Berbagai Pilihan Obat Asma yang Manjur dan Aman untuk Anak

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Asma adalah gangguan pernapasan kronis yang umum terjadi pada anak-anak. Asma tidak bisa disembuhkan. Akan tetapi, Anda dapat membantu mengendalikan penyakitnya dengan memilihkan obat asma yang tepat untuk anak.

Pilihan obat asma anak yang manjur dan aman

Obat asma tersedia dalam berbagai bentuk, termasuk inhaler dosis tertukur, inhaler bubuk kering, cairan yang bisa digunakan dalam nebulizer, pil, hingga obat suntik.

Obat asma hirup lebih umum diresepkan karena dapat langsung menargetkan obat menuju saluran napas dengan risiko efek samping yang minim. Namun, pemilihan obat harus disesuaikan dengan usia, berat badan, dan seberapa parah asma yang dialami oleh anak. Maka dari itu, hanya dokterlah yang dapat menentukan jenis obat asma paling tepat untuk anak Anda.

Secara umum ada dua jenis obat asma anak yang tergolong aman dan manjur meredakan gejala, yaitu:

Obat kontrol jangka panjang

inhaler obat hirup asma

Obat asma jangka panjang diperlukan untuk mencegah serangan asma kembali muncul. Obat ini bekerja efektif untuk mengurangi peradangan di saluran napas. Dengan begitu risiko kekambuhan gejala asma juga dapat diminimalisir.

Pada umumnya, obat asma yang satu ini diberikan bagi seorang anak yang mengalami:

  • Serangan asma lebih dari 2 kali seminggu.
  • Gejala asma muncul di malam hari lebih dari 2 kali sebulan.
  • Sering dirawat di rumah sakit karena asma.
  • Membutuhkan lebih dari dua rangkaian obat steroid oral dalam setahun.

Beberapa jenis obat asma anak jangka panjang meliputi:

1. Kortikosteroid inhalasi

Kortikosteroid inhalasi merupakan obat antiradang yang berbentuk semprotan atau bubuk untuk membantu anak bernapas lebih lega. Selain sebagai obat asma, kortikosteroid inhalasi juga sering digunakan dalam pengobatan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Obat ini hanya tersedia dengan resep dokter dan biasanya diberikan pada anak di bawah 5 tahun. Contoh obat asma anak jenis ini adalah budesonide (Pulmicort®), fluticasone (Flovent®), dan beclomethasone (Qvar®).

Pada bayi dan anak kecil, kortikosteroid hirup mungkin akan diberikan melalui nebulizer  dengan masker wajah. Dibanding inhaler, uap yang dihasilkan nebulizer sangat kecil, sehingga obat akan lebih cepat meresap ke bagian paru-paru yang ditargetkan.

2. Leukotriene modifiers

Obat asma anak ini berfungsi untuk melawan leukotriene atau sel darah putih yang menghambat aliran udara di paru.

Contoh obat leukotriene modifiers adalah montelukast (Singulair®). Obat tersebut tersedia dalam bentuk tablet kunyah untuk anak usia 2-6 tahun, juga dalam bentuk obat puyer untuk anak di bawah 1 tahun.

Pilihan obat ini baru dipertimbangkan jika penggunaan kortikosteroid hisap tidak dapat mengontrol gejala asma. Selain itu, obat ini tidak dapat diberikan secara monoterapi, harus dikombinasi dengan kortikosteroid hisap.

3. Long-acting beta 2 agonist

Long-acting beta 2 agonist adalah obat asma anak yang termasuk ke dalam rangkaian pengobatan kortikosteroid. Dikatakan long-acting karena efeknya yang bisa bertahan setidaknya hingga 12 jam. Salmeterol (Advair®) dan formoterol merupakan beberapa jenis obat asma anak long-acting beta 2 agonist yang paling sering diresepkan dokter.

Obat asma jenis ini membantu mengendurkan otot-otot di sekitar saluran udara yang menegang, sehingga anak bisa bernapas lebih lega.

Obat ini hanya bekerja untuk melegakan saluran udara, tidak mengobati peradangan di saluran udara. Untuk meredakan peradangannya, obat ini biasanya akan dikombinasikan dengan obat kortikosteroid hirup.

Dokter dapat menggabungkan obat fluticasone dengan salmeterol, budesonide dengan formeterol, serta fluticasone dengan fomoterol untuk mengobati asma anak.

Berbagai obat asma anak jangka panjang di atas harus diminum setiap hari untuk mencegah serangan asma datang tiba-tiba.

Obat kontrol jangka pendek

obat sesak nafas anak

Selain obat-obatan jangka panjang, anak dengan asma juga butuh pengobatan jangka pendek. Pengobatan ini bertujuan untuk segera meredakan gejala asma akut begitu serangannya kambuh.

Berikut jenis obat asma anak jangka pendek meliputi:

1. Bronkodilator

Gejala asma pada anak yang datang dan pergi bisa membaik jika diberi obat bronkodilator. Bronkodilator adalah jenis obat yang berfungsi untuk membuka saluran bronkus (saluran yang menuju ke paru) supaya anak dapat bernapas lebih leluasa.

Bronkodilator sering disebut sebagai obat asma anak jangka pendek. Maksudnya obat ini diberikan sebagai pertolongan pertama saat asma anak kambuh sewaktu-waktu.

Contoh obat bronkodilator di antaranya adalah albuterol dan levalbuterol. Obat-obatan ini bekerja efektif meredakan gejala asma selama 4-6 jam.

Minta si kecil untuk minum obat ini terlebih dahulu sebelum mulai berolahraga, supaya asma tidak kambuh dan mengganggu aktivitasnya. Agar obat bisa lebih mudah dihirup oleh si kecil, Anda juga dapat memasukkan obat-obatan tersebut ke dalam inhaler atau nebulizer yang lebih praktis.

2. Kortikosteroid oral atau cairan

Selain dihirup, obat kortikosteroid juga tersedia dalam bentuk tablet yang diminum langsung atau cairan yang disuntik ke pembuluh darah. Prednisone dan methylprednisolone merupakan jenis obat kortikosteroid oral yang paling umum diresepkan dokter.

Biasanya dokter akan meresepkan obat asma steroid oral hanya untuk 1-2 minggu saja. Hal ini karena obat asma anak ini berpotensi menyebabkan efek samping serius bila digunakan dalam jangka panjang. Risiko efek sampingnya termasuk kenaikan berat badan, tekanan darah tinggi, mudah memar, otot-otot melemah, dan masih banyak lagi.

Cara menggunakan obat asma untuk anak

Obat asma anak yang dihirup membutuhkan alat bantu khusus supaya manfaatnya bisa langsung dirasakan dengan optimal.

Alat bantu pernapasan yang paling umum digunakan pengidap asma adalah inhaler dan nebulizer. Keduanya sama-sama punya manfaat yang sama, tapi berbeda dicara penggunaanya.

Supaya tidak salah langkah, berikut panduan pakai inhaler dan nebulizer untuk mengantar obat asma langsung ke saluran pernapasan anak.

Nebulizer

asma pada anak

Alat bantu pernapasan satu ini sangat disarankan digunakan pada anak-anak yang masih bayi atau balita. Ketimbang inhaler, uap yang dihasilkan nebulizer amat sangat kecil sehingga obat asma dapat lebih cepat meresap ke paru-paru anak.

Ada baiknya Anda cuci tangan sampai bersih terlebih dulu untuk mencegah kuman ikut masuk ke paru-paru lewat tangan saat menyentuh nebulizer. Setelah itu, simak baik-baik panduan menggunakan nebulizer yang perlu dipahami para ortu berikut:

  1. Siapkan obat asma anak yang akan digunakan. Jika obat sudah dicampur, tuang langsung ke dalam wadah obat nebulizer. Jika belum, masukkan satu per satu pakai pipet atau alat suntik untuk menjaga kebersihannya.
  2. Bila diperlukan, tambahkan cairan saline.
  3. Hubungkan wadah obat ke mesin dan juga masker ke bagian atas wadah.
  4. Pasang masker di wajah anak hingga menutupi hidung dan mulutnya. Pastikan pinggiran masker pas dengan wajah, agar tidak ada uap obat yang keluar dari sisi-sisi masker.
  5. Nyalakan mesin kemudian minta anak untuk menarik napas dengan hidung dan keluarkan perlahan melalui mulut.
  6. Tunggu beberapa saat sampai sudah tidak ada lagi uap yang keluar dari masker.

Inhaler

efek samping inhaler
Sumber: Shutterstock
  1. Minta anak untuk duduk atau berdiri tegak.
  2. Kocok inhaler terlebih dulu sebelum dihirup anak supaya obat yang terkandung di dalamnya dapat tercampur merata.
  3. Buka tutupnya dan masukkan corong inhaler ke dalam mulut. Pastikan bibir anak terkatup rapat supaya tidak ada obat yang keluar dari sisi-sisi bibir.
  4. Tekan inhaler satu kali dan minta anak untuk langsung menarik napasnya melalui mulut.
  5. Setelah berhasil terhirup, minta anak untuk menahan napas setidaknya 10 detik.
  6. Tahan napas selama minimal 10 detik setelah menghirupnya. Lakukan cara yang sama bila anak butuh lebih dari satu semprotan. Namun, berikan jeda sekitar 1 menit sebelum semprotan berikutnya.

Selama digunakan sesuai dengan yang diinstruksikan dokter, inhaler sangat membantu mengendalikan asma dan minim efek samping. Inhaler sebaiknya tidak digunakan secara bergantian karena setiap orang punya jenis dan dosis obat yang berbeda. Selain meningkatkan risiko efek samping, hal tersebut pun dapat berpotensi menularkan penyakit.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Oktober 22, 2018 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Yang juga perlu Anda baca