Sering Dianggap Sama, Padahal Vaksinasi dan Imunisasi Itu Berbeda, Lho!

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Mungkin banyak dari Anda yang masih belum begitu paham apa bedanya vaksinasi dan imunisasi, sehingga sering kali keduanya disamakan. Padahal ternyata, imunisasi dan vaksinasi itu berbeda. Apa perbedaannya? Simak ulasan berikut ini.

Apa perbedaan vaksinasi dan imunisasi?

Vaksinasi

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), vaksinasi adalah ‘alat’ yang diberikan untuk merangsang sistem kekebalan tubuh supaya kebal dari penyakit.

Sebenarnya, vaksin terbuat dari bibit penyakit (virus) yang telah dilemahkan, sehingga saat masuk ke dalam tubuh justru akan merangsang sistem imun dan tidak menimbulkan penyakit.

Vaksin biasanya dilakukan sebelum imunisasi diberikan, jadi metode ini dianggap sebagai langkah awal pencegahan suatu penyakit. Pemberian vaksin biasa dilakukan melalui jarum suntik tapi bisa juga diberikan lewat mulut.

Imunisasi

Menurut World Health Organization (WHO) imunisasi adalah cara untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh sehingga kebal akan virus. Biasanya, imunisasi juga digunakan untuk mencegah penularan virus penyakit dari orang ke orang.

Lalu, apa bedanya imunisasi dan vaksinasi? Sebenarnya, keduanya masuk ke dalam rangkaian proses pencegahan penyakit. Jadi, vaksin dan imunisasi akan diberikan secara bertahap untuk memperkuat antibodi secara perlahan.

Vaksin yang didapatkan pertama kali akan merangsang tubuh untuk membentuk antibodi terhadap suatu penyakit tertentu. Nah, selanjutnya imunisasi diberikan supaya antibodi yang telah terbentuk semakin kuat, sehingga kebal terhadap serangan penyakit.

Kenapa pemberian vaksinasi dan imunisasi itu penting?

Seperti yang sudah Anda ketahui, imunisasi dan vaksinasi sama-sama bertujuan untuk mencegah infeksi virus serta penyebaranya ke orang-orang. Itu sebabnya, kedua hal ini penting untuk diberikan bahkan sejak bayi baru lahir.

Bahkan vaksinasi dan imunisasi mampu memberikan perlindungan kepada semua orang, tak terkecuali orang-orang yang belum divaksin. Pasalnya, menurut Very Well Family, jika banyak orang yang kebal terhadap suatu penyakit karena sudah mendapat vaksinasi atau imunisasi, maka virus akan semakin sulit menyebar dan berkembang.

Saat ini kedua cara tersebut memang diandalkan untuk mencegah segala penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus. Pasalnya, imunisasi dan vaksinasi telah terbukti menurunkan kejadian penyakit infeksi seperti campak, tetanus, gondongan, cacar, difteri, polio, hepatitis, HPV, dan lain sebagainya.

Beberapa vaksin penyakit hanya perlu diberikan sekali, tapi harus tetap disertai dengan imunisasi sebagai “penguat” guna mempertahankan keberhasilan perlindungan terhadap penyakit.

Apakah imunisasi dan vaksinasi selalu efektif?

Meski begitu, pada beberapa kasus kerja vaksinasi dan imunisasi belum 100 persen efektif dalam pencegahan penyakit. Menurut CDC, keberhasilan imunisasi pada  anak bisa berbeda-beda yakni sebesar 90-100 persen tergantung kondisinya.

Bila suatu imunisasi atau vaksinasi tak berhasil 100 persen dalam mencegah penyakit, maka tubuh masih mungkin terserang virus tersebut. Namun, gejala penyakit yang dialami tentu akan jauh lebih ringan ketimbang dengan anak yang tak mendapatkan vaksin dan imunisasi sama sekali.

Apakah ada efek samping dari pemberian vaksin maupun imunisasi?

Pada dasarnya, efek samping yang ditimbulkan dari vaksinasi dan imunisasi jarang terjadi, tapi dalam kebanyakan kasus hal ini masih termasuk ringan jika efek yang timbul adalah seperti:

  • Kulit kemerahan, nyeri, serta pembengkakan ringan di daerah bekas suntikan
  • Demam ringan

Kondisi ini mungkin akan membuat anak merasa tidak nyaman, tapi biasanya akan hilang dalam beberapa hari. Beda halnya jika setelah divaksin anak malah mengalami reaksi yang serius seperti kesulitan bernapas serta demam tinggi yang jarang terjadi. Jika reaksi ini muncul sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter.

Serta jangan lupa, untuk selalu memberitahukan dokter jika anak Anda memiliki alergi terhadap komponen apapun dalam vaksin, agar dokter bisa memberikan penanganan yang tepat.

Baca Juga:

Sumber