Cacat Lahir pada Bayi: Ketahui Penyebab dan Cara Mencegahnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Bukan perkara mudah bagi para orangtua untuk menerima kenyataan bahwa sang bayi lahir tidak sempurna. Ada banyak faktor yang dapat menjadi penyebab bayi mengalami cacat saat lahir. Apa saja penyebab cacat lahir pada bayi dan bisakah dicegah?

Apa itu cacat lahir pada bayi?

kelainan kongenital cacat bawaan pada bayi baru lahir

Mengutip dari Kementerian Kesehatan RI, kelainan kongenital atau cacat lahir adalah kelainan struktural maupun fungsional yang dikenali sejak bayi baru lahir.

Kondisi kesehatan bayi yang mengalami ini biasanya tergantung dari organ atau bagian tubuh yang terlibat serta tingkat keparahan yang dimilikinya.

Menurut WHO, cacat lahir dialami sekitar 1 dari 33 bayi di dunia. Bahkan, ada sekitar 3,2 juta bayi yang lahir dalam kondisi tidak sempurna di seluruh dunia setiap tahunnya.

Sementara untuk di wilayah Asia Tenggara sendiri, cacat lahir atau kelainan kongenital menyumbang 90.000 angka kematian bagi bayi yang baru lahir.

Ada dua jenis kelainan bayi baru lahir, yakni cacat lahir struktural dan cacat lahir fungsional. Kelainan struktural adalah masalah yang berhubungan dengan bagian tubuh.

Ambil contoh kasusnya seperti bibir sumbing, cacat jantung, clubfoot, dan spina bifida. Clubfoot dan spina bifida merupakan beberapa jenis kelainan kongenital pada anggota badan bayi.

Sementara yang dikatakan kelainan bayi baru lahir fungsional adalah berhubungan dengan masalah pada fungsi atau sistem anggota tubuh untuk melakukan kerjanya.

Masalah ini sering menyebabkan ketidakmampuan dalam berkembang yang mencakup perkembangan sistem saraf atau masalah pada otak, seperti ditemukan pada penyandang autisme dan Down syndrome.

Apa saja penyebab bayi lahir cacat?

suplemen vitamin B3 mencegah keguguran dan bayi cacat lahir

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kondisi ini dapat diketahui sebelum kelahiran atau saat hamil, saat kelahiran, maupun setelah kelahiran.

Namun, sebagian besar ditemukan pada tahun pertama kehidupannya. Sementara untuk proses terjadinya bayi lahir cacat biasanya sudah mulai berjalan sekitar usia tiga bulan pertama atau kurang dari 12 minggu usia kehamilan.

Beberapa penyebab bayi lahir cacat adalah sebagai berikut:

1. Faktor genetik

Ibu atau ayah dapat menjadi pembawa kelainan genetik pada bayi mereka. Kelainan pada faktor genetik terjadi ketika satu atau lebih gen tidak bekerja dengan baik atau sebagian gen hilang.

Gen bisa menjadi cacat karena suatu mutasi atau perubahan yang dialami oleh gen tersebut.

Kelainan pada gen dapat terjadi pada saat pembuahan, yakni ketika sperma bertemu dengan sel telur, dan hal ini tidak dapat dicegah.

Perubahan atau mutasi pada satu atau lebih gen membuat mereka tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Begitu pula halnya ketika ada bagian gen yang hilang.

2. Masalah kromosom

Melansir dari National Institute of Health, dalam beberapa kasus tertentu, bayi lahir cacat bisa disebabkan karena adanya kromosom maupun bagian dari kromosom yang hilang.

Namun, ada juga penyebab bayi lahir cacat yang dikarenakan oleh kelebihan kromosom, contohnya pada Down syndrome.

3. Gaya hidup dan lingkungan

Bayi cacat lahir bisa terjadi karena faktor lingkungan yang terjadi saat kehamilan, termasuk penggunaan obat, merokok, dan minum alkohol saat kehamilan.

Faktor lainnya, seperti keracunan bahan kimia dan virus juga dapat meningkatkan faktor risiko bayi lahir cacat. Kehamilan di atas usia 35 tahun juga dapat meningkatkan risiko bayi lahir cacat.

Oleh karena itu, sebaiknya rencanakan kapan waktu yang paling baik bagi Anda untuk memiliki anak. Sebaiknya, jangan pada usia yang terlalu muda atau terlalu tua untuk hamil.

4. Infeksi

Ibu hamil yang terserang infeksi tertentu selama kehamilan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk melahirkan bayi dengan kelainan kongenital.

Sebagai contoh infeksi virus Zika pada ibu hamil bisa memicu mikrosefalus, kondisi saat ukuran otak dan lingkar kepala bayi lebih kecil ketimbang yang seharusnya.

5. Paparan obat dan bahan kimia

Paparan bahan kimia dan konsumsi obat-obatan tertentu juga menjadi satu dari penyebab kelahiran cacat pada bayi. Atas dasar itulah penting untuk selalu memerhatikan adanya kemungkinan terpapar bahan kimia saat berada di suatu tempat.

Anda juga perlu selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum minum obat-obatan saat sedang hamil.

6. Merokok dan minum alkohol saat hamil

Ada baiknya untuk menghindari minum alkohol saat Anda sedang hamil, bahkan dalam jumlah sedikit sekali pun.

Ini karena tidak ada jumlah pasti yang mengatakan alkohol masih aman diminum saat hamil.

Alkohol yang masuk ke aliran darah ibu hamil dapat mengalir pada bayi melalui tali pusat.

Akibatnya, alkohol berisiko menyebabkan bayi lahir dengan kelainan, keguguran, bayi lahir mati, hingga berbagai masalah lainnya.

Semua jenis alkohol sama-sama memiliki bahaya, termasuk anggur (wine) dan bir.

Sementara bahaya merokok selama kehamilan bukan hanya menyebabkan kelahiran cacat, tetapi juga mengakibatkan bayi lahir prematur, mengalami bibir sumbing, hingga kematian.

7. Ibu obesitas

Kondisi ibu yang obesitas atau berat badan berlebih juga menjadi salah satu penyebab kecacatan pada bayi baru lahir.

Jika sebelum hamil Anda mengalami berat badan kurang, berlebih, maupun obesitas, sebisa mungkin konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

Dokter biasanya akan membantu memberi saran agar Anda dapat mencapai berat badan ideal saat hamil nantinya sebagai cara mencegah agar bayi lahir dalam keadaan baik.

Apa faktor yang meningkatkan risiko cacat lahir pada bayi?

asfiksia pada bayi baru lahir

Selain dari penyebab genetik dan lingkungan, ada berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan kondisi cacat.

Berikut beberapa faktor risiko kelainan kongenital pada bayi baru lahir:

  • Ibu merokok saat hamil
  • Ibu minum alkohol saat hamil
  • Ibu minum obat-obatan tertentu saat hamil
  • Ibu hamil di usia tua, misalnya hamil di usia lebih dari 35 tahun
  • Ada anggota keluarga yang juga memiliki riwayat cacat lahir sebelumnya

Namun, perlu dipahami bahwa memiliki satu atau lebih dari risiko-risiko tersebut tidak langsung membuat Anda pasti akan melahirkan bayi dengan kelainan bawaan nantinya.

Bahkan, ibu hamil yang tidak memiliki satu atau beberapa risiko di atas bisa saja melahirkan bayi dengan kondisi cacat bawaan.

Bagaimana cara mendiagnosis cacat lahir pada bayi?

denyut jantung bayi baru lahir

Dokter dapat mendiagnosis cacat bawaan pada bayi di dalam kandungan dengan menggunakan alat ultrasound (USG).

Selain itu, pemeriksaan juga bisa dilakukan dengan tes darah dan tes amniosentesis (pengambilan sampel cairan ketuban).

Berbeda dengan pemeriksaan USG, tes darah dan amniosentesis pada ibu hamil biasanya dilakukan jika terdapat risiko tinggi.

Entah ibu berisiko tinggi karena faktor keturunan atau riwayat keluarga, usia saat hamil, dan lainnya.

Namun, dokter akan memastikan lebih jelas mengenai adanya kelainan kongenital (cacat lahir bawaan) pada bayi dengan melakukan pemeriksaan fisik.

Di sisi lain, pemeriksaan darah atau tes skrining bayi baru lahir juga dapat membantu dokter untuk mendiagnosis cacat bawaan atau kelainan kongenital pada bayi baru lahir bahkan sebelum gejalanya mulai muncul.

Dalam beberapa kasus, tes skrining kadang tidak menunjukkan bahwa bayi memiliki kelainan kongenital bawaan sampai akhirnya gejalanya muncul di kemudian hari.

Apa saja jenis cacat pada bayi baru lahir?

Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, ada berbagai macam kelainan yang bisa dialami bayi saat baru lahir.

 Kelainan kongenital pada bayi dibagi berdasarkan organ tubuhnya, seperti:

Retinopathy of Prematurity (ROP) adalah cacat mata bawaan lahir yang disebabkan oleh gangguan pembentukan pembuluh darah retina. Kondisi ini cenderung ditemukan pada bayi yang lahir prematur.

Sementara itu congenital dacryocystocele merupakan cacat mata bawaan yang terjadi akibat adanya sumbatan pada saluran nasolakrimal, yaitu saluran yang mengalirkan air mata ke dalam hidung.

Saluran tersebut berfungsi menguras air mata agar tidak menyebabkan mata menjadi terus-terusan berair pada kondisi normal.

Cara mencegah bayi lahir cacat

omega 6 untuk ibu hamil

Apa saja cara yang bisa ibu hamil lakukan dalam menjaga kehamilan untuk mencegah bayi lahir cacat? Berikut beragam hal yang perlu Anda perhatikan.

1. Menghindari diet

Jika diet yang Anda maksud selama hamil yakni untuk menurunkan berat badan, hal ini tidak dianjurkan.

Bahkan, sah-sah saja dan akan lebih baik jika berat badan bertambah selama masa kehamilan.

Ini karena janin di dalam kandungan membutuhkan asupan nutrisi yang berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan bayi

Ketika Anda dengan sengaja mengurangi porsi makan atau membatasi jenis makanan tertentu, cara ini justru akan mengurangi asupan nutrisi janin.

Padahal, 1000 hari pertama kehidupan merupakan masa emas bagi tumbuh kembang bayi.

Seribu hari pertama kehidupan ini mulai berlangsung sejak bayi berada di dalam kandungan sampai usianya genap dua tahun.

Akan tetapi, makan berlebihan juga tidak bagus karena berisiko membuat Anda mengalami berat badan berlebih dan obesitas saat hamil.

2. Sembarangan minum obat tanpa pengawasan dokter

Anda tak boleh sembarangan minum obat saat hamil. Beberapa obat dapat “terminum” oleh janin karena terserap ke dalam saluran plasenta.

Ambil contohnya yakni obat nyeri seperti aspirin dan ibuprofen. Konsumsi kedua obat tersebut pada ibu hamil harus sangat diperhatikan waktu dan dosis minumnya, terutama pada trimester pertama dan terakhir.

Melansir dari Mayo Clinic, konsumsi aspirin pada trimester pertama kehamilan dalam dosis tinggi dapat menyebabkan cacat bawaan.

Jika aspirin dosis tinggi diminum selama trimester ketiga kehamilan, hal ini berisiko mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah di jantung janin sehingga menimbulkan cacat jantung.

3. Hindari rokok dan alkohol

Cara lain untuk mencegah bayi lahir cacat yakni dengan menghindari minum alkohol dan merokok saat sedang hamil.

Selain mencegah cacat lahir pada bayi, upaya ini juga membantu menurunkan risiko terjadinya keguguran.

Anak yang lahir dari ibu perokok mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk memiliki mata juling alias strabismus.

Bayi yang ibunya merokok pada trimester pertama kehamilan lebih mungkin untuk memiliki cacat jantung dan paru saat kelahiran.

Merokok selama kehamilan juga dapat berdampak permanen pada fungsi otak anak, misalnya IQ rendah.

Selain itu, bahaya merokok saat hamil juga menyebabkan bayi lahir prematur, bibir sumbing, hingga kematian bayi.

Minum alkohol saat hamil juga dapat menyebabkan bayi lahir dengan fetal alcohol syndrome atau kondisi cacat lahir yang dapat berdampak permanen.

Bayi juga bisa mengalami kelainan bentuk wajah (kepala lebih kecil), bayi lahir mati, cacat fisik, dan kerusakan sistem saraf pusat.

4. Hindari kondisi tubuh yang terlalu panas

CDC menganjurkan ibu hamil untuk menghindari kondisi yang terlalu panas (overheating) dan mendapatkan penanganan segera saat sedang demam.

Hal ini dikarenakan berada dalam kondisi maupun suhu tubuh yang terlalu panas dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan cacat tabung saraf (anencephaly).

Oleh karena itu, ada baiknya segera obati demam dan hindari paparan suhu terlalu panas seperti berendam di bak mandi air panas.

5. Mendapatkan imunisasi saat hamil

Ada beberapa jenis imunisasi yang aman diberikan saat hamil bahkan direkomendasikan. Jenis imunisasi tersebut yakni vaksin flu dan vaksin Tdap (tetanus, difteri, dan aselular pertusis).

Pastikan Anda berkonsultasi lebih dulu dengan dokter untuk mengetahui vaksin mana yang disarankan selama kehamilan.

6. Penuhi kebutuhan asam folat

Ibu hamil sangat disarankan untuk memenuhi kebutuhan asam folat harian sebagai upaya untuk mencegah kelahiran cacat pada bayi, khususnya di bagian otak dan sumsum tulang belakang.

Terlebih lagi karena otak dan sumsum tulang belakang terbentuk sangat dini sehingga berisiko menyebabkan kelainan jika tidak berjalan dengan baik.

Salah satu cacat lahir yang bisa terjadi karena asupan asam folat yang kurang yakni spina bifida pada bayi.

Ibu dianjurkan untuk mengonsumsi asam folat setidaknya satu bulan sebelum hamil dan dilanjutkan secara rutin selama masa kehamilan.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Awas! Ini Bahayanya Jika Ibu Kekurangan Yodium Saat Hamil

Tidak sedikit wanita hamil yang belum mengetahui pentingnya yodium. Padahal, kekurangan yodium saat hamil memiliki dampak yang buruk bagi janin.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 7 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Anemia Sel Sabit (Sickle Cell Anemia)

Anemia sel sabit adalah jenis anemia akibat kelainan genetik yang menyebabkan bentuk sel darah merah berbentuk sabit. Bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Anemia, Penyakit Kelainan Darah 2 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Spina Bifida

Spina bifida adalah salah satu jenis cacat tabung saraf. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, serta pengobatan spina bifida di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Penyakit Pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 25 September 2020 . Waktu baca 13 menit

Omphalocele

Omphalocele atau omfalokel adalah kondisi cacat lahir pada bayi. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, serta pengobatannya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z 7 Mei 2020 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

berat dan tinggi badan ideal anak 6-9 tahun

Berat dan Tinggi Badan Ideal Anak Usia 6-9 Tahun

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 November 2020 . Waktu baca 7 menit
hemofilia hemophilia

Hemofilia

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 24 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
pelukan bayi dari orangtua distrofi otot muscular dystrophy adalah

Distrofi Otot

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit
hemokromatosis

Hemokromatosis

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit