home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apa Bedanya Diare Akut dan Diare Kronis?

Apa Bedanya Diare Akut dan Diare Kronis?

Diare dapat menyerang siapa saja, dari yang muda hingga tua. Perut mulas, mual, serta bolak-balik buang air besar dengan feses cair adalah tanda diare yang utama. Nah, tahukah Anda bahwa diare memiliki klasifikasi penyakitnya tersendiri? Jenis diare umumnya dibedakan menjadi akut dan kronis berdasaran lama waktu sakitnya. Lantas, apa beda keduanya? Akan tetapi, jenisnya tidak hanya itu saja, lho!

Beda diare akut dan kronis

Tergantung dari berapa lama durasinya berlangsung, klasifikasi diare dibedakan menjadi dua yaitu diare akut dan kronis. Nah pada kebanyakan kasus, pengobatan diare akan disesuaikan dengan penyebab diare dan jenis yang dialami oleh orang tersebut.

Berikut ini cara membedakan antara diare akut dan kronis yang perlu Anda ketahui agar tidak salah penanganan.

1. Diare akut

anak diare saat liburan

Diare akut adalah gejala diare yang muncul tiba-tiba dan berlangsung selama kurang lebih 3 hari sampai sekitar seminggu. Bila digambarkan, Anda yang awalnya sehat langsung segera kena diare setelah terpapar oleh makanan atau kuman penyebab diare,

Diare akut itu sendiri kemudian terbagi lagi menjad dua jenis, yaitu:

Acute watery diarrhoea

Diare ini ditandai dengan feses cair yang berlangsung selama beberapa jam sampai beberapa hari, tapi tidak lebih dari dua minggu.

Selain feses encer, orang yang mengalami diare berair juga akan mengalami perut mulas, mual, maupun muntah.

Pada kebanyakan kasus, diare berair disebabkan oleh infeksi rotavirus pada bayi dan anak kecil atau infeksi norovirus pada orang dewasa.

Acute bloody diarrhoea

Diare akut berdarah disebut juga dengan disentri, yang disebabkan oleh infeksi bakteri Entamoeba histolytica atau Shigella bacillus pada saluran pencernaan.

Lama waktu penyakit berlangsung biasanya berkisar 1-3 hari, dengan kemunculan gejala berupa:

  • Perut mulas parah, mual, dan muntah
  • Demam menggigil
  • Feses berdarah dan berlendir
  • Tubuh kelelahan

Diare akut berdarah akibat bakteri Shigella umumnya lebih ringan dan dapat sembuh tanpa dalam beberapa hari. Sementara itu, infeksi bakteri Entamoeba dapat menembus dinding usus hingga merusak organ. Darah pada feses pada jenis diare akut ini disebabkan oleh adanya luka terbuka pada usus yang diakibatkan oleh serangan bakteri tersebut

Pengobatan diare tipe ini adalah dengan mencegah dehidrasi lewat tambahan asupan cairan, baik itu air putih, oralit, atau cairan infus. Dokter mungkin meresepkan antibiotik tunggal atau kombinasi dengan obat amoebicidal.

2. Diare kronis

penyebab diare

Jika diare akut berlangsung paling lama sekitar 1-2 minggu, diare kronis lebih lama. Gejala diare kronis dapat berlangsung hingga 4 minggu, bahkan lebih. Rerata sebuah penyakit dapat dikatakan kronis jika apabila sudah diderita dalam waktu yang lama atau berkembang secara perlahan-lahan.

Penyebab diare kronis pada umumnya adalah infeksi pencernaan jangka panjang atau masalah medis tertentu, seperti peradangan.

Jika penyebabnya tidak diketahui setelah melewati pemeriksaan dasar, dokter mungkin mengaitkannya dengan sindrom iritasi usus besar (IBS). Sindrom ini dapat menyebabkan gejala diare sekaligus sembelit, mual, kembung, dan mulas.

Diare kronis juga bisa disebabkan oleh penyakit Crohn atau kolitis ulserativa. Selain membuat feses jadi encer, dua kondisi tersebut dapat menimbulkan adanya darah pada feses disertai sakit perut. Diare kronis yang disebabkan oleh penyakit ini dikenal juga dengan diare eksudatif.

Penyebab lain dari diare kronis adalah penggunaan obat golongan NSAID, memiliki penyakit diabetes atau HIV, minum alkohol dan makan makanan gluten berlebihan.

Diare yang berlangsung lebih lama dari diare akut juga bisa disebabkan oleh makanan tertentu yang merangsang proses penyerapan di usus jadi lebih cepat. Contoh makanan yang cenderung menyebabkan diare kronis adalah susu dan makanan yang mengandung sorbitol atau fruktosa.

Diare persisten, jenis diare di antara akut dan kronis

diare berhari hari

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, diare persisten adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari, namun tidak lebih dari 4 minggu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa jenis diare ini berlangsung lebih lama ketimbang diare akut tapi lebih singkat dari yang kronis.

Diare persisten terjadi karena adanya infeksi, baik itu virus, bakteri, maupun parasit. Diare jenis ini menyebabkan feses encer berkepanjangan disertai dengan penurunan berat badan. Pada bayi dan anak, diare ini bisa menyebabkan malnutrisi (kekurangan gizi) bila tidak ditangani dengan tepat.

Menurut laporan jurnal Pediatric Gastroenterology Hepatology & Nutrition, diare yang berlangsung lebih lama dari diare akut ini terbagi lagi menjadi dua, yakni:

Diare osmotik

Tipe diare ini terjadi ketika makanan yang ada di usus tidak dapat diserap dengan baik. Akibatnya, cairan berlebihan terbuang bersama feses dan membuat feses jadi encer.

Diare osmotik dapat terjadi karena jenis makanan tertentu dan obat-obatan. Makanan yang menyebabkan diare persisten ini yaitu yang mengandung laktosa, pemanis buatan, seperti aspartam dan sakarin.

Sementara obat-obatan yang memicu diare osmotik adalah penggunaan antibiotik, obat hipertensi, dan obat pencahar yang mengandung bahan aktif seperti natrium fosfat, magnesium sulfat, atau magnesium fosfat.

Orang dengan tipe diare ini harus menghindari makanan dan obat pemicu. Dokter akan meresepkan obat diare medis untuk mengatasinya.

Diare sekretori

Jenis diare yang lebih lama dari diare akut ini disebabkan oleh gangguan sekresi pada usus kecil atau usus besar dalam menyerap elektrolit.

Saat kadar air cukup banyak dalam tubuh, air akan dibuang ke usus kecil yang terganggu fungsinya. Sekresi air (pembuangan air) pada usus ini akan melebihi kemampuan usus untuk menyerap, sehingga membuat feses jadi encer.

Selain infeksi bakteri E. coli, jenis diare persisten ini juga bisa disebabkan oleh produksi hormon tertentu akibat adanya hormon, penggunaan obat antidepresan, dan keracunan logam atau insektisida.

Ke dokter untuk cari tahu jenis diare yang Anda alami

Mengetahui penyebab diare, baik itu akut, kronis, maupun persisten akan membantu dokter menentukan pengobatan yang tepat untuk Anda.

Oleh karena itu, beberapa dokter mungkin akan merekomendasikan Anda untuk melakukan tes kesehatan, seperti tes darah, pemindaian gambar, serta mengamati sampel feses.

Jika Anda mengalami diare dengan gejala yang mengganggu, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Pada kasus parah bisa menyebabkan dehidrasi dan komplikasi parah lainnya.

Maka, diare tidak boleh dipandang sebelah mata. Semakin cepat mengunjungi dokter, semakin mudah pengobatan yang akan dilakukan dan mencegah diare semakin parah.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Images: Online Health Tips. [Accessed on January 31st, 2020]

WHO. (2017, May 2). Diarrhoeal disease. Retrieved from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/diarrhoeal-disease [Accessed on January 31st, 2020]

Felman, A. (n.d.). Dysentery: Treatment, symptoms, and causes. Retrieved from https://www.medicalnewstoday.com/articles/171193.php#causes [Accessed on January 31st, 2020]

Lee KS, Kang DS, Yu J, Chang YP, Park WS. How to do in persistent diarrhea of children?: concepts and treatments of chronic diarrheaPediatr Gastroenterol Hepatol Nutr. 2012;15(4):229–236. doi:10.5223/pghn.2012.15.4.229 [Accessed on January 31st, 2020]

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2016, November 1). Definition & Facts for Diarrhea. Retrieved from https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/diarrhea/definition-facts [Accessed on January 31st, 2020]

Higuera, V. (n.d.). Chronic Diarrhea: Treatment Options, Symptoms, and Causes. Retrieved from https://www.healthline.com/health/diarrhea/chronic-diarrhea#symptoms [Accessed on January 31st, 2020]

Frothingham, S. (n.d.). Osmotic Diarrhea: Symptoms, Causes, Treatments. Retrieved from https://www.healthline.com/health/osmotic-diarrhea [Accessed on January 31st, 2020]

Coloctate Edu. (n.d.). Pathophysiology of Diarrhea. Retrieved from http://www.vivo.colostate.edu/hbooks/pathphys/digestion/smallgut/diarrhea.html [Accessed on January 31st, 2020]

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Aprinda Puji
Tanggal diperbarui 09/04/2020
x