Berbeda dari kemampuan bahasa balita dan anak yang lebih tua, tangisan menjadi satu-satunya cara bayi berkomunikasi di awal kehidupannya. Namun, seiring berjalannya waktu, perkembangan bahasa bayi sudah mulai mengalami kemajuan.
Berbeda dari kemampuan bahasa balita dan anak yang lebih tua, tangisan menjadi satu-satunya cara bayi berkomunikasi di awal kehidupannya. Namun, seiring berjalannya waktu, perkembangan bahasa bayi sudah mulai mengalami kemajuan.

Meski masih cenderung menangis, tangisannya beragam dan mulai bisa dibedakan kapan ia lapar atau merasa bosan. Untuk lebih jelasnya, berikut perkembangan bahasa pada bayi yang perlu diketahui di tahun pertamanya.
Kemampuan bahasa bayi adalah keterampilan yang dimiliki bayi untuk berbicara atau berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini sejalan dengan perkembangan bayi sesuai usianya.
Sama seperti perkembangan motorik bayi, kemampuan sensorik, kecerdasan emosional, dan perkembangan kognitif bayi, perkembangan bahasa bayi juga berlangsung secara bertahap.
Usia awal ini memungkinkan otak bayi untuk menyerap bahasa sekaligus melatih kemampuan berkomunikasinya.
Hanya saja, perlu diketahui pula bahwa setiap anak ada kemungkinan akan berkembang dengan waktu yang berbeda-beda.
Itu sebabnya, perhatikan dan latih perkembangan kemampuan bahasa bayi guna memudahkannya dalam berkomunikasi.

Pada waktu bayi baru lahir, biasanya ia lebih banyak menangis sebagai cara mengekspresikan emosi yang ia rasakan.
Seiring perkembangan serta pertumbuhan bayi, ia akan mulai mengeluarkan ocehan-ocehan seperti ingin menyampaikan sesuatu setelah berusia 2—3 bulan pertama.
Perkembangan bahasa bayi akan terus berlanjut hingga bayi bisa bicara kata pertamanya, misalnya “mama” atau “papa”, yakni sekitar usia 9—12 bulan.
Mulai sejak itulah bayi akan lebih sering mengoceh guna menggambarkan apa yang ia lihat, dengar, rasakan, pikirkan, dan inginkan.
Berikut beberapa tahapan atau fase bicara pada bayi.
Bayi telah menangis bahkan sejak lahir. Ketika baru lahir, tangisan bayi menandakan bahwa paru-parunya terisi oleh udara.
Ternyata, tangisan merupakan salah satu refleks dari bayi terhadap lingkungan luarnya. Ada berbagai macam pula jenis tangisan bayi, yaitu berikut ini.
Mengoceh atau cooing pada bayi biasanya terjadi pada usia sekitar 1—2 bulan.
Tahap perkembangan bahasa bayi yang satu ini memperlihatkan bahwa suara dari ocehannya terbentuk dari suara udara yang diolah di tenggorokan.
Perlu diketahui apabila bayi biasanya mengoceh ketika merasa senang saat berada di sisi orang yang merawatnya.
Menariknya, di masa ini bayi sudah mulai belajar bahasa melalui mengenali kata-kata yang ia dengar dari orang di sekitarnya.
Celoteh merupakan hasil penyempurnaan dari ocehan. Celoteh sendiri adalah hasil penggabungan huruf mati dan huruf hidup, seperti “da”, “ma”, “uh”, dan “na”.
Bayi bisa mulai berceloteh sekitar usia 6 bulan. Seperti di perkembangan usia 4 bulan ke atas, bayi mulai bicara dengan meniru apa yang didengarnya.
Di usia ini juga, si Kecil belajar untuk mengucapkan kata-kata dengan vokal yang sama, seperti “bababa”, atau “yayaya”.
Meski upaya bayi untuk bicara terdengar masih asal dan belum masuk akal, tapi ia akan tetap mengulanginya berkali-kali.
Hal ini karena ia sedang bereksperimen menggunakan lidah, langit-langit mulut, serta pita suaranya.
Sebelum bisa berbicara dengan lancar, bayi sebenarnya telah memahami kata-kata yang belum bisa mereka ucapkan.
Seperti halnya ketika bayi sudah mampu mengetahui namanya sendiri pada perkembangan bayi usia 5 bulan atau 6 bulan.
Di usia 6 bulan juga biasanya bayi mulai tahu namanya sendiri dan merespons atau menengok ketika ada yang memanggilnya.
Memasuki usia 7 bulan, ucapan bayi mulai terdengar masuk akal. Pasalnya, ia sedang berusaha mencoba nada dan pola bicara seperti apa yang diucapkan orang-orang terdekatnya, walaupun masih belum tepat.
Kemampuan bicaranya juga akan semakin baik karena si Kecil tidak sekadar bicara, melainkan berusaha mengaitkan suatu makna dengan dirinya secara bertahap.
Contohnya, Anda akan mendengar kata pertamanya yang mudah diucapkan tapi mengandung makna, yakni “mama” atau “papa”.
Perkembangan bahasa bayi ini kemungkinan akan terjadi pada usia 8 bulan hingga usia 11 bulan.
Selanjutnya, akan terus muncul kata-kata menarik dengan pengucapan yang mudah dari si Kecil.
Proses ini akan berlanjut seterusnya seiring dengan bantuan orang di sekitarnya yang mengajaknya bicara.

Selama satu tahun sejak si Kecil lahir, pasti ada banyak sekali hal-hal baru yang ia coba pelajari, salah satunya adalah cara berkomunikasi.
Saat sang buah hati tersenyum, tertawa, atau sekadar mengoceh memanggil Anda dengan sebutan ‘mama’ atau ‘bubu’, itu adalah caranya sendiri untuk mengajak Anda mengobrol.
Melalui baby talk atau bahasa bayi tersebut, si Kecil berharap Anda akan menjawab ocehannya kembali dengan tersenyum, bernyanyi, atau membacakan buku.
Berkomunikasi dengan sang buah hati adalah fase penting pada masa-masa awal ia lahir dan selama tumbuh kembangnya.
Anda sebaiknya memusatkan perhatian pada perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasa si Kecil karena hal tersebut berhubungan dengan banyak hal.
Beberapa manfaat cara melatih bayi bicara mulai dari perkembangan kemampuan membaca, menulis, serta ikatan batin dengan si Kecil kelak di kemudian hari.
Agar tidak terlambat bicara dan kemampuan bahasa bayi bisa semakin optimal, Anda perlu mengasahnya sejak dini. Tak perlu bingung, beberapa tips berikut ini bisa Anda terapkan.
Begini tips melatih perkembangan kemampuan bahasa bayi usia 0—6 bulan.
Sementara untuk bayi usia 7—11 bulan, begini tips melatih kemampuan perkembangan bahasa si Kecil agar ia cepat bicara.
Jika ada tanda yang mengkhawatirkan dari perkembangan bahasa bayi Anda, jangan ragu untuk berkonsultasi kepada dokter.
Meskipun perkembangan bahasa pada bayi atau anak berbeda-beda, tapi memeriksakan anak ke dokter sedini mungkin adalah pencegahan terbaik untuk mengetahui apakah si Kecil mengalami kesulitan berbicara.