home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Vaksin Dengue: Siapa yang Membutuhkan dan Apa Manfaatnya?

Apa itu vaksin dengue?|Bagaimana cara kerja vaksin dengue?|Siapa yang perlu mendapatkan vaksin dengue (DBD)?|Apa yang perlu orangtua perhatikan dalam pemberian vaksin DBD?
Vaksin Dengue: Siapa yang Membutuhkan dan Apa Manfaatnya?

Demam berdarah dengue (DBD) menjadi penyakit paling umum dan tersebar pada daerah subtropis maupun tropis seperti Indonesia. Mencegah penyakit ini cukup efektif melalui imunisasi. Apa itu vaksin dengue dan apakah ada efek samping imunisasi ini? Berikut penjelasan lengkap seputar imunisasi anak jenis dengue.

Apa itu vaksin dengue?

macam macam imunisasi pada bayi

Imunisasi dengue adalah vaksin untuk mencegah infeksi dengue sehingga mampu mengurangi risiko seorang anak terkena infeksi dengue yang berat.

Infeksi dengue yang berat memiliki dampak bisa terjadinya kebocoran plasma darah atau anak mengalami syok. Kondisi itulah yang dapat menyebabkan kematian pada beberapa kasus DBD.

Virus dengue merupakan penyebab penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan penularannya lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti. Vaksin mengandung virus DBD yang sudah mati.

Ini akan membantu sistem kekebalan tubuh anak untuk membentuk antibodi yang berfungsi untuk mengenali potensi zat asing dan melawan virus atau bakteri yang masuk ke tubuhnya.

Mengutip dari situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), virus dengue memiliki 4 serotipe yang berbeda: DEN-1, DEN-2, DEN-2, dan DEN-4.

Biasanya Anda dan si kecil hanya terkena satu serotipe virus saja pada satu kali infeksi.

Lewat imunisasi dengue, tubuh Anda dapat membangun kekebalan terhadap semua serotipe virus DBD. Pemberian vaksin ini sebanyak 3 kali dengan berjarak per 6 bulan.

Untuk mendapatkan vaksin dengue, Anda bisa datang langsung ke rumah sakit atau klinik kesehatan terdekat dan tanyakan ketersediaannya.

Sayangnya vaksin ini belum ada di Puskesmas karena belum masuk ke dalam program imunisasi nasional.

Saat ini harganya pun masih tergolong cukup mahal yaitu sekitar 1 juta rupiah per 1 kali suntik vaksin.

Bagaimana cara kerja vaksin dengue?

vaksin DBD untuk anak

Mengutip dari WHO, Sanofi Pasteur memproduksi vaksin dengue dengan nama Dengvaxia dan menjadi vaksin DBD yang pertama di dunia.

Selama 20 tahun, Dengvaxia telah menjalani 25 uji klinis yang tersebar di 15 negara. Sudah ada puluhan ribu peserta penelitian yang menjalani uji klinis terhadap vaksin dengue ini.

The New England Journal of Medicine menerbitkan penelitian pada tahun 2015 mengenai kemanjuran Dengvaxia.

Peneliti memberikan vaksin pada anak usia sekitar 9 tahun. Mereka menyimpulkan bahwa vaksin ini ampuh mencegah infeksi empat jenis virus dengue dengan tingkat keberhasilan hingga 66 persen.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa imunisasi DBD Dengvaxia dapat mengurangi kemungkinan pasien DBD untuk rawat inap (opname) di rumah sakit.

Selain itu, Dengvaxia bisa mencegah infeksi virus dengue bertambah parah pada pasien.

Bagaimana dengan izin edar vaksin DBD ini?

WHO sudah menyetujuivaksin Dengvaxia pada akhir tahun 2015. Meksiko menjadi negara pertama yang mengizinkan vaksin ini.

Tidak perlu khawatir, vaksin DBD ini telah selesai menjalani uji klinis fase III untuk menjamin keamanan dan kemanjurannya. Pada negara Asia Tenggara sendiri uji klinis fase III telah selesai pada 2017.

Indonesia, melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberikan izin edar Dengvaxia sejak September 2016.

Ini berarti Indonesia adalah negara kedua yang menyetujui penggunaan vaksin DBD.

Hingga tahun 2017, sudah ada total sebelas negara yang mengizinkan peredaran vaksin Dengvaxia.

Di antaranya adalah Filipina, Vietnam, Thailand, Malaysia, Brazil, Puerto Rico, Meksiko, Honduras, Singapura, dan Kolombia.

Siapa yang perlu mendapatkan vaksin dengue (DBD)?

vaksin demam berdarah dengue

Berdasarkan rekomendasi dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), anak-anak usia 9-16 tahun boleh menerima vaksin ini.

Anak usia 9-16 tahun akan mendapatkan vaksin ini sebanyak 3 kali dengan jarak pemberiannya tiap 6 bulan.

Pemberian imunisasi dengue sebanyak tiga kali dengan jarak enam bulan setiap imunisasi.

Vaksin dengue berbeda dengan vaksin hepatitis B dan vaksin MMR yang memiliki jadwal imunisasi. Tidak ada waktu khusus pemberian vaksin, asalkan anak sudah berusia 9 tahun.

Bagaimana bila anak terlambat imunisasi? Untuk anak-anak yang usianya kurang dari 9 tahun sebaiknya tidak mendapatkan vaksin DBD.

Ini karena vaksin DBD akan meningkatkan risiko untuk mendapatkan perawatan karena infeksi dengue.

Tidak hanya itu, vaksin justru bisa meningkatkan risiko mengalami dengue yang berat.

Anak-anak yang sudah pernah terinfeksi dengue sebaiknya menerima vaksin dengue (DBD). Pasalnya, anak tidak mungkin terinfeksi oleh keempat jenis virus dengue pada waktu yang bersamaan.

Masalahnya, apabila seorang anak menderita penyakit demam berdarah dengue oleh salah satu tipe, anak masih mungkin terinfeksi dengue oleh jenis virus dengue lainnya.

Tidak untuk anak yang belum pernah kena DBD

WHO meminta vaksin dengue merek Dengvaxia menjalani pengujian ulang karena menemukan beberapa masalah.

Kemudian Sanofi, selaku perusahaan pembuat Dengvaxia mengungkapkan hasil penelitiannya pada 29 November 2017.

Hasilnya, vaksin dengue akan efektif untuk anak yang pernah mengalami DBD, sedangkan jika belum pernah mengalami DBD ada dugaan akan memperparah.

Menurut Sanofi, bagi anak yang sebelumnya pernah kena DBD lalu mendapat vaksin, ia dapat mencegah terjadinya infeksi yang berulang.

Namun bagi anak yang belum pernah kena DBD, jika nanti ia mengalami DBD, efek samping imunisasi ini yaitu risiko anak mengalami infeksi lebih parah dan berat.

Bagaimana dengan Indonesia? Berdasarkan jurnal berjudul Keamanan Vaksin Dengue pada Anak yang terbit tahun 2019, IDAI mengarahkan dokter anak Indonesia untuk menunda pemberian vaksin dengue.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin edar vaksin dengue sejak 31 Agustus 2016 dan berlaku sampai tahun 2021.

Pemberian vaksin DBD perlu dengan catatan penting, yaitu hanya untuk anak yang sudah pernah terinfeksi virus dengue atau mengalami DBD.

Vaksin dengue berfungsi untuk mengurangi risiko keparahan demam berdarah dengue (DBD) pada anak usia 9-16 tahun yang sudah terinfeksi virus sebelumnya.

Apa yang perlu orangtua perhatikan dalam pemberian vaksin DBD?

vaksin DBD

Vaksin dengue memang bermanfaat untuk mencegah kemungkinan anak terserang DBD nantinya. Namun ada beberapa hal yang perlu orangtua perhatikan dalam pemberian imunisasi ini.

Vaksin adalah salah satu langkah pencegahan

Hal yang harus orangtua ingat adalah imunisasi hanya salah satu upaya untuk mencegah infeksi dengue.

Masih banyak kombinasi faktor-faktor lain yang bisa mengurangi penyebaran virus dengue.

Hal yang perlu orangtua lakukan untuk mengurangi sebaran nyamuk Aedes aegypti adalah perilaku hidup sehat dan bersih.

Indonesia sendiri merupakan negara kedua dengan jumlah kasus demam berdarah tertinggi setelah Brasil.

Selain lewat fogging dan prinsip 3M (Menutup-Menguras-Mengubur), pencegahan demam berdarah harus mulai dari dalam tubuh lewat perlindungan vaksin dengue.

Anak umur kurang dari 9 tahun tidak mendapat vaksin DBD

Pemberian vaksin vaksin dengue akan paling efektif sebagai pengendalian sekaligus obat demam berdarah pada anak berusia 9-16 tahun.

Namun jika anak Anda belum mencapai usia ini, sebaiknya jangan dulu berikan vaksin dengue.

Pasalnya, jika pemberian vaksin dengue terlalu dini dapat meningkatkan risiko anak menjalani rawat inap karena DBD yang membutuhkan waktu lama.

Selain itu, risiko untuk mengalami DBD berat juga lebih tinggi dan tentu membawa risiko bahaya dan komplikasinya tersendiri.

Hal yang terpenting, pastikan jika anak harus mendapatkan vaksin dengue, langkah ini adalah rekomendasi dari dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Satari, H., & Adilla, S. (2019). Keamanan Vaksin Dengue pada Anak. Retrieved 19 May 2020, from https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/download/1623/pdf

Dengue Vaccine | Dengue | CDC. (2020). Retrieved 19 May 2020, from https://www.cdc.gov/dengue/prevention/dengue-vaccine.html

Questions and Answers on Dengue Vaccines. (2020). Retrieved 19 May 2020, from https://www.who.int/immunization/research/development/dengue_q_and_a/en/

New dengue vaccine performs well in large trial, but safety remains key concern. (2019). Retrieved 19 May 2020, from https://www.sciencemag.org/news/2019/11/new-dengue-vaccine-performs-well-large-trial-safety-remains-key-concern

Sekilas tentang Vaksin Dengue. (2017). Retrieved 19 May 2020, from http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/sekilas-tentang-vaksin-dengue

Badan POM Menyetujui Izin Edar Vaksin Dengue di Indonesia | PIO Nas. (2020). Retrieved 20 May 2020, from http://pionas.pom.go.id/artikel/badan-pom-menyetujui-izin-edar-vaksin-dengue-di-indonesia

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Riska Herliafifah
Tanggal diperbarui 21/02/2018
x