Efusi Pleura

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14 Agustus 2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu efusi pleura?

Efusi pleura adalah kondisi terjadinya penumpukan cairan di pleura, yaitu rongga yang terletak di antara paru-paru dan dinding dada. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh penyakit lain yang diderita pasien, seperti gagal jantung kongestif, pneumonia, dan emboli paru.

Pada keadaan normal, terdapat sedikit cairan pada pleura yang berfungsi sebagai pelumas, agar paru-paru dapat bergerak dengan mulus dan pernapasan menjadi lancar.

Apabila terdapat cairan berlebih pada pleura, hal tersebut dapat menyebabkan tekanan pada paru-paru dan mengakibatkan kesulitan bernapas.

Secara garis besar, efusi pleura dapat diklasifikasi menjadi dua, yaitu transudat (disebabkan oleh bocornya pembuluh darah) dan eksudat (cairan berasal dari peradangan pleura dan paru-paru). Kondisi ini pun bisa terjadi pada salah satu paru-paru (unilateral) dan kedua sisi paru-paru (bilateral).

Seberapa umum kondisi ini?

Efusi pleura adalah kondisi kesehatan yang sangat umum terjadi, dengan perkiraan sekitar 1 juta kasus yang terdiagnosis setiap tahunnya. Penderitanya juga berasal dari golongan usia berapa pun. Kondisi ini umumnya lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria.

Efusi pleura adalah kasus yang sangat serius dan dapat menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani. Journal of Pulmonary & Respiratory Medicine menyebutkan bahwa sebanyak 15% pasien yang didiagnosis dengan efusi pleura meninggal dalam waktu 30 hari.

Gejala dan Penyebab

Apa saja gejala dan penyebab efusi pleura?

Gejala efusi pleura biasanya bervariasi tergantung pada apa yang menjadi penyebab utamanya. Ada kalanya penumpukan cairan pada pleura tidak selalu berhubungan dengan paru-paru yang bermasalah.

Gejala umum dari efusi pleura adalah sebagai berikut:

  • Nyeri dada
  • Batuk kering
  • Demam
  • Sering cegukan
  • Kesulitan bernapas saat berbaring
  • Sesak napas

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Gejala-gejala efusi pleura yang perlu mendapatkan penanganan sesegera mungkin adalah nyeri di bagian dada dan kesulitan bernapas.

Namun, jika Anda merasa khawatir akan gejala-gejala lain yang Anda rasakan, segera konsultasikan dengan dokter atau tenaga medis profesional terdekat.

Penting untuk mengetahui bahwa tubuh masing-masing orang berbeda dan tentunya akan menunjukkan gejala-gejala yang bervariasi pula. Selalu konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang paling sesuai dengan kondisi kesehatan Anda.

Penyebab

Apa penyebab efusi pleura?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, efusi pleura ke dalam dua jenis, yaitu transudat dan eksudat. Keduanya dibagi berdasarkan organ tubuh mana yang menyebabkannya.

Dikutip dari Cleveland Clinic, berikut adalah penyakit-penyakit yang paling sering menyebabkan penumpukan cairan di pleura beserta gejalanya:

1. Efusi pleura transudat

Penumpukan cairan yang dikategorikan sebagai transudat disebabkan oleh cairan yang keluar dari pembuluh darah ke dalam rongga di pleura.

Cairan yang ditemukan pada efusi pleura transudat mengandung kadar protein dan asam laktat yang lebih rendah dibanding tipe eksudat.

Berikut adalah penyakit yang mungkin menyebabkan efusi pleura transudat:

Penyakit gagal jantung kongestif

Congestive heart failure (CHF) atau gagal jantung kongestif adalah kondisi di mana jantung tidak dapat memompa darah yang cukup ke seluruh tubuh. Hal ini dapat menyebabkan terganggunya proses pembentukan dan penyerapan cairan pada pleura.

Gejala-gejala efusi pleura akibat gagal jantung kongestif adalah batuk-batuk, napas pendek, mudah kelelahan, dan pembengkakan.

Sirosis hati

Penyakit sirosis hati juga dapat memicu terjadinya penumpukan cairan pada pleura. Kondisi ini disebut juga dengan hepatic hydrothorax.

Tanda-tanda yang akan timbul biasanya berupa batuk-batuk, hipoksia (kekurangan oksigen), nyeri dada, tidak enak badan (malaise), kelelahan, dan demam.

Sindrom nefrotik

Kondisi ini terjadi ketika ginjal mengeluarkan terlalu banyak protein dalam cairan tubuh. Hal ini dapat memengaruhi fungsi ginjal dan kadar cairan pada pleura.

Gejala yang ditunjukkan oleh penyakit ini adalah edema (pembengkakan) di mata dan kaki, urine berbusa, kehilangan nafsu makan, dan kelelahan.

2. Efusi pleura eksudat

Efusi pleura eksudat disebabkan oleh peradangan yang terjadi pada pleura. Jenis ini terjadi karena adanya masalah pada paru-paru, seperti:

Pneumonia

Pneumonia adalah infeksi yang menyerang salah satu atau kedua bagian paru-paru. Kondisi ini dapat menyebabkan cairan berkumpul di pleura.

Gejala-gejala pleura yang berkaitan dengan pneumonia adalah nyeri dada saat batuk atau bernapas, kelelahan, kebingungan, mual, demam, tubuh menggigil, dan sulit bernapas.

Limfoma

Limfoma adalah kanker yang menyerang sistem limfatik tubuh, seperti kelenjar getah bening, limpa, dan sumsum tulang belakang. Sel kanker dapat memengaruhi aliran dan produksi cairan pada pleura.

Penyakit ini dapat menunjukkan gejala-gejala seperti sesak napas, sakit dada, rasa tertekan di dada, dan sakit saat berbaring.

Emboli paru

Emboli paru adalah salah satu penyebab efusi pleura yang paling banyak ditemukan. Hal ini dipicu oleh meningkatnya cairan interstisial di paru-paru sebagai akibat dari iskemia atau pelepasan sitokin vasoaktif.

Gejala yang umumnya terasa adalah nyeri di bagian dada, napas pendek, rasa sesak di dada, batuk, dan demam.

Kanker paru

Menyerupai limfoma, sel kanker yang menyerang paru-paru dapat berakibat fatal pada produksi cairan di pleura.

Penumpukan cairan di pleura akibat kanker paru dapat memperlihatkan gejala-gejala seperti demam, malaise, dan rasa berat atau tertekan di dada.

Tuberkulosis (TBC)

Penyakit TBC dapat menimbulkan gejala-gejala efusi pleura, seperti berkeringat di malam hari, batuk darah, dan kehilangan berat badan.

Penyakit lainnya yang dapat menyebabkan efusi pleura adalah:

  • Rheumatoid arthritis
  • Sindrom Meigs
  • Lupus eritematosus sistemik
  • Uremia

Kemungkinan ada penyebab, tanda-tanda, dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya terkena kondisi ini?

Efusi pleura adalah kondisi medis yang dapat terjadi pada siapa saja. Namun, terdapat banyak faktor yang meningkatkan risiko terkena penyakit ini, mulai dari kesehatan, gaya hidup, hingga obat-obatan yang pernah dikonsumsi.

Faktor-faktor risiko yang dapat menjadi pemicu terjadinya efusi pleura adalah:

  • Aktif merokok
  • Minum minuman beralkohol
  • Pernah menderita penyakit atau kondisi-kondisi medis yang telah disebutkan di atas
  • Pernah menderita tekanan darah tinggi
  • Anda berjenis kelamin perempuan
  • Pernah menjalani prosedur dialisis peritoneal pada ginjal
  • Menjalani perawatan atau pengobatan kanker yang mempengaruhi bagaimana tubuh menahan cairan.

Diagnosis

Bagaimana kondisi ini didiagnosis?

Umumnya, efusi pleura dapat diketahui dari pemeriksaan di dokter. Dokter akan menanyakan riwayat penyakit dan gejala-gejala yang Anda alami.

Setelah itu, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop atau mengetuk dada Anda.

Efusi pleura membuat udara yang masuk ke dalam paru-paru jadi berkurang. Jika saat pemeriksaan dokter dapat mendengar suara mendecit atau bergesek, kemungkinan besar pleura pada paru-paru telah dipenuhi cairan.

Beberapa tes lainnya juga kemungkinan dilakukan oleh dokter untuk mengetahui seberapa banyak penumpukan cairan pada paru-paru, seperti:

1. Tes X-ray

Tes ini biasanya dilakukan untuk melihat apakah ada cairan di pleura. Apabila ada, dokter akan mengarahkan pasien untuk berbaring miring, tergantung bagian tubuh mana yang mengandung lebih banyak cairan.

2. Tes ultrasound (USG)

Tes USG juga dilakukan untuk melihat apakah cairan di pleura mengalir atau hanya berkumpul di satu titik.

3. CT scan

Tidak hanya untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai letak cairan, tes CT scan juga bertujuan untuk mengetahui penyebab-penyebab lain dari efusi.

4. Thoracentesis

Prosedur yang disebut analisis cairan pleura atau thoracentesis adalah memasukkan jarum tipis pada selaput pleura dan mengambil sampel cairan untuk diperiksa lebih lanjut.

Prosedur ini dapat menunjukkan apakah penumpukan cairan di pleura disebabkan oleh infeksi atau kondisi lainnya. Sampel cairan juga akan diuji untuk sel kanker dan kadar protein.

Dokter akan melakukan analisis kimiawi untuk membedakan jenis efusi, apakah termasuk tipe transudat atau eksudat. Biasanya, keduanya dapat dibedakan dengan mengukur kadar protein pada cairan dan membandingkannya dengan kadar protein pada darah.

Efusi pleura eksudat mengandung protein yang lebih tinggi dibanding transudat.

Selain protein, dokter juga akan mengecek kadar lactate dehydrogenase (LDH) atau asam laktat yang terkandung di cairan.

Dokter mungkin juga akan menganalisis dengan prosedur pemeriksaan darah lengkap (complete blood cell count) untuk mengetahui adanya sel tumor atau infeksi.

Berdasarkan hasil dari diagnosis di atas, dokter dapat menentukan penanganan seperti apa yang sesuai dengan kondisi Anda. Namun, ada kalanya pemeriksaan lebih lanjut diperlukan.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana pengobatan efusi pleura?

Pengobatan efusi pleura tergantung pada gejala dan penyebab yang dialami oleh pasien. Pada kasus efusi yang diakibatkan oleh penyakit seperti pneumonia dan gagal jantung, dokter akan meresepkan beberapa jenis obat-obatan.

Sering kali tidak perlu ada penanganan khusus untuk penumpukan cairan, karena cairan akan menghilang sendiri apabila penyebabnya telah diatasi. Namun, apabila efusi mengalami infeksi dan peradangan yang parah, prosedur operasi akan dilakukan untuk mengeluarkan cairan dan mencegah komplikasi.

Berikut adalah beberapa penanganan yang diberikan dokter untuk mengatasi efusi pleura:

1. Mengobati penyebab efusi pleura

Efusi pleura dapat disebabkan oleh berbagai macam jenis penyakit. Itu sebabnya, dokter akan berusaha untuk mengatasi penyebabnya. Beberapa pengobatan yang diberikan, antara lain:

  • Mengonsumsi antibiotik: Antibiotik biasanya akan diresepkan oleh dokter apabila kondisi ini disebabkan oleh penyakit, seperti pneumonia dan empiema.
  • Kemoterapi atau radioterapi: Jika penumpukan cairan pada pleura diakibatkan oleh penyakit, seperti kanker paru dan limfoma, dokter akan menjalankan prosedur kemoterapi dan radioterapi untuk mengurangi sel kanker.
  • Obat diuretik: Pemberian obat diuretik biasanya dilakukan apabila pasien mengidap penyakit yang berhubungan dengan jantung, seperti gagal jantung kongestif.

2. Mengatasi efusi pleura secara langsung

Apabila pengobatan untuk menangani penyebab-penyebab efusi ternyata tidak menunjukkan perubahan yang signifikan dan kondisi pleura semakin memburuk, dokter akan menyarankan tindakan yang langsung ditujukan pada penumpukan cairan, seperti prosedur bedah.

Beberapa di antaranya adalah:

  • Pleurodesis: Cairan khusus akan disuntikkan ke area membran dan menyebabkan peradangan ringan. Hal ini membantu mencegah cairan yang menumpuk bertambah banyak. Zat kimia yang sering disuntikkan adalah tetracycline, sterile talc dan bleomycin. Pleurodesis paling sering digunakan pada perawatan efusi berulang yang disebabkan oleh kanker.
  • Pemasangan drainase: Memasang drainase secara permanen adalah cara lain untuk membantu mengeluarkan cairan di pleura. Begitu cairan terbentuk, drainase dapat langsung mengeluarkannya dari rongga dada.
  • Pemasangan shunt: Mirip dengan pemasangan drainase, prosedur ini bertujuan untuk mengeluarkan cairan dari dada ke rongga perut.
  • Pleurektomi: Apabila seluruh prosedur di atas sudah dilakukan namun tidak menunjukkan keberhasilan, operasi pengangkatan pleura akan direkomendasikan.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi efusi pleura?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi efusi pleura:

1. Berhenti merokok

Apabila Anda aktif merokok, berhenti sesegera mungkin. Kandungan dan zat beracun dalam rokok hanya dapat mengakibatkan gejala-gejala efusi pleura semakin parah. Cara ini juga dapat membantu Anda menjaga kesehatan paru-paru secara umum.

2. Hindari minuman beralkohol

Alkohol dapat memengaruhi fungsi hati. Apabila hati mengalami kerusakan, Anda dapat berisiko mengalami kondisi hepatic hydrothorax yang berpengaruh pada penumpukan cairan di pleura.

Mengurangi, bahkan berhenti mengonsumsi alkohol sama sekali, adalah tindakan dan pencegahan terbaik agar gejala efusi pleura tidak muncul lagi.

3. Tidak melakukan aktivitas berat

Jika Anda positif memiliki penumpukan cairan pada pleura, sebaiknya hindari kegiatan-kegiatan yang terlalu ekstrem, seperti olahraga berat dan mengangkat beban berlebih.

4. Istirahat yang cukup

Dengan mengambil waktu yang cukup untuk beristirahat di sela-sela kesibukan Anda, Anda telah mengurangi kemungkinan munculnya gejala-gejala efusi pleura di lain waktu.

5. Makan makanan yang sehat

Mengganti menu makanan Anda sehari-hari dengan bahan-bahan bergizi seperti sayur dan buah-buahan akan memberikan perubahan yang signifikan pada kesehatan paru-paru, khususnya pleura.

6. Konsultasi dengan dokter

Jika Anda sedang menjalani perawatan kanker seperti kemoterapi dan radioaktif, atau Anda sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, diskusikan dengan dokter mengenai kemungkinan efek samping serta cara mengatasinya.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Beragam Komplikasi Pneumonia yang Perlu Diwaspadai

Pneumonia dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang mengancam jiwa. Meskipun begitu, pneumonia merupakan kondisi yang bisa dirawat hingga sembuh.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Pernapasan, Pneumonia 27 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit

Kena Flu Saat Puasa Itu Baik! Kok Bisa? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Menyebalkan memang jika terkena flu saat puasa. Namun, tahukah Anda jika kena flu saat puasa justru akan membuat tubuh lebih baik dan Anda cepat pulih?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Hari Raya, Ramadan 4 Mei 2020 . Waktu baca 3 menit

Mungkinkah Lupus Bisa Menimbulkan Komplikasi Pada Organ Paru?

Selain menyerang sendi dan kulit, lupus juga menimbulkan komplikasi pada organ lain, termasuk paru. Seperti apa gejala dan pengobatan yang perlu diketahui?

Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 8 November 2019 . Waktu baca 9 menit

Ragam Bahan Tradisional sebagai Obat Alami untuk Batuk Kering dan Berdahak

Selain obat warung, bahan juga alami bisa digunakan untuk meredakan batuk kering ataupun berdahak. Berikut beberapa obat batuk tradisional yang bisa dicoba.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Batuk, Kesehatan Pernapasan 24 Oktober 2019 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat yang aman untuk ibu menyusui

Jangan Sembarang Minum, Ini Daftar Pilihan Obat yang Aman untuk Ibu Menyusui

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 2 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit
mual saat hamil

Batuk Terus Bikin Lelah, Pelajari Teknik Batuk Efektif Berikut!

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 17 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
dada sakit saat batuk

Mengapa Dada Saya Terasa Sakit Saat Batuk?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 14 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
Batuk ke arah siku etika batuk

Etika Batuk yang Benar untuk Mencegah Penularan Penyakit

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 2 Juli 2020 . Waktu baca 7 menit