Hal Yang Perlu Anda Ketahui Seputar Tuberkulosis (TB) Ekstra Paru

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Tuberkulosis atau TB adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Peradangan akibat infeksi biasanya bermula di paru-paru, sehingga kondisi ini sering disebut dengan TB paru. Beberapa orang menyebutnya TBC saja. Namun, nyatanya, infeksi M. tuberculosis juga dapat menyebar ke organ tubuh selain paru-paru, seperti kelenjar getah bening (limfa), tulang, ataupun usus. Kondisi inilah yang dinamakan dengan TB ekstra paru, atau TB yang terjadi di luar paru.

Apa itu TB ekstra paru?

TB ekstra paru, atau TB di luar paru, adalah kondisi di mana infeksi bakteri M. tuberculosis telah menyebar ke jaringan dan organ tubuh selain paru-paru. Organ yang dapat terinfeksi bakteri penyebab TBC adalah kelenjar limpa, selaput otak, sendi, ginjal, tulang, kulit, bahkan alat kelamin.

Tanda-tanda dan gejala TBC di luar paru umumnya bervariasi, tergantung organ tubuh mana yang terdampak. Meski begitu, ciri utama yang biasanya muncul adalah menurunnya kondisi fisik secara bertahap.

Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 20-25% kasus tuberkulosis terjadi di luar paru, sehingga dapat dikategorikan sebagai TB ekstra paru. TB jenis ini dapat terjadi pada penderita usia berapa pun.  Anak-anak serta orang dewasa yang memiliki sistem imun lemah karena penyakit tertentu, seperti diabetes dan HIV/AIDS lebih berisiko mengalami TB ekstra paru.

Apa saja jenis-jenis TB ekstra paru?

Berikut adalah jenis-jenis dari TB ekstra paru, beserta gejala-gejalanya:

1. Tuberkulosis milier

Disebut juga dengan TB hematogen umum, TB milier terjadi ketika infeksi bakteri tuberkulosis menginfeksi banyak organ tubuh dalam satu waktu. Penyebaran ini biasanya terjadi secara hematogen, alias melalui darah.

Kondisi ini biasanya lebih sering ditemukan pada pasien penderita HIV, penyakit ginjal kronis, pernah menjalani prosedur transplantasi organ, serta sedang menjalani pengobatan anti-TNF untuk mengatasi rematik.

Organ-organ tubuh yang biasanya terkena tuberkulosis milier adalah hati, limpa, kelenjar getah bening, selaput otak, kelenjar adrenal, dan sumsum tulang belakang.

2. Tuberkulosis kelenjar getah bening

Jenis TB ekstra paru ini banyak ditemukan di negara-negara tertentu di Asia dan Afrika. Kelompok yang paling berisiko mengalami TBC kelenjar adalah penderita HIV/AIDS dan anak-anak.

Kondisi ini biasanya ditandai dengan adanya pembengkakan kelenjar getah bening di salah satu atau beberapa bagian tubuh. Mendiagnosis TB kelenjar getah bening cukup sulit, mengingat pembengkakan getah bening juga ditemukan pada kondisi kesehatan atau infeksi lainnya, seperti leukemia, limfoma, infeksi virus, toksoplasmosis, serta sifilis.

3. Tuberkulosis tulang dan sendi

Tuberkulosis yang terjadi di luar paru juga dapat memengaruhi tulang dan sendi. TBC tulang dan sendi umumnya terjadi pada anak-anak. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi tulang dan sendi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Terdapat 3 jenis TBC tulang dan sendi yang paling banyak terjadi, yaitu:

  • Arthritis
    Arthritis yang disebabkan oleh infeksi bakteri TB biasanya berupa monoarthritis kronis. Sendi yang umumnya terdampak adalah panggul, lutut, siku, dan pergelangan tangan.
  • Osteitis
    Osteitis adalah peradangan yang biasanya terjadi di tulang-tulang panjang, seperti kaki. Terkadang, kondisi ini muncul akibat arthritis yang tidak segera ditangani.
  • Spondilodisitis (TB tulang belakang atau penyakit Pott)
    TB ekstra paru yang terdapat di tulang belakang berpotensi mengakibatkan kerusakan serta cacat pada tulang belakang. Apabila tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat menyebabkan kelumpuhan.

4. Tuberkulosis saluran pencernaan

Bakteri M. tuberculosis dapat menyerang saluran pencernaan Anda. Namun, selain diakibatkan oleh infeksi TB paru yang bersifat aktif, kondisi ini juga dapat terjadi ketika penderita terpapar bakteri Mycobacterium bovis, atau menelan cairan yang terinfeksi M. tuberculosis.

Gejala dari kondisi ini cukup sulit dibedakan dengan kondisi kesehatan lainnya, yaitu:

  • Sakit perut
  • Perut kembung
  • Kelelahan
  • Demam
  • Berkeringat di malam hari
  • Berat badan menurun
  • Diare
  • Konstipasi
  • Darah pada feses

Komplikasi yang paling umum terjadi akibat penanganan TB saluran pencernaan yang tidak tepat adalah obstruksi atau penyumbatan usus. Orang-orang mengenal kondisi ini dengan TB usus.

5. Tuberkulosis meningitis

Meningitis yang disebabkan oleh tuberkulosis lebih umum ditemukan pada balita berusia di bawah 2 tahun, serta orang dewasa yang mengidap HIV/AIDS.

Beberapa tanda dan gejala yang umumnya muncul pada penderita TB ekstra paru jenis meningitis adalah:

  • Sakit kepala
  • Mudah marah
  • Demam
  • Kebingungan
  • Leher kaku
  • Lemah otot (hipotonia) pada balita
  • Fotofobia (sensitif terhadap cahaya)
  • Mual dan muntah

TB meningitis biasanya merupakan kondisi kesehatan yang berbahaya dan harus segera ditangani. Bila tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini berisiko mengakibatkan komplikasi saraf lainnya.

6. Tuberkulosis perikarditis

Infeksi TB yang menyerang perikardium disebut dengan tuberkulosis perikarditis. Perikardium adalah jaringan selaput yang menyelimuti jantung Anda.

Sedikit berbeda dengan TB ekstra paru lainnya, tuberkulosis perikarditis biasanya terjadi setelah terdapat infeksi bakteri M. tuberculosis di organ tubuh lainnya. Itu sebabnya, kondisi ini sering kali berhubungan dengan TB milier.

Jika tidak segera ditangani, TB perikarditis berpotensi memicu komplikasi pada jantung, seperti perikarditis konstriktif serta tamponade jantung.

7. Tuberkulosis kelamin dan saluran kencing

TB ekstra paru juga dapat terjadi di alat kelamin dan saluran kencing Anda. TBC pada alat kelamin biasanya disebut dengan tuberkulosis genitourinari.

Beberapa tanda dan gejala yang umumnya muncul adalah:

  • Sakit perut
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Lebih sering buang air kecil daripada biasanya, terutama di malam hari (nokturia)
  • Sakit di bagian punggung dan tulang rusuk
  • Pembengkakan testis
  • Terdapat sel darah merah di dalam urin

8. Tuberkulosis efusi pleura

TB efusi pleura biasanya tidak menimbulkan gejala-gejala apa pun, terutama jika jumlah cairan yang terdapat di pleura kurang dari 300 ml. Pleura adalah selaput pembungkus paru-paru. Namun, jika penumpukan cairan meningkat, penderita mungkin akan mengalami gejala sesak napas.

Selain itu, terdapat pula gejala-gejala lain yang dapat muncul, seperti:

  • Demam
  • Berat badan menurun drastis
  • Berkeringat di malam hari
  • Batuk berdahak

Jenis TB di luar paru ini lebih sering terjadi pada orang dewasa.

9. Tuberkulosis kulit

Infeksi bakteri tuberkulosis juga bisa masuk ke jaringan kulit dan menyebabkan cutaneous tuberculosis atau TB kulit. TB ekstra paru ini memiliki gejala berupa lesi yang membuat kulit melepuh dan bengkak, disebut juga dengan chancre. Bentuknya seperti benjolan yang berisi butiran nanah.

Gejala ini biasanya akan muncul di area lutut, siku, tangan, leher, dan kaki setelah 2-4 minggu bakteri menginfeksi jaringan kulit. Tingkat keparahan gejala bisa berbeda-beda untuk setiap orang tergantung dari kondisi sistem imunnya. Gejala lainnya dari TB ekstra paru yang menyerang kulit adalah:

  • Ruam berwarna ungu kecokelatan di sekitar lesi kulit
  • Rasa sakit pada bagian lesi kulit
  • Eritema atau ruam merah yang melebar pada kulit
  • Lesi kulit berlangsung bertahun-tahun

Apa penyebab TB ekstra paru?

Bakteri M. tuberculosis yang berada di dalam paru-paru dapat menyebar secara hematogen atau limfatik. Maksudnya, bakteri dapat menyebar lewat aliran darah atau pembuluh limfa (kelenjar getah bening) yang berada di seluruh tubuh.

Namun, infeksi juga bisa saja dapat langsung menyerang organ tubuh tertentu, tanpa perlu menyasar paru terlebih dulu.

Faktor-faktor risiko yang jadi penyebab infeksi TB ekstra paru meliputi:

  • Berusia anak-anak atau lansia
  • Berjenis kelamin wanita
  • Menderita HIV/AIDS
  • Mengidap penyakit ginjal kronis
  • Menderita diabetes melitus
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang buruk

Bagaimana cara mengobati TB ekstra paru?

TB ekstra paru umumnya didiagnosis dengan menggunakan rontgen dada, CT scan, MRI, atau USG. Selain itu, tim medis juga akan melakukan pemeriksaan TBC melalui cairan tubuh (darah, urine, cairan pleura, cairan perikardium, atau cairan pada sendi) serta biopsi dari jaringan tubuh yang kemungkinan terinfeksi.

Pengobatan untuk TB paru dan di luar paru tidak jauh berbeda. Sama halnya dengan TBC paru, TB ekstra paru juga dapat ditangani dengan pengobatan antituberkulosis.

Terdapat pula pilihan pengobatan anti-TB untuk menangani penyakit ini. Beberapa jenis obat TBC yang dapat digunakan adalah rifampicin, streptomycin, dan kanamycin. Namun, jenis pengobatan ini harus sesuai dengan resep dan aturan dokter, mengingat kemungkinan terdapat kondisi kesehatan lain yang membuat Anda tidak boleh sembarangan mengonsumsi obat antituberkulosis.

Jika Anda menderita TB meningitis atau perikarditis, dokter akan meresepkan obat kortikosteroid, seperti prednisolone, selama beberapa minggu ke depan bersamaan dengan antibiotik Anda. Penggunaan prednisolone dapat membantu mengurangi pembengkakan di area yang terinfeksi.

Prosedur bedah atau operasi sangat jarang diberikan pada penderita kondisi ini. Jika penderita memang harus menjalani operasi, biasanya hal tersebut dikarenakan TB ekstra paru telah mengakibatkan kerusakan organ dan komplikasi serius, seperti hidrosefalus, penyumbatan urin yang keluar dari ginjal, atau perikarditis konstriktif.

apa itu tbc dan cara menularnya

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Penyakit TB XDR, Bahaya dan Pengobatannya

Lebih fatal dari MDR, kondisi TB XDR bahkan tidak dapat diobati, alias kebal, dengan obat lini kedua. Bagaimana cara mencegah dan mengobatinya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Pernapasan, TBC 21 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit

Penyakit TBC Bisa Kambuh, Ini Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mencegahnya

Penyakit tuberkulosis (TBC) tidak hanya sulit diobati, tapi juga berisiko muncul kembali. Lalu, bagaimana cara mencegah agar TBC tidak kambuh?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Pernapasan, TBC 4 Januari 2020 . Waktu baca 6 menit

Jangan Sampai Pengobatan Gagal, Ini Cara Agar Taat Minum Obat TBC

Pasien TBC harus taat dan disiplin minum obat agar kesembuhannya optimal. Selain punya pengawas minum obat, ini tips dan cara minum obat tbc yang benar.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Pernapasan, TBC 9 November 2019 . Waktu baca 7 menit

4 Infeksi Menular Mematikan yang Paling Banyak Terjadi di Indonesia

Ada beberapa infeksi menular mematikan yang tersebar luas di Indonesia. Apa saja? Temukan info lengkap tentang penyakit menular mematikan di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Hidup Sehat, Fakta Unik 12 Juni 2019 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat alami tbc herbal atau tradisional

Berbagai Macam Pengobatan Alami untuk Mengatasi Gejala TBC

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 10 Juni 2020 . Waktu baca 8 menit
olahraga untuk pasien tuberkulosis

Bantu Masa Penyembuhan, Berikut Pilihan Olahraga Aman untuk Pasien TBC

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 24 April 2020 . Waktu baca 7 menit
perkembangan infeksi TB laten tuberkolosis

Mewaspadai TB Laten, Perlukah Melakukan Pengobatan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 31 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit
mencegah tbc

Tips Sederhana Terhindar dari Penyebaran dan Penularan TBC

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 24 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit