Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Stenosis Pilorus, Penebalan Katup Antara Lambung dan Usus Kecil

Stenosis Pilorus, Penebalan Katup Antara Lambung dan Usus Kecil

Stenosis pilorus atau dikenal juga dengan nama infantile hypertrophic pyloric stenosis (IHPS) adalah kelainan anatomi lambung yang langka. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pada proses pencernaan pada bayi sehingga mengganggu tumbuh kembangnya. Apa saja gejala dan bagaimana mendiagnosa penyakit ini? Simak penjelasan berikut.

Apa itu stenosis pilorus?

gejala gangguan sistem pencernaan pada bayi

Melansir jurnal Stat Pearls, stenosis pilorus adalah kondisi tidak wajar yang ditandai dengan menebalnya otot pilorus.

Otot ini merupakan semacam katup yang berfungsi untuk membuka dan menutup jalan masuk makanan dari lambung menuju usus kecil.

Akibat adanya penebalan, aliran makanan menjadi terhalang sehingga sulit untuk memasuki usus kecil bayi.

Siapa yang bisa mengalami stenosis pilorus?

Stenosis pilorus biasanya dialami oleh bayi yang baru lahir dan jarang terjadi pada bayi berusia lebih dari 6 bulan. Namun kadang, kondisi ini bisa terjadi pada orang dewasa.

Mengutip jurnal Neonatal Network, stenosis pyloric merupakan kondisi yang langka. Tercatat hanya sekitar 2 hingga 5 kejadian dalam 1000 kelahiran bayi setiap tahunnya.

Selain itu, kondisi ini lebih banyak terjadi pada bayi laki-laki daripada bayi perempuan. Perbandingannya sekitar 4 banding 1.

Kondisi ini dipengaruhi oleh lebih dari satu gen dan bersifat menurun dalam keluarga.

Menurut data statistik, kondisi ini lebih sering terjadi pada bayi keturunan kulit putih, sedangkan cukup jarang pada ras Asia dan kulit hitam.

Stenosis pilorus biasanya terjadi pada bayi yang baru lahir beberapa minggu dan cukup jarang pada bayi usia 3 bulan ke atas.

Meski begitu, tidak menutup kemungkinan kondisi ini terjadi pada orang dewasa.

Melansir Journal of Community Hospital Internal Medicine Perspective, sejauh ini hanya sekitar 200-300 kejadian Adult Idiopathic hypertrophic pyloric stenosis (AIHPS) yang ditemukan pada orang dewasa.

Apa saja tanda dan gejala stenosis pilorus?

Stenosis pyloric membuat bayi muntah setelah disusui karena susu tidak bisa mengalir dari perut ke dalam usus kecil.

Melansir Mayo Clinic, gejala-gejala stenosis pilorus adalah sebagai berikut.

  • Mengalami muntah yang lebih parah dibanding gumoh biasa.
  • Gejala muntah ini biasanya dimulai ketika bayi memasuki usia 3 minggu.
  • Muntah-muntah akan semakin parah dari hari ke hari.
  • Bayi mengalami dehidrasi karena kehausan dan kekurangan cairan tubuh.
  • Bayi terlihat lesu, pucat, dan kelelahan.
  • Berat badan bayi tidak naik bahkan mengalami bayi penurunan.
  • Bayi sering kelaparan dan ingin segera makan setelah muntah.
  • Perut bayi terlihat bergerak seperti gelombang ombak setelah disusui dan sebelum muntah.
  • Bayi mengalami kesulitan buang air besar.
  • Bayi jarang buang air kecil atau buang air kecil sedikit.
  • Area perut dan dada bayi terasa sakit.
  • Bayi sering bersendawa.

Periksakanlah ke dokter segera bila si kecil mengalami tanda-tanda di atas sehingga ia bisa mendapatkan penanganan yang tepat.

Meskipun sangat jarang, kondisi ini bisa terjadi pada orang dewasa.

Melansir Journal of Community Hospital Internal Medicine Perspective, gejala-gejala stenosis pilorus pada orang dewasa adalah:

  • muntah ringan,
  • sakit perut,
  • perasaan kekenyangan setelah makan, atau
  • sakit perut.

Kemungkinan terdapat gejala dan tanda lain yang tidak disebutkan di atas.

Apabila Anda memiliki kekhawatiran mengenai gejala penyakit ini, silakan konsultasikan dengan dokter.

Apa penyebab dan faktor risiko stenosis pilorus?

bayi prematur

Stenosis pilorus pada bayi cukup umum, tetapi penyebabnya belum diketahui. Kemungkinan kondisi ini sangat dipengaruhi oleh gen.

Sementara ada orang dewasa, stenosis pilorus dapat disebabkan oleh tukak lambung, jaringan parut setelah operasi di perut, atau adanya tumor di dekat pilorus.

Adapun faktor-faktor yang membuat seorang anak lebih berisiko mengalami kondisi ini antara lain.

  • Anak‐anak yang lahir dari orangtua dengan stenosis pilorus lebih mungkin untuk mengalami kondisi ini.
  • Bayi laki-laki lebih rentan daripada perempuan, terutama bila ia memiliki keluarga dari pihak ibu yang mengidap stenosis pilorus.
  • Bayi yang berasal dari ras kulit putih (Eropa) lebih umum mengalami kondisi ini daripada dari ras kulit hitam dan Asia.
  • Bayi yang lahir prematur lebih rentan mengalami kondisi ini.
  • Bayi yang diberi antibiotik pada minggu‐minggu pertama kelahiran.
  • Bayi dari ibu yang diberi antibiotik tertentu pada masa-masa akhir kehamilan.

Meski begitu, apabila tidak memiliki faktor risiko bukan, berarti Anda atau bayi Anda tidak bisa terkena stenosis pilorus.

Faktor‐faktor tersebut hanya sebagai kondisi yang meningkatkan peluang terjadinya penyakit tersebut.

Apa pemeriksaan untuk mendiagnosis stenosis pyloric?

Kondisi stenosis pilorus biasanya dapat didiagnosis sebelum bayi berusia 6 bulan. Adapun pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain.

  • Memeriksa tanda-tanda dehidrasi seperti mulut dan kulit kering, kurang air mata saat menangis, dan jarang buang air kecil.
  • Memeriksa kondisi perut apakah mengalami bengkak.
  • Memeriksa perut bagian atas apakah terdapat benjolan kecil saat ditekan.

Bila perlu, dokter akan melakukan pemeriksaan tambahan seperti:

  • Tes barium swallow, yaitu semacam pemeriksaan rontgen khusus untuk melihat gambar lambung.
  • Pemeriksaan darah untuk mengetahui kondisi ketidakseimbangan cairan elektrolit.

Apa saja pilihan pengobatan untuk stenosis pilorus?

Untuk mengatasi stenosis pyloric pada bayi dan dewasa, dapat dilakukan dengan beberapa metode pengobatan berikut.

1. Operasi pembedahan

Pengobatan yang paling efektif untuk mengatasi stenosis pilorus pada bayi adalah dengan melakukan operasi pembedahan yang disebut dengan piloromiotomi.

Pembedahan bertujuan untuk memotong otot yang menebal di area pilorus (katup antara lambung dan usus halus) sehingga aliran makanan kembali lancar.

Selain pada bayi, orang dewasa perlu melakukan operasi mengobati kondisi stenosis pilorus. Baik bayi maupun orang dewasa biasanya akan membaik setelah menjalani operasi tersebut.

2. Endoskopi

Bila tindakan bedah sulit dilakukan karena kondisi bayi yang tidak memungkinkan untuk dibius total, dapat dilakukan dengan metode lain yaitu dengan endoscopic balloon dilation.

Dalam prosedur ini, dokter akan memasukkan semacam selang dengan balon di ujungnya melalui mulut hingga masuk ke perut. Kemudian balon dikembangkan agar membesar sehingga pilorus terbuka.

3. Pemberian makanan melalui selang

Pada bayi yang tidak bisa menjalani operasi, perlu dilakukan pemberian makanan melalui selang khusus.

Tujuannya agar kebutuhan nutrisi bayi tetap tercukupi sehingga tidak memperburuk kondisinya.

Caranya dengan memasang semacam selang yang disebut nasogastric tube (NGT) melalui hidung menuju lambung bayi.

Dokter akan memasukkan makanan yang sudah disiapkan secara khusus melalui selang tersebut.

4. Pemberian obat-obatan

Selain pemberian makanan melalui selang, bayi yang tidak bisa menjalani operasi akan diberikan obat-obatan khusus untuk membantu merelaksasi otot pilorus.

Hal ini bertujuan agar otot tersebut bisa lebih elastis dan membuka sehingga makanan dapat masuk ke usus dengan lebih lancar.

Apa saja yang perlu dilakukan setelah operasi stenosis pilorus?

inkubator bayi

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Setelah operasi, cairan infus akan tetap diberikan dan bayi baru diperbolehkan makan sekitar 6-8 jam setelah sadar dari efek bius.

Dokter juga akan memberikan obat semacam aspirin ringan untuk meredakan nyeri pasca operasi.

Selain itu, Anda perlu melakukan perawatan dan memantau kondisi si kecil pasca-operasi dengan cara sebagai berikut.

  • Menjaga kebersihan dan merawat luka bekas sayatan operasi.
  • Bila si kecil tampak tidak nyaman, kompreslah bagian luka tersebut dengan air hangat.
  • Segera hubungi dokter bila muncul bengkak, kemerahan, pendarahan, atau kekurangan cairan di sekitar lokasi sayatan.
  • Begitupun bila bayi mengalami demam setelah operasi, segeralah laporkan ke dokter.

Setelah operasi, umumnya kondisi bayi akan membaik. Namun, sekitar 8 dari 10 anak yang sudah menjalani operasi mungkin masih sering muntah selama beberapa hari setelahnya.

Hal ini merupakan kondisi yang wajar, tetapi sebaiknya menghubungi dokter bila si kecil mengalami gejala-gejala seperti:

  • muntah tidak berakhir setelah 5 hari pasca operasi atau semakin parah,
  • berat badan bayi menurun,
  • bayi terlihat terlalu lelah, atau
  • tidak buang air besar selama 1 sampai 2 hari.

Jangan lupa untuk rutin mengontrol kondisi si kecil ke dokter setelah melakukan operasi. Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk memperoleh solusi terbaik.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Encyclopedia, M., & infants, P. (2019). Pyloric stenosis in infants: MedlinePlus Medical Encyclopedia. Retrieved 20 September 2021, from https://medlineplus.gov/ency/article/000970.htm

Symptoms and causes – Mayo Clinic. Retrieved 20 September 2021, from http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pyloric-stenosis/home/ovc-20163855?p=1

Garfield, K., & Sergent, S. (2021). Pyloric Stenosis. Retrieved 20 September 2021, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK555931/

Galea, R., & Said, E. (2018). Infantile Hypertrophic Pyloric Stenosis: An Epidemiological Review. Neonatal Network, 37(4), 197-204. doi: 10.1891/0730-0832.37.4.197

Hassan, S., Mubarik, A., Muddassir, S., & Haq, F. (2018). Adult idiopathic hypertrophic pyloric stenosis – a common presentation with an uncommon diagnosis. Journal Of Community Hospital Internal Medicine Perspectives, 8(2), 64-67. doi: 10.1080/20009666.2018.1444905

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani Diperbarui 3 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita