Apa itu pertusis (batuk rejan)?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto

Definisi

Apa itu pertusis (batuk rejan)?

Batuk rejan atau pertusis merupakan jenis batuk menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri pada saluran pernapasan. Batuk rejan dapat berlangsung selama 6 minggu sehingga dikenal juga dengan sebutan batuk seratus hari. Selain batuk berkepanjangan, batuk rejan juga ditandai dengan tarikan napas yang mengeluarkan suara bernada tinggi “whoop” atau mengi (berbunyi ngik ngik). Mulanya batuk berlangsung ringan, namun semakin hari batuk akan bertambah parah dan dapat disertai dengan beberapa gangguan kesehatan lainnya, seperti hidung tersumbat, mata berair, tenggorokan kering, dan demam. 

Pertusis dapat menular dengan cepat umumnya di antara anak-anak dan remaja sekaligus berpotensi memberikan dampak kesehatan yang berbahaya. Untungnya, pencegahan penularan penyakit ini bisa dilakukan semenjak dini, bahkan ketika anak masih di dalam kandungan. Pemberian vaksin seperti DtaP dan Tdap dapat dilakukan untuk melawan bakteri Bordetella pertussis yang menyebabkan batuk rejan.

Seberapa umum batuk rejan terjadi?

Bayi berumur 12 bulan dan anak-anak kecil berusia 1 sampai 4 tahun lebih berisiko mengalami pertusis. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat terdapat sekitar 30-50 juta kasus batuk rejan per tahunnya di seluruh dunia yang mana umumnya diderita oleh anak-anak. Akan tetapi, bayi yang masih berumur kurang dari 12 bulan belum bisa mendapatkan vaksin pertusis, sehingga lebih mungkin terkena batuk rejan apabila sang ibu semasa mengandung tidak diberikan vaksin.

Meskipun demikian, orang dewasa dengan usia berapapun juga memungkinkan terpapar bakteri yang menyebabkan batuk rejan. Penularan batuk rejan bisa berasal dari interaksi langsung dengan penderita ataupun akibat paparan bakteri yang berada di lingkungan sekitar. Bakteri dapat keluar melalui saluran hasil sekresi yang diproduksi saluran pernapasan penderita, seperti lendir atau ludah, sehingga saat penderita bersin atau batuk juga dapat menyebarkan bakteri Bordetella pertussis ke lingkungan sekitarnya. Penderita yang belum diberikan pengobatan paling riskan menularkan bakteri selama fase pertama yaitu selama 3 tiga minggu batuk berlangsung. 

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala pertusis (batuk rejan)?

Tanda-tanda gangguan kesehatan yang dapat mengindikasikan batuk rejan biasanya baru muncul sekitar 7-10 hari setelah terinfeksi oleh bakteri. Pada anak-anak gejala pertusis yang dialami bisa lebih spesifik seperti sesak napas saat tidur. Tahapan infeksi batuk rejan sendiri terdiri dari tiga fase yang mana setiap fasenya menunjukkan gejala yang berbeda-beda.

Fase 1

Tanda-tanda dan gejala dari batuk rejan pada tahap awal yang berlangsung selama 1-3 minggu biasanya ringan dan mirip dengan pilek biasa, seperti:

  • Hidung beringus
  • Hidung tersumbat
  • Mata merah dan berair
  • Demam
  • Batuk

Fase 2

Setelah lebih dari 2-3 minggu, tanda-tanda dan gejala batuk rejan akan memburuk. Fase kedua infeksi bakteri pertusis ini juga dikenal dengan fase paroksimal digambarkan dengan kondisi batuk yang semakin intensif terjadi dan terkadang tidak dapat berhenti selama 10 menit. Kondisi ini dapat berulang sampai 10-15 kali dalam sehari. Fase ini dapat berlangsung dalam 1-6 minggu.

Pada orang dewasa, selama periode batuk berlangsung suara napas yang meninggi atau mengi dapat terdengar lebih jelas. Produksi lendir pada saluran pernapasan juga bertambah banyak dan pekat sehingga batuk semakin sulit untuk berhenti. 

Sementara pada bayi, kondisi ini jarang terjadi, namun biasanya bayi tetap akan kesulitan untuk bernapas, bahkan dalam beberapa kasus bayi dapat berhenti bernapas sementara. Meski jarang ditemukan, fase kedua infeksi juga lebih berisiko mengancam keselamatan jiwa bayi dan anak-anak.

Berikut adalah gejala-gejala lain yang kerap muncul pada fase kedua infeksi bakteri yang menyebabkan batuk rejan:

  • Merasa mual
  • Wajah berubah pucat membiru atau memerah
  • Merasakan kelelahan ekstrem
  • Mengeluarkan suara tinggi melengking saat menarik napas

Fase 3

Fase akhir adalah fase penyembuhan yang umumnya berlangsung selama 3 bulan. Gangguan kesehatan yang dialami biasanya mulai berangsur membaik, frekuensi dan lamanya periode batuk mulai menurun. Meskipun pada fase ini penderita tidak lagi menularkan bakteri, mereka tetap berisiko terkena infeksi dari virus atau bakteri lain sehingga memperlambat proses penyembuhan.

Batuk rejan tidak memiliki karakteristik gejala yang spesifik yang bisa membedakannya dengan jenis batuk lain, apalagi tidak semua penderita pertusis mengeluarkan suara mengi saat batuk atau ketika kesulitan bernapas. Oleh sebab itu terkadang sulit menentukan bahwa batuk berkepanjangan yang diderita merupakan batuk rejan.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Meskipun kondisi batuk belum terlalu parah pada fase pertama, namun apabila Anda telah mengidentifikasi gejala yang muncul sebagai indikasi penyakit batuk rejan, tidak ada salahnya untuk memeriksakan diri atau anak ke dokter. 

Risiko kesehatan pada fase paroksismal lebih berbahaya, sehingga sebaiknya penderita segera meminta pertolongan medis untuk memulai proses penyembuhan. Selain itu, Anda juga harus segera menghubungi dokter bila Anda atau si kecil mengalami gejala-gejala berikut ini:

  • Muntah
  • Wajah menjadi kemerahan atau kebiruan
  • Kesulitan bernapas atau jeda pada pernapasan
  • Menarik napas dengan suara.

Penyebab

Apa penyebab batuk rejan?

Batuk rejan terjadi akibat infeksi pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Infeksi yang terjadi tepatnya berlangsung pada bagian trakea dan bronkus yaitu salah satu batang tenggorokan yang membawa udara masuk ke paru-paru. 

Sesaat setelah Bordetella pertussis berada di saluran pernapasan, bakteri tersebut mulai memperbanyak diri, memproduksi racun yang melumpuhkan kerja sel-sel yang bertugas untuk membersihkan lendir pada paru-paru, sehingga mengakibatkan penumpukan dahak pada saluran pernapasan. Kondisi ini selanjutnya merangsang timbulnya batuk.

Seiring bertambah parahnya infeksi yang disebabkan bakteri, maka semakin bertambah volume dahak, batuk pun akan berlangsung semakin sering. Penderita lama-kelamaan akan semakin sulit untuk bernapas karena sirkulasi udara dalam saluran pernapasan kian terhambat akibat dahak yang menumpuk. Udara yang tidak bisa sepenuhnya masuk sampai ke paru-paru akan menimbulkan suara mengi (whoop) saat penderita mulai kembali bernapas setelah batuk. 

Komplikasi

Komplikasi apa yang disebabkan batuk rejan?

Batuk rejan juga berpotensi mendatangkan masalah kesehatan lain yang lebih serius atau komplikasi baik pada penderita yang masih berusia anak-anak maupun dewasa. Masalah-masalah kesehatan yang umum disebabkan oleh batuk rejan pada orang dewasa meliputi:

  • Kesulitan untuk tidur di malam hari atau insomnia
  • Kesulitan bernapas saat tidur
  • Penurunan berat badan
  • Pneumonia
  • Infeksi mata

Komplikasi batuk rejan pada anak

Anak-anak sebenarnya lebih rentan mengalami komplikasi yang disebabkan oleh pertusis. Batuk yang terus-menerus berlangsung dalam beberapa menit dapat menyebabkan penurunan kerja pada paru-paru, si kecil bisa mengalami kelelahan bernapas (apnea) dan dalam kondisi yang lebih parah, paru-paru bisa mengalami hipoksia, yaitu kekurangan pasokan oksigen. 

Sekitar setengah dari jumlah bayi berusia kurang 1 tahun yang terinfeksi batuk pertusis harus menjalani perawatan rumah sakit akibat komplikasi pernapasan serius seperti pneumonia, atau kelainan otak. Selain itu, sebuah penelitian dari Denmark juga  mengungkap bahwa bayi yang terserang batuk rejan berisiko lebih tinggi untuk mengalami epilepsi pada masa kanak-kanaknya nanti.  

Salah satu yang paling fatal dan bisa mengancam keselamatan jiwa si kecil adalah batuk yang tak kunjung berhenti dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah sehingga terjadi pendarahan di dalam otak.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko untuk mengalami batuk rejan?

Pertusis merupakan jenis batuk yang sangat menular. Terdapat sejumlah kondisi yang bisa dengan mudah meningkatkan peluang seseorang untuk mengalami batuk rejan, seperti hilangnya kemampuan tubuh di saat dewasa untuk melawan bakteri pertusis karena efek vaksin sudah tidak lagi bekerja. Beberapa kondisi lain yang juga dapat menjadi faktor risiko terkena batuk rejan di antaranya:

  • Bayi yang berumur di bawah 12 bulan masih belum bisa menerima vaksin yang memiliki risiko kesehatan dan komplikasi yang tinggi hingga berakibat kematian.
  • Berinteraksi atau berdekatan dengan orang yang mengalami pertusis.
  • Saat sistem imunitas tubuh sedang menurun.
  • Ibu hamil.

Diagnosis

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana diagnosis batuk rejan?

Pada tahap awal, sangat wajar apabila dokter salah menentukan diagnosis karena dalam banyak kasus gejala yang muncul menyerupai gejala-gejala umum yang terjadi saat mengalami flu, demam, atau jenis batuk lainnya. Dokter biasanya akan mulai mencari pembanding dengan menanyakan separah apa batuk yang dialami atau mendengarkan bunyi batuk untuk mendeteksi adanya suara whoop atau mengi.

Untuk mengonfirmasi hasil diagnosis di awal,  dokter biasanya akan meminta Anda menjalani beberapa rangkaian  tes medis sebagai berikut:

  • Pemeriksaan laboratorium untuk sampel lendir yang diambil dari tenggorokan dan hidung untuk mengetahui ada atau tidaknya bakteri Bordetella pertussis.
  • Melakukan tes darah untuk mengetahui jumlah elemen sel darah, terutama sel darah putih. Jika jumlahnya tinggi, maka mengindikasikan terdapatnya beberapa infeksi.
  •  Mengambil gambar bagian dalam dada menggunakan X-ray untuk memeriksa adanya peradangan atau cairan pada paru-paru, yang dapat terjadi apabila batuk rejan mengakibatkan komplikasi seperti pneumonia dan peradangan paru lainnya.

Pengobatan

Bagaimana cara mengobati batuk rejan?

Pengobatan batuk rejan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin setidaknya pada 1-2 minggu pertama sebelum gejala yang lebih serius muncul. Semakin cepat pengobatan dilakukan, maka semakin cepat juga pemulihannya sekaligus menghindari terjadinya komplikasi yang lebih membahayakan kondisi kesehatan. 

Karena pertusis disebabkan oleh bakteri, maka pengobatan yang tepat adalah menggunakan antibiotik, seperti azithromycin, clarithromycin, dan erythromycin. Antibiotik akan bekerja dengan efektif terutama saat infeksi masih berlangsung pada fase awal (2-3 minggu). Sangat penting untuk mengonsumsi antibiotik sesuai dengan dosis yang diberikan dokter karena berfungsi untuk meningkatkan kadar antibiotik di dalam darah untuk menghentikan infeksi yang disebabkan bakteri. 

Selain antibiotik, biasanya dokter juga memberikan obat yang mengandung corticosteroid. Obat ini mengandung hormon steroids yang dapat membantu mereduksi infeksi yang terjadi di jalur udara. 

Obat over-the-counter (OTC) atau obat apotek tidak direkomendasikan untuk meminimalisir faktor penyebab terjadinya batuk rejan karena tidak dapat bekerja efektif melawan bakteri pertusis. Pengobatan jalan di rumah sakit perlu dilakukan terhadap anak-anak yang mengalami penyakit komplikasi seperti pneumonia akibat batuk rejan. 

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi batuk rejan?

Proses pemulihan bisa berlangsung semakin cepat apabila Anda juga melakukan upaya-upaya sebagai berikut ini:

  • Mengurangi aktivitas berat dan memperbanyak istirahat.
  • Waspadai tanda-tanda dehidrasi. Cegahlah dehidrasi dengan mencukupi kebutuhan cairan melalui minum air putih, mengonsumsi makanan berkuah, atau minum jus buah-buahan.
  • Sesuaikan porsi makan Anda untuk mencegah muntah setelah batuk. Bila perlu, bagi porsi makan Anda ke dalam beberapa porsi yang lebih kecil tapi sering.
  • Membersihkan udara di dalam ruangan dengan menggunakan humidifier guna mengeliminasi pemicu batuk, seperti polusi, asap rokok, dan senyawa kimia.
  • Cegah penularan penyakit dengan rutin mencuci tangan dan mengenakan masker saat bersama orang lain.

Pencegahan

Vaksin DTap dan Tdap

Batuk rejan memang dapat menginfeksi siapa saja. Akan tetapi, anak-anak sebagai kelompok usia yang paling rentan lebih berisiko mengalami komplikasi yang membahayakan kondisi kesehatan. Oleh sebab itu, sebaiknya pencegahan sejak dini dilakukan melalui pemberian vaksin. 

Pada bayi biasanya akan diberikan vaksin DTap yang juga bisa mencegah penyakit difteri dan tetanus. Imunisasi lanjutan juga sebaiknya dilakukan pada saat anak berusia 18 bulan dan 5 tahun. Sementara vaksin Tdap bisa diberikan untuk orang dewasa dan  anak-anak yang berumur 11 sampai 12 tahun. Ibu hamil yang usia kandungannya mencapai trimester ketiga juga bisa melakukan vaksin Tdap untuk dapat memberikan perlindungan kepada janinnya sejak sebelum dilahirkan. 

Vaksin DTaP efeknya tidak bertahan lama, penurunan imunitas tubuh menjadi penyebabnya. Maka dari itu, untuk menjaga kemampuan tubuh melawan bakteri penyebab pertusis sebaiknya saat si kecil sudah besar juga diberi vaksin Tdap. Lalu bagaimana dengan bayi yang terinfeksi terlebih dahulu? Apabila si kecil telah terinfeksi bakteri pertusis sebelum melakukan imunisasi, mereka tetap perlu mendapatkan vaksin DTap dan Tdap saat dewasa.

 

Secara umum kedua vaksin ini tidak berbahaya dan cenderung aman untuk kesehatan tubuh, namun tetap terdapat efek samping yang bisa muncul sementara, di antaranya

  • Bengkak pada bagian tubuh yang diinjeksi vaksin
  • Pusing
  • Mual
  • Diare
  • Muntah-muntah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Gatal-gatal

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda. Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

Sumber

Direview tanggal: September 22, 2016 | Terakhir Diedit: September 17, 2019

Yang juga perlu Anda baca