Semua Informasi Mengenai Asma Pada Anak yang Perlu Diketahui Orangtua

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Asma pada anak cenderung lebih melemahkan dan menyiksa karena saluran pernapasan mereka lebih kecil daripada orang dewasa. Akibatnya, ketika asma kambuh, waktu tidur, bermain, dan belajar anak jadi sering terganggu. Bila terus dibiarkan, kondisi ini tentu akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Nah, supaya tidak salah langkah, penting bagi orangtua untuk mengetahui semua informasi tentang asma pada anak di bawah ini.

Faktor penyebab asma pada anak

Obat batuk alami untuk anak

Sampai saat ini penyebab asma pada anak belum diketahui secara pasti. Meski begitu, para ahli percaya kondisi ini bisa disebabkan karena faktor genetik (bawaan dari lahir) dan kelahiran prematur.

Faktor keturunan dari orangtua juga ikut berperan penting sebagai penyebab asma pada anak. Oleh karena itu, bila Anda dan pasangan punya riwayat penyakit ini, maka si kecil akan lebih mudah untuk mengalaminya juga.

Selain itu, asma pada anak juga dapat dipicu oleh beberapa faktor berikut:

  • Infeksi pernapasan atas, seperti flu, sinusitis, bronkitis, pneumonia.
  • Paparan asap rokok sebelum atau sesudah lahir.
  • Tumbuh di lingkungan yang berpolusi tinggi. 
  • Riwayat alergi tehirup seperti debu, bulu binatang, tungau, jamur, serta serbuk sari dari bunga, pohon, dan rumput. 
  • Riwayat kulit kronis, seperti eksim.
  • Obesitas.
  • Melakukan aktivitas fisik yang terlalu intens.
  • Udara dingin.

Terkadang, asma anak juga bisa muncul tanpa alasan maupun pemicu yang jelas. 

Gejala khas asma pada anak

anak kurang mineral kekurangan mineral pada anak

Asma adalah penyakit kronis yang menyerang saluran pernapasan. Ketika si kecil terpapar faktor pemicunya, saluran udara mereka menjadi meradang, membengkak, dan menghasilkan lendir yang lebih banyak dari biasanya.

Otot-otot di sekitar saluran udaranya pun mengencang dan menegang. Kondisi ini semakin membuat saluran tersebut menyempit. Akibatnya, anak akan mengalami sejumlah gejala yang tidak nyaman, seperti:

  • Napas ngos-ngosan atau terengah-engah.
  • Mengeluh dadanya sakit atau terasa sakit.
  • Batuk kronis yang tidak kunjung sembuh, biasa terjadi saat mereka sedang bermain, tertawa, menangis, dan bahkan di malam hari.
  • Ketika mengambil napas dan mengembuskan napas terdengar suara siulan kecil atau bunyi ngik-ngik (mengi).

Tanda dan gejala asma anak lainnya yang perlu orangtua waspadai di antaranya:

  • Anak sering susah tidur di malam hari karena sesak napas, batuk, atau mengi.
  • Serangan batuk atau mengi yang memburuk disertai dengan infeksi pernapasan, seperti pilek atau flu.
  • Kesulitan bernapas sehingga menghambat aktivitas mereka untuk bermain atau berolahraga.
  • Sering terlihat kelelahan karena kurang tidur.

Tidak semua anak memiliki gejala asma yang sama karena gejala penyakit ini dapat bervariasi dari waktu ke waktu pada anak yang sama. Sebaiknya orangtua segera membawa anak periksa ke dokter ketika anak mengalami satu atau beberapa gejala yang sudah disebutkan di atas.

Semakin cepat asma anak terdiagnosis, maka pengobatannya akan semakin mudah. Hal ini pun dapat mencegah terjadinya komplikasi asma yang berbahaya di kemudian hari.

Beda gejala asma pada anak dengan orang dewasa

anak sering sakit demam

Sebenarnya penyakit asma yang dialami anak-anak sama dengan orang dewasa. Gejala yang dikeluhkan dan pengobatan untuk mengatasinya pun hampir sama.

Namun, anak-anak yang memiliki asma menghadapi masalah yang berbeda dibanding orang dewasa. Gejala asma yang dialami anak-anak sangat mirip dengan berbagai penyakit pernapasan lainnya. Sebut saja flu, batuk, dan sinusitis. Akibatnya, banyak orangtua menganggap  tidak menyadari kalau mereka terkena asma.

Padahal pengobatan yang tidak tepat membuat gejala asma semakin memburuk sehingga dapat memengaruhi kesehatan si kecil secara keseluruhan. Di samping itu, anak-anak yang punya asma juga cenderung memiliki gejala yang tidak teratur. Kadang-kadang alergen dapat memicu serangan asma, dan terkadang tidak.

Sementara pada orang dewasa gejalanya biasanya lebih konsisten, sehingga mereka membutuhkan pengobatan harian untuk mengendalikan gejala dan serangan asma supaya tidak mudah kambuh.

Mendiagnosis asma pada anak

sindrom tourette adalah

Mendiagnosis asma bisa dibilang gampang-gampang susah terutama pada anak bayi dan balita. Sebab, gejala asma seperti mengi dan batuk sangat umum pada anak-anak. Nah, ketimbang mengira-mengira sendiri, ada baiknya segera bawa anak ke dokter spesialis anak bila Anda mencurigai gejala asma seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. 

Dokter spesialis anak akan memeriksa fisik si kecil dengan sebuah stetoskop yang diletakkan di dadanya. Pemeriksaan ini dilakukan untuk membantu dokter mendengarkan suara mengi atau suara tidak normal lainnya yang datang dari paru-paru si kecil. Bila anak sudah mampu berbicara, dokter biasanya akan menanyakan seputar gejala yang mereka alami. 

Anda bisa membantu memantapkan diagnosis dokter dengan cara memberi tahu perihal riwayat kesehatan anak. Beri tahu dokter juga tentang obat-obatan yang mungkin sedang rutin diminum oleh si kecil. Baik itu obat-obatan dengan resep dokter maupun tanpa resep seperti vitamin atau suplemen makanan.

Selain pemeriksaan fisik, dokter juga akan meminta si kecil untuk menjalani tes spirometri. Tes spirometri berfungsi untuk mengukur kapasitas dan fungsi paru-paru si kecil. Nantinya, anak akan diminta meniup sebuah alat bernama spirometer secepat dan sekuat yang mereka bisa.

Bila hasil pengukuran spirometri menunjukkan angka yang tinggi, itu artinya fungsi paru-paru anak bagus. Sementara jika angkanya rendah menandakan bahwa paru-paru anak tidak bekerja dengan baik. Bila diperlukan, dokter juga dapat meminta anak untuk menjalani tes laboratorium seperti tes darah untuk memantapkan diagnosis.

Pada prinsipnya, mendiagnosis asma pada anak, terutama bayi dan balita, harus lebih hati-hati dan teliti. Selain berbagai pemeriksaan yang sudah disebutkan tadi, dokter juga akan melihat pola pertumbuhan anak untuk membantu mengonfirmasi diagnosis asma. 

Pengobatan asma pada anak

asma pada anak

Pengobatan asma tidak bisa diputuskan sepihak oleh dokter. Anda sebagai orangtua juga perlu merancang pengobatan terbaik yang sesuai dengan kondisi si kecil. Tujuannya tentu supaya anak mendapatkan hasil pengobatan yang efektif dan optimal.

Biasanya dokter akan mengajak orangtua untuk menyusun rencana penanganan asma, alias action plan asthma. Rencana penanganan asma ini meliputi:

  • Daftar faktor pemicu asma yang dimiliki anak.
  • Gejala awal asma yang perlu ortu waspadai.
  • Tanda anak membutuhkan perawatan medis segera.
  • Yang harus dilakukan ortu saat asma anak kambuh.
  • Jenis obat-obatan yang harus diminum anak, termasuk dosis dan kapan harus mengonsumsinya.
  • Cara menggunakan alat bantu pernapasan seperti inhaler atau nebulizer. Entah itu inhaler atau nebulizer, keduanya sama-sama berfungsi untuk mengendalikan gejala serta meredakan serangan asma yang kambuh.

Rencana penanganan asma juga menghimpun instruksi lainnya supaya kondisi si kecil tetap fit dan bugar. Misalnya, dokter akan menganjurkan orangtua untuk mengatur pola makan anak. Kenapa pola makan anak harus diatur?

Faktanya, makanan yang dimakan anak akan memengaruhi bagaimana tubuh mereka bekerja. Makanan yang digoreng dan berlemak tinggi dapat menyebabkan peradangan pada tubuh, termasuk pada saluran pernapasan.

Itu sebabnya, dokter sering kali mewanti-wanti orangtua untuk lebih banyak memberikan makanan sehat ketimbang makanan cepat saji atau gorengan. Selain membantu mengendalikan asma, mengonsumsi makanan yang sehat juga dapat meningkatkan kesehatan tubuh anak secara menyeluruh.

Bila anak juga punya riwayat alergi, dokter mungkin juga akan memberikan obat-obatan alergi sebagai tambahan dari pengobatan asma. Seperti yang kita tahu, alergi dan asma saling berkaitan satu sama lain. Sering kali reaksi alergi memicu sejumlah gejala asma mulai dari yang ringan hingga parah.

Maka itu, bila alergi yang dimiliki anak tidak terkontrol dengan baik, maka anak akan lebih rentan mengalami kekambuhan asma. Dokter dapat meresepkan obat alergi dalam bentuk obat minum maupun suntikan.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca