Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Terdengar Bunyi 'Ngik' Saat Bayi Bernapas? Ini 5 Kemungkinan Penyebabnya

Terdengar Bunyi 'Ngik' Saat Bayi Bernapas? Ini 5 Kemungkinan Penyebabnya

Jika Anda pernah mendengar atau belakangan ini si kecil sering mengeluarkan bunyi ‘ngik’ ketika bernapas, mungkin ia mengalami mengi. Mengi adalah bunyi khas yang timbul karena saluran pernapasan menyempit. Karena penyempitan ini, akan muncul bunyi seperti ‘ngik-ngik’ saat pengidapnya mengambil napas. Sebagian besar kasus mengi lebih sering terjadi pada orang dewasa, tapi tidak sedikit yang menyerang saat masih usia bayi. Kok, bisa? Memang, apa sebab mengi pada bayi?

Bayi mengi, kenapa bisa terjadi?

Meski tidak selalu terjadi, tapi sekitar 25-30 persen bayi bisa mengalami mengi setidaknya satu kali. Seiring bertambahnya usia, sekitar 40 persen mengalami mengi di usia tiga tahun dan hampir 50 persen saat memasuki usia enam tahun.

Alasan paling umumnya adalah karena ukuran paru bayi lebih kecil sehingga saluran pernapasan tempat mengalirnya oksigen dan karbondioksida terbilang sempit. Selain itu, kemampuan paru untuk kembali ke bentuk semula usai mengambil napas, belum berkembang dengan optimal pada bayi. Akibatnya, muncul suara khas seperti siulan yang lirih saat bayi bernapas.

Ketika napas bayi terus mengeluarkan bunyi seperti ini, coba perhatikan lebih seksama apakah ada sesuatu yang mengganggu proses pernapasannya.

penyebab meningitis pada bayi

Apa penyebab mengi pada bayi?

Beberapa kondisi berikut ini bisa mengakibatkan terjadinya mengi pada bayi:

1. Alergi

Jika bayi mengalami alergi terhadap suatu hal, seperti debu, serbuk sari, atau tungau, tubuh akan menangkap zat tersebut sebagai benda asing. Kondisi ini akan memicu respon imun untuk memproduksi dahak.

Bayi belum mampu membersihkan hidung dan tenggorokannya sendiri, sehingga dahak ini tetap berada di dalam saluran hidung yang sempit dan membuatnya tersumbat. Semua hal ini mengakibatkan saluran udara menyempit dan menyebabkan mengi pada bayi.

2. Bronkiolitis

Bronkiolitis adalah infeksi saluran pernapasan bawah (paru) yang disebabkan oleh serangan virus. Kondisi ini umum terjadi terutama saat cuaca dingin. Gejala awal ditandai dengan pilek, batuk, kesulitan bernapas, hingga akhirnya bayi mengalami mengi.

Umumnya, gejala bronkiolitis akan berlangsung dalam hitungan hari atau minggu. Namun dalam beberapa kasus, penyakit ini bisa terjadi selama sebulan dan butuh waktu lebih lama untuk menyembuhkannya. Bayi bisa dirawat di rumah maupun di rumah sakit tergantung dari keparahan penyakitnya.

3. Asma

Asma pada bayi masih agak sulit untuk dideteksi karena gejala yang dialami sangat mirip dengan tanda penyakit lain. Namun beberapa bayi mungkin memiliki saluran udara yang sensitif, sehingga lebih berisiko terkena asma saat terkena pemicunya, seperti seperti debu, polusi udara, atau asap rokok. Jika sudah begitu, akan timbul batuk, sesak napas, serta napas mengi.

Sebenarnya, mengi pada bayi tidak selalu berarti bahwa ia memiliki asma. Hanya saja, bila mengi terjadi terus-menerus tanpa henti, maka dokter bisa melakukan serangkaian pemeriksaan guna mendeteksi penyebab awalnya.

4. GERD

Gastroesophageal reflux disease (GERD) atau refluks asam lambung adalah kondisi ketika asam lambung naik kembali ke arah esofagus sehingga menimbulkan rasa seperti terbakar di dada.

Cairan asam lambung bisa masuk ke paru dan menyebabkan iritasi bahkan pembengkakan pada saluran napas bayi. Hal ini yang kemudian menyebabkan mengi terjadi pada si kecil.

Sebaiknya biarkan bayi duduk selama kurang lebih 30 menit setelah makan atau menyusui guna mengurangi risiko naiknya asam lambung.

5. Penyebab lain

Dalam kasus yang jarang, mengi pada bayi dapat menandakan adanya penyakit kronis. Misalnya penyakit imunodefisiensi, kelainan vaskular bawaan, cystic fibrosis, pneumonia, dan lain sebagainya. Perhatikan bila si kecil mengalami demam lebih dari 38 derajat Celcius, sebagai pertanda kesehatan tubuhnya sedang menurun.

Bagaimana cara mengobati mengi pada bayi?

Perawatan yang tepat untuk mengi pada bayi disesuaikan dengan penyebabnya. Bila kasus mengi ini baru terjadi pertama kali dan tidak terlalu parah, Anda bisa mengobatinya sendiri di rumah sesuai dengan anjuran dokter.

Misalnya dengan menggunakan humidifier yang akan memberikan kelembapan optimal untuk lingkungan sehingga membantu melonggarkan saluran pernapasan bayi yang tersumbat akibat mengi. Atau menggunakan bulb syringe guna mengisap lendir yang menyumbat lubang hidung bayi.

Anda juga bisa pakai nebulizer yang merupakan mesin uap untuk membantu meredakan gejala asma. Namun, perawatan ini biasanya hanya direkomendasikan dokter bila masalah yang dialami bayi terkait dengan asma.

Tak lupa, penting untuk memastikan bayi mendapat asupan cairan yang cukup. Hidrasi yang optimal akan membantu mempermudah jalan napas bayi.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Why Is May Baby Wheezing? https://www.healthline.com/health/parenting/baby-wheezing Diakses pada 14 September 2018.

Baby Wheezing: Why It Happens. https://www.medicalnewstoday.com/articles/319344.php?sr Diakses pada 14 September 2018.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri Diperbarui 16/08/2021
Fakta medis diperiksa oleh Hello Sehat Medical Review Team
x