tersebut ke dalam inhaler atau nebulizer yang lebih praktis.

2. Kortikosteroid oral atau cairan

Selain dihirup, obat kortikosteroid juga tersedia dalam bentuk tablet yang diminum langsung atau cairan yang disuntik ke pembuluh darah.

Prednisone dan methylprednisolone merupakan jenis obat kortikosteroid oral yang paling umum diresepkan dokter. Biasanya dokter akan meresepkan obat asma steroid oral hanya untuk 1-2 minggu saja.

Hal ini karena obat asma untuk anak ini berpotensi menyebabkan efek samping serius bila digunakan dalam jangka panjang. Risiko efek sampingnya termasuk kenaikan berat badan, tekanan darah tinggi, mudah memar, otot-otot melemah, dan masih banyak lagi.

Cara menggunakan obat asma untuk anak

Obat asma untuk anak yang dihirup membutuhkan alat bantu khusus supaya manfaatnya bisa langsung dirasakan dengan optimal.

Alat bantu pernapasan yang paling umum digunakan pengidap asma adalah inhaler dan nebulizer. Keduanya sama-sama punya manfaat yang sama, tapi berbeda dicara penggunaanya.

Supaya tidak salah langkah, berikut panduan pakai inhaler dan nebulizer untuk mengantar obat asma langsung ke saluran pernapasan.

Nebulizer

asma pada anak

Alat bantu pernapasan satu ini sangat disarankan digunakan pada anak-anak yang masih bayi atau balita. Ketimbang inhaler, uap yang dihasilkan nebulizer amat sangat kecil sehingga obat asma dapat lebih cepat meresap ke paru-paru anak.

Ada baiknya Anda cuci tangan sampai bersih terlebih dulu untuk mencegah kuman ikut masuk ke paru-paru lewat tangan saat menyentuh nebulizer. Setelah itu, simak baik-baik panduan menggunakan nebulizer yang perlu dipahami:

  1. Siapkan obat asma yang akan digunakan. Jika obat sudah dicampur, tuang langsung ke dalam wadah obat nebulizer. Jika belum, masukkan satu per satu pakai pipet atau alat suntik untuk menjaga kebersihannya.
  2. Bila diperlukan, tambahkan cairan saline.
  3. Hubungkan wadah obat ke mesin dan juga masker ke bagian atas wadah.
  4. Pasang masker di wajah anak hingga menutupi hidung dan mulutnya. Pastikan pinggiran masker pas dengan wajah, agar tidak ada uap obat yang keluar dari sisi-sisi masker.
  5. Nyalakan mesin kemudian minta anak untuk menarik napas dengan hidung dan keluarkan perlahan melalui mulut.
  6. Tunggu beberapa saat sampai sudah tidak ada lagi uap yang keluar dari masker.

Inhaler

efek samping inhaler

  1. Minta anak untuk duduk atau berdiri tegak.
  2. Kocok inhaler terlebih dulu sebelum dihirup anak supaya obat yang terkandung di dalamnya dapat tercampur merata.
  3. Buka tutupnya dan masukkan corong inhaler ke dalam mulut. Pastikan bibir anak terkatup rapat supaya tidak ada obat yang keluar dari sisi-sisi bibir.
  4. Tekan inhaler satu kali dan minta anak untuk langsung menarik napasnya melalui mulut.
  5. Setelah berhasil terhirup, minta anak untuk menahan napas setidaknya 10 detik.
  6. Tahan napas selama minimal 10 detik setelah menghirupnya. Lakukan cara yang sama bila anak butuh lebih dari satu semprotan. Namun, berikan jeda sekitar 1 menit sebelum semprotan berikutnya.

Selama digunakan sesuai dengan yang diinstruksikan dokter, inhaler sangat membantu mengendalikan asma dan minim efek samping. Inhaler sebaiknya tidak digunakan secara bergantian karena setiap orang punya jenis dan dosis obat yang berbeda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Peran Penting Nutrisi dalam Pertumbuhan Tinggi Badan Anak

Nutrisi memiliki peran penting membantu pertumbuhan tinggi badan anak. Simak selengkapnya dan cari tahu standar tinggi badan anak Indonesia di sini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
asupan nutrisi yang baik membantu pertumbuhan tinggi badan anak
Parenting, Nutrisi Anak 1 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Bayi dan Anak-Anak

Orangtua pasti cemas bukan main melihat anaknya bolak-balik BAB. Tenang dulu. Cari tahu penyebab, gejala, dan cara mengobati diare pada anak di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Penyakit Pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 30 September 2020 . Waktu baca 10 menit

Penyakit Kawasaki

Penyakit kawasaki adalah penyakit langka yang sering terjadi pada anak-anak. Cari tahu gejala, penyebab, serta pengobatan penyakit kawasaki di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Penyakit Pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 30 September 2020 . Waktu baca 12 menit

Selain Sesak Napas, Ini Kegunaan dan Manfaat Nebulizer untuk Batuk Pilek

Meski lebih dikenal untuk membantu meredakan gejala asma, ternyata nebulizer juga memiliki manfaat untuk batuk dan pilek. Bagaimana bisa? Berikut ulasannya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
genose alat deteksi covid-19 dari embusan napas
Batuk, Kesehatan Pernapasan 30 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

hemofilia hemophilia

Hemofilia

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 24 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
pelukan bayi dari orangtua distrofi otot muscular dystrophy adalah

Distrofi Otot

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit
ciri cacingan pada anak

Ciri-Ciri Anak Cacingan Berdasarkan Jenis Cacingnya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 5 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
imunisasi bayi dan anak

Penjelasan Lengkap Imunisasi, Mulai dari Pengertian, Manfaat, Sampai Jenisnya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 2 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit