home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Tuberkulosis (TB) Milier

Definisi|Tanda-tanda & gejala|Penyebab|Faktor risiko|Diagnosis & Pengobatan|Pencegahan
Tuberkulosis (TB) Milier

Definisi

Apa itu TB Milier?

Tuberkulosis (TB) milier adalah jenis dari tuberkulosis (TBC) yang terjadi akibat penyebaran bakteri Mycobacterium tuberculosis dalam jumlah besar ke setiap organ tubuh. TB milier merupakan salah satu jenis TB ekstra paru yaitu kondisi saat bakteri tuberkulosis menyerang organ tubuh selain paru-paru.

Penyakit ini ditandai dengan keberadaan nodul atau bercak kecil sebesar 1-5 mm pada organ-organ yang terinfeksi.

Nama TB milier berasal dari pola yang terlihat pada hasil rontgen dada dengan banyaknya bercak kecil yang menyebar di seluruh paru-paru. Bercak-bercak tersebut terlihat seperti biji millet yang kemudian memunculkan istilah “milier”. TB jenis ini bisa memengaruhi organ apa pun, termasuk paru-paru, hati, dan kelenjar getah bening.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Kondisi ini ditemukan sebanyak 2% dari kasus terlapor tuberkulosis dan termasuk dalam sekitar 20% seluruh kasus penyakit yang menyerang organ di luar paru. TB milier dapat diatasi dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada serta menghentikan infeksi bakteri penyebab tuberkulosis.

Penyakit ini dapat memengaruhi hampir semua orang. Namun, kasus kejadiannya paling sering ditemui pada orang-orang berusia lanjut atau anak-anak.

Selain itu, di antara 10% dan 30% orang dewasa dan 20- 40% anak-anak dengan TB milier juga mengalami tuberkulosis meningitis. Hal ini disebabkan oleh mikrobakteri yang menyebar ke otak dan ruang subarachnoid, menyebabkan tuberkulosis meningitis.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala TB milier?

Pasien dengan TB milier awalnya sering kali mengalami gejala tuberkulosis yang tidak spesifik dan sulit dibedakan dengan gejala penyakit lain, seperti demam, kelelahan, batuk, kehilangan nafsu makan, dan penurunan berat badan.

Namun seiring berkembangnya penyakit, disebutkan pada satu studi dalam jurnal Clinical Tuberculosis and Other Mycobacterial Diseases, di tahap akhir infeksi bakteri tuberkulosis pada organ-organ tubuh pada TB milier juga dapat menyebabkan munculnya gejala-gejala sebagai berikut:

  • Pembesaran hati atau hepatomegali (pembesaran organ hati)
  • Peradangan pankreas
  • Disfungsi berbagai organ dengan insufisiensi adreanal (kelenjar adrenal tidak menghasilkan cukup hormon steroid untuk mengatur fungsi organ)
  • TB milier juga terkadang dapat disertai dengan pneumotoraks (ukuran paru-paru yang mengempis)
  • Tekstur feses dapat menyerupai kondisi diare

Gejala-gejala TB milier lainnya yang juga bisa muncul meliputi demam, hiperkalsemia, tuberkel chorodial dan luka pada kulit.

Banyak pasien dapat mengalami demam yang berlangsung selama beberapa minggu dengan puncak harian pada suhu pagi hari.

Sedangkan hiperkalsemia merupakan kondisi saat kadar kalium pada darah lebih tinggi dari kadar normal. Hiperkalsemia berlangsung pada 16-51% kasus tuberkulosis.

Hiperkalsemia terjadi sebagai respons dari peningkatan aktivitas makrofag (bagian dari sel darah putih) pada tubuh hingga 1,25 dihydroxycholecalciferol (juga dikenal dengan calcitriol). Makrofag sendiri adalah sel darah putih di dalam sistem imun yang pertama kali melawan infeksi bakteri.

Kondisi ini meningkatkan kemampuan makrofag untuk membunuh bakteri, tapi kadar calcitriol yang lebih tinggi meningkatkan kadar kalsium, sehingga menyebabkan hiperkalsemia pada beberapa kasus.

Sementara chorodial tubercules menyebabkan luka pucat pada saraf mata, biasanya sering terjadi pada kasus TB milier pada anak-anak dengan TBC. Luka ini dapat muncul pada salah satu atau kedua mata dengan jumlah luka bervariasi pada pasien.

Chorodial tubercules mungkin merupakan gejala penting dari TB milier. Gejala khas ini sering kali mengonfirmasi dugaan diagnosis yang ditentukan dokter di awal.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala TB Milier di atas atau pertanyaan lainnya, segera berkonsultasilah dengan dokter.

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Agar mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, periksakan apapun gejala yang Anda alami ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Penyebab

Apa penyebab TB milier?

TB milier adalah jenis dari tuberkulosis yang disebabkan oleh diseminasi (penyebaran luas) bakteri Mycobacterium tuberculosis pada seluruh tubuh melalui peredaran darah. Persebaran bakteri melalui aliran darah ini disebut dengan hematogenous spread.

Walaupun para ahli telah mengetahui bahwa bakteri tuberkulosis menyebar dari sistem pernapasan ke aliran darah ataupun sistem limfatik (pembuluh limpa dan kelenjar getah bening) sehingga menyerang organ tubuh lain selain paru-paru, pemicu kondisi ini tidak diketahui secara pasti.

Salah satu dugaannya adalah infeksi tuberkulosis pada paru-paru mengakibatkan kerusakan pada lapisan luar sel-sel alveoli (kantung udara di bagian terluar paru), yang kemudian mengakibatkan penyebaran bakteri melalui pembuluh darah di paru-paru.

Bakteri yang masuk ke dalam pembuluh darah di paru-paru bergerak menuju bagian kanan jantung. Dari bagian kanan jantung, bakteri kemudian menjangkiti bagian paru-paru dalam di dekat jantung. Kondisi ini diperlihatkan dengan tampilan tipikal dari TB milier pada pemeriksaan rontgen dada.

Pergerakan bakteri selanjutnya akan mencapai bagian kiri jantung dan memasuki peredaran darah sistemik yang mengedarkan darah keluar jantung menuju organ lain. Dari sini, bakteri dapat berkembang dan menginfeksi organ tubuh lainnya selain paru-paru.

Bakteri yang menyerang alveoli juga dapat memasuki pembuluh limpa menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening.

Faktor risiko

Apa saja faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan TB milier?

TB milier adalah kondisi kesehatan yang dapat terjadi pada hampir setiap orang. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita penyakit ini.

Penting untuk Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda pasti akan terkena suatu penyakit atau kondisi kesehatan. Faktor risiko hanya merupakan sekumpulan kondisi yang dapat memperbesar peluang Anda untuk mengidap penyakit tertentu.

Berikut adalah faktor-faktor risiko penyebab TB milier, yaitu:

1. Tinggal atau bepergian ke daerah dengan kasus kejadian TBC yang tinggi

Apabila Anda bepergian atau tinggal di suatu daerah dengan kasus kejadian TBC yang cukup tinggi, risiko Anda untuk terjangkit TB milier pun meningkat.

Selain itu, apabila Anda bekerja di tempat dengan bakteri TBC yang banyak, seperti rumah sakit, klinik, penampungan, panti, atau pengungsian, peluang untuk terkena TB milier pun lebih besar.

2. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang buruk

Tidak hanya berada di lingkungan tertentu, beberapa orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk berpeluang lebih besar untuk menderita TBC dibanding dengan orang biasa.

Terdapat beberapa jenis penyakit yang dapat memengaruhi sistem imun tubuh Anda, yaitu penderita HIV/AIDS, diabetes, gagal ginjal, malnutrisi, serta rheumatoid arthritis.

Orang yang baru mengalami proses transplantasi organ tubuh juga memiliki kekebalan tubuh yang berkurang, sehingga juga lebih berisiko terkena penyakit TB milier.

Diagnosis & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana penyakit ini didiagnosis?

Tes untuk TB milier dilakukan serupa dengan tes untuk TB jenis lainnya, seperti tes kulit uji tuberkulin atau tes Mantoux.

Tes kulit umumnya digunakan untuk mendeteksi adanya infeksi bakteri tuberkulosis. Namun, tes ini dinilai kurang efektif untuk mendeteksi kondisi ini. Hal ini disebabkan oleh tingginya angka false negative. Hasil false negative dapat terjadi karena rendahnya jumlah bakteri pada TB jenis ini bila dibandingkan dengan jenis tuberkulosis lainnya.

Oleh karena itu, biasanya dokter akan meminta Anda menjalani beberapa pemeriksaan TBC lainnya agar mendapatkan hasil diagnosis untuk TB Milier yang lebih akurat, seperti:

  • X-ray dada
  • Kultur sputum atau dahak
  • Bronkoskopi
  • Biopsi paru-paru terbuka
  • CT/MRI scan pada kepala
  • Kultur darah
  • Fundoskopi
  • Elektrokardiografi

Tes darah tuberkulosis, atau disebut juga Interferon Gamma Release Assay (IGRA), adalah salah satu cara untuk mendiagnosis tuberkulosis milier. Tes darah dilakukan untuk mengetahui bagaimana sistem imun tubuh Anda merespon bakteri penyebab TBC.

Terdapat dua jenis IGRA yang sudah disetujui dan sesuai dengan standar U.S. Food and Drug Administration (FDA), yaitu QuantiFERON®–TB Gold In-Tube test (QFT-GIT) dan T-SPOT® TB test (T-Spot).

Bagaimana mengobati TB milier?

Dokter biasanya akan menangani tuberkulosis dengan kombinasi beberapa jenis obat TBC, seperti:

  • Isoniazid (INH),
  • Streptomycin dan ethambutol (Myambutol)
  • Rifampicin (Rifadin, Rimactane)
  • Pyrazinamide (pms-Pyrazinamide, Tebrazid)

Obat-obatan ini biasanya disebut juga dengan pengobatan lini pertama, atau yang diberikan pertama kali sebagai pilihan pengobatan TBC.

Pengobatan umumnya berlangsung selama 6-12 bulan. Penting untuk Anda ketahui bahwa obat-obatan tersebut harus Anda minum obat TBC sesuai dengan aturan dari dokter, dan pastikan Anda meminum obat sampai habis. Hal ini untuk mencegah terjadinya resistensi obat, di mana bakteri tidak akan merespon obat-obatan.

Jika ternyata resistensi antibiotik TBC tetap terjadi, dokter akan memberikan obat-obatan lini kedua yang meliputi:

  • Ethionamide (Trecator-SC)
  • Moxifloxacin (Avelox)
  • Levofloxacin (Levaquin)
  • Cycloserine (Seromycin)
  • Kanamycin (Kantrex)

Obat-obatan lini kedua akan menimbulkan efek samping obat TBC lebih banyak dibanding dengan pengobatan lini pertama. Apabila ditemukan selama pengobatan diketahui pasien juga mengalami TB milier yang menyerang otak sehingga menyebabkan meningitis, perawatan bisa diperpanjang hingga 12 bulan.

Efek samping pengobatan TB milier yang umum dialami pasien meliputi peradangan pada hati jika pasien mengonsumsi pyrazinamide, rifampicin, dan isoniazid.

Pencegahan

Apa saja cara untuk mencegah TB milier?

Cara paling efektif untuk mencegah penyakit TB milier adalah dengan suntik vaksinasi. Vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG) efektif dalam mencegah mengendalikan penularan TBC, terutama pada anak-anak.

Selain dengan pemberian vaksinasi, mencegah penyebaran TBC juga dapat dilakukan dengan pengobatan TBC untuk orang-orang yang terinfeksi bakteri TBC di dalam tubuhnya, baik penderita TB paru aktif maupun TB laten. Maka dari itu, penting untuk menyuntikkan vaksin ini sebagai langkah pencegahan untuk penyakit TBC dan jenis tuberkulosis lainnya.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Mayoclinic. (2020). Tuberculosis – Symptoms and causes. Retrieved 24 April 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tuberculosis/symptoms-causes/syc-20351250

CDC. (N.d.). Mycobacterium tuberculosis. Retrieved 24 April 2020, from https://emedicine.medscape.com/article/221777-overview

Medscape. (2020). Miliary Tuberculosis: Overview of Miliary Tuberculosis, Pathophysiology of Miliary TB, Etiology of Miliary TB. Retrieved 24 April 2020, from https://emedicine.medscape.com/article/221777-overview

Sharma, S., Mohan, A., & Sharma, A. (2016). Miliary tuberculosis: A new look at an old foe. Journal Of Clinical Tuberculosis And Other Mycobacterial Diseases, 3, 13-27. doi: 10.1016/j.jctube.2016.03.003

Mert, A., et al. (2017). Miliary tuberculosis: Epidemiologicaland clinical analysis of large-case series from moderate to low tuberculosis endemic Country. Medicine96(5), e5875. https://doi.org/10.1097/MD.0000000000005875

Yancey, D. (2008). Tubeculosis. Minneapolis: Twenty-First Century Medical Library

Irianti, T., Kusumaningtyas, R. A., Kuswandi, & Yasin, N.M. ( 2016). Mengenal Anti-Tuberkulosis. Yogyakarta.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Fidhia Kemala
Tanggal diperbarui 12/03/2016
x