Mengenal Hipoksia, Kondisi yang Sering Dialami Orang dengan PPOK

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Orang dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) biasanya akan mengalami beberapa gangguan pernapasan karena penyakitnya itu. Salah satu kondisi yang umum dialami oleh orang dengan PPOK adalah hipoksia. Apakah hipoksia itu? Dan bagaimana cara mencegahnya?

PPOK dan hipoksia

Orang dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis biasanya memiliki kerusakan pada paru-parunya. Oleh karena kerusakan itu, salah satu masalah yang mereka alami adalah kesulitan dalam bernapas. PPOK merupakan sekelompok kondisi gangguan paru yang terdiri atas bronkitis kronis dan emfisema. Keduanya akan membatasi aliran udara yang masuk ke dalam tubuh.

Terbatasnya aliran udara yang masuk ke dalam tubuh akan membuat paru-paru mengalami kesulitan dalam mengambil oksigen dari udara dan melepaskan karbondioksida. Akibatnya, oksigen yang masuk ke dalam tubuh menjadi lebih sedikit. Keadaan ini dapat membawa risiko hipoksia.

Hipoksia adalah suatu kondisi kurangnya asupan oksigen bagi sel dan jaringan tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan sejumlah komplikasi serius lainnya yang terkadang bisa mengancam nyawa. Itu sebabnya mengetaui tanda-tanda dan gejala hipoksia sangat penting agar dapat segera mengatasinya sebelum berkembang menjadi semakin membahayakan.

Gejala hipoksia

Cleveland Clinic mendefinisikan hipoksia sebagai kurangnya oksigen pada jaringan-jaringan tubuh. Oksigen memainkan banyak peran dalam perawatan fungsi tubuh. Satu-satunya cara mendapatkan oksigen ke dalam tubuh adalah dengan melalui paru-paru dalam proses pernapasan.

Ketika seseorang mengalami PPOK, secara otomatis fungsi parunya akan terganggu, sehingga sirkulasi oksigen juga terpengaruh. Akibatnya, asupan oksigen dalam darah akan kurang. Apabila tidak cepat disadari, keadaan ini akan membawa Anda pada kondisi yang lebih fatal lagi. Itu sebabnya, penting mengetahui gejala kondisi ini agar Anda dapat segera mengatasinya. Berikut adalah beberapa gejala umum dari hipoksia.

  • Sesak napas saat beristirahat
  • Sesak napas saat bangun tidur
  • Sesak napas parah setelah beraktivitas fisik
  • Perasaan tersedak
  • Mengi
  • Sering batuk
  • Kulit dan kuku yang berubah warna menjadi kebiruan

Hipoksia menyebabkan tubuh kekurangan oksigen karena organ vital pernapasan mengalami kerusakan. Kondisi ini akan menyebabkan kondisi lainnya yang disebut dengan hiperkapnia. Hiperkapnia terjai lantaran paru-paru menyimpan terlalu banyak karbondioksida akibat kerusakan yang terjadi membuatnya sulit melepaskan karbondioksida.

Saat gangguan pernapasan terjadi akibat rusaknya paru-paru, hal ini akan memengaruhi asupan oksigen dalam tumbuh. Kondisi tersebut berlaku dua arah. Artinya, tubuh kesulitan mendapatkan oksigen dan juga melepaskan karbondioksida akibat kerusakan yang terjadi.

Penumpukan karbondioksida di dalam tubuh akan menjadi sangat berbahaya bagi Anda. Saat seseorang memiliki kondisi ini, proses bernapas pun akan membutuhkan usaha ekstra dibandingkan orang normal.

Komplikasi hipoksia

Meskipun hipoksia karena PPOK membuat sulit bernapas, kondisi ini nyatanya tidak hanya berdampak pada paru-paru. Saat Anda tidak dapat menghirup cukup oksigen, darah Anda menjadi kekurangan komponennya yang sangat penting. Oksigen sangatlah diperlukan untuk menjalankan fungsi tubuh dasar. Contohnya, hipoksia bisa menyebabkan dampak serius pada kesehatan jantung dan otak Anda.

Kekurangan oksigen karena PPOK dapat menyebabkan suatu kondisi yang disebut hipoksia serebral. Jenis kondisi ini terjadi saat otak kekurangan oksigen meksipun mendapatkan cukup aliran darah. Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke, orang yang memiliki hipoksia serebral otaknya akan mulai mati dalam lima menit.

Hipoksia karena PPOK yang tidak diobati juga dapat menyebabkan, antara lain:

Terapi oksigen sebagai pengobatan untuk hipoksia

Memulihkan keadaan hipoksia artinya Anda haru memenuhi alias meningkatkan jumlah oksigen yang kurang. Metode umum yang digunakan untuk memasok kekurangan oksigen ke dalam tubuh adalah melalui terapi oksigen.

Terapi oksigen disebut juga dengan tambahan oksigen atau resep oksigen. Metode ini dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat memasok oksigen bagi paru-paru. Tambahan oksigen dapat mengurangi gejala sesak napas, meningkatkan oksigen dalam darah, dan mengurangi kerja jantung. Metode ini juga bisa menurunkan kondisi hiperkapnia.

Sebelum membuatkan Anda resep oksigen, dokter akan menjalankan beberapa tes untuk mengukur kadar oksigen dalam darah Anda. Terdapat beberapa jenis terapi oksigen yang dapat Anda lakukan bergantung pada kebutuhan Anda. Berikut adalah beberapa jenis terapi oksigen yang mungkin perlu Anda ketahui.

Terapi oksigen terkompresi

Terapi oksigen paling sering dilakukan menggunakan oksigen terkompresi. Jenis ini tersedia dalam bentuk gas dalam tabung penyimpanan, atau mungkin Anda lebih akrab dengan sebutan tabung oksigen. Pada alat ini akan terdapat meteran yang akan membantu Anda memantau jumlah oksigen yang Anda hirup. Oksigen nantinya akan bergerak melalui selang dari tabung dan memasuki tubuh melalui selang hidung, masker wajah, atau selang yang dipasang ke dalam batang tenggorok.

Terapi oksigen konsentrator

Selain kompresor, terapi oksigen juga tersedia dalam bentuk konsentrator. Oksigen konsentrator mengambil udara dari lingkungan, menyaring gas lainnya, kemudian menyimpan oksigen untuk digunakan sebagai terapi. Tidak seperti oksigen terkompresi, Anda tidak harus menggunakan tabung yang sebelumnya sudah terisi oksigen.

Terapi oksigen konsentrator berguna bagi orang yang selalu membutuhkan terapi oksigen di sepanjang waktu. Alat ini memerlukan pasokan listrik untuk bekerja, jadi alat ini mungkin tidak seserba guna oksigen terkompresi.

Terapi oksigen cair

Selain kedua metode di atas, pilihan lain yang tersisa adalah oksigen cair. Oksigen cair bisa berubah menjadi gas saat dikeluarkan dari wadahnya. Meskipun tidak membutuhkan tempat sebesar oksigen terkompresi, menurut National Heart, Lung, and Blood Institute, pilihan ini cenderung lebih mahal. Apalagi, oksigen cair juga bisa menguap. Hal ini tentu bisa saja menyebabkan persediaannya mungkin tidak akan bertahan selama bentuk terapi lainnya.

Selain terapi oksigen untuk mengobati hipoksia, Anda juga mungkin membutuhkan obat-obatan penunjang lainnya, yaitu:

  • Obat tekanan darah
  • Obat jantung
  • Inhaler
  • Bronkodilator untuk melegakan saluran napas
  • Steroid untuk mengatasi peradangan di saluran napas

Jangan lupa juga untuk menghindari pemicunya…

Mengobati penyakit namun tetap dekat dengan faktor pemicunya akan membuat pengobatan Anda mungkin menjadi sia-sia. Itu sebabnya, menghindari penyebab terjadinya PPOK juga dapat membantu Anda terhindar dari eksaserbasi PPOK ataupun kondisi hipoksia. Beberapa faktor pemicu yang sebaiknya Anda hindari adalah:

  • Merokok
  • Asap rokok
  • Polusi udara
  • Bahan kimia atau debu di udara

PPOK tidak dapat disembuhkan, jadi penting untuk mengobati kondisi ini dengan benar untuk mencegah komplikasi. Gagal napas, yang merupakan kemungkinan komplikasi, adalah penyebab utama dari kematian akibat PPOK.

Jika Anda menderita hipoksia karena PPOK, mungkin saja Anda akan membutuhkan pengobatan seumur hidup untuk mencegah komplikasi dari kekurangan oksigen. Mengobati rendahnya kadar oksigen dalam tubuh dapat benar-benar membantu Anda untuk lebih mudah bernapas dan memungkinkan Anda melakukan kegiatan sehari-hari. Terapi oksigen bahkan bisa membantu Anda tidur lebih nyenyak di malam hari. 

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Banyak gejala penyakit yang sering kali kita abaikan karena terkesan remeh. Padahal, jika dibiarkan justru efeknya bisa fatal.

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 03/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Sering Mimpi Buruk? Ini Cara Mengatasinya

Mimpi buruk bisa datang kapan saja di setiap malam Anda. Ini bisa sangat mengganggu Anda jika sering terjadi. Temukan cara mengatasi mimpi buruk di sini.

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Hidup Sehat, Tips Sehat 02/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Mengungkap Mitos dan Fakta Seputar Masalah Cacingan

Banyak mitos membuat infeksi cacing menjadi hal sepele. Cek fakta seputar cacingan yang berbahaya jika dibiarkan, seperti menghambat pertumbuhan anak.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Hidup Sehat, Tips Sehat 29/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Khasiat Mujarab Kacang Almond untuk Penderita Hipertensi

Camilan yang gurih memang menggoda. Namun, sebaiknya mulai ganti camilan Anda dengan kacang almond, terutama untuk penderita hipertensi.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hipertensi, Health Centers 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

manfaat bersepeda

Yuk, Ketahui Beragam Manfaat Bersepeda Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit
kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Waspada Komplikasi Akibat Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 07/07/2020 . Waktu baca 8 menit
anak disunat

Umur Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Disunat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 07/07/2020 . Waktu baca 4 menit